Jantung Hatiku

Jantung Hatiku
Hans mulai berangkat ke luar negri


__ADS_3

Seminggu telah berlalu, kini saatnya Hans untuk pergi berobat ke luar negri sesuai yang telah direncanakan


"Sayang, kamu ga usah antar aku ke bandara ya, disini saja. Aku ga mau kamu kenapa Napa, ingat selalu minum obatnya dan nurut dengan mereka yah" Ucap Hans kepada Diandra.


"hiks hiks...mas Hans" Rengek Diandra sambil duduk dipangkuan Hans.


"sayang udah dong janji sama aku ya, saat aku pulang kamu harus baik-baik aja, mengerti." Ucap Hans yang dibalas anggukan oleh Diandra.


Hans pergi menuju bandara bersama Bryan.


"Diandra, kamu tenang saja, Hans itu selalu memegang erat janjinya kok, Kamu juga harus ingat kalau Hans akan kembali, jadi kamu harus menurut dengan kami, ini untuk kebaikan kamu." ucap Erland kepada Diandra.


"kamu mau kemana setelah ini?" Tanya Arya


"aku dirumah saja, kalian boleh pergi" Ucap Diandra kepada Erland dan Arya.


"Erland bagaimana?" tanya Arya.


"sudah beres anak buahku sudah berpencar dan menyamar, kamu tau sendiri kan bagaimana kehebatan penyamaran anak buahku?"


"oke, aku percaya aku sedikit tenang saat dikantor." Ucap Arya.


Sementara itu, Diandra masih dirumah sedang berusaha menelfon suaminya.


"halo sayang?" Hans berada di sambungan telepon.


"kamu udah sampai mana?" Tanya Diandra dengan manja.


"hahahah sayang aku baru saja tiba di bandara, kamu jangan mikir yang aneh-aneh ya aku ga mau kamu sakit nanti kalau sudah sampai aku kabarin kamu yah."


"yaudah daaa"


( menutup telfon )


tiba-tiba saja dada Diandra terasa sakit.


"akhh awww, kenapa sakit sih, padahal selama mas Hans disini aku baik-baik saja. Hah bahkan jantung aku ga rela kalo mas Hans pergi. Mas, aku ga akan pernah ninggalin kamu kecuali kematian yang akan memisahkan kita, selama aku hidup, aku selalu mencintai kamu, karena kamu telah merubah hidupku, kamu adalah Jantung hatiku."


Diandra lalu meminum obatnya untuk mengurangi rasa sakitnya.


Diandra mencoba kuat untuk berjalan, karena Diandra tidak ingin diam, dia akan ke taman kesukaannya.


Tapi karena rasa sakitnya yang semakin lama semakin sakit, Diandra hampir terhuyung, dengan sigap Arya langsung menangkap Diandra.


"Diandra! kamu kenapa? kenapa wajah kamu sangat pucat? kita kerumah sakit ya" Arya yang terlihat khawatir dengan Diandra.

__ADS_1


"ngga usah gapapa aku udah minum obat kok, makasih mas sudah menolong saya." Diandra mencoba berdiri namun tenaganya tak cukup kuat hingga kembali terjatuh dan Arya pun lalu menggendongnya untuk kekamar.


"Kita kekamar!" tegas Arya.


Arya membaringkan tubuh Diandra dikamar, betapa terkejutnya Arya saat melihat obat yang begitu banyak di nakas.


"obat ini.....ini ga mungkin obat Hans, apa ini punya kamu" Tanya Arya dengan heran.


"iya, itu punyaku" Ucap Diandra dengan lemas.


Arya tidak bisa menebak apa obat tersebut, tapi jika dilihat dari banyaknya obat, sudah pasti Diandra itu sakit parah. Dan saat melihat sekeliling kamar, terlihat ada sebuah tabung oksigen lengkap dengan selang berada di ujung kamar.


"apa itu, sebenarnya kamu kenapa? ada dengan kamu hmm?" batin Arya.


"mas Arya, ngapain kesini bukannya ke kantor?"


"ah tadi aku lupa membawa berkas meeting, Riko sedang sibuk mengurus beberapa hal yang Hans tinggalkan. Jadi aku kesini sendiri."


"begitu ya, mas Arya, aku boleh tanya sesuatu nggak tentang mas Hans, itu kalo mas Arya ga sibuk tapi kalo sibuk gapapa kok lain kali saja."


"hmm sepertinya bisa lagipula apa yang kamu mau tanyakan tentang anak curut itu."


"hahahaha iih itu suami aku tau, kalian sedeket itu ya?"


"ya...karena sejak kecil kami selalu bersama, aku dan Hans juga hanya berjarak 7 bulan, bisa dibilang aku lebih tua tapi menurutku hanya beberapa bulan ditahun yang sama umur kita sama lah"


"yah, memang sedikit menjengkelkan, tapi yasudahlah, oh ya gimana toko kamu? sudah beres?"


"belum, aku masih harus cek lokasi lagi untuk mengecek apakah ada yang harus direnovasi lagi."


"kalau begitu, aku bisa bantu kamu, itupun kalau kamu mau "


"mas Arya yakin, bukannya mas Arya sibuk gantiin mas Hans ya"


"hahaha aku tidak sesibuk itu Hans masih bisa bekerja Diandra, tapi kami akan mensinkronkan dengan meeting online, jadi bisa meeting kapan saja"


"ooo bisa gitu ya, yaudah deh gimana kalo lusa kita kesana."


"kenapa tidak besok saja?"


"ngga bisa dong kalo besok, soalnya aku besok aku mau kerumah mama Rosa, aku udah janji mau nemenin mama."


"hadeh....yaudeh lusa juga gapapa kok nanti aku temani"


"oke siaap yaudah mas Arya kembali kerja nanti kasihan pak Riko sendiri disana."

__ADS_1


"hahaha iya, kamu kalo butuh sesuatu telfon aku ya" Arya sambil menacak acak rambut Diandra.


Arya lalu pergi ke kantor dengan perasaan bahagia karena akhirnya dia bisa melihat senyuman Diandra kepada dirinya.


"hah! aku bisa gila ini" ucap Arya lalu memasuki mobilnya.


Ya, Arya memang punya mobil disini, tetapi jarang digunakan karena Arya lebih suka naik motor, tetapi sang ibu tidak membolehkan Arya naik motor karena takut Arya akan celaka lagi.


Karena kejadian seminggu yang lalu, kini malah Tante Rosa yang melarang Arya untuk naik motor.


(didalam mobil Arya)


"hah! menyebalkan sekali, aku pikir disini aku bisa bebas naik motor hah ternyata sama saja, oh iya motornya Hans kan masih dibengkel. Tapi aku ga tau bengkel mana dan Vika juga menyerahkan KTPnya tapi kenapa sudah seminggu tidak diambil ya, aku harus cek.


Arya kembali mengunjungi lokasi kecelakaan seminggu yang lalu.


"pak, permisi mau tanya bengkel dekat sini dimana ya pak?" Tanya Arya kepada warga sekitar.


"oh itu mas Deket kok mas lurus aja terus nanti per3an belok kiri udah deh disitu tempatnya."


"oke, terimakasih ya pak"


Arya lalu mencari bengkel sesuai dengan arahan dari warga tersebut.


"permisi, saya mau nanya dulu seminggu yang lalu ada motor yang kecelakaan di depan jalan raya trus katanya ada bapak-bapak warga sini membawa motor saya kesini ya mas?" tanya Arya kepada tukang bengkel.


"seminggu yang lalu?? oh iya iya mas saya ingat, iya pak Marto yang membawa motor kesini katanya sih habis kecelakaan gitu, tapi udah seminggu belum diambil sama yang punya."


"saya mas yang punya motornya" Tegas Arya.


"ah masa, soalnya KTP yang dikasi cewe mas"


"iya pak, tapi itu motor saya, KTP nya itu sebagai jaminan, itu KTP milik teman saya kok pak" Arya mencoba menjelaskan.


"maaf ya mas, tapi saya tidak mau ambil resiko, sebaiknya saya pastikan dulu kalau ini benar KTP temannya mas, mas bisa telfon dia nggak?"


"duuh, aku kan belum punya nomor telfon Vika, masa aku minta ke Bryan sih. Tapi kalo Vika sedang tidak ingin diganggu bagaimana? hah sebaiknya aku tunggu Vika saja" batin Arya.


"mas hee kok malah bengong, Bener kan mas itu cuma ngaku-ngaku"


"hadeh yaudah deh pak, saya tunggu teman saya saja permisi." ucap Arya lalu meninggalkan bengkel tersebut.


"astaga....kenapa jadi susah banget sih, aku harus menemui Vika.


Arya lalu melajukan kembali mobilnya menuju kantor.

__ADS_1


πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•


__ADS_2