
" Mas .. " Panggil Bella
" Hah ? Apa tadi ? "
" Mas, diem dulu aku lagi cari panggilan yang enak. "
" Bang .. " Lanjutnya menyebut panggilan yang lain.
" Not bad, next " Bram membantu memberi penilaian.
" Bee .. "
" Good, but aku takut ketuker sama ART haha "
" Udahlah nanti lagi aja di pikirannya " Bella memutar bola matanya malas. Apa salahnya memanggil nama ? Memang ya local culture itu harus di taati.
Bella menatap suaminya yang baru saja pulang dari 'pemburuannya' namun langsung di suguhi tingkah konyol Bella yang sibuk mencari nama panggilan untuk Bram.
" Kamu berantakan Bram, btw abis dari mana ? Terus Kevinnya kemana ? " Tanya Bella menelisik.
" Sayang aku cape ambilin dulu minum dong sama handuk aku mau mandi. " Titah Bram yang memang lelah.
" Jadi abis darimana ? "
" Dari rumah Sheila, pokoknya jangan kaget kalo besok dapet kabar gak enak soal dia " Jelas Bram
" Ada apa sih aku bingung tau kamu kaya main tebak kata sama aku. "
" Aku mandi dulu ya ? Nanti aku jelasin " Bram menarik nafas panjang lalu bangkit menuju kamar mandi menuntaskan ritual mandinya.
Penasaran sebenarnya namun Bella tak ingin ambil pusing lagi, akhirnya Bella hanya merebahkan tubuhnya menunggu suaminya itu keluar dan menceritakan masalahnya. Bram keluar dari kamar mandi dan Bella masih saja setia menungguinya.
" Udah bisa cerita kan ? " Tanya Bella saat Bram merebahkan tubuhnya di samping Bella.
" Aku udah dapet dalang penyebab kegugurannya kamu. Selain itu aku juga dapat informasi yang lebih besar dan gak kalah buruknya "
" Siapa ? "
" Sheila, kamu tau kan ? Sudah dari setahun yang lalu dia ngejar aku termasuk ayahnya yang seorang pejabat tinggi itu. Akhirnya Kevin dapet info dia yang lakuin ini ke kamu, aku telusuri malah dapet fakta baru tentang dia sama keluarganya yang sama sama brengsek ! " Rasanya amarah Bram tak pernah padam saat membicarakan kedua manusia laknat itu.
" Astaghfirullah apa salah aku coba Bram perasaan banyak banget yang gak suka sama aku "
" Bukan gitu, mereka tau kamu itu kelemahan aku. Jadi yang salah itu aku karena bikin kamu jadi pelampiasan amarah mereka. Kamu harus kuat Bel biar gak ada yang nginjek nginjek kamu lagi " Bram memegangi kedua bahu Bella.
__ADS_1
Bram menarik tubuh Bella yang nampak shock itu ke pelukannya. Di usap nya dengan halus punggung mulus Bella.
" Maaf ya Bel, hidup sama aku malah bikin kamu sulit kaya gini "
" Aku tau, semenjak aku mutusin rujuk sama kamu hal hal kaya gini bakal jadi makanan aku sehari hari. Aku nya aja yang belum siap Bram " Bella membalas pelukan Bram
Jika mungkin alasan kembalinya Bella pada Bram karena adanya bayi di dalam rahimnya namun meski sekarang bayi itu sudah tiada bukan berarti Bella akan menyerah pada pernikahan mereka. Bella tipe orang yang jika sudah memutuskan satu pilihan maka akan bertanggung jawab dengan segala resikonya. Dan inilah salah satunya
" Bram ini pistol ? " Tanya Bella ketika tangannya turun ke bagian samping pinggang Bram.
" Hmm itu iya "
" Kamu gak abis bunuh orang kan ? " Bella mengernyitkan dahinya.
" Enggaklah aku gak se kejam itu Bel. Lagian semua keluarga aku punya para bodyguard juga punya, ya cuman buat jaga jaga "
" Kalo gitu ajarin aku nembak juga Bram, buat jaga jaga " Jawaban yang tak di sangka akan keluar dari seorang wanita.
" Buat apa ? Aku bisa lindungin kamu ko. Lagian kamu tuh cewek "
" Kamu ya diskriminatif tau Bram ! " Bella melepaskan pelukannya lalu melingkarkan ke dua tangannya di dada.
Bram mengacak rambut Bella gemas sebelum akhirnya tersenyum manis, mengecup bibir Bella sepintas dan beranjak merebahkan tubuhnya di ranjang. Melihat respon Bram yang malah tidur Bella tak ingin mengganggu lagi, Bella ikut merebahkan tubuhnya memunggungi Bram dan hendak terlelap sampai tangan kokoh Bram menarik pinggang Bella merekatkan tubuh mereka.
" Apa sih Bram, awas .. "
" Serius Bram ? " Bella seketika berbalik menghadap wajah Bram.
" Serius sayang. Udah ah tidur yu atau mau aku tidurin ? " Bram tersenyum smirk.
" Braamm mesum " Bella memukul lengan Bram lalu terkekeh bersama.
Pada akhirnya mereka tak melakukan apapun selain berpelukan saling menghangatkan tubuh lalu terlelap terbuai dalam mimpi masing masing.
Esok harinya, Bram dan Bella seperti biasa berangkat bersama ke rumah sakit. Karena hampir terlambat Bella tak sempat mengecek ponselnya, Bram yang masuk ke lift menuju ruangannya sedang Bella berlari menuju ruang ganti sekaligus tempat lokernya berada.
" Ya Allah Bella aku turut berduka ya atas kejahatan yang udah Sheila lakuin ke kamu " Bella menatap bingung.
" Iya bener Bel, aku gak nyangka dia sedengki itu ke kamu. Sayang padahal dia pinter orangtuanya juga berjabatan tinggi " Lanjut yang lainnya.
" Apa sih gue bingung nih. Nyawa gue belum ngumpul semua abis lari barusan " Jawab Bella polos.
" Lo gak tau Bel ? " Tanya Amanda. Bella hanya menggeleng.
__ADS_1
" Sheila sama bokapnya sekarang udah di bawa kepolisian. "
" Hah ? "
" Sheila di tuntut atas tindakan penyerangan hingga menyebabkan kematian janin Lo, penyalahgunaan obat obatan juga sedangkan bokapnya di usut KPK atas pencucian uang dan penggelapan dana yayasan. " Jelas Amanda yang sedari subuh sudah menyimak berita yang menjadi tranding topic itu.
" Thanks buat infonya Manda, kita ke bagian bedah ya sekarang ? " Tanya Bella yang terasa linglung setelah mendapat info itu.
" Iya, kenapa Lo lari coba ? Padahal hari ini kita mau ikut laki Lo. "
" Iya ya haha padahal laki gue juga dateng bareng gue. Gak tau gue jadi berasa bodoh " Bella memijat kepalanya pelan.
" Yaudah ayo " Amanda menarik tangan Bella untuk bergegas menuju bangsal.
Begitu sampai di bagian bedah, Bram sudah berada di meja para perawat mengecek rekam medis pasien sambil menunggu Bella dan Amanda tiba. Sebenarnya tanpa mengecek pun Bram sudah hafal pasien pasiennya. Itu hanya alasan saja agar Bram tak perlu menghukum keduanya karena terlambat.
" Maaf dok kita terlambat " Ucap Amanda.
" Gak masalah, saya juga baru datang. Lain kali kalian harus disini sebelum saya tiba. " Jelas Bram dengan tegas.
" Baik dok "
Merekapun berjalan menuju ruang perawatan, mulai memeriksa pasien satu persatu. Selain memperhatikan dan mendengarkan penjelasan, Bram. pun memberi beberapa pertanyaan secara random untuk mengukur seberapa jauh pengetahuan mereka tentang pasien.
" Anabella fokus ! " Ucap Bram ketika melontarkan pertanyaan namun Bella tampak termenung.
" Maaf dok, bisa di ulangi pertanyaannya ? "
" Astaga. Kamu ke ruangan saya setelah ini ! " Titah Bram yang tak lagi memberi pertanyaan pada Bella.
Bella hanya menunduk malu, tak biasanya dirinya tidak fokus terlebih saat suaminya sendiri yang menjadi konsulen. Bella pun mengikuti langkah suaminya menuju ruangan Bram.
" Duduk .. " Titah Bram.
" Maaf " Jawab Bella masih menunduk.
" Aku bicara sebagai konsulen, seberapa peliknya masalah pribadi kamu jangan sampai menghambat penilaian dan kinerja kamu saat berhadapan dengan pasien. " Bram memberi wejangan dengan tegas. Beberapa saat hening antara mereka. Bram bangkit duduk di samping Bella mendekapnya penuh kelembutan.
" Sayang, tugas aku sebagai dosen buat bimbing pendidikan kamu dan tugas aku sebagai suami buat bimbing kehidupan kamu. Kamu harus tahan dengan segala sikap aku ya ? "
" Aku ngerti Bram, aku yang salah dan kewajiban kamu buat lurusin aku. Aku cuman gak fokus banyak banget kejadian akhir akhir ini "
" Gak papa. Kita lewatin semua bareng bareng ok ? Masalah Sheila biar aku yang urus jangan terlalu mikirin orang apalagi yang brengsek kaya dia. "
__ADS_1
" Aku pengen nyerah aja kalo bukan karena kamu "
Ketenangan dan kedamaian yang mereka ambil dari kamu, gak akan serta merta aku relain gitu aja Bel. Aku pasti balas mereka lebih dari yang kamu rasain saat ini ..