Jantung Hatiku

Jantung Hatiku
Arya sakit


__ADS_3

Vika sedang berusaha menghubungi Arya untuk memastikan kondisi Arya.


"duh kok ngga dibales sih, apa aku telfon aja ya, duh duh Jangan deh nanti malah ganggu lagi, duh kok aku jadi khawatir gini sih. Hah Sudahlah lagipula saat ini yang ada di hati mas Arya masih Diandra" Ucap Vika


-


Sedangkan Arya terus meratapi kesalahannya . Dirinya tidak tau harus bagaimana kedepannya. Perlahan Arya tertidur di lantai tanpa selimut.


...<\=\=\= Episode Sebelumnya \=\=\=>...


Pagi telah tiba, Bu Rosa mencoba mengetuk pintu kamar Arya namun Arya tidak menjawab.


"duh jangan jangan Arya, tidak tidak. Paaa papaaa" Teriak Bu Rosa


"Apa sih ma, pagi pagi juga teriak teriak"


"pah, Arya pa Arya dari tadi mama gedor gedor ga dibuka mama takut terjadi sesuatu sama Arya pa" Bu Rosa panik


"mama tenang dulu oke, papa coba dobrak pintunya yah" Sekuat tenaga pak Jeremy mendobrak namun tetap tidak bisa terbuka.


"pah mama telfon tukang kunci aja deh, kelamaan kasian Arya pa"


Bu Rosa memanggil tukang kunci, akhrinya pintu terbuka, dan benar saja. Arya pingsan di lantai, badannya begitu panas


"duh Arya kamu kenapa sih nak, jangan bikin Tante kahwatir dong" Bu Rosa menempelkan kompres kepada Arya.


ponsel Arya berdering, ternyata Vika yang menelfon.


"halo, Arya akhrinya kamu jawab juga telfon aku, gimana kondisi kamu, baik baik aja kan?" Tanya Vika melalui sambungan telepon


"halo Vika, ini tante Rosa. Arya pingsan"


"apa! pingsan Tante, yasudah kalau begitu Vika kesana Tante"


Vika pun lalu bergegas ke rumah pak Jeremy untuk melihat kondisi Arya


-


Sedangkan Diandra mulai bangun dan mengeryitkan matanya, merasa tangannya ada yang menggenggam, Diandra lalu melihat ternyata Hans semalaman tidur disampingnya.


Hans merasakan tangan Diandra bergerak dan mulai terbangun.

__ADS_1


"Sayang, kamu sudah sadar? Gimana kamu perlu sesuatu? mau aku ambilkan minum. Ini minum dulu" Hans memberikan minum kepada Diandra


"Mas apa aku kemaren mimpi, mas Arya....dia.."


"kamu tidak bermimpi, sudahlah lupakan semua dan jangan dipikirkan sekarang kita fokus saja dengan simungil ini" Hans mengelus perut Diandra, sontak saja Diandra terkejut bukan main


"Mas, apa kamu bilang? apa aku...aku sedang...hamil?" Ucap Diandra tidak percaya


"yah kamu sedang mengandung benih cinta kita sayang, Terimakasih ya...I Love you istriku sayang" Hans lalu mencium bi*** Diandra


Saat mereka berciuman, sang perawat dan dokter pun tiba tiba datang dan sangat terkejut melihat Hans sang Presdir yang terkenal dingin menjadi sangat bucin dengan istrinya, dan tidak malu saat di tempat umum bahkan rumah sakit sekalipun.


"ekhmm permisi tuan" Ucap sang dokter


"ah iya, ada apa?" Hans yang juga terkejut membuat Diandra malu


"Saya dokter umum ingin memeriksa pasien atas nama nona diandra betul?"


"betul dok, oh ya dok saya sudah mendingan apakah saya boleh pulang hari ini?" tanya Diandra


"Sebentar ya saya cek kondisi anda dulu"


"Bagaimana dok?" Tanya Diandra


"Mas, masa aku belum boleh pulang" Rengek Diandra


"Sayang, kamu harus inget kalau sekarang di perut kamu ini ada benih kita berdua" Ucap Hans


"hah....tapi aku masih ngga mau ngomong sama kamu. Sebelum kamu dan mas Arya menyelesaikan masalah kalian" Diandra membuang muka


"Sayang, aku butuh waktu. Aku tidak bisa begitu saja melupakan masalah ini, Aku mengenal Arya sudah lama dan aku tau bagaimana sifatnya."


"ya kalau kamu tau harusnya kamu bisa mengerti kan, Lagipula sekarang kan kita sudah punya ini yang harus dijaga" Diandra menunjukkan perut nya yang masih rata


"Aku mengerti sayang, tapi tolong ya beri aku waktu, sifat kami hampir sama, jadi tolong kamu mengerti...aku selalu percaya sama kamu, aku harap kamu juga tidak meragukan aku ya" Hans meyakinkan Diandra


"Sayang, mama berharap kelak kalau kamu nanti dewasa, kamu tumbuh menjadi anak yang pemaaf dan tidak mudah menjadi pendendam ya" Diandra berbicara sendiri sambil mengelus perutnya


Hans hanya diam dan tidak bisa berkata apa apa lagi, tiba-tiba saja Hans teringat dengan sisi lain dirinya yang merupakan seorang mafia, Dulu pak Jeremy juga mantan mafia, itu sebabnya Hans juga masuk kedunia mafia.


Hans tidak ingin jika suatu saat nanti anaknya menjadi seperti dirinya, Hans ingin anaknya menjadi seseorang yang pemberani tetapi tidak untuk menjadi mafia seperti dirinya.

__ADS_1


"Nak, maafkan papa. Papa janji suatu saat nanti kamu akan menjadi orang yang sukses dan papa berharap kamu tidak seperti papa, maafkan papa juga karena papa tidak memberitahu mama tentang identitas papa. Papa sayang kalian, tumbuhlah dengan baik ya nak, dan jangan buat mama susah, kasihan mama ya nak" Batin Hans sambil melihat perut Diandra


-


Dirumah pak Jeremy, Arya kini sudah dirawat oleh Bu Rosa. Tak lama Vika pun telah sampai. Dan singkatnya Vika telah diijinkan masuk menjenguk Arya


"Tante, bagaimana kondisi Arya Tante?" Tanya Vika


"Panasnya belum turun, Tapi tadi dokter sudah memeriksa Arya, tinggal tunggu bangun dan beri dia makan lalu minum obat" Ucap Bu Rosa


"begitu ya Tante. Kalau boleh apakah Vika diinjinkan untuk merawat mas Arya?"


Pak Jeremy dan Bu Rosa saling tatap, lalu pak Jeremy memberi isyarat setuju.


"Ah tentu boleh Vika, kalau kamu tidak keberatan. Silahkan Tante justru senang kamu disini. Setidaknya itu meringankan beban Arya." Ucap Bu Rosa


Kini Vika menjaga Arya, mulai dari mengganti kompres, mengelap keringat dan menggenggam tangan Arya yang sepertinya butuh ketenangan, Setelah beberapa jam akhirnya Arya mulai sadar.


"Mas Arya, sudah sadar. Mau minum?" Tanya Vika


Arya samar samar melihat Vika, dan kini mulai terlihat jelas


"Tidak perlu, Vika. Kamu kenapa disini?" Tanya Arya


"iya, tadi aku telfon mas Arya yang mengangkat telfon Tante Rosa, katanya mas Arya sakit, jadi aku kesini. Oh ya ini aku bawakan bubur buatan aku. Aku panaskan dulu ya Buburnya. Sebentar" Vika lalu memanaskan bubur yang dia bawa.


Tante Rosa yang melihat bagaimana perlakukan Vika terhadap Arya pun mulai paham, jika Vika sepertinya menaruh hati kepada Arya.


"Kamu buat sendiri?" Tanya Bu Rosa


"ah iya Tante, setelah aku dengar kabar kalau mas Arya sakit, jadi aku buatkan bubur untuk dia. Lagipula Vika sering kok Tante masak sendiri, kan Vika di luar negri hidupnya mandiri" Ucap Vika lalu menghidangkan bubur nya untuk Arya


"Mas ini buburnya sudah aku panaskan, mau aku siapin?" Tanya Vika


"ekhmm Tidak perlu Vika, saya bisa sendiri" Arya sekuat tenaga mencoba bangun namun kepalanya terlalu sakit.


" Mas Arya sudah ya, aku mohon tolong biar aku yang suapi ya. Kali ini saja" Vika memohon


"Baiklah, maaf kalau saya merepotkan" Ucap Arya


Vika hanya tersenyum lalu mulai menyendokan makanan untuk Arya. Arya memang sama seperti Hans, tidak mudah melupakan orang yang dicintainya

__ADS_1


Jadi saat Vika memperhatikannya Arya tidak berpikir terlalu jauh.


...πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•...


__ADS_2