
Sementara itu dijalan, saat Arya akan belok kekiri, tiba-tiba mobil didepannya berhenti secara mendadak membuat Arya spontan mengerem mendadak lalu sepeda yang iya kendarai terjatuh.
Mobil depan langsung berhenti dan pengemudi keluar untuk melihat kondisi.
Mobil tersebut dikendarai oleh Vika.
"haduhh maas, maafkan saya, mari saya bantu." Ucap Vika kepada Arya
"akhhh aww sakit....akhhh". Arya mengerang kesakitan karena tangannya terluka cukup parah.
"Maas tangan mas berdarah, Pak tolong pak bantu saya untuk membawa mas ini ke mobil saya, untuk sepedanya tolong bawa ke bengkel terdekat ya pak, ini KTP saya sebagai jaminan". Vika meminta tolong kepada salah seorang yang berkerumun menghampiri mereka.
"akhhhh" Arya semakin mengerang sambil memegang bahu kirinya.
"duuhhh mas sabar ya sebentar lagi kita sampai di klinik terdekat." Ucap Vika dengan nada bergetar ketakutan.
Tak membutuhkan waktu lama, Sampailah mereka di klinik terdekat, Vika membantu Arya untuk keluar dari mobil, dan menuntunnya.
"suster....tolong sus kursi roda." Vika meminta bantuan kepada suster yang berada di sana.
Arya lalu duduk dikursi roda dan dibawa ke ruang UGD.
Dokter pun langsung menangani Arya. Setelah menunggu beberapa jam, akhirnya Arya selesai ditangani, dokter pun keluar.
"dok, bagaimana kondisinya dok?" Tanya Vika kepada dokter.
"apakah anda istri pasien?"
"ehh bukan dok saya baru kenal dengan dia dok, tadi saya tidak sengaja rem mendadak membuat dia terjatuh dok."
"oh saya kira istri atau pacarnya, begini kondisinya sudah cukup baik, tadi sempat terkilir tangan kirinya tapi sekarang sudah tidak apa-apa, lukanya pun juga sudah diobati."
"syukurlah dok kalau begitu saya lega, oh ya dok saya bisa temui pasien kan?"
"boleh-boleh silahkan."
Vika memasuki UGD untuk melihat kondisi Arya.
"mas, gimana kondisinya. Saya minta maaf ya mas gara-gara saya mas jadi begini."
"ah tidak apa-apa, oh ya saya sudah ditunggu oleh teman-teman saya, apakah saya bisa pulang sekarang?" Tanya Arya.
"eh sebentar ya saya akan mengurus administrasinya dulu sekalian bertanya apakah mas sudah bisa pulang atau belum."
Vika lalu pergi menemui dokter dan mengurus administrasinya.
Saat Arya mencoba bangun, hpnya berdering, ternyata Hans yang menelfon.
"halo Hans, sepertinya aku akan terlambat, kalian mulai saja pestanya."
"ada apa? apa ada masalah?"
"sedikit, tapi sudah bisa teratasi kok, aku akan segera datang." Arya menutup telfonnya.
(di mansion Hans)
"ck, kenapa dia?" heran Hans kepada Arya.
"kenapa Hans, ada masalah?" Tanya Bryan
__ADS_1
"ya, sepertinya Arya akan terlambat ayo kita mulai saja."
(Kembali ke Arya dan Vika)
"mas, aku sudah mengurus administrasinya, mas boleh pulang sekarang, tapi.....maaf ya mas gara-gara saya, motor mas jadi dibawa dibengkel, tetapi saya tadi menitipkan KTP kepada bapak-bapak yang membawa motor mas, jadi saya nanti yang akan mengurus semua"
"ah tidak apa-apa"
"oh ya karena motor mas sedang ada di bengkel bagaimana kalau mas saya antar pulang saja?" Vika menawarkan kepada Arya.
"haha tidak usah, saya naik taksi saja."
"gapapa mas, kalo mas ga mau saya jadi semakin merasa bersalah, saya mohon ya mas saya yang antar kan mas saja."
"yasudah kalau begitu, tapi kamu antar saya kerumah sepupu saya saja karena saya sudah ditunggu." Ucap Arya.
"kalau begitu mari saya bantu."
Vika membantu Arya untuk masuk ke mobil dan mengantar ke tujuan yang Vika sendiri belum tau.
"Ini nanti kita kearah mana mas?" Tanya Vika sambil melajukan mobilnya.
"nanti saya yang arahkan."
"baik kalau begitu."
(Di mansion Hans)
Jihan membuka pintu kamar Diandra dan mereka berdua keluar dari kamar berjalan menghampiri Hans, Erland, Bryan dan Riko.
Erland yang semula menikmati hidangannya dibuat kagum dengan kedatangan Diandra, begitupun Bryan yang tengah asyik mengobrol dengan Hans malah tidak fokus saat melihat Diandra.
Membuat siapapun yang melihat akan terpana, kecuali Riko yang hanya terkesima dengan Jihan.
Karena merasa teman-temannya begitu terpesona dengan istrinya, Hans lalu memukul kepala kedua sahabatnya.
"jaga mata kalian, dia istriku!. Sayang kemarilah aku kenalkan dengan sahabatku". Kesal Hans kepada kedua sahabatnya.
"halo semua, saya Diandra."
"haii" Ucap Bryan dan Erland secara bersamaan sambil tidak fokus karena masih terpana dengan kecantikan Diandra.
"eh halo kenalkan nama saya Erland" Erland mengulurkan tangannya kepada Diandra.
Dengan sigap, Hans memukul Erland.
"awwww akhh sakit, kenapa sih Hans, kan cuma pengen kenalan aja." Kesal Erland.
"hahaha rasain, lu udah tau sebucin apa Hans, masih aja lu mau godain." Bisik Bryan yang mengejek Erland.
"nama saya Bryan, oh ya ada satu lagi teman kami yaitu sepupunya Hans tapi sepertinya dia akan terlambat." Bryan mencoba menjelaskan.
"sayang kamu duduk disamping aku yah". Ucap Hans dengan manja.
"ishh kamu ini, malu tau..." Diandra yang kesal kepada Hans karena malu dengan teman-teman Hans.
"oh ya Jihan, Vika kok belom Dateng juga ya, kamu udah telfon dia?" Tanya Jihan.
Saat mendengar nama Vika, Bryan langsung terkejut dan melihat kearah Jihan dan Diandra.
__ADS_1
"vikaaa......" Bryan mencoba memastikan apakah Vika yang dimaksud adalah mantan kekasihnya.
saat Diandra akan menjelaskan siapa Vika, pintu terbuka dan Arya telah datang bersamaan dengan Vika yang membuat Diandra dan Bryan terkejut.
"kamu!!" Ucap Arya sambil menunjuk Diandra.
"Vika!" Ucap Bryan sambil menunjuk Vika.
"cowok resek!" Ucap Diandra.
"Bryan!" Ucap Vika.
Sontak saja hal itu membuat Hans, Riko, Jihan, dan Erland menjadi bingung.
"ada apa ini?" Hans terheran.
"Vika, kamu kenapa bisa?" Bryan yang masih tidak percaya kalau dia akan bertemu Vika kembali.
"Kamu ngapain disini sih dasar cowok resek". Kesal Diandra.
"Bryan....." Ucap Vika yang masih tidak percaya akan bertemu Bryan Kembali.
"Kenapa kamu bisa berada disini?" Tanya Arya dengan heran.
"Kalian tuh kenapa sih, sudah saling kenal ya, Bryan...Vika... trus Arya dan Diandra. Kalian sebenarnya ada apa sih?" Erland yang kesal karena merasa bingung dengan mereka.
(flashback Arya dan Vika)
Diperjalanan, Arya menunjukan arah kepada Vika.
"setelah lurus nanti belok kiri dan rumahnya paling ujung ya." Arya menunjukan arah kepada Vika.
Vika seperti tidak asing dengan alamatnya namun masih berusaha untuk tetap menyetir sambil berkata dalam hati,
"kok aku ga asing ya, hah ga mungkin sih tapi kalo didaerah sini kan aku ga jauh banget buat kerumah diandra."
"nah nah pagar hitam tinggi di kanan jalan itu ya rumah nomor 25". Tunjuk Arya.
Dan benar saja, Vika langsung ternganga karena tujuan mereka sama.
"kamu yakin?" Vika memastikan.
"iyalah, memangnya kenapa?"
"ini....ini rumah temanku"
"oh ya....wahh sepertinya kamu temannya istri pemilik rumah ini ya."
"hahaha iya ternyata kita.....ahahaha aku tidak menyangka"
"hahaha benar juga, kalau begitu kita masuk saja bersama."
"oh ya daritadi kita saling ngobrol tapi ga tau namanya siapa, kenalkan aku Arya, aku sahabat sekaligus sepupu dari Hans, kamu pasti tau kan siapa Hans."
"hahaha....iya aku tau suaminya temen aku kok oh ya, kenalkan aku Vika temannya Diandra istri Hans."
"oke, kalau begitu mari kita masuk."
ππππππππππππ
__ADS_1