
Danira tidak mau memikirkannya lagi, dia lalu menghabiskan martabaknya.
"Huh kenyang" Danira yang merasa puas karena bisa makan makanan kesukaannya meskipun dia tidak ingat jika dia sangat suka dengan martabak
"Besok mau aku bawakan apa lagi" Ucap Erland
"Maksudnya" Danira kebingungan
"ya, kamu lahap sekali makan martabak, tetapi tidak nafsu makan saat makan makanan rumah sakit. Itu berarti kamu tidak suka makanan rumah sakit. Apa kamu mau aku bawakan sesuatu?" Ucap Erland
"tidak...tidak perlu repot repot, lagipula kamu kan punya orang spesial, dia pasti lebih butuh kamu" Ucap Danira
Tak lama kemudian, Jihan datang bersama Riko, ya...Jihan memang disuruh oleh Hans untuk menjaga Danira, karena Bu Ratna harus menjaga pak Abraham, sedangkan kondisi Danira masih belum melewati masa kritisnya
"Hai Danira, kamu sudah makan?" Tanya Jihan
"sudah kok...kakak ini siapa ya?" Tanya Danira
"ah...kamu belum ingat rupanya...aku Jihan, teman baik kakak kandung kamu, Mama kamu kan harus menjaga papa kamu, dan kakak kamu dia baru saja melahirkan, kondisinya masih lemah jadi aku yang akan menjaga kamu kedepannya nanti" Jawab Jihan
"iya, Aku mengerti maaf ya kak aku belum ingat apapun" Ucap Danira sendu
"tidak apa apa kok, kamu sudah makan belum, mau aku belikan sesuatu?"
"sudah kok kak. Tadi aku makan martabak"
"loh kok makan martabak sih, memangnya siapa yang belikan?" Tanya Jihan
"dia" Danira menunjuk kearah Erland
"Kamu ini gimana sih, kondisi Danira kan masih belum pulih, dia itu harusnya makan makanan yang bergizi, bukan martabak seperti ini. Gimana sih kamu" Jihan terus mengomeli Erland
"Kak, udah dia ngga salah kok...aku yang minta, kakak jangan marahi dia ya, dia udah baik kok sama aku" Danira membela Erland
Mereka bertiga bingung sekaligus senang karena Danira mulai peduli kepada Erland
"ahh...gitu ya, ya pokoknya kamu harus makan yang sehat dulu ya, kalo udah sembuh baru kamu boleh makan makanan yang lain"
"iya kak maaf, oh ya kak Jihan yang akan menemani aku kan, apa kak Jihan bisa ceritakan kepada aku mengenai siapa aku?" Ucap Danira
"tentu aku akan bercerita banyak mengenai kamu dan keluarga kamu, Sayang kamu boleh kembali bekerja, nanti kamu jemput aku ya" Jihan berbicara kepada Riko
"iya, aku kerja dulu ya" Riko lalu mengecup kening Jihan membuat Erland dan Danira merasa aneh.
__ADS_1
"Mari pak Erland, saya permisi dulu" Ucap Riko sambil tersenyum seakan mengejek Erland
Erland yang merasa kesal hanya bisa mengepal tangannya dan menahan emosiny kepada Riko.
"Sialan Riko! berani beraninya dia bermesraan di depanku, mentang mentang dia sudah punya istri. Hah sabar...Erland sekarang fokus untuk memulihkan ingatan Danira setelah itu kamu nikahi dia, dan...hah sudahlah" Batin Erland
"Kamu kenapa masih disini?" Tanya Danira
"Aku...aku...aku tentu akan pergi tapi....itu tadi tidak gratis ya, kam sudah memakan martabak ku, jadi nanti aku akan minta ganti rugi, tunggu saja kamu harus membayarnya" Ucap Erland sambil mengedipkan mata.
"Dasar mantan playboy ini benar benar, bisa bisanya dia masih merayu Danira disaat sedang amnesia...Hah tapi semoga Danira segera pulih, dan Diandra segera sadar" Batin Jihan
"Kak Jihan. Kakak bisa kasih aku foto kakakku nggak?" Ucap Danira
"ah iya sebentar yah" Jihan menunjukan foto Danira dan Diandra saat sedang bersama. Jihan juga menceritakan kejadian sebenarnya tentang keluarganya.
Jihan berharap dengan dirinya menceritakan kepada Danira, Danira akan segera mengingat kembali
"Aku mulai sedikit mengingat keluargaku...Tapi pria yang tadi barusan itu ...aku juga seperti tidak asing, aku mencoba mengingat tapi tidak bisa. Aku hanya bisa mengingat keluargaku" Ucap Danira.
Jihan dengan terpaksa menceritakan tentang siapa Erland sebenarnya, namun bukannya ingat, Danira malah merasa kepalanya sangat sakit.
"aw akhh sakit kak" Danira memegang kepalanya yang terasa sangat sakit.
Tak lama kemudian suster pun datang dan langsung menangani Danira.
"Suster Danira kenapa?" Tanya Jihan
"Pasien hanya butuh istirahat, Jangan terlalu memaksa pasien untuk mengingat karena ada beberapa memori yang benar benar pasien lupakan." Ucap suster
"Tapi tadi saya bercerita banyak mengenai keluarganya dia biasa saja, tapi saat saya menceritakan tentang seseorang lebih tepatnya tunangannya, dia malah sakit kepala" Ucap Jihan
"benar, Pasien sepertinya memang mudah mengingat orang yang sudah lama bersamanya seperti teman dan keluarga. Dan untuk orang yang belum lama dia kenal, mungkin dia akan sulit untuk mengingatnya"
"Begitu ya sus, terimakasih ya" Ucap Jihan
"duh, masa Danira bakal ngelupain Erland sih, mana Danira baru mengenal Erland, pasti akan sulit untuk Danira mengingat Erland, hah aku harus bagaimana ini? Jika Danira benar benar pulih dan mengingat semua, dia pasti akan bertanya tentang Diandra" Batin Jihan yang merasa gelisah.
-
Hari semakin sore, Diandra masih tetap dengan posisi terlelap dan berada di alam bawah sadarnya, Hans mulai mendekati Diandra dan mengusap kepala Diandra dan menggenggam tangan Diandra
"Sayang, aku tidak tau setelah ini kamu akan bahagia atau tidak..aku sangat senang karena kamu akhirnya mendapatkan donor jantung, tapi disisi lain aku juga merasa bingung jika kamu tau kalau setelah sadar nanti hah....aku tidak bisa membayangkan sayang....Kamu yang kuat ya, Kamu harus terus bertahan. Lihat....anak kita sudah menunggu untuk dipeluk ibunya, dia juga ingin digendong sama kamu sayang" Ucap Hans sendu sambil menangis
__ADS_1
"Sayang, nama anak kita seperti yang sudah kita rencanakan sayang, Arsetya..tampan seperti namanya." Hans Kembali mengajak Diandra mengobrol meskipun Diandra tetap tertidur, namun Diandra bisa mendengar Hans berbicara.
-
Tanpa terasa Sudah seminggu berlalu, Danira yang mulai berangsur pulih dan mulai mengingat dirinya serta keluarganya, namun tidak untuk mengingat Erland, sedangkan Diandra yang masih sama... Dirinya masih terlelap dengan cantik sambil dipasangkan berbagai macam alat ditubuhnya.
"Mah, papa sayang sama mama...Mama bisa tolong pergi ke rumah ibu di Lombok tidak? Ajak ibu kesini. Papa kangen sama ibu" Ucap pak Abraham
"pah kita kesana sama sama ya, setelah papa sadar baru kita kesana" Ucap Bu Ratna
"Mah, tolonglah papa ingin sekali bertemu ibu, biar bagaimanapun sekarang hanya ibu, meskipun bukan orang tua kandung papa, tapi ibu adalah ibu kandung mama. Papa ingin mengucapkan terimakasih kepada ibu karena sudah melahirkan wanita secantik dan sebaik mama" Ucap Pak Abraham
"Pah tapi papa disini sama siapa?"
"Mama tenang saja, ada Erland, Hans dan yang lain. Mama tolong jemput ibu ya" Ucap Pak Abraham
Dengan terpaksa, Bu Ratna harus menuruti permintaan Pak Abraham, Bu Ratna langsung ke bandara, Hans sudah mengatur semuanya karena sesuai dengan permintaan Pak Abraham
Disaat Bu Ratna mulai melakukan perjalanan untuk menjemput ibunya di Lombok, Disaat itulah operasi dimulai, Pak Abraham bersedia mendonorkan jantungnya untuk operasi cangkok jantung Diandra
Disana ada kedua orang tua Hans, Arya dan Vika, Jihan dan Riko, dan Erland. Mereka menyaksikan dan menunggu proses operasi Diandra dan Pak Abraham
"Jihan, Riko kalian pergilah menjaga Danira" Ucap Arya
Jihan dan Riko pun langsung menuju ke ruang rawat Danira
"Vika, Kamu mau sesuatu? apa kamu lapar?" Tawar Arya
"tidak perlu! aku hanya akan tenang jika operasi Diandra berjalan lancar, Kamu tidak perlu menghawatirkan aku" Ucap Vika ketus
"kamu masih marah?" Tanya Arya
"Aku kan sudah bilang,ini rumah sakit, tolong jangan bahas ini lagi" Tegas Vika
Operasi Diandra dan pak Abraham pun berjalan lancar, kini mereka telah keluar dari ruang operasi. Kondisi Diandra masih tertidur karena pasca operasi.
Pak Abraham kini sudah dipindahkan ke ruang rawat inap menunggu sadar.
Sedangkan Diandra juga sudah berada di ruang rawat.
Mereka semua mengucap syukur akhirnya operasi berjalan dengan lancar
...ππππππππ...
__ADS_1