
Pukul 02.20
Terdengar Queen menangis di box bayinya. Bella segera beranjak dan meriah tubuh mungil Queen. Bram pun ikut menggeliat, pertama kalinya Bram terbangun karena tangisan bayi, suasa baru pikirnya.
“Queen mau mimi ya, sini sayang kita mimi dulu" Bella bersandar di ranjangnya dan mendudukan Queen di pangkuannya untuk memberikan ASI. Bram berpura-pura tidur padahal sesekali melirik Bella. Terlihat wajah lelah Bella yang harus bangun beberapa kali karena Queen masih sering menyusu. Wajah Bella sendu saat menatap putri mungilnya itu, di belainya rambut halus Queen. Ada air mata yang lolos jatuh membasahi pipinya. Bella segera meraih tissue di nakas dekat ranjang. Sesekali menarik nafas panjang sebagai tanda sedang menahan dirinya agar tidak bersuara saat menangis, terkadang sebalah tangannya juga mengusap dada meredakan sesuatu yang terasa sesak. Bram memperhatikan tingkah Bella. Ingin Bram bangun dan menanyakan keadaannya, namun Bram tak mau terkesan mencampuri urusan Bella. Lebih baik berperan secara diam-diam agar semua nyaman pikir Bram.
Queen sudah terlelap kembali, Bella bangkit dan menidurkan Queen di box nya. Bram kira Bella akan tertidur lagi, tapi tidak. Bella ke kamar mandi dan mengambil air wudhu untuk melaksanakan shalat malam. Bram hanya mengamati istrinya yang selesai beribadah, lalu menengadahkan tangan berdo'a. Entah apa yang dipinta Bella pada Rabbnya yang jelas Bella tersedu-sedu hanyut dalam do'anya. Bram pun bangkit berpura-pura tidak tau keadaan Bella. Bram berniat melaksanakn shalat malam juga.
“Bella, sudah bangun ternyata. Sudah shalatnya? Tanya Bram.
Bella hanya mengangguk tak bersuara, mungkin takut ketahuan sedang menangis. Saat Bram ke kamar mandi dengan cepat Bella menghapus air matanya, melipat alat shalatnya dan kembali membaringkan tubuh di ranjangnya.
Bram selesai dari shalatnya, duduk di dekat kaki Bella yang meringkuk lalu mengusap kaki nya perlahan.
“Bella, kalau ada apa-apa ngomong aja. Jangan suka pendem sendiri." Ucap Bram perlahan seperti seorang kakak yang membujuk adiknya yang merajuk.
“Aku baik-baik aja" Bella manarik kakinya pertanda menolak sentuhan Bram.
Bram mengerti dan membiarkan Bella yang sepertinya tidak ingin di ganggu.
Pagi pun tiba, Bella sibuk dengan aktifitasnya memandikan Queen, menyuapi dan juga menyiapkan sarapan untuk Bram. Bella tidak ingin terlihat seperti istri durhaka di depan orangtuanya. Bram yang sedari selesai subuh tertidur baru menggeliat ketika perutnya berontak minta di isi.
__ADS_1
“Ah sudah siang rupanya" Bram meraih ponsel di nakas dan melihat 4 panggilan tak terjawab dari Kevin. Kalau Kevin menghubungi berkali-kali pasti ada sesuatu yang penting pikir Bram yang segera menghubungi balik.
“Hallo vin, ada apa?" Tanya Bram
“Kemana aja lu, baru ngabarin gue. Ini gue repot banget jir !" Kevin memaki
“Tenang dulu jelasin yang bener kalo masih mau kerja" Ancam Bram
“Kita harus segera cek pabrik baru yang di singapura. Cek email lu deh lampiran lengkapnya. Ada masalah sama perpajakan disana. Udah pasti ini ada yang maen-maen sama duit perusahaan." Jelas Bram panik
“Oke oke, gue balik Jakarta hari ini." Panggilan diputus oleh Bram yang segera meraih laptopnya. Bram meradang saat melihat data yang di berikan Kevin melalui emailnya.
“Fantastis ! " Bram menggelengkan kepala melihat kerugian perusahaan di depan matanya. Dari data yang diterima, penggelapan kemungkinan sudah terjadi dari semenjak pabrik itu di bangun yang saat itu pemegang posisi presdir adalah ayah Bram.
“Bella, berikan Queen padaku. Aku takut dia terluka jika kamu lalai memegang pisaunya" Pinta Bram
“Ah iya, biasanya jika di dapur aku akan menyuruh ibu menjaga Queen tapi ibu sedang ke sekolah." Bella melepaskan hipseatnya dan memberikannya pada Bram
“Bella, hari ini aku akan kembali ke Jakarta. Ada masalah dengan pabrik di Singapura." Ucap Bram
“Ya tentu" Bella menjawab singkat
__ADS_1
“Kalau sudah selesai segera susul aku kemar ya. Ada yang aku ingin bicarakan" Titah Bram
Bram pun berlalu sambil membawa Queen. Bella yang sudah selesai dengan buah potongnya, segera menyusul. Bella masuk ke kamarnya, di dapati Bram yang sedang berusaha menurunkan Queen yang tertidur di pangkuannya.
“Ada apa Bram?" Tanya Bella
“Sstt jangan berisik nanti Queen bangun. Begini, ini debit card untukmu. Tiap bulan aku akan mengisinya. Gunakan untuk keperluan mu dan Queen. Jika kurang kamu boleh hubungi aku, atau kalau aku sibuk kamu bisa hubungi Kevin" Bram memberikan kartu yang bertuliskan nama Bram
“Baiklah, terimakasih" Bella mengangguk dengan senyum
“Aku mungkin akan sibuk, hubungi aku jika benar-benar mendesak. Jika tidak terlalu mendesak lebih baik jangan. Aku takut nanti tidak sempat membalas lalu kamu tersinggung. Seminggu lagi aku akan urus orang untuk memberikanmu mobil dan kunci rumah. Maaf tidak sempat memberi tahu mu, tapi aku sudah memboking 1 unit rumah di salah satu perumahan dekat tempat kerjamu. Aku belum sempat mengisinya, tapi kamu boleh isi semaumu aku akan siapkan seseorang yang akan membuatkan design interior terbaik segera" Intruksi Bram.
Bella tidak membantah dan tidak juga setuju, Bram tidak bertindak sendiri pun sudah menjadi peringatan untuk Bella bahwa dia tidak berhak ikut campur pada keputusan Bram.
“Sarapan dulu sebelum berangkat" Hanya satu kalimat itu yang Bella ucapkan, Bella tidak peduli pada debit card mobil ataupun rumah yang sedang Bram bahas. Bram pun mengangguk, lalu mengambil tasnya agar bisa langsung berangkat.
“Queen, daddy harus kerja. Segera daddy kembali ya" Bram berbisik pada Queen lalu mengecupnya lembut. Bella dan Bram pun turun, sarapan bersama dan mengantar Bram kedepan rumah.
“Sampaikan salam dan maafku pada ayah dan ibu karena tidak bisa menunggu mereka pulang." Ucap Bram yang mengangkat tangannya. Bella mengerti lalu menyambut tangan Bram dengan kecupan lembut.
“Hati-hati Bram" Bella tersenyum
__ADS_1
Mobil Bram pun melaju membelah lalulintas pagi di kota Bandung.