Jantung Hatiku

Jantung Hatiku
Riko meluruskan kesalahpahaman


__ADS_3

Tak terasa sudah lima hari berlalu, Karena Arya sudah kembali ke perusahaan untuk membantu Hans, kini Hans hanya sibuk dengan terapi dan perusahaannya.


Setelah kejadian di pesta 4 hari yang lalu, Hans masih saja bersikap dingin kepada Diandra.


(Dikantor Hans)


"Hans, lu ngga pulang? ini udah malem nanti bini lu nyariin"


Ucap Arya kepada Hans.


"ck diem, aku lagi males buat pulang, malam ini aku mau tidur di kantor aja kalo kamu mau pulang silahkan"


Ketus Hans kepada Arya.


"hadehh, kenapa lagi nih, heh lu kalo ada masalah sama bini lu, lu selesaiin dong omongin baik-baik."


"gua rasa lu gabakal ngerti apa yang gua rasain, lu ga tau"


"iya iya yang udah nikah, ya mana gua tau gua aja belom punya istri."


"makanya cari istri"


"ck gua ga usah cari juga banyak kok yang antri sama gua"


"udah lu pulang sana nanti papa sama Mama nyariin"


"hadeh enak banget ya jadi lu udah punya istri, rumah sendiri, mau ngapain aja bebas, gua ga diluar negri ga disini banyak banget cctvnya perasaan, diluar negri bokap sama nyokap gua yang nyariin gua, disini om sama Tante, hadeehh miris banget sih hidup gua"


Arya pergi meninggalkan Hans sendiri di kantor, kantor Hans memang terdapat satu ruangan pribadi milik Hans diamana didalamnya terdapat sebuah kasur besar dan berbagai peralatan lainnya, selain itu dikantor, ada sebagian Ob yang tinggal di kantor dan satpam yang bergantian untuk berjaga.


Hans mulai merebahkan diri ke kasur, hingga ponselnya berbunyi.


yang menelpon Hans tak lain adalah sang istri yaitu Diandra.


"halo, kenapa?"


ketus Hans dalam sambungan telepon.


"Maas kok ga pulang-pulang? aku udah masakin makan malam buat mas"


"aku ga pulang, ada kerjaan yang harus segera aku selesaikan aku lembur dan mungkin tidak pulang"


"tapi mas...."


Belum sempat Diandra melanjutkan pembicaraannya Hans sudah menutup sambungan teleponnya.


"mas Hans, kamu kenapa sih udah lima hari ini kamu dingin sama aku"


Ucap Diandra dengan sedih.


Sedangkan dikantor Hans merenung sambil memikirkan tindakannya terhadap Diandra.

__ADS_1


"hah, maaf kan aku, sepertinya aku butuh waktu untuk menerima semua ini, aku harus bisa menerima kalau kamu tidak sungguh-sungguh menerimaku diandra."


Ucap Hans yang kemudian mulai tertidur.


-


Pagi hari telah tiba, Hans mulai mengerjapkan mata dan terbangun, saat ia terbangun, ia merasakan kakinya terasa sangat sakit, ia segera menghubungi Riko.


"akkhhh sial, biasanya kalau lagi seperti ini Diandra akan memijatnya hingga nyerinya hilang tapi, akhhhh cukup, kenapa Riko lama sekali."


Kesal Hans.


Tak berapa lama, akhirnya Riko datang dan segera membawa Hans untuk ke dokter pribadi Hans.


Setelah sampai di tempat fisioterapi, Riko dan Hans langsung menuju ke ruang dokter. Kemudian dokter mulai memeriksa Hans.


"bagaimana keadaan tuan Hans dok?"


tanya Riko yang penasaran kepada dokter.


"oh tidak apa-apa, tuan Hans hanya butuh sedikit beberapa pijatan nanti akan saya suruh fisioterapis disini untuk melakukannya, tuan sepertinya anda akhir-akhir ini jarang merenggangkan otot ya?"


Tanya dokter kepada Hans.


"iya dok, biasanya setiap pagi istri saya yang melakukannya, tetapi karena akhir-akhir ini saya sibuk jadi saya tidak melakukannya lagi, saya hanya terapi saja dok"


Sahut Hans kepada dokter.


Saran dokter kepada Hans.


Hans hanya terdiam sambil memikirkan Diandra, hingga sang fisioterapis datang untuk membawa Hans ke ruang fisioterapis guna melakukan tindakan.


-


Setelah beberapa jam Hans berada diruang fisioterapis akhirnya Hans keluar dan kakinya sudah lebih baik.


"bagaimana tuan apa kaki anda masih terasa sakit?"


Tanya Riko kepada Hans.


"sudah Riko, ini sudah mendingan"


Jawab Hans yang kemudian handphonenya mulai berbunyi, yang menelfon adalah Arya.


"halo, Arya ada apa?"


Tanya Hans dalam sambungan telepon.


"halo, lu dimana sih, kok dikantor ga ada, Riko juga dihubungin ga aktif lagi."


Ucap Arya dengan kesal melalui sambungan telepon.

__ADS_1


"Riko sedang bersamaku, oh ya kamu hari ini urus kantor sendiri aku mau istirahat dirumah."


"hah, emangnya kenapa sih, lu kenapa?"


"gapapa tadi kaki gua sempet nyeri trus langsung gua nelfon Riko dan gua lagi di tempat terapi, hari ini lu dan Riko yang urus pekerjaan, nanti biar Riko yang ngasih berkas nya lu urus dulu urusan kantor."


"syukur deh kalo gapapa, yaudah nanti kalo ada apa-apa segera hubungi gue ya."


(sambungan telepon dimatikan)


"Riko, kamu antar saya ke mansion sekalian kamu ambil berkasnya nanti kasihkan kepada Arya"


"baik tuan, tapi setelah dari rumah tuan, saya harus ke apartemen dulu, saya belum mandi tuan"


"astaga Riko, kamu sampai belum mandi, hah maafkan saya, saya memang selalu menyusahkan banyak orang."


"anda tidak boleh seperti itu tuan, anda adalah orang yang beruntung karena dikelilingi oleh orang yang sangat tulus menyayangi anda."


"ck, tulus kamu bilang. Riko, sepertinya akan sulit untuk mencari orang yang tulus, bahkan sampai sekarang saya masih belum bisa menemukan ketulusa."


"maaf sebelumnya tuan, kalau saya menyela tapi sepertinya anda sudah dikelilingi oleh orang-orang yang benar-benar tulus terhadap anda, seperti Bu Diandra."


"ck, Riko orang-orang melihat kalau Diandra tulus dengan saya, tapi apa kamu tau dia melakukan semua itu secara terpaksa Riko"


"maksud tuan?"


"hah, Diandra mau menikahi saya karena paksaan ayahnya, dia akhirnya mau menerima saya karena dia berharap agar ayahnya bisa menerimanya, bukan karena memang dia ikhlas menerima saya, lagipula siapa yang mau menikah dengan pria yang cacat seperti saya ini."


"tuan darimana anda bisa tau kalau nona Diandra seperti itu?"


"saya mendengar percakapan antara pak Abraham dengan Diandra sewaktu acara ulang tahun mama malam itu, Diandra hanya diam ketika ayahnya menghina kecacatan saya."


"Jadi, karena itu tuan Hans bersikap dingin kepada nona Diandra?"


"ya, seperti yang kamu tau Riko, saya butuh waktu untuk menerima semua ini, mungkin saya akan menceraikan Diandra agar dia bisa lepas dari saya."


"Sepertinya anda telah salah paham tuan, waktu itu saya juga tidak sengaja mendengar pembicaraan mereka, saya awalnya tidak begitu tertarik dengan pembicaraan mereka, tapi karena saya mendengar pembahasan mereka mengenai tuan, saya langsung mendekat untuk mendengarnya, dan asal tuan tau, nona Diandra malah membela tuan."


Riko menjelaskan tentang semua yang ia dengar di malam itu kepada Hans.


"Jadi, Diandra....dia, dia rela melakukan itu demi saya?"


Ucap Hans sambil tidak menyangka bahwa Diandra yang selama lima hari ia diamkan adalah orang yang benar-benar tulus kepadanya.


"benar tuan saya mendengar sendiri, saran saya, tuan jangan bersikap dingin kepada nona, pasti nona Diandra sangat sedih tuan."


"benar Riko, ayo kamu antar saya pulang sekarang."


Hans dan Riko kemudian memasuki mobil dan menuju ke mansion Hans.


...πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•...

__ADS_1


__ADS_2