
Tamu undangan pun telah banyak yang hadir, Mereka yang hadir adalah keluarga, teman dari ayah Hans dan ibu Hans, ada juga para kolega dan pengusaha lainnya.
"Perhatian semuanya, Terimakasih sudah hadir di acara perayaan ulang tahun istri saya, saya ucapkan selamat datang di rumah kami, Saya berharap dengan berlangsungnya acara ini, dapat lebih mempererat persaudaraan kita , Terimakasih dan selamat menikmati makanan dan minuman yang telah kami hidangkan."
Ucap Ayah Hans kepada seluruh tamu undangan yang hadir.
Mereka kemudian bersorak dan bertepuk tangan dengan meriah.
"jeng, selamat ulang tahun ya, semoga sehat selalu ya jeng supaya kita bisa momong cucu jeng"
Ucap ibu Diandra memberi selamat kepada Bu Rosa.
"amiin jeng, saya juga berharap kalau Diandra dan Hans segera dikaruniai momongan ya jeng biar kita segera dapet cucu."
Ditempat lain, pak Abraham yang mencoba mencari kesempatan untuk mengambil hati para kolega bisnis yang berada di acara tersebut.
"halo, Pak Doni, wahh sudah lama sekali ya pak kita tidak bertemu."
Ucap ayah Diandra kepada salah satu tamu undangan.
"oh ya halo pak Abraham, wah iya sepertinya sudah lama sekali ya pak kita tidak bertemu, seingat saya terakhir kita bertemu saat dulu di Bali, waktu itu saya memenangkan tender bukan?"
Ucap pak Doni dengan sedikit sombongnya.
"hahahaha benar juga, Oh ya pak Doni kalau pak Doni berminat, mungkin kita bisa membicarakan lebih lanjut mengenai....yah bapak tau lah"
"hahaha pak Abraham, saya rasa anda terlalu terburu-buru pak, sudahlah kita nikmati saja masa tua kita, santai saja dulu."
"akhhh yasudah kalau begitu saya permisi dulu ya pak Doni, istri saya mungkin mencari saya"
Pamit pak Abraham kepada pak Doni.
"oh baik kalau begitu, silahkan."
Pak Doni sambil berkata dalam hati
*dasar parasit, bisa-bisa nya dia menawarkan disaat seperti ini, pasti dia sedang membutuhkan suntikan dana, bukanka pak jeremy sudah memberikan sebagian sahamnya kepada perusahaan pak Abraham? hah sudahlah, namanya juga orang serakah*
"haiiisss dia tidak berubah, masih saja kolot, dasar, bilang saja kalau tidak punya banyak saham dasar pria kolot"
Kesal pak Abraham.
Diandra yang melihat sang ayah lalu menghampirinya.
"papa, mau sesuatu lagi ngga pa biar Diandra ambilkan?"
Tawar Diandra kepada sang ayah.
"kamu ini buat mood papa semakin buruk saja, sana kamu, urus saja suami kamu yang cacat itu."
Kesal pak Abraham.
"pah, kapan sih papa berubah, sampai kapan papa terus membenci Diandra? Diandra sudah melakukan apa yang papa minta, sekarang apa lagi pa?"
Tanya diandra.
Tanpa disadari Hans memperhatikan pembicaraan mereka, lalu pergi karena kesal dengan alasan Diandra menikahinya.
"kamu sama seperti wanita yang lain rupanya, meskipun kamu gadis kecilku, bukan berarti kamu bisa seenaknya"
__ADS_1
Batin Hans lalu pergi tanpa mendengarkan lagi pembicaraan mereka.
"Kamu anak tidak berguna! kamu tau nggak, papa menyesal sudah membesarkan kamu, papa sangat kecewa dengan kamu Diandra, sampai kapanpun papa tidak akan pernah Sudi menganggap kamu sebagai anak! dan satu lagi kamu urus saja suami cacat kamu itu dan jangan pernah kamu usik lagi papa mama dan adik kamu, karena sekarang kamu sudah tidak berguna lagi!"
Bentak ayah Diandra sambil menunjuk kearah Diandra.
"pah cukup, selama ini Diandra selalu sabar menghadapi papa, untuk kali ini Diandra sudah tidak bisa lagi pa, papa sudah menghina suami Diandra, asal papa tau, suami Diandra tidak cacat pa, dan meskipun saat ini kondisinya seperti itu, tapi mas Hans selalu memberikan apa yang selama ini Diandra tidak pernah dapatkan dari seorang ayah, mas Hans memberikan hal yang selama ini layaknya diberikan oleh ayah kepada anaknya.
Baik, jika itu mau papa, mulai sekarang Diandra tidak akan pernah lagi peduli dengan papa, tapi untuk mama dan Danira, Diandra masih peduli dengan mereka."
Ucap Diandra panjang lebar kepada ayahnya.
Riko yang mendengar percakapan ayah dan anak itu terlihat sangat heran dengan kelakuan ayah Diandra.
Sambil berkata dalam hati,
"Kok ada ya seorang ayah yang tega seperti itu sama anaknya sendiri, hah tapi setidaknya aku sedikit lega karena akhirnya tuan Hans menemukan sosok perempuan hebat dan tulus menyayangi serta akan selalu mendampinginya."
(kembali ke Diandra dan ayahnya)
"kamu mentang-mentang sudah jadi istri orang, menantu orang kaya dan sekarang kamu berani ya sama papa, kamu ini memang tidak berguna Diandra haishhh mengganggu saja"
Ucap ayah Diandra lalu pergi.
Diandra yang tidak menyangka jika sang ayah yang selama ini dia sayangi dan ia harapkan kasih sayangnya ternyata begitu membenci dirinya.
Diandra berlari ke tempat sepi agar dapat menangis sepuasnya tanpa dilihat oleh siapapun.
Tangisan Diandra yang sedikit keras membuat seseorang yang sedang duduk di kursi sebuah taman merasa ngeri.
"suara apa itu, haishh sial mengganggu saja makhluk ini."
Ucap seorang pria berperawakan tinggi kekar, tampan dan berkulit putih, yang hampir mirip dengan Hans, sambil membuang rokok yang ia hisap.
Arya baru saja pulang di Indonesia sehari sebelum acara ulang tahun ibu Hans, sifat Arya hampir mirip dengan Hans, bahkan keduanya sampai dikira kembar oleh beberapa orang, bahkan usia mereka hanya terpaut 4 bulan saja.
(lanjut.....)
Karena merasa ada yang menangis dengan pelan dan mengendap-endap, Arya mencoba mencari sumber suara tangisan itu dan langkahnya terhenti saat dirinya berhenti di dekat pot bunga yang cukup besar.
"hah.....Arya, kamu jangan jadi penakut"
Ucap Arya dalam hati sambil mengatur napasnya dalam-dalam.
tap... tap..tap
Dengan langkah pelan, Arya memberanikan diri mendekat sumber suara tersebut dan.....
"aaaaa"
Teriak Diandra.
"haaaahh, siapa kamu ha, saya ga takut sama kamu, sini kamu maju kalo berani."
Lawan Arya dengan posisi kuda-kuda.
Diandra yang heran dengan tingkah aneh Arya hanya bisa diam.
"ayo maju, dengar ya hantu jenis apapun saya tidak takut, ayoo cepet maju kamu"
__ADS_1
Tantang Arya dengan posisi tangan yang siap meninju namun sedikit gugup karena takut.
"Kamu gila ya, apa-apaan sih kenapa malah kamu nantangin saya?"
ucap Diandra yang terheran dengan Arya.
"loh, kok hantu bisa bicara sih, wahh tapi kakinya Napak kok."
Batin Arya sambil mengamati Diandra.
"kamu jangan macam-macam ya sa saya, saya bisa teriak supaya kamu dikeroyok, mau ha!"
Bentak Diandra kepada Arya.
"loh kok bisa ngomong? bisa marah juga, mukanya juga ga pucet."
Ucap Arya yang masih heran.
"Dasar cowok sinting, kamu dateng-dateng nantangin, trus sekarang ngatain lagi, kamu tuh atau jangan jangan kamu....kamu orang mesum hah...tolong tolong, hmmmppphh toowoong"
Arya lalu membungkam mulut Diandra karena terlalu berisik.
"lepasin, iihh "
Diandra lalu menginjak kaki Arya.
"auuwww sakit ahhkkhhh, gila kamu ya! sakit tau, kamu nginjek paket hels kamu, mana tajem lagi."
Keluh Arya sambil memegang sepatunya karena sakitnya menembus ke kulitnya.
"salah siapa kamu bungkam mulut aku, kamu penculik ya, heh jangan harap kamu bisa culik aku ya, disini penjagaannya ketat tau"
Celetuk Diandra sambil menyilangkan tangan.
"hah, tampang keren ganteng gini kamu bilang pencuri, sakit kamu ya, periksa mata kamu harusnya, yang harusnya tanya itu saya, kamu siapa ha ngapain kamu nangis sendiri disini, liat muka kamu"
Ucap Hans sambil menunjukan kamera depan hpnya ke wajah Diandra.
"hah, wajahku...aiishhh menyebalkan!"
Ucap Diandra dengan kesal.
Bagaimana tidak, make up Diandra luntur karena dirinya menangis, eyeliner dan maskara yang ia pakai seketika luntur karena sering diusap olehnya, memang benar kata Arya kalau penampilannya memang terlihat menyeramkan.
"hiks hiks hiks, wuaaaa....."
Bukanya diam, Diandra malah semakin tambah menangis.
"Hei kamu jangan nangis dong nanti dikira saya apa-apaain kamu lagi."
"biarin, siapa suruh kamu bikin aku tambah sedih."
Kesal Diandra pada Arya.
Karena merasa kasihan, Arya memberikan sapu tangannya untuk menghapus air mata Diandra.
"nih bersihin air mata kamu, dan pergi kekamar mandi untuk membenarkan riasan kamu, nanti orang lain pingsan liat kamu."
"trimakasih, permisi!"
__ADS_1
Ucap Diandra yang menerima sapu tangan dari Arya lalu pergi begitu saja meninggalkan Arya.
...ππππππππππππππ...