
"dokter bagaimana kondisi anak saya dok?" Tanya Bu Ratna
"syukurlah Bu, kondisi pasien sudah membaik kami akan memindahkan pasien diruang rawat inap" Ucap dokter.
Kini Diandra sudah dipindahkan diruang rawat inap.
"Di, kamu butuh sesuatu? mau minum ini..." Jihan memberikan minuman kepada Diandra
"Mas Hans mas Hans.....dia diamana? aku mau bertemu mas Hans" Ucap Diandra yang begitu khawatir.
"di, udah ya, tenang....Hans baik baik aja kok yah, kamu istirahat dulu ya setelah kondisi kamu membaik nanti kamu bisa temui Hans" Jihan mencoba menenangkan
"benar nak, kamu istirahat ya sayang, ada mama disini." Ucap Bu Ratna
"engga ma, aku mau mas Hans. Mas....akhh" Diandra mencoba bangun tubuhnya begitu sakit
"Diandra aku mohon tenang, Hans tidak apa-apa dia baik-baik saja kok" Ucap Jihan.
"enggak...aku mau mas Hans aku mau ketemu sekarang!" Diandra semakin histeris
"Tante gimana?" Tanya Jihan
"sebentar ya Tante telfon Bu Rosa dulu" Bu Ratna mencoba menelfon Bu Rosa untuk mengabari jika Diandra bersikeras untuk menemui Hans
-
Diruangan Hans.
"kenapa ma?" Tanya pak Jeremy
"Diandra sudah sadar, tapi dia kekeh mau ketemu kamu Hans" Ucap Bu Rosa.
"Tapi bagaimana jika Diandra bertanya mengenai Hans seperti ini?" Tanya Erland
"Tenang saja, aku yang akan mengatasinya. Ayo aku antar keruang Diandra" Arya mencoba membantu Hans untuk menaiki kursi roda dan membawa keruang Diandra.
Kini mereka semua sedang menuju keruang Diandra
"Sayang..."Hans langsung bangkit dari kursi roda dan memeluk Diandra.
"Mas.. Aku takutt mereka bilang kamu...kamu...kamu terluka? mana yang sakit, apa masih sakit?" Diandra yang khawatir
"Suut udah aku gapapa, udah ya kamu jangan banyak fikiran ya" Ucap Hans
"mas, Anak Kita....akhh awwww" Diandra mulai kesakitan
"Sayang kamu kenapa? cepat panggil dokter!" Hans melihat Diandra yang semakin pucat
"Sayang....aku disini lihat aku tidak apa-apa" Hans terus memeluk Diandra dan mengusap Diandra
Sedangkan Diandra mencengkram kuat kerah baju Hans yang membuat hans merasakan jika Diandra saat ini sedang menahan rasa sakitnya.
Hans terus menangis dan mencoba terus mengajak Diandra berbicara sambil mengelus Diandra.
Tak lama kemudian dokter pun datang dan memeriksa Diandra, namun Diandra tidak ingin lepas dari Hans, sehingga membuat dokter terpaksa harus membiarkan Diandra berada di pelukan Hans sambil diperiksa.
__ADS_1
Dokter lalu memberikan obat bius untuk meredakan sakit Diandra. Hingga tangan Diandra mulai melemas dan matanya benar-benar tertutup, tubuhnya pun melemas.
"dokter istri saya!" Hans khawatir
"bapak tenang ya, saya hanya memberikan obat bius dosis rendah. Pasien hanya perlu istirahat, tapi ingat jangan membuat pasien terlalu banyak fikiran yang membuatnya stress, itu akan memicu penyakit jantungnya apalagi kondisi pasien saat ini sedang mengandun" Ucap dokter
"terimakasih dok" Ucap Hans yang masih memeluk erat Diandra.
Hans terus memeluk Diandra dengan erat sambil menatap sendu Diandra.
Dia terus memeluk dan mencium Diandra tanpa peduli dengan orang disekitarnya, Mereka paham lalu meninggalkan Hans dan Diandra berdua.
Saat mereka keluar ruangan, tangisan Hans langsung pecah dia terus menatap Diandra.
"Sayang....jangan buat aku khawatir, aku tidak bisa hidup tanpa kamu....aku butuh kamu sayang....aku mohon kamu kuat, kamu bilang kita mau babymoon, kita belum foto maternity(foto kehamilan) katanya kamu mau foto" Ucap Hans sambil menangis tersedu.
"jeng Ratna, Diandra sudah sadar, Hans juga sudah bisa menjaga Diandra. Sebaiknya jeng Ratna pulang dan beristirahat ya" Ucap Bu Rosa.
"Tapi jeng, saya masih ingin menemani Diandra" Ucap Bu Ratna
"saya mengerti, tapi pasti suami anda sangat marah jika anda tidak pulang, dan ujung ujungnya nanti Diandra yang disalahkan" Ucap Bu Rosa.
"Yasudah kalau begitu, saya titip Diandra ya jeng, Kabari saya jika ada apa-apa" Ucap Bu Ratna
-
Hari telah berlalu, kini Hans sudah membaik dan sudah bisa menjaga Diandra. Diandra yang sama sekali tidak ingin lepas dari Hans pun benar benar masih merasa trauma dan takut.
"Sayang, aku meeting sebentar ya, nanti aku kesini lagi, aku janji aku akan segera kesini" Ucap Hans
"sayang kamu masih belum sembuh total, aku janji aku langsung kemari ya...." Hans meyakinkan Diandra
"janji?" Diandra mengangkat kelingkingnya
"iya janji" Hans menyambungkan kelingkingnya ke kelingking Diandra
-
Kini Hans sedang meeting di perusahaan, sementara Diandra sedang berada di rumah sakit bersama Vika.
"Vik, bosen banget deh. Kok aku pengen sesuatu ya?" Ucap Diandra
"mau apa?" Tanya Vika
"hmm kayanya cilok trus disiram sambal kacang pasti enak deh" Ucap Diandra
"yaudah aku pesen di aplikasi aja ya"
"eittss jangan....aku gamau lewat aplikasi, aku mau belinya langsung gitu ke tempat abangnya" Ucap Diandra
"aduuh di, kalo cari tukang cilok dirumah sakit mana ada sih, kita harus keluar dulu baru Nemu" ucap Vika
"nah kita keluar yuk. cari cilok" Ucap Diandra
"engga deh engga aku ngga mau kena marah sama suami kamu engga engga, kita pesen aja yah" Ucap Vika
__ADS_1
"Sayang, Tante Vika ngga mau beliin kita cilok" Diandra memelas membuat Vika tidak tega.
"Oke, kamu tunggu disini aku cari diluar apa ada yang jualan cilok, kalau ada nanti aku kesini lagi dan kita beli ya, inget jangan kemana mana" Ucap Vika
Vika lalu mencari tukang cilok dan bertanya kepada ibu ibu kantin.
"Bu saya mau tanya, di sekitar rumah sakit ini ada yang jual cilok pake saus kacang nggak ya?" Tanya Vika.
"aduh kayanya ngga ada neng, tapi kalau diujung jalan sana ada kok neng" Ucap ibu kantin
"jauh ya Bu?" Tanya Vika.
"ya lumayan" Jawab ibu tersebut
"yaudah Bu terimakasih ya" Vika lalu berlari sekencang mungkin untuk mencari tukang cilok.
"hah ketemu, Akhirnya saya ketemu bapak, Pak bapak bisa bantuin saya tidak? teman saya ngidam pak dia mau beli cilok tapi dia sendiri yang beli. Dan sekarang teman saya dirawat dirumah sakit, jadi apa bapak mau bawa gerobak bapak ini kerumah sakit itu?" Vika menunjuk rumah sakit.
"waduh neng, gimana ya, kalo saya pindah kesana nanti ngga rame....ramainya tuh disini neng"
"aduh pak, kali ini saja ya....saya deh yang bawa gerobaknya, tolong ya pak, ini demi nurutin ngidam pak" Vika memohon
"yaudah kalau begitu neng, tapi neng yang bawa ya"
"iya pak gapapa" Vika dengan sekuat tenaga mendorong gerobak cilok tersebut ditengah terik matahari.
Sementara itu Hans dan Arya sudah selesai meeting dan sekarang sudah berada di rumah sakit.
"Loh mana Vika? bukankah tadi dia menjaga kamu" Tanya Hans
"emm Vika lagi cari tukang cilok"Jawab Diandra
"tukang cilok?" Sambung Arya
"iya, aku pengen cilok tapi aku mau nya aku sendiri yang beli, trus Vika bilang aku suruh tunggu disini, dia yang nyari, tapi sampai sekarang belum balik juga" Ucap Diandra
Tak lama kemudian, Vika dengan berlari akhrinya sampai di ruang Diandra
"Hah....Diandra aku udah bawa tukang ciloknya, tapi bisanya didepan kita harus beli kedepan" Ucap Vika secara ngos ngosan.
"waah sayang, aku mau beli cilok" Ucap Diandra manja kepada Hans
"iya, sebentar aku ambil kursi roda"
Hans mengambil kursi roda dan mengantar Diandra menuju depan rumah sakit untuk membeli cilok.
Sedangkan Vika berjalan sambil ngos ngosan. Arya yang tidak tega lalu memberinya minum.
"minumlah" Ucap Arya
"hah terimaksih" Vika langsung meminum dengan sangat lahap.
"wah itu tukang ciloknya, vika kamu hebat banget bisa dapet tukang cilok, terimaksih ya" Ucap Diandra
"Iya sama-sama" Vika yang masih terlihat kelelahan"
__ADS_1
...πππππππππ...