
Setelah Arya pergi, Erland dan Bryan menghampiri Hans.
"Hans, Arya kenapa sih?" Tanya Erland
"entahlah, dia seperti tidak suka aku kembali" Ucap Hans.
"sudahlah Hans, mungkin anak itu sedang banyak pikiran jangan terlalu dipikirkan, hari ini tidak ada kegiatan di kantor kan? bagaimana jika kita bermain golf?" Ajak Bryan
"wah ide bagus, Hans bagaimana?" Tanya Erland
"baiklah, aku juga sudah lama tidak bermain, aku ingin lihat apa kemampuanku ini masih sama seperti dulu" Ucap Hans
Mereka bertiga lalu pergi bermain golf.
-
Di mansion Hans, Diandra, Jihan, dan Vika telah selesai membahas masalah toko mereka, mereka lalu menikmati brownis yang Diandra buat, Namun Jihan hanya memakan sedikit. Tak biasanya Jihan seperti ini, biasanya Jihan Sangat suka brownies yang dibuat oleh Diandra.
Vika melirik Diandra dan memberikan isyarat, Diandra pun membalas Vika dengan isyarat juga. Akhirnya Vika memberanikan diri untuk bertanya.
"Jihan, kenapa sih tumben banget makannya dikit, biasanya kamu paling suka sama brownis, apalagi ini buatan Diandra." Tanya Vika
"apa brownies ku kurang enak?" Tanya Diandra
"engga enggak, enak kok beneran enak, aku...aku cuma....sudahlah gapapa" Ucap Jihan
"Kalian kenapa sih, tadi Vika senyum senyum tanpa ngasih tau alasannya kenapa, sekarang kamu Jihan, tiba tiba diem tanpa alasan juga." Diandra kesal
"iih ga gitu Di, aku cuma masih kepikiran sama ucapannya Riko"
"Riko? asisten pribadinya Hans?" Tanya Vika yang dibalas anggukan oleh Jihan
"ada apa memangnya dia bilang apa?" Diandra penasaran
"emm sebenarnya....."
(flashback Riko dan Jihan)
Setelah pulang dari restoran, Riko mengantar Jihan pulang kerumah, Saat sudah sampai rumah, Riko membukakan pintu mobil untuk Jihan.
"terimakasih" Ucap Jihan
"iya, Jihan tunggu sebentar, bisa kita bicara?" Riko memegang tangan Jihan
Jihan yang terkejut karena Riko secara tiba tiba menghentikannya saat akan berjalan masuk kerumah.
"emmm, gimana kalo kita duduk dulu, aku buatkan teh sekalian" Jihan menawarkan kepada Riko.
"tidak perlu Jihan ini sudah malam, aku....aku hah..Jihan, aku menyukai kamu, aku tidak tau sejak kapan perasaan ini muncul, tapi aku selalu merasakan hatiku berdegup kencang entah kenapa setiap aku dekat kamu. Mungkin ini waktunya tidak tepat, dan tidak seromantis tuan Hans. Tapi...setidaknya aku sedikit lega karena aku sudah menyatakan perasaanku" Ucap Riko.
"emm tapi aku...."
__ADS_1
"tidak usah dijawab sekarang, aku tidak akan memaksa kamu, aku juga tau kalau ini terlalu terburu buru. Aku akan menunggu sampai kamu siap" Sambung Riko.
"Maaf aku belum bisa menjawab sekarang, karena....karena aku sendiri juga tidak tau perasaan aku, aku harap kamu bisa mengerti" Ucap Jihan
"iya, aku sangat mengerti, dan aku akan selalu menunggu jawaban dari kamu. Kalau begitu aku permisi dulu Jihan, selamat malam dan mimpi yang indah" Ucap singkat Riko lalu masuk ke dalam mobilnya.
(flashback off)
"what!! jadi semalam pak Riko nyatain cinta ke kamu?" Vika terkejut dan dibalas anggukan oleh Jihan
"Trus dia mau menunggu jawaban dari kamu, sampai kapan?" Sambung Diandra.
Jihan menghela napas sambil menopang dagu dengan kedua tangannya
"hah....entahlah aku juga tidak tau....aku sendiri juga bingung dengan perasaanku, aku tidak tau apa aku juga cinta dengan dia atau hanya kagum saja" Ucap Jihan dengan kesal
"udah udah sabar.....gini sekarang aku mau nanya sama kamu. Apa kamu ada perasaan yang aneh setiap dekat dengan pak Riko?" Tanya Vika dibalas anggukan oleh Jihan
"oke, sekarang aku mau tanya, kalo pak Riko ga menghubungi atau tidak bertemu kamu, apa kamu merasa gelisah?" Tanya Vika dibalas anggukan lagi oleh Jihan
"waah sepertinya kamu juga punya rasa dengan pak Riko, karena sepengelihatan aku selama ini, sikap pak Riko itu berbeda bila dengan kamu, dan aku lihat juga kamu nyaman nyaman aja bersama dengan pak Riko, padahal kamu kan tipe orang yang tidak bisa langsung nyaman dengan orang yang baru kamu kenal" Sambung Diandra
"yaps aku setuju sama Diandra, kamu memang tidak merasa karena kamu tidak melihatnya tapi kita yang memperhatikan itu tau. Saranku sebaiknya kamu terima deh cintanya pak Riko. Dimana lagi coba cari yang kaya pak Riko, udah baik, ganteng, punya pekerjaan tetap, mapan, penyayang, sabar, setia pula" Vika meyakinkan Jihan
"kamu kok tau kalo dia itu penyayang, sabar dan setia?" Jihan terheran
"hahahaha gini ya Riko itu kan asisten pribadinya Hans yang kalian semua sudah tau bagaimana sikap dan sifat Hans selama ini. Sekarang aku tanya, kalo dia itu nggak penyayang, sabar dan setia apa dia bisa bertahan dengan sikap Hans?" Vika mencoba meyakinkan kembali.
"tapi di..."
"udah terima aja, nanti nyesel Lo" Ejek Vika
Jihan terdiam dan mengehla nafasnya.
"ya nanti aku pertimbangkan lagi, aku capek banget nih aku pulang dulu ya pusing" Jihan yang mulai bingung menentukan jawaban untuk Riko.
"hadeh tinggal bilang iya aja susah bener, gini nih kalau baru pertama kali jatuh cinta." Vika kesal.
"apaan sih, di sorry ya aku ga bisa lama lama, nanti aku akan bahas lagi, aku pulang dulu ya byee muaahh muuuahhh" Jihan memeluk dan mencium ala sahabat kepada Dinadra dan Vika.
"hadeh punya temen gini amat" Ucap Vika
"udah maklumin aja, Jihan itu pasti mau yang terbaik. Tapi aku harap Jihan bisa menerima pak Riko, aku lihat pak Riko itu orangnya baik dan aku rasa dia serius menyukai Jihan" Ucap Dinadra.
"iya, yaudah kita lanjut yuk" Ucap Vika
-
Sementara di tempat lain, Hans, Erland dan Bryan sedang berada di tempat golf.
Mereka bertiga terlihat tampan dengan baju sport ala golf yang mereka kenakan, saat Hans memasuki area golf semua Caddy (wanita lapangan golf) terpesona dengan ketampanannya dan merasa sangat senang karena Hans sudah lama tidak bermain golf karena kelumpuhan kakinya.
__ADS_1
"astaga dia telah kembali, lihat deh tambah ganteng ih" Ucap salah satu Caddy
Semua Caddy mendekat kearah mereka dan mulai menggoda Hans, Erland dan Bryan membuat Hans risih namun erland dan Bryan menikmati.
"Hai mas Erland udah lama ga kesini deh, kemana aja sih, Jessi kangen Lo" Ucap salah satu Caddy sambil menyiapkan alat golf untuk Erland
Erland dan Bryan menikmati layanan. dari Caddy golf yang memang bertugas untuk menyiapkan, serta mengukur bola golf nya.
Lain hal nya dengan Hans yang dari tadi menyiapkan sendiri alat golf nya, saat akan dibantu oleh Caddy, namun Hans menolak dengan tegas.
Hans mulai memukul bola golf dengan stik yang ia gunakan.
"waaahh mas Hans, meskipun sudah lama tidak bermain golf tapi kehebatannya masih seperti dulu ya" Ucap Caddy yang masih berada di samping Hans membuat Hans semakin risih.
"Kamu bisa diam tidak! tidak becus!" Hans kesal.
"duuh Hans kenapa sih, Mau aku ambilkan air atau stiknya mau digan..."
"jangan pegang tangan saya! Kamu ini digaji untuk bekerja bukan menggoda saya!"
"mas Hans sekarang kok berubah sih, dulu mas Hans tidak seperti ini" Ucap Caddy dengan dibuat manja sambil mendekat ke arah Hans
"Jangan dekati saya, saya sudah punya....."
"Hans" Sambung Bryan dengan menggelengkan kepala tanda isyarat.
Hans menghela nafas.
"sudah cepat kamu ukur berapa panjang bola yang saya lempar" Kesal Hans
Caddy tersebut menuruti perintah Hans sambil menggerutu kesal.
Setelah bermain cukup lama kini Hans, Erland dan Bryan beristirahat.
"Hans, kenapa sih?" Tanya Erland
"kamu tanya kenapa? ga lihat mereka tadi menggodaku dan mendekati aku pakai pegang pegang lagi." Hans kesal.
"kan dulu kamu juga sering digituin tapi kan biasa aja" Tanya Erland
"ya itu dulu, sekarang aku sudah punya istri" Hans menegaskan kembali
"Hans, aku rasa kamu harus berhati hati dalam berkata, kamu harus ingat saat ini status Diandra sebagai istri kamu masih disembunyikan. Mereka semua tidak ada yang tau kalau kamu sudah menikah" Tegas Bryan
"benar Hans, kita harus menutup informasi tentang Diandra sampai keadaan sudah normal dan musuh kita benar benar sudah kita basmi" Ucap Erland
"hah....entahlah aku sangat ingin menunjukan pada dunia jika Diandra adalah istriku" Ucap Hans dengan senyum
"hadeh tuh kan bunglon. Tadi marah marah gajelas, sekarang senyum ingat istri" ejek Bryan
...ππππππππ...
__ADS_1