
Sesampainya di Indonesia, Albert mencari tau keberadaan Bella dari Kevin. Segera Kevin ikut mengantar Albert ke apartemen Bella karena saat itu waktu sudah lepas maghrib. Bella sudah berada di apartemen.
Suara bell membuyarkan fokus Bella dan Amanda yang sedang mengerjakan tugas bersama.
" Biar aku aja. " Ucap Bella
Bella berjalan menuju pintu melihat dari monitor di luar ada Kevin, Bella tak berpikir macam-macam Kevin salah satu orang kepercayaannya juga. Bella segera membukakan pintu.
" Malam Bel .. "
" Malam Mr.Kevin ? "
" Ada seseorang yang ingin bertemu dengan mu. " Kevin mempersilahkan Albert untuk mendekat dari arah kanan koridor
" Bella ? " Sapa Albert
" Daddy ? " Bella segera memeluk ayah mertuanya itu. Sudah lama mereka tidak bertemu. Bella menganggap Albert seperti orangtuanya sendiri. Mendapat kunjungan dari Albert membuat hati Bella begitu tersentuh.
" Bella merindukan daddy. Maaf Bella tak pernah berkunjung malah daddy yang kesini. Ayo masuk Dad " Ucap Bella mengajak Albert masuk
" Manda, kenalin ini daddy aku. "
" Temanmu ? " Tanya Albert
" Ya sekaligus pemilik apartemen ini. "
" Ah iya, daddy sudah mendengarnya dari Kevin. "
" Amanda .. " Ucap Amanda memperkanalkan diri
" Saya Albert daddy nya Bella dan Bram. Terimakasih ya sudah menjaga putri saya. " Albert tersenyum teduh
" Tidak uncle, justru Bella yang menjaga saya. "
" Kalian memang anak yang baik. Bagaimana kabar mu Bella ? "
__ADS_1
Mereka pun bercerita banyak hal panjang lebar. Namun Bella enggan bercerita masalah orang ketiga di antara mereka yang membuat Bella melepaskan Bram padahal sebelumnya Albert tau Bella begitu kuat bertahan bersama Bram terlebih kini ada anak di antara mereka. Albert menyayangkan perpisahan mereka sekaligus merasa bersalah pada Bella, Albert yakin kesalahan ada pada putranya.
" Daddy meminta maaf atas nama Bram ya nak ? Maaf sekali Daddy tidak membesarkan anak dengan benar. "
" Jangan bicara begitu Dad, Bram pun baik seperti daddy hanya saja memang kami sudah tak lagi sejalan. Ini sudah yang terbaik. " Ujar Bella menutupi kesalahan Bram
Malam mulai larut, Albert berpamitan untuk pulang ke kediaman Bram. Albert ingin menengok cucu nya, memastikan mereka dalam kondisi baik di bawah perawatan Bram.
" Awas saja jika cucuku tak terawat. Akan ku bawa mereka ke Hungaria. " Monolog Albert di dalam mobil
" Maaf Dad Kevin ikut bicara. Untuk anak-anak Kevin tau Bram merawat mereka dengan baik, namun yang menganggu fokus Bram justru datang dari luar. "
" Apa masalah wanita ? Kabar itu sudah sampai di telinga Dad. "
" Benar Dad, tolong kembalikan jati diri Bram. Kevin yakin Bram akan mengikut perkataan daddy. "
" Ini semua salah daddy juga, daddy terlalu terlena. Coba saja daddy segera ambil alih perusahaan dari Bram. Ini pasti tak akan terjadi. " Albert menyalahkan diri nya sendiri
" Dad, mau Bram jadi Presdir mau Bram jadi dokter godaan pasti ada. Wanita pun pasti akan berkeliaran di sekitarnya, namun masalah hati Bram yang harus dibenahi. "
" Ya, tapi Kevin khawatir itu hanya fatamorgana karena Bram melihat sosok Dilara pada dirinya. "
" Maksudmu ? "
" Bram menyukai tipe wanita yang mandiri, pintar, anggun dan feminim persis seperti Dilara dan sosok ii kini ada pada Violine. "
" Ah begitu .. "
Yang di katakan Kevin ada benarnya, bisa saja Bram jatuh hati pada Violine karena melihat sosok Dilara pada diri Violine. Dilara adalah cinta pertama dan yang tak terlupakan oleh Bram sekalipun bertahun hidup bersama Bella, hati Bram begitu membeku sulit untuk luluh setelah di tinggalkan Dilara. Memang benar jika di banding Bella kriteria Bram bertolak belakang dengan kepribadian Bella. Namun Bella juga wanita yang patut di perhitungkan, Bella wanita yang kuat dan unik, tak banyak wanita memiliki karakter kuat seperti Bella. Nyatanya itulah yang di rindukan Bram kini, Bram tak bisa melihat siapapun di dekatnya yang sekuat, sekeras kepala dan setangguh Bella. Jika wanita anggun di luar sana bertebaran maka berbeda dengan wanita tangguh dan berprinsip seperti Bella.
...****************...
Di rumah di ruang kerja Bram kini terjadi perdebatan sengit antara Bram dan Albert. Bram yang biasanya tak begitu keras jika berhadapan dengan ayahnya entah memiliki kekuatan dari mana kini mendebat ayahnya.
" Kamu sudah berani melawan dad Bram ? " Tanya Albert dengan tatapan tajam nya
__ADS_1
" Bukan begitu maksud Bram dad. Tidak seharusnya Dad menyalahkan Bram atau Violine. Pada kenyataannya Bella yang menggugat Bram padahal Bram sudah menahannya. "
" Ya Bram, kamu mengurungnya lalu menyiksanya dalam sangkar emas. Tentu dia berontak ! Wanita mana yang rela suaminya membagi hati ? "
" Banyak, diluar sana banyak wanita yang bahkan rela di madu. "
" Lalu kamu ingin membenarkan tingkah mu ? Gila ! "
" Ayolah Dad, Bram sudah dewasa. Lebih baik daddy istirahat. Daddy baru saja sampai. "
" Bagaimana daddy bisa istirahat dengan tenang melihat kondisi mu ? Rasanya daddy akan mati berdiri. "
" Dad .. Jangan katakan hal buruk seperti itu. Sudahlah Bram tau Bram salah. Bram minta maaf tapi semua sudah terjadi. Biar seperti ini dulu ya Dad ? "
" Terserah ! Yang jelas Daddy akan mengawasi mu mulai sekarang. "
Albert keluar dari ruang kerja Bram lalu membanting pintu dan naik ke kamar tamu. Albert benar-benar kecewa melihat perubahan yang terjadi pada putranya. Albert tak habis pikir dengan jalan pikiran putranya. Cinta memang bisa membuat manusia buta, tapi kenapa harus buta karena orang yang salah ? Albert tak bisa menerima kenyataan itu. Dirinya merasa gagal sebagai orangtua.
Bram memijat kepalanya yang semakin berdenyut hebat, rasanya kini semua orang memojokkannya. Tak ada yang mengerti bagaimana perasaan Bram sendiri. Tak lama Kevin masuk ke ruang kerja Bram.
" Bram ? "
" Lo kan yang cepu laporin gue ke daddy ? "
" Baru masuk gue udah di semprot aja ! Kagak anj** daddy malah yang nanya gue. Kabar cerai lo gara-gara orang ketiga udah nyampe ke telinga daddy. Itu alasannya daddy langsung balik. "
" Terus daddy tau dari siapa ? "
" Mana gue tau ! Lagian seisi kantor gak buta gak tuli. Mereka bisa lihat Lo yang nempel terus sama si Violine mereka juga bisa lihat gimana tatapan Lo ke dia. Udah bukan rahasia umum lagi. "
" Halah .. "
" Di tambah berita Lo yang viral waktu Lo ke party tanpa Bella eh Lo malah gandengan sama Violine. Emang daddy gak bakal tau ? Bodoh kalo Lo ngira gitu ! "
" Lo bener gue yang salah sorry Vin, gue ke bawa emosi. " Bram mengusap wajah dan rambutnya kasar.
__ADS_1
Sejenak Bram merenung, ya benar dirinya terlalu gegabah dan terbuka menyiratkan perasaannya pada Violine. Bram sadar, dirinya memarahi Kevin hanya sekedar mencari pengalihan dari kekesalannya pada keadaan yang tak kunjung baik untuknya.