
(flashback off)
"kalian duduklah dan ceritakan semuanya!" Tegas Hans kepada semua.
Arya dan Vika saling tatap untuk sesaat lalu mereka duduk, Arya yang duduk disamping Bryan berhadapan langsung dengan Diandra.
Vika duduk sebelah Diandra dan bertatapan langsung dengan Bryan.
"Maas, biar aku yang ceritakan dulu ya." Ucap Vika
"silahkan". jawab Hans.
Vika menceritakan awal pertemuannya dengan Arya yang pertama kali bertemu di pesta ibu Hans sampai dengan menyewa tempat Bu Desi.
"iya, Hans aku bertemu dengan Diandra sejak saat itu, karena kamu belum pernah memberitahuku mengenai istri kamu, jadi aku tidak tau jika dia adalah istri kamu." Sambung Arya.
"Jadi, kalian sudah pernah bertemu ternyata, hahaha baguslah kalau begitu, sayang....aku ga usah repot-repot untuk mengenalkan kamu kepada Arya, karena dia lah yang nantinya akan menjaga kamu selama aku berobat diluar negri." Ucap Hans sambil memegang tangan Diandra dan tersenyum gemas.
"Kamu....beneran mas jadi keluar negerinya?" Tanya Diandra dengan cemas.
"iya sayang....kamu tenang saja ya, aku janji aku akan segera pulang, kamu disini bersama dengan Arya, Riko dan Erland yang akan membantu aku mengawasi kamu." Ucap Hans dengan lembut sambil mengelus rambut Diandra.
Arya melihat Diandra dan Hans, Entah kenapa hatinya terasa begitu sesak dan rasanya ia ingin berteriak dan menghancurkan barang disekitarnya, Namun ia hanya bisa mengepalkan kedua tangannya dan menahan sesak di hatinya.
"Tapi mas, gimana kalo nanti disana kamu...."
"suuuutt udah ga usah mikirin yang aneh-aneh ya, aku disana ditemani oleh Bryan, jadi kamu bisa tanya dengan Bryan aku disana seperti apa." Hans mencoba meyakinkan Diandra.
Saat Hans mencoba meyakinkan kepada Diandra dengan berkata Bryan. Saat itulah Vika mulai terlihat tidak senang dan sedikit berdecak kesal.
"ciihh, bersama Bryan hah, dia saja begitu.....bagaimana mau meyakinkan seseorang!" Ucap Vika dengan kesal.
"maksud kamu apa?" Sambung Bryan dengan kesal juga.
"kenapa sih, kamu denger ya padahal aku ga ngomong sama kamu Lo, tapi kalo kamu ngerasa ya itu bukan salah aku." tegas Vika.
Semua orang yang ada disitu terlihat kebingungan.
"sebentar, Arya dan Diandra bertemu secara tidak sengaja, lalu? kalian, seperti sudah lama kenal." Erland yang penasaran.
Vika dan Bryan saling tatap lalu segera membuang pandangan mereka.
"Vik, kenapa sih, kok kamu ga cerita apa-apa?" Jihan yang ikut penasaran.
__ADS_1
"oke, aku akan jelasin...Jadi aku sama Bryan dulu pernah pacaran selama satu tahun lebih waktu itu aku bertemu dengan dia di Amerika ketika aku masih awal kuliah. Dia mengunjungi kampusku saat itu karena perusahaannya akan menjalin kerjasama dengan kampus ku mengenai beasiswa Warga Indonesia yang bersekolah disitu.
trus singkatnya kita udah pacaran selama satu tahun lebih, tapi dia malah selingkuhin aku." Vika menjelaskan kepada mereka.
"aku udah berapa kali bilang sih, aku ngga selingkuh!." Tegas Bryan sambil memukul meja.
"Bryan cukup! Kamu ini seorang pria jangan bermain kasar dengan wanita." Tegur Hans kepada Bryan.
"maaf, aku hanya sedikit emosi, Hans....kamu tau aku kan....itu hanya jebakan dan kamu Vika, apa kamu ga mau dengerin penjelasan aku sekali ini saja." Bryan memohon kepada Vika.
"kenapa kamu ga jelasin saat itu juga, kenapa kamu ga coba ngejar aku dan malah memilih untuk tetap berada disitu dengan wanita itu!" Vika sambil menangis.
"Karena aku.....aku tidak bisa melihat dia melukai dirinya Vik" Ucap Bryan dengan lirih.
"hahaha lihat kan, kalian lihat sekarang sepertinya sudah tidak perlu lagi kita bahas masalah ini. Diandra aku minta maaf aku gabisa lama-lama berada disini, rasanya aku ingin langsung menghilang di" Ucap Vika yang berdiri dan pergi meninggalkan rumah Hans.
"tapi Vika...." Diandra mencoba menahan Vika namun dicegah oleh Hans.
"sudah sayang, biarkan dia memenangkan dirinya." Ucap Hans.
Suasana menjadi tegang dan mereka yang berada disitu tidak tau harus berbuat apa, Arya yang hanya diam karena tidak menyangka jika wanita yang selama ini ia kejar adalah istri sepupunya sendiri.
Bryan yang menangis sambil memegang kening nya hanya bisa meratapi kesedihannya.
Hans yang tidak tau harus meyakinkan istrinya jika dirinya tidak akan pernah mengkhianati istrinya.
Sedangkan Jihan dan Riko yang gelisah dengan perasaan mereka.
Hanya Erland yang tidak memiliki beban pikiran namun ia juga diam karena bingung harus bagaimana dengan situasi seperti ini.
Hingga datanglah Ibu Jihan yang membawa dessert untuk mereka.
"nah semuanya ini ibu buatkan puding mangga, dan brownies lumer, silahkan menikmati". Saat ibu Jihan melihat mereka, betapa terkejutnya mereka saat melihat wajah mereka yang sangat tegang ditambah Bryan yang menangis sesegukan
"loh ini ada apa? ada masalah?" Tanya ibu Jihan. Yang juga membuat beberapa pelayan yang mengantar makanan ikut bingung.
"ahahaha gapapa kok Bu, oh ya ayo kita nikmati hidangan nya, waah sepertinya rasanya sangat enak, waah ibu ternyata sangat jago ya.". Erland mencoba memecahkan suasana dengan memuji masakan ibu Jihan yang memang enak sambil memberikan jempolnya.
Mereka semua lalu mencoba mencairkan suasana.
"ah benar ayo silahkan dinikmati, Arya kamu nanti tidur di rumahku saja, tangan kamu masih sakit kan" Ucap Hans kepada Arya.
"gapapa kok Hans, aku pulang saja biar nanti diantar Erland, nanti om dan tante khawatir lagi." Ucap Arya.
__ADS_1
"Tidak apa-apa nanti aku hubungi papa dan mama, kalo kamu disini, biar Erland yang mengantar Bryan, dan kamu Bryan nanti pulang diantar oleh Erland saja nanti mobil kamu biar aku yang urus." Tegas Hans.
Ya, Hans adalah yang paling tegas diantara mereka. Maka dari itu jika Hans sudah berkata apapun, maka mereka tidak dapat menolak.
"bener tu, gua takutnya nanti Lo kalo nyetir sendiri malah ga fokus dan bahaya, Lo kan kalo lagi ada masalah ga pernah fokus nyetir." Sambung Erland.
Mereka telah selesai menikmati pesta kecil kecilan yang mereka adakan. Meskipun baru semalam namun Diandra dengan mudahnya langsung akrab dengan mereka. Tanpa terasa malam semakin larut.
"oh ya Hans, Diandra sepertinya kita harus pulang, Bryan lu pasti ingin segera istirahat kan? dan Arya, Lo juga segera istirahat dan minum obatnya. Kita pamit dulu ya." Ucap Erland sambil membawa Bryan
"yah, gua pamit ya Hans, Diandra kita ketemu lagi lain kali ya" Pamit Bryan.
"iya kalian hati-hati" Ucap Hans.
"Mas Bryan, aku saranin mas Bryan untuk sementara waktu jangan ganggu Vika dulu ya, biarin dia tenang dulu setelah itu kalian bicarakan baik-baik, aku akan coba bantu sebisaku kok." Ucap Diandra.
"iya, Vika itu gabisa kalo dipaksa, dia butuh waktu, tenang aja, kita pasti bantu kok." Sambung Jihan.
Erland dan Bryan lalu pergi dan tersisa Arya, Riko dan Jihan.
"Riko, kamu antar pulang Jihan dan Ibunya" titah Hans.
"baik tuan." Balas Riko.
"kalo gitu saya bereskan ini dulu ya." Ucap Jihan.
"jangan! ga usah Han, kamu langsung pulang aja, ajak ibu kamu pulang, kasihan sudah malam". Ucap Diandra.
"hahaha aku dan ibu terbiasa dengan malam kok di udah". Jihan masih kekeh ingin membereskan.
Karena melihat ekspresi istrinya, Hans langsung memanggil pelayan.
"pelayan!!" Teriak Hans.
"Iya tuan." Ucap pelayan yang datang berjumlah lima orang.
"bereskan semua ini! dan kamu Jihan, jangan mengganggu pelayan bekerja. Segeralah pulang dan ajak ibu kamu untuk beristirahat, biar Riko yang mengantar kalian." Tegas Hans.
Akhirnya Jihan mau menuruti dan memanggil sang ibu untuk pulang diantar oleh Riko.
"sayang....kamu memang terbaik" Ucap Diandra dengan senyum manja dan memeluk Hans. Hans juga tak mau kalah dia malah mencium kening Diandra.
Hingga tak sadar kalau ada Arya disitu.
__ADS_1
ππππππππππππ