
Pagi hari di mansion Hans, Hans sedang bersiap menunggu Riko untuk pergi ke fisioterapi.
Diandra yang baru bangun tidur, dengan segera menghampiri Hans,
"mas, maaf saya kesiangan..saya minta maaf mas tolong maafkan saya mas, saya janji tidak akan mengulangi kesalahan saya mas, saya janji"
Hans yang terkejutpun merasa sangat iba kepada Diandra, gadis kecil yang ia cari selama ini ternyata adalah gadis yang sangat lugu dan mudah memaafkan.
"kamu ini kenapa sih, buruan mandi kamu ikut saya ke fisioterapi hari ini", pinta Hans kepada Diandra.
Diandra yang langsung paham pun segera mandi dan mempersiapkan diri.
Sesampainya di tempat fisioterapi, Hans dibantu Diandra dan supir untuk turun lalu menuju ke ruangan dokter terlebih dahulu.
"Selamat pagi pak Hans, bagaimana kabar anda hari ini, apakah sudah siap untuk melakukan terapi? tapi sebelum itu saya periksa anda terlebih dahulu agar bisa menentukan bagaimana proses terapinya. Silahkan anda berbaring".
Kata sang dokter yang menangani Hans.
Setelah selesai melakukan pemeriksaan akhirnya Hans dibawa ke ruang fisioterapi untuk melakukan rangkaian terapi.
Karena ini adalah hari pertama Hans melakukan terapi, latihan yang dilakukan tidak terlalu berat hanya latihan untuk berdiri serta merenggangkan otot.
Meskipun begitu, bagi Hans ini sangat sakit karena kakinya sangat sulit digerakkan.
Dengan perlahan dibantu beberapa fisioterapis akhirnya Hans dapat berdiri.
Keringat mengucur membasahi peluh Hans dan Hans mulai mengerang kesakitan, Diandra yang melihatnya pun tanpa sadar telah menitihkan air matanya.
Hans yang melihat Diandra menangis pun lalu memanggil Diandra.
"hei kamu sini". Panggil Hans sambil melambaikan tangan.
Diandra yang tersadar pun langsung berdiri seraya menghapus air matanya.
"iya mas ada yang bisa saya bantu?" tanya Diandra.
"Kamu pegangin saya dari depan". perintah Hans kepada Diandra sambil tersenyum licik.
Diandra yang menurut kemudian memegang Hans, lalu tiba-tiba....Grepp....
Hans memeluk Diandra dan mencoba merenggakan kakinya agar dapat berdiri dengan baik.
Entah mengapa Diandra merasa sangat nyaman berada di pelukan Hans, pelukan yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya.
Jantung mereka saling berdegup kencang, Hans yang dapat merasakan jantung Diandra berdegup kencang pun hanya tersenyum.
__ADS_1
Diandra yang merasakan jantungnya pun hanya bisa diam dan merasa aneh, padahal jantungnya berpacu lebih cepat tapi kenapa tidak sakit.
Hans lalu melepas kan pelukan nya dan kembali duduk di kursi roda karena merasa sangat kesakitan dan kelelahan.
Selang beberapa detik kemudian Hans berdiri lagi dan memeluk Diandra, hal ini dilakukan berulang agar merenggangkan otot Hans yang masih kaku.
Sudah berjam jam mereka berad diruangan terapi tersebut, setelah selesai dengan terapinya Hans dan Diandra pun menemui dokter guna memeriksa perkembangan Hans.
Setelah selesai semuanya kemudian mereka masuk ke mobil, didalam mobil tiba-tiba perut Diandra berbunyi
krukk...krukkk .....krukkk
"aduhh ini perut bikin malu, masa bunyi siihh" . keluh Diandra dalam hati.
Hans yang tadinya berkutik dengan ponsel lalu mendengar suara perut Diandra pun hanya bisa tersenyum pelan lalu menyuruh sopir untuk berhenti di tempat makan terdekat.
"Pak Anton, nanti kita berhenti di rumah makan dekat ini, cacing di perut istri saya sedang demo"
Diandra sontak mencubit Hans dan berkata,
"iiihh apaan sih engga tau, tadi pagi kan aku belom sarapan. Kamu ngga bangunin aku sih jadinya ngga sarapan trus buru-buru kesini kan". Protes Diandra
"Kamu aku cubit tadi belom kerasa ya?" tanya Diandra kepada Hans.
Hans yang tadinya tersenyum lalu diam dan berbicara dalam hati "benar juga kenapa belum terasa".
"udah gapapa nanti malem kita latihan supaya otot kamu ga kaku ya, kita latihan terus sampai mas sembuh, oke"
Diandra yang mengatakan hal tersebut sambil tersenyum dan menyemangati Hans, entah mengapa hati Hans sangat senang dan tanpa sadar dirinya memeluk Diandra.
"iiihhh mas malu tau" protes Diandra sambil melepaskan pelukan Hans.
Sedikit informasi tentang kelumpuhan Hans :
*Bagian perut bawah sampai bawah telapak kaki Hans mengalami kelumpuhan, namun bagian perut atas, tangan hingga kepala Hans masih normal. Hanya bagian bawah saja yang mengalami kelumpuhan.
(Sesampainya di rumah makan)
Setelah menemukan rumah makan terdekat merekapun turun dari mobil, Diandra yang mendorong kursi roda Hans lalu masuk kedalam.
Mereka duduk di tempat yang kosong lalu memanggil pelayan, alangkah terkejutnya saat pelayan tersebut datang, karena pelayan tersebut adalah sahabat Diandra.
"loh Jihan, apa kabar". Celetuk Diandra sambil berdiri memeluk Jihan.
"baik di, eh kamu juga apa kabar, baik-baik aja kan aku kangen sama kamu". Balas Jihan sambil menggoyangkan tubuh diandra
__ADS_1
Ehemm...hemm...
Hans yang merasa tidak dipedulikan akhirnya memecah suasana tersebut dan menyadarkan mereka.
"eh maaf, oh iya Jihan kenalin ini mas Hans suami aku" . Diandra memperkenalkan Hans dengan senyum
"oh iya kenalkan saya Jihan, sahabat waktu SMA Diandra". Jihan mengulurkan tangannya kepada Hans namun Hans tidak membalas dan hanya mengatakan namanya dengan cuek.
"oke maaf kalo begitu, kalian mau pesan apa?"
Jihan yang merasa tidak enak langsung menawarkan menu. Setelah memilih menu
Selang beberapa menit, makanan mereka pun telah datang.
Diandra yang merasa lapar pun akhirnya mulai makan.
Hans yang memperhatikan makan Diandra pun merasa gemas dan ingin sekali memakan Diandra juga saat itu. Sambil makan, Hans selalu memperhatikan Diandra, Hans ingin sekali mengatakan bahwa Diandra dan Hans pernah bertemu saat kecil dan Hans adalah Pangerannya saat itu, namun dirinya tidak ingin mengatakannya sekarang.
Hans akan mengatakan semuanya dan akan jujur tentang perasaannya kepada Diandra saat dirinya sudah sembuh nanti, Hans juga berjanji akan menjaga Diandra dan akan mencarikan pendonor untuk tranplatasi jantung Diandra.
"Kamu itu makan kaya anak kecil sini".
Hans tersenyum sambil mengusap lembut bibir Diandra yang belepotan.
Diandra yang merasa malu lalu mengelap sendiri mulutnya.
Setelah mereka selesai makan lalu mereka bersiap untuk pulang.
Jihan yang mengetahui mereka akan pulang pun berlari menghampiri mereka.
"Diandraaaa........huh aku boleh minta nomor telepon kamu engga biar kalo kangen bisa nelfon kamu"
"Oh iya, tapi aku ngga punya ponsel Han kemaren ponsel aku ......"
belum sempat Diandra melanjutkan pembicaraannya Hans lalu memotong pembicaraan mereka.
"besok kamu datang saja kerumah kami, alamtnya di perumahan Lestari Jalan Kenanga rumah nomor 15"
Jihan yang merasa senang lalu berterimakasih dan memeluk Diandra
"di, sampai jumpa lagi ya kalo ada waktu senggang aku main kerumah kamu yah, Bye"
Ucap Jihan sambil berlari kembali untuk bekerja.
"ayo masuk kemobil kita pulang". Perintah Hans.
__ADS_1
...ππππππππππππππ...