
Diandra mulai terbangun dari tidurnya karena silau cahaya matahari yang menembus jendela kamar mereka.
Saat Diandra mulai membuka mata, alangkah terkejutnya Diandra karena Hans yang masih tidur sambil memeluk dirinya dengan erat, Diandra yang ingin melepaskan pelukan Hans pun juga mulai sadar dengan dengan selang oksigen yang menempel pada hidungnya.
"loh kok ada...astaga apa semalam aku, ya tuhan aku harus bilang apa, hah yasudahlah aku jujur aja lagian mas Hans juga pasti akan segera tahu kondisi aku, tapi apa mas Hans mau menerima aku setelah dia tau kondisi aku? apakah dia akan menceraikan aku saat dia sudah sembuh nanti? apakah aku akan ditelantarkan olehnya?"
Pertanyaan-pertanyaan muncul dibenak Diandra, dirinya berbalik kesamping sambil menatap wajah suaminya, dan jantungnya pun berdegup kencang tapi seperti biasa, tidak terasa sakit namun malah rasa nyaman yang ia rasakan.
"mas, kamu tampan sekali, pantas saja dulu banyak gosip tentang kamu bersama dengan banyak wanita, kalau kamu udah sembuh nanti pasti banyak wanita yang akan mendekati kamu lagi, dan kamu bakal buang aku"
Diandra berkata sambil menangis dan menatap Hans, Hans yang sudah sadar sedari tadi hanya terdiam dan mencoba berpura-pura bangun.
"ehhmmm....kamu udah bangun, gimana kondisi kamu, udah enakan?"
Tanya Hans sambil bangun dan menyandarkan tubuhnya.
"iya, mas semalam aku, sebenernya ada hal yang mau aku sampaikan ke kamu, tapi aku takut"
Ucap Diandra lirih sambil menahan tangisnya.
Hans yang sudah tau apa yang akan Diandra bicarakan tiba-tiba memeluk Diandra dan mencoba menenangkan Diandra.
"kamu mau ngomong apa hmm, ngomong aja"
Diandra lalu melepas pelukan Hans.
"mas sebenernya aku, aku punya......"
Telunjuk Hans tiba-tiba mendarat di bibir diandra dan menghentikan pembicaraannya.
"cukup, aku udah tau. Aku cuma pengen kamu sendiri yang bilang dan sekarang kamu udah ngungkapin semuanya, aku udah tau lama sejak awal pernikahan kita"
Hans sambil berkata dalam hati ,
"dan aku juga sudah tau kalo kamu itu gadis kecilku yang selama ini aku cari".
Hans Kembali melanjutkan perkataannya
"Cuma itu yang mau kamu omongin, ngga ada lagi gitu?".
Goda Hans kepada Diandra.
"hah yang lain, udah itu aja aku cuma pengen ngomongin itu aja kok, udah aku mau mandi sarapan"
Ucap Diandra sambil berdiri.
"Kamu ngga sekalian mandiin aku? kalo ngga mau mandiin aku nanti aku dimandiin sama pelayan cantik lo
Diandra berhenti lalu berbalik kepada Hans,
"ooh jadi kamu lebih suka dimandiin sama pelayan itu, kalo gitu kamu panggil aja pelayan itu kesini trus suruh dia buat mandiin kamu"
ucap Diandra sambil menyilangkan tangannya.
Hans yang sangat gemas dengan istrinya lalu mencoba berdiri, namun dia terjatuh.
"akkkhhhh, aakhhhh siall"
Umpat Hans sambil masih mencoba berdiri.
Diandra yang melihat pun langsung menghampiri Hans dan membantu Hans untuk kembali duduk di kasur.
"Maas kamu mau ngapain sih, jatoh kan coba aku lihat kaki kamu ada yan luka nggak"
Diandra meraba kaki Hans dan menyibak celana Hans, namun terhenti.
__ADS_1
"loh katanya mau lihat ada luka kok ga jadi?"
tanya Hans dengan menggoda istrinya.
"yaudah deh mas Hans mandi dulu nanti setelah itu aku."
Diandra yang merasa malu kemudian menuju kekamar mandi untuk mempersiapkan alat mandi Hans.
"mas udah siap yuuk mandi"
Ucap Diandra kepada Hans sambil mendorong menuju kamar mandi.
"ngga mandi sekalian aja berdua"
Celetuk Hans tiba-tiba.
"tuh kan mulai lagi, jangan jangan pelayan kamu juga....., ah udahlah buruan mandi nanti mas ada jadwal terapi lagi kan"
Diandra lalu seperti biasa memandikan Hans, Hans yang kembali lagi dengan jahilnya secara sengaja mengarahkan shower ke arah Diandra.
syurrrr....π¦π¦π¦
"Maas apaan sih jangan kek gitu basah ni aku, udah deh jangan main-main nanti telat ke tempat terapinya".
Diandra yang kesal kepada Hans pun lalu dengan segera memandikan Hans, baju Diandra yang basah pun melihatkan dengan sempurna dua bagian miliknya yang indah.
Hans kembali menelan ludah dan mencoba tidak terpancing, tapi karena itu semakin mendekat, Hans lalu memeluk Diandra dan membawa kedalam pangkuannya.
grep....
"Maas kan udah dibilangin jangan main-main, kamu tu kenapa sih nanti telat Lo kita kamu mau cepet sembuh ngga sih....."
Diandra yang terus mengomel kepada Hans secara tiba-tiba berhenti mengomel karena bibir hans mendarat di bibir Diandra.
Diandra langsung berdiri dan menatap Hans, mereka berdua terdiam.
Diandra yang merasa marah akhirnya segera menyelesaikan acara mandi mereka.
Kemudian segera memakaikan baju Hans, lalu dengan wajah malas Diandra menuju kekamar mandi.
Setelah selesai keduanya lalu sarapan, lagi-lagi Diandra kembali diam.
Hans yang merasa bersalah pun hanya bisa diam karena jika dirinya berbicara dalam situasi seperti ini, Diandra malah semakin marah.
Sesampainya di tempat terapi pun Diandra masih dengan wajah tanpa ekspresinya.
Bahkan saat membantu Hans terapi hingga mengelap keringat Hans pun Diandra tetap diam.
Bukan hanya itu sesampainya dirumah pun Diandra masih saja mendiami Hans.
"Maas ayo mandi nanti keburu malam dingin"
Ucap Diandra kepada Hans dengan Ketus.
Dikamar mandi Diandra dengan secepat mungkin segera memandikan Hans agar segera menyudahinya.
Setelah dipakaikan pakaian, Diandra lalu mandi. Dan saat keluar kamar mandi Diandra mencari suaminya tidak ada dikamar.
Diandra mulai penasaran dimana suaminya lalu dirinya mencoba mencari di ruang baca hingga ruang kerja namun tidak menemukan, hingga kemudian terdengar suara teriakan keras
arkkkhhhhhh!!!!......
Diandra yang sadar bahwa itu suara Hans langsung mencari keberadaan suaminya, alangkah terkejutnya Diandra ketika melihat Hans terjatuh dari kursi rodanya yang berada di taman belakang.
"maaas mas Hans, kamu kenapa, sakit, dimana yang sakit"
__ADS_1
Diandra meraba seluruh tubuh Hans memastikan tidak terjadi sesuatu yang fatal bagi suaminya.
"akhhhh, kaki aku rasanya kram..."
Diandra yang mendengarnya pun merasa senang karena akhirnya kaki Hans dapat merespons meski itu kram namun peningkatan Hans sudah mulai terlihat.
"mas kamu udah bisa ngrasain?"
Hans yang menahan sakitnya lalu melihat kakinya, benar saja Hans sudah bisa mulai merasakan kakinya, meskipun hanya kram namun dirinya sangat bersyukur akhirnya kakinya bisa merespons sedikit demi sedikit.
"mas kamu ngapain sih malam-malam sendiri di sini kalo terjadi sesuatu sama kamu gimana trus kenapa tadi bisa jatoh?"
Diandra yang sangat panik karena suaminya jatuh pun melontarkan berbagai pertanyaan.
"maaf aku ngrepotin kamu lagi, aku cuma mau ngasih kamu kejutan ini"
Hans menunjuk meja makan yang sudah ia siapkan untuk Diandra.
"m maaas ini, ini kamu yang nyiapin semua?"
Diandra yang berkaca-kaca merasa terharu karena Hans
"iya, tapi tadi dibantu mbok Jum sama pak Anton"
tanpa Diandra sadari, dirinya memeluk Hans.
"maaas makasih aku belum pernah diperlakukan seperti ini sebelumnya, bahkan saat aku ulang tahun pun ngga ada yang kasih aku surprise kecuali temen-temen aku, trimakasih"
Hans yang merasa iba lalu mengelus rambut Diandra dan kemudian mengecup kening Diandra.
"ayo kita makan nanti keburu dingin"
Ucap Hans.
"waaahh ini pasti mbok Jum yang masak, oh iya selama kita menikah mas kan ngga pernah ngrasain masakan aku, masakan aku enak tau ngga kalah sama masakan mbok Jum"
Diandra yang mulai tersenyum sambil menikmati hidangan tersebut.
"oh iya kalo gitu besok kamu masakin buat aku, gimana mau kan?"
Ucap Hans.
"hmm boleh aja sih tapi kamu harus janji sama aku, aku bakal masakin kamu tiap hari tapi kamu juga harus janji, kamu harus cepet sembuh, gimaana kamu setuju?"
Tantang Diandra kepada Hans .
"oke aku setuju"
balas Hans dengan senyum. Kemudian Hans mengeluarkan sebuah kotak persegi panjang berwarna putih.
"aku ada sesuatu untuk kamu, ini semoga suka"
Hans memberikannya kepada Diandra.
"loh ini, ini kan handphone, kamu, mas ini ini untuk aku?"
Tanya Diandra dengan berkaca-kaca.
"iya coba buka deh, aku udah isi kartu dan juga masukin nomor aku dan nomor papa sama Mama"
Diandra membuka handphone tersebut dan mulai memainkan nya saat dibuka kontak, terdapat nama *suamiku tertampanβ₯οΈ*
Diandra yang ternganga saat mengetahui nama kontak tersebut hanya bisa terheran, karena dia tidak menamainya, namun Hans sendiri yang menamai nomornya tersebut.
...πππππππππππππ...
__ADS_1