
(Di kantor Hans)
Hans sedang melirik Arya yang sejak tadi tersenyum dan hanya memainkan pulpennya.
Hans yang jengah melihatnya lalu melempar sebongkah kertas ke arah Arya.
wushh....
"heei....apa-apaan ini!"
kesal Arya.
"kamu mau kerja atau melamun? kalau kamu ingin melamun lebih baik kamu pulang saja."
"ck, siapa yang melamun sih. Hah kenapa udara disini sangat panas, sepertinya aku harus keluar sebentar, oh ya aku sudah selesaikan proposal untuk Minggu depan, jadi kamu tidak ada alasan untuk memarahiku lagi. Aku mau cari udara segar dulu."
Ucap Arya sambil memakai jaket kulit hitamnya lalu keluar dari ruangan.
"Haishh dia kenapa sih akhir-akhir ini, semoga saja kali ini dia serius dengan wanita, sudah tua masih saja bermain wanita, astaga sudahlah kenapa aku jadi merindukan istriku ya? aku video call saja."
Ucap Hans sambil mengambil ponsel nya dan menghubungi Diandra.
tuuutt....
"halo mas, ada apa?"
tanya Diandra dalam sambungan telepon.
"kamu lagi ngapain sayang?"
"oh ini aku mau siap-siap"
"siap-siap kemana sih?"
Tanya Hans dengan heran.
"loh mas aku belom kasih tau kamu ya emangnya kalo hari ini aku mau ketempat sewa tokonya, mau ngurusin beberapa administrasi dan surat-suratnya."
"hmm sepertinya kamu belum kasih tau aku sayang"
"aduuhh, iya maaf ya mas aku lupa, akhir-akhir ini aku bener-bener kurang fokus mas, aku minta maaf ya, huh untung kamu ngebunungj aku, kalo ngga kamu pasti nyariin aku."
"iya sayang aku ngerti kok, tapi kamu jangan terlalu capek. Ingat kamu harus jaga kesehatan ya."
"iya mas, janji kok, yaudah aku siap siap dulu ya."
"hadiahnya mana?"
Tanya Hans dengan manja.
"hadiah apa sih?"
"hahhh kenapa ga peka-peka sih"
gerutu Hans yang kesal.
__ADS_1
"apa kamu bilang? ga peka kenapa?"
"haisshh yasudah kalau begitu, aku tutup telfonnya."
Hans menutup sambungan video call nya dengan Diandra.
"ishh aneh, kenapa dimatiin sih. Aduuh aku harus buru-buru nih nanti Bu Desi nungguin."
Diandra lalu bersiap menuju kerumah Bu Desi diantar oleh supir pribadinya.
Setelah sampai dirumah Bu Desi, Diandra terkejut saat melihat motor hitam nan gagah yang terparkir di depan rumah.
"motor ini seperti......ha ini motor cowo resek itu pasti, ngapain sih dia kesini segala, sudahlah yang penting tujuanku kesini untuk membahas rencana penyewaan tokonya."
Diandra mengetuk pintu dan mengucap salam dan permisi guna memanggil sang pemilik rumah. Selang beberapa detik, Bu Desi pun keluar.
"waalaikumasalam.....loh mbak Diandra, mari silahkan masuk."
Bu Desi mempersilahkan Diandra masuk kerumah.
Diandra tambah terkejut ketika melihat ada Arya disitu.
"hei, kamu ngapain disini, wah kita bertemu lagi ya."
Ucap Arya.
"mari mbak duduk saya buatkan teh dulu."
Ucap Bu Desi.
"Ternyata kita bertemu lagi ya disini"
goda Arya kepada Diandra.
"apaan sih kamu, kamu sengaja kan."
Kesal Diandra.
"hahahahaha kamu aneh banget sih, sengaja gimana coba, orang yang datang duluan itu aku, jadi siapa yang sengaja ha?"
Ucap Arya sambil tertawa puas.
"Kamu tuh....."
Diandra sambil mengepalkan tangan.
"ini mbak minumannya, loh kalian sudah saling kenal?"
Bu Desi datang sambil membawa teh.
"engga kok Bu, dia nih aneh orangnya saya aja gakenal malah deket-deket."
Ucap Diandra sambil menjauh dari Arya.
"oh, ini mbak silahkan diminum."
__ADS_1
"iya Bu, terimakasih."
Diandra lalu meminum tehnya.
"begini mbak, saya kan ga tau gimana cara mengurusnya, biasanya yang mengurus masalah seperti ini suami saya, tetapi keadaan suami saya sekarang ini seperti yang sudah mbak lihat kemaren. Tidak bisa melakukan apa-apa mbak. Jadi kalau mbak tidak keberatan, mbak mengurus sendiri bisa tidak ya mbak?"
Tanya Bu Desi.
"aduh Bu, kalau saya sendiri pasti akan sedikit sulit Bu, atau mungkin ada keluarga ibu yang mau membantu begitu Bu?"
"maaf mbak, saya benar-benar tidak tau harus bagaimana, keluarga saya tidak ada yang mau mbak, bagaimana ya mbak?"
"Gimana kalau saya saja Bu yang membantu mengurusnya?"
Arya tiba-tiba menawarkan diri.
"nak Arya serius?"
Tanya Bu Desi.
"yah saya serius, selama ini kan pak Anton dan Bu Desi sudah saya anggap sebagai orang tua saya sendiri."
"nak Arya kamu dari dulu memang tidak pernah berubah, kamu memang baik sekali nak"
"ini semua saya lakukan untuk pak Anton Bu, saya hanya bisa membantu sebisa saya saja ya Bu."
"astaga nak Arya sudah sangat berjasa bagi kami, jika tidak ada nak Arya mungkin sampai sekarang ibu masih bingung mencari hutang kesana kemari."
Diandra yang menyaksikan semua hanya bisa diam sambil berkata dalam hati :
"cowok resek ini ternyata baik juga ya, hah nggak, jangan percaya dulu siapa tau dia itu ada niat jahat nanti., hah sudahlah yang penting urusan sewa nya selesai."
"hei, kok bengong sih kenapa?"
goda Arya sambil menepukkan tangannya di depan wajah Diandra.
"iihh kamu jangan macem-macem ya, Bu ibu kenapa bisa percaya banget sih sama dia."
Kesal Diandra.
"dia memang orangnya baik mbak, makanya saya percaya dengan dia."
Bu Desi kembali menegaskan.
"yasudah kalau begitu, saya sudah siapkan berkasnya mungkin hari ini kita bisa mengurusnya."
"ya, lebih cepat lebih baik kan, oh ya karena kita akan bekerja sama, jadi aku sarankan kamu beri aku nomor telepon kamu agar kita bisa mengatur pertemuannya."
"yasudah ini nomor telefon saya 08******** "
"oke, saya simpan nomor kamu."
...πππππππππππππ...
Hai readers, jangan lupa like komen dan vote karyaku ya supaya aku semangat untuk melanjutkan karyaku.
__ADS_1
Love you all π₯°π₯°π₯°π₯°π₯°