Jantung Hatiku

Jantung Hatiku
Hans seperti Bunglon


__ADS_3

Sudah tiga jam lebih Riko menunggu, dia tetap setia menunggu Jihan sambil mengerjakan laporan di laptopnya.


Karena tidak tega, Jihan lalu menghampiri Riko.


"Riko, sebaiknya kamu tidak usah menunggu aku, aku bisa sendiri kok" Ucap Jihan


"gapapa kamu selesaikan saja pekerjaan kamu"


"tapi...."


"udah ya aku mau ngerjain laporan dulu" Ucap Riko


Jihan merasa sangat tidak enak kepada Riko.


Karena bos Jihan melihat Riko, akhirnya bos Jihan mengatakan kepada Jihan untuk segera pergi agar Riko tidak menunggu.


"Jihan, sebaiknya kamu pergi sekarang, kasihan tu pak Riko udah nungguin lama"


"tapi perkejaan saya belum selesai pak"


"kamu pikir karyawan saya cuma kamu, disini banyak karyawan, kamu buruan ganti baju dan segera pergi, cepat!"


Jihan lalu bergegas ke ruang ganti untuk berganti pakaian. Setelah selesai, Jihan mengampiri Riko


"loh kok kamu.....memang udah selesai?" Tanya Riko


"udah kok, aku udah ijin juga sama bos" Ucap Jihan


"yaudah tunggu sebentar aku bereskan barangku"


Setelah selesai membereskan barang, Riko lalu mengajak Jihan untuk ke mobil nya dan mengantar ke rumah Dinadra.


"Oh ya nanti pulang jam berapa biar aku jemput" Tanya Riko.


"emm aku juga ga tau nanti pulang jam berapa, tapi sebaiknya aku nanti pulang sendiri saja"


"nggak nggak ga bisa aku harus antar kamu, kan aku udah janji sama ibu kamu buat jagain kamu"


"oh ya, emang ibu bilang gitu?" Tanya Jihan


"i iya dong" Jawab Riko gelagapan.


Setelah menempuh perjalanan, akhirnya mereka telah sampai di mansion Hans


Jihan dan Riko turun dari mobil dan berjalan untuk memasuki rumah Diandra dengan mengetuk pintu.


Pintu pun terbuka.


"Jihan! Iihh kangen banget tau" Diandra memeluk Jihan.


"hadeh baru juga beberapa minggu"


"ya kan lama, mana aku setelah pulang dari rumah sakit ga dibolehin kemana mana sama mama" Ucap Dinadra.


"ya kan sekarang aku udah disini kan?"


"Iya iya maacih bestie, loh kok pak Riko?" Diandra heran


"halo non Diandra, apa kabar?" Tanya Riko.


"oh ya kabar baik, tapi kenapa pak Riko disini bukannya ke kantor, mas Hans bilang ada meeting di kantor hari ini?" Tanya Diandra


"meeting?.....aaa iya meeting. Ya memang ada meeting tapi emm saya. Saya sudah menyiapkan berkasnya lagipula disana sudah ada pak Arya." Riko berbohong


"kamu yakin?" Diandra masih belum percaya

__ADS_1


"iya non Diandra saya yakin" Ucap Riko gugup


"oke, awas aja ya kalo sampai kalian berbohong" Diandra menatap tajam Riko.


"emm sebaiknya saya segera ke kantor mungkin tuan Hans membutuhkan saya, mari non Diandra, Jihan" Ucap Riko terburu buru karena ketakutan


"Astaga ternyata ancaman nona Diandra lebih menakutkan dibanding tuan Hans. Hah tapi kan hari ini tidak ada meeting, ashhhh sial! semoga non Diandra tidak curiga. Tapi kemana tuan Hans, pak Arya juga tidak ada dikantornya. " Riko berbicara dalam hati sambil menyetir mobilnya.


-


Sementara itu, Vika baru sampai di mansion Hans. Vika turun dari mobil sambil tersenyum sendiri. Membuat Diandra dan Jihan yang tadinya akan masuk kedalam rumah menjadi heran dengan Vika.


"Jihan, dia kenapa sih? Apa tadi malam dia pergi itu trus kepalanya terbentur?" Tanya Diandra


"hmmm ada yang aneh dengan anak ini...semalam dia tiba tiba pergi setelah merekam Hans melamar kamu. Setelah itu aku ga tau dia kemana. Dan sekarang, dia bersikap aneh." Ucap Jihan


"Haiii kalian sengaja menyambut aku ya....wah istimewa sekali. Yaudah yuk kita masuk. Diandra aku haus banget." Ucap Vika


"oke oke aku sampai lupa. Yaudah kita masuk yuk!" Ucap Diandra


-


Dimarkas Hans, kelompok mafia Hans yang terdiri dari empat ketua mafia yaitu Hans, Arya, Erland, dan Bryan yang diberi nama 'The Evil'. Mereka sedang membahas mengenai kedatangan musuh bebuyutan mereka.


"Seperti itu kira kira rencana ku" Hans yang sudah selesai menjelaskan rencananya.


"wahh Hans sudah kembali.....aku rindu kamu Hans" Ucap Erland terharu


"benar, sepertinya kehadiran Diandra membawa perubahan besar bagi kamu, ya kan Arya " Ucap Bryan sambil menyenggol lengan Arya


"tapi aku rasa kamu itu berubah terlalu drastis Hans" Ucap Erland


"maksudnya" Hans heran


"hahahaha benar kamu, aku rasa Hans itu mafia yang paling manja saat bersama Dinadra" Ejek Bryan.


"Kurang ajar kalian! berani mengatai aku ha!" Hans kesal lalu membekap leher Erland dan Bryan secara bersamaan


"aw aw ampun Hans aku aku hanya becanda" Ucap Erland


"hei lepaskan, bukankah itu benar ha!" Kesal Bryan


Hans terus membekap Erland dan Bryan. Hans melakukannya tidak sekuat tenaga, namun bagi mereka, kekuatan Hans benar benar tak terduga.


Arya hanya diam melihat kelakuan mereka.


"cih, kalian kekanak Kanakan" Ucap Arya lalu pergi meninggalkan mereka dan menyalakan rokoknya


"ada apa dengan curut itu?" Hans heran lalu melepaskan Bryan dan Erland.


"Astaga leherku hampir copot rasanya" Ucap Erland sambil memegang lehernya


"entahlah, dia memang aneh, bukankah dari dulu dia memang aneh" Ucap Bryan yang juga kesakitan di lehernya


"aku akan menemuinya" Ucap Hans lalu mengampiri Arya yang keluar dari ruang bawah tanah dan sedang duduk di sofa yang ada di markas.


"ada apa?" Tanya Hans


"bukan apa apa" jawab Arya singkat


"sepertinya kamu tidak senang aku sudah kembali" Ketus Hans


"maksudnya"


"yah, saat aku bilang akan pulang dan akan memberi kejutan kepada Diandra melalui panggilan video beberapa hari yang lalu, kamu terlihat tidak semangat, saat aku sampai dia bandara, hanya Riko dan Erland yang menjemput, dan saat aku melamar kembali Diandra, kamu malah menghilang entah kemana. Ada dengan kamu?" Tanya Hans

__ADS_1


"Kan sudah ku bilang bukan apa apa, lagipula akhir akhir ini aku sangat lelah karena harus menggantikan kamu" Kesal Arya


"Bukankah biasanya kamu juga melakukan itu untukku? Sekarang apa masalahnya?" Tanya Hans


"Sudahlah Hans, aku pulang dulu hari ini aku tidak akan ke kantor" Ucap Arya lalu meninggalkan markas.


Erland dan Bryan menguping pembicaraan mereka.


"benar kan, apa yang aku ceritakan" Ucap Erland


"tapi semoga saja itu tidak benar, jika itu benar maka akan terjadi perang saudara antara Hans dan Arya" Ucap Bryan


"aku juga berharap begitu, bagaimana jika kita melakukan sesuatu?" Erland mengode Bryan dan Bryan langsung paham.


-


Di mansion Hans, saat Diandra dan Jihan sedang fokus membahas toko mereka yang hampir jadi, Vika malah senyum senyum tak jelas sambil memegang gelas minuman dan menempelkannya ke wajahnya.


"Vikaaa kenapa sih?" Tanya Jihan sambil menyenggol Vika


"iih apaan sih nanti tumpah airnya" Kesal Vika


"ya lagian, orang kita lagi bahas toko kamu malah senyum senyum ga jelas" Kesal Jihan


"Vika, kamu kenapa sih, dari awal Dateng sampai sekarang kamu senyum senyum sendiri? cerita dong" Bujuk Diandra


Vika lalu menatap Diandra dan Jihan sambil tersenyum dan membayangkan momen semalam bersama Arya.


(Flashback Arya dan Vika)


Vika tertidur di bahu Arya, saat Vika terbangun karena merasa ada yang menindih kepalanya, dirinya melihat samping dan Arya. Ternyata kepala Arya disandarkaj di kepala Dinadra.


Menyadari hal itu, Dinadra menatap Arya dengan dalam.


"astaga, ternyata mas Arya sangat tampan saat dilihat dari dekat, oh tidak! hei jantung, kamu tidak boleh seperti ini. Tolong bekerja samalah." Ucap Vika dalam hati lalu karena udara terlalu dingin dan mereka berada di luar ruangan.


Vika bersin bersin dan membuat Arya terbangun.


"kamu kenapa? Kedinginan" Arya yang sedikit cemas


"ah iya nih, aku tidak terbiasa dengan dingin malam. Jadi aku sedikit....."


"kalau kamu tidak keberatan, mungkin saya bisa membantu kamu. Itu pun kalau kamu mau" Arya menawarkan bantuan kepada Vika


"bantuan apa?" Tanya Vika.


"saya akan memeluk kamu agar kamu hangat, ah maksud saya ini disebut sebagai teknik...."


"aku mengerti!" Sambung Vika dengan sedikit malu


" baiklah, maaf sebelumnya" Arya meminta ijin untuk memeluk Vika


Arya lalu memeluk Vika agar Vika tidak kedinginan.


"yatuhan tolong aku, jika aku pingsan karena jantungku berdegup terlalu kencang, aku mohon jangan buat aku malu didepan mas Arya" Batin Vika memohon


(Flashback off)


Vika yang hanya diam dan belum mau bercerita dengan Jihan dan Diandra yang sudah menunggu Vika bercerita.


"hah sudahlah itu ga penting sekarang kita bahas aja toko kita" Ucap Vika yang masih senyum senyum


"dari tadi kaleee kita bahas toko" Kesal Jihan yang membuat Dinadra geleng geleng


...πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•...

__ADS_1


__ADS_2