Istri Pajangan Presdir

Istri Pajangan Presdir
Akibat Penolakan


__ADS_3


" Bel gak sanggup gue bisa kena serangan jantung .. " Pukul Malika pada lengan Bella.


" Lemah banget jantung Lo "


" Lo gak merinding gitu tiap liat doi ? Tiap hari tiap malem gue bayanginnya aja uuhh Bel doi kalo lagi telanjang seksi banget pasti "


" Seksi lah makannya gue bunting kalo gak seksi mana mau di buntingin teross " Amanda dan Malika terkekeh mendengar kejujuran Bella.


" Astaga jujur banget sih Lo, pikiran gue jadi travelling tau "


" Duh cepetan kawin gak aman Lo " Ucap Amanda


" Belum punya calon, please cariin yang modelan dokter Bram dong "


Dibanding menyimak kebanyakan dari mereka malah memperhatikan ketampanan Bram padahal saat itu Bram sedang memberikan kelas. Bella pun sama hal nya tak bisa fokus karena selalu di recoki sahabat nya itu.


Satu jam berlalu merekapun keluar dari aula, Bram menyusul Bella lalu menangkap tangan Bella dari belakang.


" Heh ? "


" Ini aku, kamu kira siapa yang berani megang kamu selain aku ? " Tanya Bram dengan sorot tajam nya.


" Bukan gitu, ini aku lagi jalan sama temen temen loh. Lihat mereka sampe shock "


" Maaf ya para koas sekarang udah waktunya makan siang, saya mau culik istri saya dulu kasihan baby nya harus makan. Ya kan baby ? Tos dulu dong sama daddy " Bram mengepalkan tangan nya lalu menyentuh perut Bella pelan seperti gerakan tos.


Meleyot aing meleyot astaga Batin Malika


" Dok duh tega banget sama jomblo " Rengek Malika


" Haha cepet cari jodoh ya ? Nanti undang saya. Yaudah permisi dulu semuanya " Pamit Bram sambil menarik tangan Bella pergi.


" Astaga, dokter Bram yang terkenal tegas sama dingin gitu ternyata bucin banget ya ? " Tanya Malika pada Amanda.

__ADS_1


" Gak tau aja Lo gimana bucinnya doi, gue sekelas se apartemen sama Bella waktu mereka pisah. Gue nyaksiin sendiri gimana dokter Bram mati matian buat balikan sama Bella. Makannya kalo gue tau yang gosipin Bella tukang goda atau apalah pengen gue tonjok "


" Iya ya, yang gosipin iri banget kayanya "


" Banget kasihan padahal Bella tuh mau bahagia aja susah "


" Resiko jadi istri orang mapan, ganteng, kaya raya "


Bella dan Bram duduk bersama di kafetaria saling berhadapan. Kamu tau rasanya saat jatuh cinta ? Tiap kamu memandang sosoknya kamu akan tersenyum tak percaya seseorang yang ada di hadapan mu ini adalah orang yang kamu cintai dan kini dia sudah menjadi milikmu. Rasanya itu kamu selalu bahagia meski hanya dengan melihatnya ..


" Kenapa sih senyum sendiri Bel ? Aku gak lagi ngalawak loh " Tanya Bram membalas senyuman Bella.


" Gak tau, aku seneng aja lihat wajah kamu. Hati aku kaya terbang ke pluto Bram "


" Jangan deh Bel, aku lagi sibuk "


" Apanya ? "


" Ya kalo hati kamu ke pluto aku lagi sibuk jadi gak bisa nyusulin buat ambil kesana. Mending disini aja ya ? Sini aku tangkep " Bram berpura pura menarik hati Bella dengan gerakan tarik tambang tepat di depan dada Bella.


" Sumpah kamu kocak banget Bram haha "


Makanan pun sudah datang, Bella menikmati makannya dengan lahap begitu juga dengan Bram. Tak jauh dari sana Shela hanya bisa mengepalkan tangan penuh amarah, dirinya masih belum bisa merelakan Bram begitu saja. Begitu selesai dengan urusan perut mereka, Bella dan Bram pun kembali ke aktifitas masing masing.


Bram malam ini lembur karena ada korban kecelakaan dan memerlukan operasi cito. Bella memutuskan pulang lebih dulu, tiba tiba saja selepas maghrib tubuhnya terasa tak nyaman terlebih bagian perutnya yang mulai menegang.


" Mungkin kecapean .. " Gumam Bella sambil mengelus perutnya.


Bella merebahkan tubuhnya di ranjang setelah mandi dan makan, Bella juga sudah meminum susu hamil dan obatnya.


Bella


Bram kalau sudah selesai segera pulang ya ? Aku gak enak badan


^^^Bram^^^

__ADS_1


^^^Aku pulang sekarang^^^


Setelah keluar dari ruang bedah, Bram berjalan menuju ruangannya lalu meraih ponsel di saku baju scrub nya. Bram yang semula berjalan kini berlari setelah membaca pesan Bella, tidak biasanya Bella hingga meminta pulang jika hanya sakit biasa.


Bram memacu mobilnya hingga melewati 100km/jam, tak berapa lama Bram pun tiba dan langsung menuju kamar. Dilihat nya Bella yang terbaring menggeliat memegangi kain sprei di sekelilingnya, keringat dingin membasahi sekujur tubuhnya yang tengah menahan sakit luar biasa.


" Bella .. " Panggil Bram lalu meraih tubub Bella agar duduk dan bertumpu di dadanya.


" Sakit Bram " Ringis Bella sambil memegangi perutnya.


Wajah Bella sudah pucat pasih, Bram tak tau apa yang terjadi dengan istrinya karena tadi sore saja mereka masih bertemu dan Bella masih terlihat baik baik saja. Bram membantu Bella berdiri hendak mengenakan celana panjang dan jaket namun saat Bella berdiri terasa ada sesuatu di bawah sana.


Ssserrr ..


Darah segar mangalir dari bagian intim Bella, keduanya shock kini. Bram pun menggendong Bella yang semakin pucat lalu membawanya ke rumah sakit. Darel yang sudah terlelap seketika terjaga begitu Bram mengabarkan keadaan buruk yang menimpa Bella.


" Halo .. Ini saya Bram tolong segera siapkan bed di depan IGD saya bawa pasien darurat. Panggilkan Darel juga. Cepat ! " Titah Bram pada seseorang yang sedang berjaga di IGD.


" Bella tahanlah, bayi kamu juga kuat kan. Oh Ya Allah .. " Bram memukuli kemudi mobilnya frustasi, Bram tak tau harus berbuat apa selain mempercepat laju kendaraannya.


Sesampainya di rumah sakit Bram menggendong Bella naik ke bed sudah dalam keadaan tak sadarkan diri, wajah Bella pucat pasih, pendarahannya pun masih belum terkendali.



Bram duduk gemetar di ruang tunggu, kepalanya terus menunduk menahan tangis yang hendak pecah. Sesekali Bram mengusap sudut matanya namun noda darah yang menempel di tangannya saat menggendong Bella membuat wajah Bram ikut memerah, Bram menatap baik baik lengannya lalu mulai terisak.


" Aku seorang dokter, tanganku ini bahkan sudah membantu banyak orang. Namun saat istriku kesakitan tangan ini bahkan tak bisa banyak membantu " Sesal Bram saat menatap noda darah di tangan nya.


" Dok, tangan ini juga yang sudah membawa Bella kesini. Andai dokter tak segera membawa Bella, mungkin nyawanya tak akan tertolong " Ucap seseorang yang lalu meletakkan tissue basah di telapak tangan Bram. Bram melirik kesampingnya lalu disana Shela lah yang kini membantu membersihkan tangannya.


" Terimakasih saya bisa sendiri. " Bram menolak bantuan Shela lalu mulai membersihkan tangan dan wajahnya.


" Saya turut berduka dok, saya harap keduanya bisa bertahan. Dan dokter juga bisa kuat. " Ucap Shela.


" Terimakasih Shel. Silahkan lanjutkan pekerjaanmu. Saya ingin sendiri "

__ADS_1


Sialan ! Semakin Lo tolak, gue semakin pengen dapetin Lo. Maaf ya malaikat kecil semoga kau tenang di alam sana, andai saja orangtua mu tak kembali bersama aku tak akan menyentuhmu .. Shela menyeringai puas saat melangkah pergi meninggalkan Bram.


__ADS_2