Istri Pajangan Presdir

Istri Pajangan Presdir
Terprovokasi Akbar


__ADS_3

Pertemuan antara Wijaya Group dan Tinus Corp akan berlangsung hari ini di ruang meeting utama wijaya group. Akbar sudah mempersiapkan hari ini dengan penuh perhatian terlebih Akbar tau bahwa yang bertanggung jawab akan proyek ini adalah Bram. Ya setelah berbagai drama akhirnya Albert mengijinkan Bram menjadi penanggung jawab proyek yang awalnya akan di berikan pada Kevin.


Bram sudah bersiap di kursi kebersarannya, begitupun dengan Kevin dan Audry dan tim lainnya. Berselang 1 menit saja Akbar dan tim nya masuk membuat air wajah Bram seketika berubah. Bram menarik nafas dalam rival di masa lalunya kini berada di hadapannya.


Apa yang terjadi ? Kenapa dia disini.


Batin Bram geram


" Mr. Bram Tuan Akbar adalah Direktur pemasaran Tinus Corp yang memenangkan proyek kita. "


" Kalian bukannya tau kan Akbar ? " Tanya Bram pada Audry dan Kevin seraya berbisik.


" Tentu Bram, tapi kami tak bisa menolak. Presdir Albert sendiri yang memilih. " Jawab Kevin


" Sial ! Harusnya kalian memberitahu ku sebelumnya. "


" Sudahlah Bram lakukan saja tugas mu dengan profesional. Akbar sudah berada disini selama 1 tahun dan dia nyatanya bukan ancaman untukmu. Kalau dia berniat buruk kenapa baru muncul sekarang ? "


" Justru itu pertanyaannya kenapa sekarang ? Kenapa setelah aku berpisah dengan Bella lalu tiba-tiba saja dia naik kepermukaan. Sengaja sekali .. " Bram mengepalkan tangan kanannya


" Selamat pagi Mr.Bram, long time no see ? Bagaimana kabar anda ? "


" Langsung saja pada urusan kerjaan, kita tidak cukup akrab untuk membahas masalah pribadi di sini. "


" Baiklah, seperti yang anda minta "


Meeting pun di mulai dengan perasaan campur aduk, Bram tak bisa berkutik hanya bisa menahan dirinya untuk tak tersulut emosi. Entah mengapa hatinya begitu memanas membayangkan Bella suatu saat kembali pada Akbar terlebih kini Akbar sudah menjadi seseorang yang sukses dan bisa menyaingi Bram. Jujur saja fokus Bram kini terganggu karena Akbar, raganya di tempat meeting tapi pikirannya entah dimana. Semakin lama hawa panas semakin menguasai tubuh Bram.


" Baiklah terimakasih semuanya. Sekian meeting hari ini. " Kevin menutup meeting lalu seluruh peserta meeting pun membubarkan diri terkecuali Akbar.


" Tunggu, saya ingin bicara secara pribadi dengan Akbar. "


" Tentu Mr.Bram saya dengan senang hati menunggu. "

__ADS_1


" Kevin Audry kalian boleh pergi. "


Kini hanya tersisa Bram dan Akbar di ruang meeting. Mereka duduk dengan posisi bersebrangan seperti yang siap akan bertempur.


" Kenapa kamu tiba-tiba disini ? "


" Tidak tiba-tiba. Saya sudah cukup lama disini dan sudah sering mengajukan tender hanya saja baru kali ini yang lolos karena perusahaan di bawah kendali Anda lebih menyukai perusahaan termana dibandingkan perusahaan yang efisien. Berbeda dengan Presdir Albert yang memilih berdasarkan kualitas kerja bukan sekedar nama. "


" Kamu mencoba menggurui saya ? "


" Tidak, siapalah saya hingga bisa menggurui seorang Bram yang terhormat. Hanya saja memang sudah jalan takdir, saya kembali di saat yang tepat ! "


" Maksudmu ? "


" Saya kembali tepat di saat perpisahan kalian, mungkin Tuhan mendatangkan saya untuk kembali melindungi Bella. "


" Sialan ! " Bram menggebrak meja di hadapannya.


" Tenanglah Mr.Bram .. Bukankah tiga tahun yang lalu saya sudah berjanji akan merebut Bella jika sekali saja saya tau anda menyakitinya ? Saya sudah memberi anda kesempatan tapi anda menyia-nyiakannya. "


" Saya ? Saya seseorang yang siap mempertaruhkan segalanya untuk Bella. Tidak seperti anda yang justru mempertaruhkan Bella demi wanita lain. Demi ego anda ! "


" Lancang ! " Bram menghampiri Akbar lalu Buugghh satu pukulan melayang di pipi Akbar.


Bram mencengkram kerah kemeja Akbar kuat, hendak kembali memukul namun dari belakang Kevin segera menahan kepalan tangan Bram. Kevin selama diluar mengawasi pergerakan keduanya melalui CCTV, untuk berjaga-jaga. Dan benar saja Bram terusulut emosi. Kevin bergegas melerai pertikaian mereka namun terlambat, wajah tampan Akbar sudah menjadi korban bogem mentah tangan Bram.


" Sudah Bram jangan gila ini di kantor ! Lo bisa ngerusak reputasi Lo. "


" Persetan dengan semua itu, biar gue lenyapin dia pake tangan gue sendiri. "


" Pergi Bar ! Lo juga stop provokasi Bram. Apa sih yang Lo dapet dari pertikaian ini. Bella juga gak akan sudi nerima cara Lo yang kaya gini. Kalian berdua sama gak waras nya tau ! "


" Dia terprovokasi karena dia nyadar diri. Dia pecundang ! Dia suami yang gagal ! Kalo gak ngerasa harusnya dia gak baper dong " Akbar bangkit lalu membetulkan kemeja dan jasnya.

__ADS_1


" Anj** cari mati Lo ? " Bram hampir lepas dari penahanan Kevin


" Ck .. Gue pergi dulu, jaga diri baik-baik. Siap-siap aja Lo bakal lebih sakit dari Bella sekarang ! " Akbar tersenyum devil lalu mengenakan masker dan kaca mata menutup tanda merah dan luka di bibirnya.


Sekuat tenaga Kevin menahan Bram akhirnya ambruk juga, Kevin melepaskan Bram karena di rasa sudah aman.


" Main-main Lo. Kalo dia lapor polisi gimana ? "


" Halah gue gak peduli. Harusnya Lo biarin gue habisin dia. "


" Bram sadar ! Anak-anak Lo gimana kalo Lo di penjara ? Lo gila ya ? " Kevin merasa murka dengan sikap arogan Bram yang semakin menjadi setelah perpisahannya dengan Bella


" Tapi Lo lihat sendiri kan dia yang sengaja bikin gue naek pitam ? "


" Ya gak seharusnya juga Lo terpancing. Kan Lo bisa selesain pake cara yang lebih berkelas. Gak kaya preman gini. "


" Kenapa gue jadi gini. Harusnya gue gak emosi toh Bella udah bukan istri gue. " Bram tersungkur ke lantai lalu menyandar kan tubuhnya di kaki meja


" Lo masih belum ngerti ? " Tanya Kevin yang ikut duduk di samping Bram.


" Apa ? "


" Lo cinta sama Bella ! Itu fakta. Lo selama ini nutupin kenyataan itu. "


" Gak .. Gue yakin gue gak cinta sama dia. Kalo gue cinta sama dia kenapa gue punya rasa sama Violine ? "


" Karena Lo masih terobsesi sosok Dilara yang mirip sama Violine. Itu cuman fatamorgana bro. Hati Lo yang nyata itu cinta sama mommy nya anak-anak. Buktinya Lo makin terpuruk semenjak pisah sama Bella. Lo juga gak menggebu buat sama Violine. Kalo iya Lo cinta sama Violine harusnya Lo ambil kesempatan ini. Tapi Lo enggak Lo stuck sama keterpurukan Lo ! " Kevin berbicara panjang lebar berusaha membuka mata Bram


" Entahlah, gue pusing. Gue butuh udara segar. " Bram bangkit dari duduknya lalu keluar ruangan memasuki lift menuju rooftop.


Bram duduk di rooftop sambil menyesap cerutu yang selalu di bawanya untuk merayakan keberhasilan namun Bram sadar sudah lama tak menyesap cerutu itu. Bram kini akan menyesapnya untuk merayakan kegagalannya. Kegagalan yang benar-benar mutlak bagi nya.


Tiga tahun, hanya tiga tahun hidup ku berjalan sempurna

__ADS_1


Bram menertawai nasibnya.


__ADS_2