Istri Pajangan Presdir

Istri Pajangan Presdir
Panik


__ADS_3

Tuuut .. Tuuut


“Halo Bel ad ..” Suara Bram terpotong


“BRAAAAMM TOLONGG !!!” Bella berteriak dengan tenaga yang tersisa


“Bella, kamu kenapa? Dimana kamu sekarang?” Tanya Bram


“Aku .. aku di kamar. Astaga darah, aku tidak bisa bergerak Bram” Ucap Bella


“Jangan bergerak Bel. Aku akan panggilkan ambulance sesegera mungkin. Bertahanlah aku mohon” Jawab Bram panik


Shit ..


Bram menghubungi Rumah Sakitnya untuk segera mengirimkan ambulance. Bram juga menghubungi Ayu untuk melihat keadaan Bella namun sayang kamar Bella terkunci dari dalam. Semua orang panik, tidak ada jalan lain selain mendobrak pintu kamar Bella. Bram yang mengendarai mobil sportnya setengah gila, sampai di rumah pada saat yang tepat.


“Aku punya kartu akses ke kamar Bella” Bram berlari menghampiri.


Ketika pintu kamar dibuka nampak Bella yang sudah tak sadarkan diri berada di sebelah ranjang. Darah segar mengalir panjang mengikuti jejak tubuh yang di seret dengan susah payah dari kamar mandi untuk mengambil ponselnya. Dengan kesadaran yang tersisa tadi Bella masih sempat mengambil ponsel untuk meminta bantuan Bram.


“Astagfirullah Bella ..” Bram berteriak histeris


Bram segera memeriksa denyut nadi Bella yang sudah melemah. Tak lama petugas paramedispun datang.


“Bella bertahanlah. Aku mohon” Bram mengenggam tangan Bella sepanjang perjalanan


Bella langsung masuk ke ruang perawatan intensif. Dokter kandungan datang segera menghampiri Bram untuk mengkonfirmasi tindakan yang harus di berikan.


“dr.Bram, Ibu Bella mengalami abruptio plasenta dan harus segera mendapat tindakan pembedahan caesar untuk menyelamatkan nyawa ibu dan bayi nya” Ucap dr.Diana


“Lakukan apapun, selamatkan istri dan anak saya” pinta Bram


Ponsel dr.Diana berdering ..


“Baiklah saya akan segera masuk. Terimakasih” Seru Diana pada seseorang di sebrang suara

__ADS_1


“Bu Bella sedang diberikan anastesi. Bila kondisi anda stabil, anda bisa ikut saya masuk” Ajak Diana


“Tentu dok, saya akan membersihkan diri terlebih dulu” Jawab Bram


Bram lekas menuju ruang ganti dan mengganti pakaiannya dengan baju bedah.


Bram memperhatikan dengan cemas saat operasi di mulai. Meski Bram seorang dokter bedah yang terbiasa dengan prosedur operasi, namun saat istrinya yang berada di meja operasi hatinya tetap saja gelisah.


Setengah jam kemudian terdengar suara tangisan bayi. Ada senyum haru di bibir Bram, meski Bram tetap tidak bisa menyembunyikan matanya yang memerah menahan air mata duka secara bersamaan, hatinya belum tenang karena belum yakin akan kondisi Bella.



“Selamat dr.Bram bayi anda laki-laki. Kami juga sudah berhasil menghentikan pendarahan yang terjadi pada Bu Bella. Semua telah kami usahakan dengan maksimal. Sekarang tinggal kita menunggu Bu Bella semoga segera melewati masa krisis nya.” Ucap dr.Diana


“Terimakasih dok, saya yakin Bella kuat” Tegas Bram


“Pasti. Semangat ya dok. Satu jam lagi bayi sudah bisa ditemui di ruang bayi” intruksi dr.Diana


“Baiklah” Jawab Bram singkat


Ruangan menjadi hening, setelah pergulatan panjang tubuh Bram pun terhuyung di kursi ruang tunggu. Mungkin adrenalin yang tadi menguasai tubuhnya sudah mulai mereda. Kaki Bram barulah terasa lemas setelahnya. Perasaannya tidak bisa di jelaskan, satu sisi Bram bahagia bayi nya lahir dengan selamat dan sekarang dia adalah seorang Ayah. Di satu sisi Bram merasa sangat bersalah pada Bella, tidak seharusnya Bram terus sibuk bekerja padahal istrinya tengah hamil besar. Andai saja tadi pertolongan terlambat datang mungkin nyawa keduanya tidak selamat.


“Dok, mau menjenguk bayi anda?” Tanya perawat itu


“Ya tentu” Jawab Bram yang bangkit dari duduknya


“Mari kita kedalam bersama” Ajak perawat itu



“Silahkan Dok, tampan bukan?” Tanya Perawat ramah


“Ya dia sangat tampang. Halo Baby, Daddy disini” Suara Bram bergetar, hatinya menghangat bulir air mata jatuh membasahi pipinya.


“Sudah ada kabar dengan Bella sus?” Tanya Bram

__ADS_1


“Saya perawat bagian pediatri, tapi saya bisa carikan informasi untuk anda Dok” Jelas perawat


“Baiklah, terimakasih. Saya akan disini dulu sebentar lagi. Saya ingin menemani putra saya” Lanjut Bram


“Sure, take your time dok” Perawat itu keluar dari ruangan untuk mencari informasi tentang Bella


drtt .. drrtt ponsel Bram bergetar


24 panggilan tak terjawab dari Kevin dan Daddy nya


💬Bram : Aku baik-baik saja. Bayi kami telah lahir dengan selamat dan Bella masih mendapatkan perawatan aku belum tau kabarnya. Jangan khawatir aku bisa mengatasi ini.


Bram mengirimkan pesan singkat itu pada Kevin, Daddy dan Ayu. Bram yakin mereka semua tengah khawatir menantikan kabar darinya. Kevin yang sedang perjalanan dinas ke luar negeri dan Daddy nya yang belum sempat kembali tentu saja Ayu yang melihat kejadian itu dan berdua saja merawat Queen sedang dibuat panik dengan keadaan Bella dan bayi nya.


“Dok bu Bella sudah di pindahkna ke ruang intensif. Saya rasa dr.Bram sudah bisa menemui nya” Perawat memberi informasi


“Terimakasih, saya akan segera kembali” Bram keluar menuju ruang perawatan intensif.


Di tatapnya wajah sang istri yang terlihat begitu pucat dengan berbagai alat medis yang membantu untuk menunjang kelanjutan hidupnya. Bram meraih tangan Bella lembut dan mengecupnya.


“Bella terimakasih, kamu sudah berjuang dengan sangat baik. Maafkan aku” Hanya kata itu yang bisa Bram ucapkan. Sesak di dadanya membuat bibirnya tak mampu lagi mengeluarkan suara. Perasaan yang sama ketika Bram kehilangan istri pertama dan bayinya saat dulu. Mengingatnya membuat Bram semakin terluka, Bram merasakan lagi saat kelam dalam hidupnya. Luka yang Dilara tinggalkan saja belum kering di tambah lagi luka takut kehilangan Bella.


“Bram ..” Sayup terdengar suara seseorang


Bram yang sedang tertunduk mendongakan kepalanya melihat tangan Bella yang mencoba meraih kepala Bram yang berada di sampingnya


“Bella, kamu sudah sadar? Sebentar aku panggilkan dokter.” Tangan Bella menahan langkah Bram. Bella menggelengkan kepalanya dan meminta Bram mendekat.


“Tidak apa Bram, kamu pun dokter. Aku baik-baik saja denganmu disini” Bella meyakinkan Bram


“Baiklah, aku akan disini.” Bram duduk disebelah Bella


“Bagaimana dengan bayi kita, apa dia selamat?” Tanya Bella lirih


“Tentu saja, dia kuat seperti Ibunya. Dia laki-laki dan sangat tampan. Tadi aku mengambil beberapa foto. Kamu harus melihatnya” Bram menunjukan foto bayi mereka. Terlihat air mata membasahi wajah Bella. Bram segera mengusap lembut dan mengecup kening istrinya.

__ADS_1


“Jangan menangis, semua sudah baik-baik saja. Kamu luar biasa kamu sudah bekerja keras. Istirahtlah ya. Nanti kita akan menemuinya” Bujuk Bram


Bella tidak menjawab dan hanya menganggukan kepalanya. Tak lama Bella pun terlelap kembali dalam belaian Bram.


__ADS_2