Jantung Hatiku

Jantung Hatiku
Hans dan Diandra sadar


__ADS_3

Edward kini telah dimakamkan oleh pihak keluarganya. Hans kini sudah dipindahkan diruang rawat.


Setelah pulang dari pemakaman, kini Arya, kembali kerumah sakit untuk menjaga Hans.


Saat Arya menjaga Hans, Bu Rosa menghampiri Arya.


"Arya, Kamu istirahatlah. Kamu selalu menemani Hans, biar mama yang bergantian menjaga Hans. Pulanglah dan istirahatlah" Ucap Bu Rosa.


"Iya Tante, Arya pulang sebentar ya setelah itu Arya kemari lagi, tapi Diandra?"


"Diandra sudah dijaga oleh mama Ratna jadi kamu tidak perlu khawatir, pulanglah biar tante yang jaga Hans ya" Ucap Bu Rosa


Arya lalu pergi untuk pulang kerumah, saat berjalan keluar rumah sakit, kebetulan Vika juga baru datang membawakan makanan untuk Bu Ratna.


"Vika? Apa aku sapa dia..tapi dia pasti masih marah dengan aku" Ucap Arya dalam hati


"Mas Arya, mau pulang?" Tanya Vika yang membuat Arya entah kenapa merasa sangat bingung dan tidak tau harus menjawab apa karena sedikit gugup tidak seperti biasanya


"ah iya Vika aku bergantian dengan Tante Rosa, oh ya kamu mau jenguk Diandra?" Arya mencoba akrab


"iya, aku bawa makanan untuk Tante Ratna. Kalau begitu aku permisi dulu" Ucap Vika


"tunggu Vika, emm aku.....aku minta maaf mengenai kejadian waktu itu aku...aku benar benar...akhh" Arya menyesal.


"tidak apa-apa, aku mengerti. Maaf mas Arya aku permisi ya" Ucap Vika singkat namun membuat Arya menjadi semakin merasa bersalah, kali ini hari Arya entah kenapa berdegup lebih kencang.


"ada apa ini, kenapa aku seperti ini, bukankah aku dan Vika sering bertemu, tapi kenapa kali ini berbeda...hah sudahlah mungkin ini karena aku masih merasa bersalah karena aku dulu memarahinya" Batin Arya.


"Vika, kamu tidak usah berharap lebih, lagipula mas Arya itu masih mencintai Diandra. Sebaiknya kamu fokus karir kamu dan urus toko" Vika menyemangati dirinya sendiri.


-


Sementara itu, Jihan yang sedang sibuk dengan tokonya pun menjadi sangat sibuk akhir-akhir ini. Riko pun mau tidak mau harus mengerti Jihan.


"Hai" Riko mengejutkan Jihan


"Ehh astaga, Iihh kamu ngagetin deh nyebelin banget sih, terus aja ngagetin.....ada apa? ngga ke kantor?" Tanya Jihan


"Emm ke kantor lah" Ucap Riko.


"trus kenapa masih disini?" Tanya Jihan


"ya aku kangen kamu" Riko dengan sikap yang masih saja kaku


"Hadeh, langsung to the point' banget ngga ada romantis romantisnya. Emm kamu udah sarapan?" tanya Jihan


"udah tadi dimakasin ibu" Jawab Riko


"yasudah syukurlah kalau begitu. Yaudah sana aku mau kerja ih"


Riko lalu duduk sambil terus menatap Jihan. Hingga tanpa sadar, ada seorang wanita yang bisa dibilang berkelas yang terus memandangi Riko dan mulai mendekati Riko.


"hai, aku seperti tidak asing dengan kamu? Apakah kamu Riko Alfredo?" Tanya wanita tersebut.

__ADS_1


"benar, anda siapa ya?"


"ah aku Anggun, inget nggak? teman kuliah dulu, kita satu jurusan dan sering sekelas." Ucap wanita tersebut


"ah iya anggun, oh kamu anggun yang dulu jadi asisten dosen juga?" Tanya Riko


"kamu ingat rupanya, udah lama ya kita ngga ketemu, apa aku boleh duduk disini?" Tanya Anggun


"Emm boleh, tapi aku tidak bisa lama karena ku harus bekerja" Ucap Riko.


"Oh tidak apa apa, kamu sekarang kerja dimana?" Tanya Anggun


"Aku bekerja di perusahaan SC group."


"Wah hebat ya, kamu sering kesini. Kalo aku baru aja sih katanya ini baru buka satu bulan, dan aku mau nyobain kayanya enak" Ucap Anggun


Jihan melihat Riko sedikit akrab dengan wanita lain menjadi sangat kesal.


"Siapa cewek yang sama Riko? cantik dan kelihatan nya dia wanita berkelas. Hah memang susah ya kalau punya pacar yang ngga selevel gini. Tapi mereka akrab banget sih, Udahlah aku kerja aja daripad emosi lihat mereka" Ucap Jihan dalam hati.


"Emm Riko, apa aku boleh meminta nomor telfon kamu?" Anggun bertanya kepada Riko yang tentu saja Jihan mendengarnya dan menjadi sangat kesal.


Riko lalu melihat ke arah Jihan sebentar.


"emm untuk apa?" Tanya Riko


"ya untuk menambah teman aja, siapa tau perusahaan tempat kamu bekerja juga bisa bekerja sama dengan perusahaan papaku" Ucap Anggun


"emm yasudah ini" Riko dengan terpaksa memberikan nomor telfonnya kepada Anggun karena menyangkut masalah perusahaan.


Riko pun menghampiri Jihan.


"Aku berangkat kerja ya" Ucap Riko


"Ya kerja aja sana, aku lagi sibuk udah kamu sana deh" Jihan yang masih kesal.


"Yaudah daaa" Ucap Riko yang hanya dibalas anggukan oleh Jihan dengan wajah kesal.


"ih, Siapa sih wanita tadi bener bener bikin kesel, mana pake tukeran nomor telfon lagi, iihhh" Jihan sambil meremas kertas kuenya.


"Bu Jihan, itu kenapa diremas kertasnya?" Ucap salah satu karyawan.


"eh aduh iya maaf maaf, aduhh" Jihan benar benar kesal kali ini.


-


Hari telah berganti sore, kini Arya sudah berada dirumah sakit setelah mengurus perusahaan Hans.


Hans mulai sadar, tangannya mulai bergerak dan mulai membuka matanya.


"Hans, kamu sudah sadar, sebentar ya aku panggil dokter" Arya menekan tombol untuk memanggil perawat.


Tak lama kemudian perawat datang.

__ADS_1


"Ada yang bisa kami bantu?" Tanya perawat tersebut


"Hans sudah sadar tolong periksa dia" Ucap Arya


"baik pak tunggu sebentar saya panggilkan dokter." Ucap salah satu perawat tersebut


"sambil menunggu dokter kemari saya periksa dulu ya pak tensinya" Ucap perawat Satu lagi.


Tak lama kemudian dokter pun datang dan memeriksa kondisi Hans.


"Alhamdulilah kondisi pak Hans sekarang sudah lebih baik, tapi jangan terlalu banyak bergerak ya, Karena tubuhnya masih lemah. Tapi racunnya sudah mulai hilang, kondisi anda juga sudah pulih, mungkin karena anda sering berolah raga jadi proses penyembuhannya cepat" Dokter lalu pergi meninggalkan Hans dan Arya


"Aku akan menghubungi Tante Rosa kalau kamu sudah sadar" Arya lalu mengabari Tante Rosa jika Hans sudah sadar.


"bagaimana kondisi kamu? ingin sesuatu?" Tanya Arya


"Tidak, bagaimana Diandra? dia sudah sadar?" Tanya Hans


"belum, dia belum sadar" Ucap Arya


"Aku ingin menemuinya" Hans mencoba bangun


"kamu gila! kondisi kamu seperti ini kamu belum sembuh total, dengar kalau kamu ingin Diandra segera sadar, maka kamu harus ikuti perkataan dokter agar segera sembuh, kamu mau Diandra aku ambil?" Ucap Arya


"cih, hah...maaf Arya aku...aku terlalu emosi, aku sangat tidak suka jika ada orang yang menyukai istriku kamu bagaimana aku begitu mencintai Diandra, dia adalah separuh nyawaku." Ucap Hans


"Aku mengerti, Aku juga minta maaf semua salahku, seharusnya aku tidak memiliki perasaan sejauh ini" Arya menyesal.


Kemudian Hans dan Arya saling tatap, lalu tertawa bersama.


"wajahmu jelek, kamu sangat pucat, aku lebih tampan dari kamu, pasti aku akan segera mendapatkan seorang wanita tenang saja" Arya mencairkan suasana


"Terimakasih" Hans menjabarkan tangannya


Lalu Arya memeluk Hans.


Dan datanglah Riko, Erland dan Bryan secara bersamaan.


"Astaga, kalian ini aku juga ikuutt" Erland lalu ikut memeluk Hans dan Arya


Bryan lalu mengabadikan video mereka.


"Nah gini dong kan adem lihatnya wiihh lihat kamera" Bryan merekam kebersamaan mereka.


-


Sementara itu, Diruang ICU, Diandra mulai mengeryitkan matanya dan tangannya mulai bergerak.


Jihan yang melihat lalu segera memanggil dokter dan perawat.


"Diandra, kamu bangun ya nak, mama kangen sama kamu" Ucap Bu Rosa dengan khawatir.


"Tante tenang ya, Diandra pasti baik-baik aja kok, tenang ya Tante." Ucap Jihan

__ADS_1


...πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•...


__ADS_2