Istri Pajangan Presdir

Istri Pajangan Presdir
Baby Blues


__ADS_3

Sudah 2 minggu semenjak Bella pulang dari rumah sakit, Bram belum bisa kembali bekerja karena fokus merawat mereka. Bram datang ke kantor sesekali jika ada meeting yang tidak bisa di handle Kevin.


“Bram ..” Panggil Bella


“Kenapa?” Jawab Bram singkat


“Kapan mau mulai kerja normal? Aku udah sehat Bram” Tanya Bella


“Iya aku balik lagi ngantor besok”


“Baguslah ..”


Bram berlalu meninggalkan Bella di kamar dan turun menuju dapur hendak membuatkan susu untuk Bella.


“Ayu ..” Panggil Bram


“Ah iya Pak Bram, perlu sesuatu?” Tanya Ayu


“Tidak Yu, saya hanya akan membuatkan susu untuk Bella. Kamu sedang apa?”


“Begitu .. Ini membuat nasi goreng Pak saya rasanya lapar tadi belum sempat makan malam karena ngelonin Queen” Jelas Ayu


“Terimakasih ya Yu sudah merawat anak-anak saya” Bram tersenyum


“Memang itu pekerjaan saya pak”


“Semoga Bella juga bisa seperhatian kamu ya Yu” Ucap Bram lirih


“Wah kalau Bu Bella jauh lebih perhatian dari Saya Pak” Jawab Ayu


“Entahlah Yu, awalnya saya juga pikir gitu. Tapi sekarang-sekarang ko aneh ya Yu. Tau sendirikan semenjak pulang rumah sedikit demi sedikit Bella berubah. Ngerasa gak sih Yu? Tanya Bram serius


“Hm gimana ya Pak. Takut saya malah dikira ngeprovokasi. Saya juga agak aneh lihat Bu Bella” Jelas Ayu


“Nah kan bener bukan saya aja yang ngerasa. Bella jadi sensitif terus gak mau ngerawat anak-anak. Lebih sering menyendiri nonton paling. Malahan ngasih asi langsung aja jarang. Seringnya pumping dulu” Jelas Bram


“Coba Bapak komunikasiin ke Bu Bella, barangkali Ibu ada masalah Pak” Saran Ayu


“Udah pernah Yu, dia cuman jawab cape pengen sendiri dulu”


“Gak papa Pak nanti saya ajak bicara. Barangkali sama saya Ibu mau terbuka”


“Terimkasih ya Yu, kamu selalu bisa saya andalkan” Bram menepuk bahu Ayu lalu berlalu kembali ke kamar Bella untuk mengantarkan susu.


Bip .. Bip pintu kamar di buka

__ADS_1


“Aku bawain susu, kamu minum dulu” Titah Bram


“Ok. Terimakasih Bram ..”


“Hmm .. Bella, tadi di bawah aku lihat Ayu jam segini baru makan malam kasian banget” Gerutu Bram


“Oh ya? Terus kenapa gak makan tadi?” Tanya Bella


“Mau makan gimana coba? Dia kan ngerawat dua bayi sekarang. Kenapa gak sekali-kali kamu yang pegang?” Tanya Bram


“Aku pengen, pengen banget cuman kalau bareng mereka aku suka emosional. Kadang nangis, kadang marah takutnya malah mereka yang jadi korban emosional nya aku” Jelas Bella


“Kamu butuh sesutu gak? Kaya konsultasi ke psikiater gitu kali aja bisa bantu” Tawar Bram


“Haha apa sih aku gak depresi juga, cuman kena baby blues palingan gak bakalan lama” Jelas Bella


“Ya tapi kan kalau di biarin takutnya makin parah”


“I can take care my self, okay !” Bentak Bella


“Okay, terserah kamu aja” Bram pergi menuju balkon


Dibalkon Bram mengacak-ngacak rambutnya bingung, kelakuan Bella makin lama makin jauh di banding sebelumnya. Mungkin faktor hormon, mungkin lelah, mungkin baby blues semua kemungkinan sudah Bram pikirkan dan coba di netralisir tapi Bella tetap sulit di kendalikan.


“Pak Bram, baik-baik saja?” Tiba-tiba Ayu datang dari belakang


“Saya baik-baik saja Yu. Ada apa?” Tanya Bram


“Tadinya saya mau tutup pintu ke balkon saya kira gak ada orang pak” Jelas Ayu


“Oh, belum tidur Yu?” Tanya Bram


“Belum pak, tadi habis bikin susu buat Queen”


“Kalau Zayn nangis kasihin aja ke momy nya. Dia bilang dia baik-baik aja. Jadi biarin aja Bella megang anaknya sendiri” Gerutu Bram


“Jangan gitu pak, kasihan loh Bu Bella. Ibu kan lagi butuh dukungan kita” Saran Ayu


“Lantas saya gimana Yu? Saya juga sama cape, letih, bingung, sama butuh dukungan”


“Tenang pak, kan ada saya. Bapak fokus kerja lagi aja biar gak stress sama urusan rumah. Biar urusan rumah saya yang handle pak” Pinta Ayu


“Terimakasih ya Yu sudah mengerti keadaan saya dan Bella”


“Tidak masalah pak. Sekarang lebih baik bapak istirahat”

__ADS_1


“Iya Yu, Saya ke kamar dulu” Bram pun berlalu meninggalkan Ayu


“Kasian sekali pak Bram, udah cape ngurus anak cape kerja cape pikiran juga sama Bu Bella” Simpati Ayu


Jam 3 malam Bram terbangun dari tidurnya, dilihatnya kesebelah ranjangnya kosong. Tak ada Bella disana. Bram pun beranjak dan mencari Bella ke kamar mandi tapi tak ada hingga berkeliling mencari ke kamar anak-anak barulah nampak Bella yang sedang berdiri di samping box bayi. Bella hanya menatap anak-anaknya lekat tidak menyentuh bahkan tidak bersuara.


“Bella ..” Panggil Bram lembut


“Husst nanti membangunkan mereka” Bella berbalik dan menghampiri Bram


“Kenapa?” Tanya Bella


“Kamu sedang apa berdiri disana?” Tanya Bram


“Aku rindu mereka Bram, hanya malam hari aku bisa menemui mereka tanpa mendengar rengekan dan tangisan mereka” Jelas Bella


“Wajarlah Bel, bayi dan anak-anak pasti akan banyak merengek dan menangis”


“Aku tau, tapi aku tidak suka itu. Jadi selagi aku belum bisa menenangkan diriku sendiri aku tak akan bisa menenangkan mereka. Yang ada aku malah akan membuat mereka terluka” Jelas Bella


“Jadi selama ini setiap malam kamu kesini untuk melihat mereka?” Bram bertanya lagi


“Ya tentu, aku disini semenjak jam 1 tadi”


“Ku kira kamu tidak peduli dengan anak-anak” Sindir Bram


“Ayolah Bram, aku yang mengandung dan melahirkan mereka. Mereka anak-anak ku. Mana mungkin aku tidak peduli. Hanya saja aku tidak ingin menyakiti mereka sama halnya juga padamu Bram. Aku menyuruh mu kembali bekerja bukan tidak senang kamu menemaniku, tapi aku takut dengan melihat sikapku akan menyakitimu”


“Lalu kenapa kamu tidak bersikap normal seperti dulu?”


“Entahlah, siapa yang mau seperti ini Bram? Aku pun tidak mau. Aku butuh waktu”


“Selalu saja itu Bell, padahal aku memberikan seluruh waktuku untuk kamu untuk anak-anak tapi tak ada yang berubah. Aku pun sama lelah” Bram kembali ke kamar meninggalkan Bella yang masih membeku dengan kata-kata Bram


Bella Pov


Tak banyak yang di ucapkan Bram namun mampu menusuk hatiku. Mungkin Bram pikir ini mudah bagiku, padahal aku pun sedang kesulitan.


“Kamu yang merebut kehidupanku, kini kamu yang merasa jadi korbannya Bram” Batinku


Aku sudah berencana untuk hidup dengan baik setelah perpisahan kita, tapi karena malam itu Bram menyeretku memaksaku membuatku mengulang lagi keadaan yang lalu dan kini aku melahirkan anaknya. Aku sudah menerimanya memaafkannya tapi Bram masih saja menuntut sesuatu dariku.



“Apa lagi yang kurang aku berikan padamu Bram?” Aku menjatuhkan tubuhku dan duduk memegangi kedua kaki. Air mataku pecah tak tertahankan lagi. Aku merasa tak ada yang mengerti posisiku, padahal aku seperti ini karena tak ingin menyakiti siapapun. Aku bisa saja memaksakan diri, tapi jika aku tak bisa mengendalikan diri tentu semuanya akan tetap menyalahkan aku.

__ADS_1


__ADS_2