
Jihan yang tanpa sadar memeluk lengan Riko sambil berteriak membuat Riko ikut terkaget karena Riko yang dikenal kaku dan sangat pemalu dengan wanita terlihat hanya diam dan tak berkutik karena ini adalah pertama kali Riko bersama dengan seorang wanita apalagi saling menyentuh.
"Jihan, kamu ngapain peluk pak Riko, liat tu pak Riko merah wajahnya."
Ledek Vika dengan wajah herannya.
"ahh m maaf pak saya, saya tidak sengaja tadi pak sekali lagi maaf pak."
Ucap Jihan sambil melepaskan pegangan dari Riko."
"kamu sengaja ya peluk saya, kan ada temen kamu, ngapain peluk saya segala sih cari kesempatan ya kamu."
kesal Riko kepada jihan.
"hah, maaf ya pak kalopun bukan karena adegan yang menakutkan saya juga ga akan refleks pegang situ."
Keduanya pun kesal satu sama lain dan saling melempar pandang.
Vika, Hans dan Diandra hanya geleng-geleng dengan sikap mereka berdua.
Setelah selesai menonton film, mereka kembali berjalan-jalan.
Saat sampai di toko tas, Jihan fokus melihat salah satu tas berwarna hitam yang sangat bagus, saking fokusnya Jihan menatap sampai tidak sadar kalau didepannya ada Riko dan Jihan pun menabraknya.
braaak...
"aduhh, ih kenapa sih berhenti tiba-tiba"
Protes Jihan sambil memegang kepalanya
"kamu ya, dari tadi bikin saya emosi, udah salah malah kamu dari tadi yang marah-marah, mau kamu apa sih ha"
Kesal Riko kepada Jihan.
"kamu...."
"aiishh kalian brisik banget sih dari tadi ha, kalian berdua pergi sana deh brisik dari tadi"
Usir Hans kepada Jihan dan Riko karena membuat kegaduhan.
"maaf tuan, saya tidak bermaksud begitu, tetapi dia yang membuat masalah dari tadi tuan"
Kesal Riko kepada Jihan.
"hah aku, justru anda yang dari tadi bikin saya emosi Lo"
"aduuuhh brisik deh kalian, oh ya aku mau balik dulu ya tiba-tiba papa chat aku nih, byee"
__ADS_1
Pamit Vika yang tiba-tiba.
"yaudah Vik, kamu hati-hati ya makasih ya udah anterin kita tadi"
"dahlah santai aja kaya sama siapa aja, yaudah deh aku pergi dulu ya byee"
Setelah kepergian Vika hanya tinggal kedua pasangan yaitu Hans dan Diandra serta Riko dan Jihan
Karena kesal dengan Jihan dan Riko akhirnya Hans dan Diandra berpencar dari Jihan dan Riko.
Kini hanya tinggal Jihan dan Riko. Jihan hanya bisa menatap tas itu dengan sendu, dia ingin membeli tas baru tetapi dia harus mengesampingkan keinginannya dan harus mengutamakan kebutuhan sekolah adiknya yang kini tengah berkuliah.
Riko yang melihat Jihan pun terheran.
"ngapain bengong, kamu mau berdiri disini sampe malem ha, Ayuk jalan"
"iyaaa."
Riko dan Jihan pun akhirnya berhenti di kedai kopi karena Riko lelah berjalan, sembari menunggu bos nya yaitu Hans dia akan menikmati kopi di kedai dalam mall tersebut.
"aku mau kesitu kamu mau ikut aku apa mau belanja sendiri?"
"emm aku ikut pak Riko aja."
Setelah duduk lalu datanglah seorang pelayan yang memberikan menu untuk mereka, Riko memesan americano dingin dan sebuah Snack untuk menemani menikmati kopinya.
"kamu mau pesen apa?"
Tanya Riko kepada Jihan.
"hah, yakin cuma air putih, disini banyak yang enak Lo"
Tawar Riko kepada Jihan.
"iya pak saya air putih saja satu."
"yasudah"
Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya menu pesanan mereka telah datang.
"kamu kenapa sih cuma pesen air putih?"
Tanya Riko kepada Jihan.
"karena saya tidak tau menu disini, saya juga ngga tau berapa harga menu disini soalnya ini mall besar yang sudah pasti harganya mahal-mahal"
Riko terbelalak saat Jihan mengatakan hal itu, pasalnya di jaman sekarang ini masih ada wanita selain Diandra yang masih polos dan jarang pergi ke mall.
"kamu, jarang ke mall?"
"hahahahaha jangankan ke mall, saya beli baju di pasar aja jarang."
__ADS_1
Jawab Jihan sambil senyum.
Riko yang mendengarnya pun kembali terkejut dan entah mengapa dirinya tertarik ingin mengetahui kehidupan Jihan.
"Maaf kalo saya lancang, memang nya kamu itu kehidupannya seperti apa kalau boleh tau, kalau ngga mau jawab ya gapapa sih saya ngga akan maksa kok, lagian juga ga penting buat saya"
"Yaudah kalo ngga penting saya juga ga mau cerita kok lagian kehidupan saya itu privasi kita aja baru kenal masa saya udah langsung cerita tentang kehidupan saya ke anda sih"
Kesal Jihan kepada Riko .
Riko yang ikut kesal pun hanya menghela napas berat, tetapi dalam lubuk hati Riko yang paling dalam, dirinya sangat ingin tahu lebih banyak mengenai wanita yang telah merusak harinya itu.
"dasar aneh"
Kesal Riko.
"ha, apa tadi anda bilang apa, aneh? maksud pak Riko saya aneh gitu?"
"apa-apaan sih jangan ge er kamu saya ngga ngatain kamu, tapi kalau kamu merasa yasudah bukan salah saya kalo gitu"
Jihan dengan kesalnya lalu mengumpat dalam hati,
"dasar cowok kaku,aneh, atasan sama asisten sama aja ngeselinnya. Bos nya judesnya minta ampuuun, ini lagi asistennya apalagi berasa kek sama es batu aku"
"kamu mengumpat saya ya?"
tanya Riko.
Jihan yang mendengarnya hanya bisa berkata dalam hati,
"hah kok dia denger sih, jangan-jangan dia tau lagi apa yang aku omongin tadi"
"haduuh kenapa sih anda ge er sekali, saya kalo mau mengumpat bapak, tinggal bilang langsung aja ngga perlu dalam hati"
Kesal Jihan.
Tiba-tiba saja ponsel Riko berbunyi bertuliskan Tuan Hans yang menelfon.
"halo tuan.....oke tuan baik saya akan segera kesana"
Tutup sambungan telepon.
"hei cewek aneh, ayo kita pulang tuan Hans sudah menunggu di basemant."
"nama saya itu Jihan ya, bukan cewek aneh"
kesal Jihan kepada Riko.
Setelah membayar, Riko dan Jihan pun akhirnya pergi menuju ke basemant dan kemudian Riko mengemudikan mobil, Riko dan Jihan di jok depan, sedangkan Hans dan Diandra berada di jok belakang.
...ππππππππππππ...
__ADS_1