
" Mas .. " Panggil Bella manja saat Bram mulai naik ke ranjang setelah selesai membersihkan diri.
" Hmm ? "
" Aku minta maaf ya ? Tadi siang aku udah marah marah sama kamu. Aku cape banget akhir akhir ini " Sesal Bella.
" Gak papa yang, aku ngerti ko. Aku juga waktu koas gitu, banyak marah marah, frustasi, kadang pengen nyerah aja. Kayanya semua gitu deh, but trust me kamu pasti bisa ngelewatinnya " Bram membelai rambut Bella lembut.
" Makasih ya mas ? Kalau kamu bilang aku bisa, aku pasti bisa. Btw kamu gak pake parfum yang itu lagi kan ? " Bella mengendus dada Bram lalu beralih ke lehernya.
" Kamu ngendusnya menghayati banget tau sampe bikin tegang haha "
" Ayo mas, biar cepet jadi dede bayi. " Bella semangat menggebu.
" Siapa tau udah ada Bel, kamu kan gak pernah cek "
" Aku belum telat mas masih semingguan lagi. Aku mau cek nya nanti aja kalo udah telat. " Jawab Bella yang kini sudah duduk di pangkuan Bram lalu mulai menarik kaos putih polos milik suaminya hingga otot perut berbentuk kotak itu terekspose.
" Ya kalau udah gini aku sih gak mungkin nolak " Jawab Bram yang langsung memangut bibir ranum istrinya.
Rasanya jika di hitung bulan ini mereka melakukannya lebih intens dari biasanya, selelah apapun itu secara rutin minimal seminggu sekali jika Bram yang tak menyentuhnya maka Bella sendiri yang akan memintanya.
" Hmm .. " Bram melenguh dengan cucuran keringat yang membuat rambut hitam nya begitu basah. Bram berbaring di samping Bella sambil memejamkan mata lalu memainkan kedua gundukan kenyal itu.
" Jangan langsung tidur, bersih bersih dulu mas. " Bella mengguncangkan tubuh Bram pelan
" Iya sayang bentar, masih enak hehe " Bram tersenyum kuda.
Tok .. Tok
" Heh siapa yang ngetok jam segini ? "
__ADS_1
" Bram .. Kamu di dalam ? " Suara bariton milik pria paruh baya itu seketika mengagetkan mereka.
" Daddy mas .. " Mereka sama sama tak ingat bahwa Albert sedang menginap karena besok weekend Albert ingin mengajak kedua cucu nya untuk berlibur.
" Iya dad sebentar " Jawab Bram yang panik mencari kaos lalu celana boxernya.
Ceklek .. Bram membuka pintu dengan rambut yang masih basah karena keringat serta berantakan. Sekilas Bella nampak membungkus dirinya dengan bed cover sebatas dada sedang bagian pundaknya tak tertutup selembar kain pun dengan kamar yang sangat berantakan. Sungguh menandakan mereka habis ber*cinta dengan liar.
" Udah selesai ? Kalo belum lanjut lagi dulu aja. " Tanya Albert santai.
" Apanya dad ? "
" Halah so gak ngerti, lihat sekilas aja daddy ngerti. "
" Hehe udah ko udah tuntas sampe ke tetes terakhir " Bram menggaruk tengkuknya yang sebenarnya tak gatal.
" Yaudah ikut daddy ke ruang kerja bentar .. " Bram mengangguk lalu mengikuti langkah daddy nya menuju lantai 2 tempat ruang kerja.
" Alhamdulillah dad, malah Bella sekarang ngotot pengen ngasih adek buat Zayn. Katanya umur Bram udah gak muda lagi, udah waktunya ngemong bayi sebelum ketuaan haha "
" Ya emang Bram baguslah kalo gitu, kalo daddy masih punya istri daddy sih bakal bikin hamil tiap tahun selagi daddy seumuran kamu "
" Bella itu kalo hamil masa ngidam nya suka parah makannya Bram cukup punya tiga anak aja deh kayanya dad " Curhat Bram hingga mereka sampai di ruang kerja.
" Yaudah semoga berhasil kasih satu lagi cucu yang lucu buat daddy. Ngomong ngomong Bram sorry daddy ganggu waktu istirahat kamu tapi ini urgent. " Albert membetulkan posisi duduknya menjadi terlihat lebih serius.
" Ya Dad ? "
" Usia daddy sudah menginjak 63 tahun Bram. Sudah saatnya Daddy pensiun. Kalau kamu tidak keberatan mulai sekarang bantu daddy mengerjakan beberapa project dengan V.A.S Group. " Albert memberikan sebuah berkas kerja sama project yang akan datang.
" V.A.S group ? Bram tak keberatan jika bukan dengan perusahaan itu. Lagi pula perusahaan farmasi masih banyak kenapa dad masih meneruskan kerja sama dengan mereka. Bram gak mau terlibat lagi dengan Violine "
__ADS_1
" Nak, presdir Ellan tak akan mengganggumu begitupun dengan Violine. Anggap saja dia sudah lenyap dari permukaan. "
" Hah ? Maksud dad ? Kemana dia ? " Bram bertanya tanya bukan peduli hanya penasaran tentu saja.
" Violine sekarang di Belanda ikut suaminya. "
" Suami ? Dia sudah menikah ? "
" Ya seperti kebanyakan pewaris mereka akan di nikahkan dengan pria setara untuk kepentingan bisnis. Kamu tau Bram daddy sangat menyayangimu hingga jika ada yang mengganggu mu daddy akan menyingkirkan nya. Itu juga yang terjadi pada Violine. Presdir Ellan terpaksa menikahkan putrinya agar perusahaannya bertahan, dan Rico suami Violine adalah pria yang sangat posesif Bram haha " Albert tertawa lepas.
" Dan daddy yang membuat mereka menikah ? "
" Ya Bram, daddy hampir saja membuat V.A.S group runtuh karena berani menjatuhkan harga dirimu di depan media. Dengan cara yang sedikit kotor daddy membuat investor menarik aset mereka daddy juga menutup semua jalur project mereka. Ellan itu junior daddy di dunia bisnis ini tentu saja kredibilitas daddy lebih di akui. Harusnya Ellan memikirkan itu sebelum berani mengusikmu. Daddy melepaskan mereka dengan satu syarat yaitu menikahkan Violine dengan putra rekan daddy yang daddy tau pria itu akan mampu mengikat Violine seperti hewan peliharaan. "
" Daddy .. Sekarang Bram yang merinding mengetahui daddy yang lembut ternyata kejam di luar sana. "
" Ayolah Bram kamu juga harus begini, ada anak anak yang harus kamu lindung. Jadi bagaimana kamu terima tawaran dad ? "
" Baiklah dad, Bram akan mulai mengatur jadwal di rumah sakit untuk menyesuaikan. Terimakasih atas kepercayaannya. "
" Siapa lagi yang mau daddy percayakan kalo bukan kamu ? Kamu putra tunggal daddy " Albert mengacak rambut Bram seperti bocah. Ya di mata Albert putranya tetaplah anak kecil yang akan selalu di jaga dan di kasihinya.
Bram hanya bisa tersenyum, melihat lelaki paruh baya itu beranjak dari kursinya.
" Istirahatlah Bram. Selamat malam " Albert membuka pintu lalu keluar terlebih dulu.
Bram hanya memperhatikan punggung renta yang masih kokoh di hadapannya perlahan menghilang. Bram patut bersyukur karena sampai detik ini dengan beribu kesalahan yang di perbuatnya, daddy nya tak pernah sedikitpun meninggalkannya. Bahkan Bram selalu di buat takjub karena kini kenyamanan dan ketenangan hidup yang di milikinya tak lepas dari pengaruh Albert.
Jika bukan daddy, siapa lagi yang bisa melindungi Bram seperti ini. Bram berjanji akan sekuat daddy untuk melindungi keluarga Bram sendiri
Hati Bram tergerak untuk melihat anak anak nya di kamar tidur, menatap mereka yang terlelap dengan tenang lalu teringat bayangan perjalanan hidup mereka hingga sampai di titik ini.
__ADS_1
" Daddy akan menjaga kalian seumur hidup daddy .. " Bisik Bram pada Queen dan Zayn lalu mengecup mereka bergantian.