Jantung Hatiku

Jantung Hatiku
Vika dan Jihan kompak galau


__ADS_3

Pagi hari pun tiba, sinar matahari mulai menyilaukan dunia.


Karena merasa silau, Erland pun lalu membuka matanya, Erland sangat terkejut saat dia bangun dengan posisi memeluk Danira.


Bukan marah, tapi Erland entah kenapa sangat nyaman saat seperti ini, sangat mirip dengan pelukan ibunya dulu.


Erland sangat marah namun juga rindu akan sosok sang ibu. Dirinya sampai sekarang tidak tau dimana ibunya. Karena Erland sudah berjanji jika dirinya hanya akan bahagia dengan ayahnya.


Danira pun juga mulai membuka matanya.


"Astaga tuan, maaf apa semalam tuan tidur disini? Maafkan saya tuan maaf" Danira langsung bersimpuh di bawah kaki Erland


"hei hei kamu kenapa sih, sudah tidak apa apa. Aku harus mandi Aku akan berangkat ke kantor" Ucap Erland


"Kalau begitu biar saya siapkan sarapan"


Erland bersiap mandi, sedangkan Danira sibuk berkutat di dapur, Danira memang manja jika bersama ayahnya, tapi saat dirinya bersama Diandra, Danira selalu memperhatikan Diandra memasak dan mulai mempelajarinya.


"Tuan sudah selesai mandi? Ini saya buatkan nasi goreng spesial"


Erland langsung mencicipi masakan Danira. Saat Erland mencicipinya, benar saja rasa nasi gorengnya benar benar enak, rasanya juga mengingatkannya dengan kenangan masa lalunya bersama ibunya hingga tanpa sadar Erland menitihkan air mata.


"Tuan kenapa menangis?" Tanya Danira


"Tidak apa apa, jangan masak nasi goreng lagi" Ucap Erland


"kenapa? apa rasanya tidak enak?"


"Yah sangat sesak rasanya." Erland mencoba menahan tangisnya. Sedangkan Danira mencicipinya.


"enak kok tuan ini...loh tuan menangis? Tuan dulu kakak saya bilang kalau kita bersedih, obat yang paling ampuh adalah pelukan untuk menguatkan" Ucap Danira


Erland terus menangis, Karena tidak tega Danira memberanikan diri memeluk Erland.


Erland merasa sangat nyaman dan tidak marah saat Danira memeluknya. Erland justru merasa puas karena Danira memeluknya entah kenapa beban yang ia rasakan hilang seketika.


"Terimakasih, Aku permisi dulu" Ucap Erland singkat.


"Tuan tunggu! Ini bawalah ini...ini gantungan penangkal kesedihan, aku selalu gunakan ini ketika aku sedih. Ketika tuan menggenggamnnya maka semua masalah akan terkumpul disini." Danira memberikan gantungan kepada Erland


"Gantungan penangkal kesedihan?"


"iya, itu pemberian dari kakakku sebenarnya tapi sepertinya tuan lebih butuh itu" Ucap Danira


Akhirnya Erland berangkat ke kantornya. Entah kenapa hari ini Erland sangat senang sekali.


-

__ADS_1


Sedangkan dirumah Vika, keponakan Vika tidak mau berangkat sekolah.


"Duh qila, ayo dong kita berangkat, Tante juga mau kerja nih" Ucap Vika


"nggak mau kalo ngga sama om ganteng, qila mau sama om ganteng"


"Vik, siapa sih yang dimaksud Qila? dari kemaren nanyanya itu Mulu? Ucap mama Qila


"Duh kak aku juga ngga tau.....eh apa jangan jangan astaga apa mas Arya?" Vika menebak


"Siapa dia?" Tanya mama Qila


Vika lalu menjelaskan siapa Arya dan bagaimana Qila bisa mengenal Arya


"ooh jadi begitu ceritanya....Sayang, kamu mau mama antar?


"nggak mauuu Qila maunya sama om ganteng"


"oke oke gini....om ganteng kan sekarang lagi kerja, nah Qila sekolah dulu Tante antar nanti setelah pulang sekolah, kita ketemu om ganteng gimana?" Vika mengusulkan karena sudah lelah membujuk Keponakannya.


"Janji ya Tante"


"iyaa janji, tapi kita berangkat sekolah dulu ya" Ucap Vika


Diperjalanan, Vika terus berkutat dengan pikirannya.


"Duh Qila ada ada aja sih, terpaksa deh aku harus anter Qila ke kantor Hans, tapi mas Arya mau nggak ya?" batin Vika.


"Tante harus janji sama Qila ya setelah pulang sekolah kita ketemu om ganteng"


"duhh bawel banget sih, yaudah buruan masuk nanti telat" Ucap Vika.


Vika lalu melajukan mobilnya menuju ke toko. Setelah sampai toko, Vika langsung duduk dan memegang kepalanya.


Begitupun Jihan yang biasanya semangat namun kali ini dia begitu muram.


Diandra yang baru datang bersama Hans pun langsung heran dengan Jihan dan Vika yang duduk sambil memegang dagu.


"Sayang, mereka kenapa sih?" Tanya Hans


"ngga tau, kok mereka kompak ya....kayanya ada sesuatu deh."


"aku kagetin mereka aja" Hans mulai jahil dengan menepuk tangannya di depan mereka, sehingga mereka dengan kompak terkejut dan tersadar dari lamunan mereka.


"Hans, apa apaan sih kaget tau!" Kesal Vika


"lagian kalian berdua bukannya kerja malah bengong" Ucap Hans

__ADS_1


"kalian kenapa?" Tanya Diandra


Vika dan Jihan saling menatap.


"ah aku....aku gapapa kok Jihan mungkin"


"aku? aku juga ngga ada kok, oh ya di hari ini kamu ada ide nggak buat bikin tema?" Tanya Jihan


"hemm aku kayanya hari ini ngga mood deh, soalnya kalian ngga seru, pasti kalian sedang menyembunyikan sesuatu"


"Bukan begitu di, tapi....hah....masalahnya ini..ini benar benar rumit" Ucap Jihan


"oke, sekarang kita mulai dari Jihan, Jihan apa yang kamu sembunyikan? ada masalah apa?" Tanya Diandra


"aku? aku...tapi aku malu"


"udah cepetan cerita, tau sendiri kan Diandra lagi hamil moodnya sering berubah" sambung Hans


"baiklah baiklah, Aku, aku sudah bertemu orang tua Riko, tetapi mereka tidak setuju dengan hubungan kami, Tetapi Riko tetap ingin mempertahankan hubungan ini, Riko akan tetap menikahi aku walau tanpa restu orang tua nya, Sedangkan aku...aku tidak mau jika menikah tanpa restu." Jihan menjelaskan


"bagus dong jika begitu, harusnya kamu senang karena Riko masih mempertahankan kamu, masalah orang tua Riko, urusan belakang, yang terpenting kalian harus segera menikah, kalau perlu kalian kawin lari saja" Usul Hans yang membuat Diandra melotot ke arahnya.


"Wahh Hans, kamu benar benar gila ya, bisa bisanya kamu berpikir seperti itu" Ucap Vika.


"lalu bagaimana dengan kamu? cepat ceritakan kepada istriku" Tegas Hans


"hah....kalau aku masalahnya sedikit sulit bagiku. Keponakanku di, Anaknya kakak ku Si Qila, masa dia mau ketemu sama Arya, dia bahkan sampe ngga mau makan cuma karena pengen ketemu Arya. Kan aku jadi pusing" Ucap Vika


"loh kok Qila bisa kenal mas Arya?" Tanya Diandra dan Vika pun menjelaskan kepada mereka bagaimana Arya dan Qila bisa bertemu.


"oh kalau begitu ajak saja Qila ke kantor ku, pasti Arya akan senang" Usul Hans


"Sayang, kamu tuh apa apaan sih, dari tadi sarannya ngga ada yang bener deh" Kesal Diandra


"Loh ngga bener gimana, Jihan...jika dia sudah menikah dengan Riko, mau apa lagi, mau tidak mau keluarga Riko harus menerima kan, Dan lagi ini si Vika, kenapa pusing pusing, tinggal datang saja ke kantor bawa Qila, pasti Arya akan mengerti kok" Ucap hans santai yang membuat Diandra berpikir kembali


"Wahh mas kamu benar benar jenius....Oke aku setuju, Jihan kamu harus memperjuangkan hubungan kamu dengan Pak Riko apapun rintangannya, dan kamu Vika, kamu kenapa ngga langsung telfon mas Arya aja sih pasti dia akan paham kok. Kamu mau bantu kan sayang" Bujuk Diandra


"Sayang, itu bukan urusan kita, kan aku sudah kasih saran tadi" Ucap Hans


"oh gitu ya, oke sekarang kamu sana ke kantor! aku mau pulang sama Vika aja" Kesal Diandra


"Astaga dia mulai lagi, nak apa kamu akan seperti papa yang mudah marah" Batin Hans


"kok diem?" Tanya Diandra


"iya....oke, aku janji aku bakal pikirkan gimana caranya Jihan dan Riko akan tetap menikah, dan aku akan membantu membujuk Arya oke, kamu maafin aku ya tapi"

__ADS_1


"Tergantung gimana nanti, kalo kamu berhasil aku baru maafin kamu" Ucap Diandra.


Hans yang paham dengan Diandra lalu pergi ke kantornya dengan menggerutu di sepanjang perjalanan.


__ADS_2