
Bella dan Bram kini bagai orang yang tak pernah saling mengenal, mereka tak pernah bertemu tak pernah pula saling mengabari padahal hampir setiap hari Bella akan mampir ke rumah Bram untuk menemui anak-anaknya, namun seolah tau Bram tak pernah berada di rumah ketika Bella ada. Begitupun saat akhir pekan ada beberapa jam yang dengan sengaja Bram pergi entah kemana tujuannya tak pernah jelas, Bram hanya memberi ruang untuk Bella dan dirinya sendiri.
Kabar perceraian Bram dan Bella menjadi anugerah tersendiri bagi beberapa orang, khususnya bagi Akbar dan Violine yang masing-masing memiliki harapan besar pada perasaan mereka.
Hari ini ada meeting dengan V.A.S membahas mengenai beberapa isu pemasaran karena adanya pandemi. Banyak dari perusahaan yang bergerak di bidang farmasi membuat suatu terobosan dan pengembangan untuk memenuhi permintaan pasar. Entah Presdir Ellan sengaja atau tidak, semenjak Bram bercerai Presdir menyerahkan urusan proyek di handle oleh Violine. Mungkin saja Presdir Ellan tau bahwa putri nya menaruh hati pada Presdir Wijaya Group itu, toh tak ada salahnya mendekati seorang pria yang sudah tidak beristri.
Violine datang ke kantor Bram lebih awal daripada jadwal meeting mereka, Violine mendatangi ruangan Bram terlebih dahulu.
" Ada yang bisa dibantu Nona ? " Tanya Audry sopan
" Presdir ada ? "
" Ada .. Apa perlu sesuatu ? "
" Bisa saya bertamu ?
" Hm sebentar saya tanyakan dulu. Mohon ditunggu. " Audry mempersilahkan Violine menunggu sebentar di sofa depan ruangan Bram.
Tak berapa lama Audry pun mempersilahkan Violine untuk masuk.
Ttookk .. Ttookk
" Pagi Presdir Bram ! " Violine masuk setelah mengetuk pintu
" Pagi Vio .. Silahkan duduklah "
" Tidak mengganggu ? "
__ADS_1
" Tidak, tentu saja "
" Bagaimana kabarmu Bram ? Sudah lama kita tidak bertemu. Semenjak, maaf persidanganmu kamu sulit di temui. "
" Ya begitulah, aku perlu memulihkan diri. "
" Kamu pasti sangat terguncang Bram. Aku sungguh bersimpati pada keadaan mu. "
" Terimakasih, tenang saja aku sudah baik-baik saja sekarang. "
" Syukurlah .. Btw anak-anak bagaimana ? "
" Mereka bersama ku. Tapi setiap hari mommy nya akan berkunjung saat aku bekerja. "
" Baguslah, aku tenang mendengarnya. Kapan-kapan ijinkan aku bermain bersama mereka. "
" Sure, datang saja ke rumahku anak-anak pasti senang bertemu orang baru. "
Bram hanya mengangguk, Bram tak berniat membuka hati hanya saja Bram pun tak akan menolak orang yang akan mendekat. Silahkan saja jika bisa meluluhkan hatinya. Namun ini Violine, wanita yang membuat Bram tergila-gila pada awalnya hingga menutup hati untuk istrinya sendiri. Tentu sepertinya akan mudah bagi Violine meluluhkan hati Bram.
Mereka berjalan bersama menuju ruang meeting di ikuti Kevin dan Audry, ada rasa tak nyaman di hati Kevin teringat bagaimana perasaan Bella saat tau suaminya ah tidak lebih tepatnya mantan suaminya itu begitu mudah didekati wanita lain padahal Bella saja sudah nyaris sempurna apalagi nanti jika menjadi dokter Kevin yakin Bella akan menjadi wanita karir yang sukses.
...****************...
Kabar orang ketiga yang meretakkan hubungan pernikahan Bram dan Bella pun sampai ke telinga Presdir Albert. Albert bukan tipe orangtua yang senang mencampuri urusan anaknya apalagi masalah rumah tangga, namun karena ini berkenaan dengan masalah bisnis yang sedang di jalani Bram, Albert pun meradang. Andai saja setelah Bella melahirkan Albert segera kembali mengambil alih perusahaan mungkin putranya tak akan bertemu dengan seseorang bernama Violine itu Albert memutuskan akan kembali ke Indonesia dan akan mencari tau kebenarannya dengan mata kepalanya sendiri.
Albert merencanakan akan melakukan penerbangan esok hari. Di usianya yang sudah tidak produktif lagi sebenarnya ingin melepas jabatan secara permanen, namun melihat keadaan putranya yang seperti ini Albert mengurungkan niatnya. Albert tak mau ada wanita yang memanfaatkan Bram, memanfaatkan jabatan dan kekayaannya terlebih keadaan psikis Bram yang pasti cukup terguncang akan mudah di pengaruhi.
__ADS_1
" Audry, siapkan penerbangan besok siang. Saya akan kembali ke Indonesia. Dan mohon kamu jadilah mata dan telinga untuk saya. "
" Saya mengerti Presdir, saya akan segera kirimkan rincian tiket via email. "
Audry kini resmi menjadi mata-mata Albert, bahkan nanti ketika sampai Albert akan membahas ini secara pribadi dengan Audry. Secara tidak langsung Audry menjadi saksi roller coaster nya hubungan Bram dengan Bella apalagi masalah mereka memanas setelah kehadiran Violine, Audry menyaksikan sendiri bagaimana semua ini terjadi.
" Bram .. " Panggil Kevin ketika meeting telah usai
" Hmm ? "
" Lo tau presdir Albert mau balik Indo ? " Bram menggeleng
" Lihat deh itu ada memo yang di sebar perusahaan. Audry sendiri yang nerbitin broadcast nya. Masa lo gak dapet tembusan. " Bram meraih ponsel melihat memo untuk meyakinkan dirinya
Ada rasa heran, kenapa daddy tidak mengabari akan kembali ke Indonesia bukan hanya sekedar berkunjung tapi secara resmi akan aktif kembali di perusahaan padahal sebelumnya belum pernah ada pembicaraan perihal daddynya yang akan kembali.
" Gak enak hati gue. Gue gak di kabarin. Apa daddy sengaja ngediemin gue ? " Tanya Bram bingung
" Menurut Lo gimana ? Menurut gue sih wajar kalo daddy kecewa sama Lo. Apalagi Lo cerai sama Bella tanpa ada komunikasi dulu sama daddy. "
" I know, gue cuman gak mau nambah beban buat beliau. "
" Lo jelasin aja nanti ok ? " Seperti biasa Kevin akan menepuk pundak Bram menenangkan.
Hati Kevin sebenarnya kini tersenyum puas, toh itu kesalahan Bram. Jika dengan Kevin Bram selalu batu tak bisa di ceramahi, Kevin yakin Bram akan menunduk tersungkur jika di hadapan daddynya.
Semoga Lo bisa buka mata. Daddy Lo jauh-jauh balik ke Indo gara-gara Lo. Beliau tau ada yang gak beres sama anaknya.
__ADS_1
Batin Kevin
Kevin meninggalkan Bram dengan segala kebingungannya. Rasanya masalah tak pernah usai dalam hidupnya semenjak mengemban jabatan ini. Jika kali ini daddy nya pulang untuk meminta kembali kursinya, Bram akan menyerahkannya dengan senang hati lalu kembali ke kodratnya sebagai dokter. Sudah tiga tahun berhenti, Bram sangat merindukan masa-masa tenangnya meski tentu tak setenang yang di katakan.