Jantung Hatiku

Jantung Hatiku
Erland sudah kembali


__ADS_3

(Pagi hari di mansion Hans)


"sayang, hari ini aku pulang larut ya, kamu langsung tidur saja ya ngga usah nungguin aku, dan ingat jangan tidur di sofa lagi"


Pesan Hans kepada Diandra.


"iya Maas cepet pulang yahh"


Ucap Diandra sambil mencium tangan suaminya.


"Aku berangkat yah."


Pamit Hans yang lalu mencium kening Diandra.


Hans mulai berangkat menuju kantor.


"huhh hari ini aku mau bahas rencana bisnis dan ke lokasi, semangat Diandra!"


Ucap Diandra sambil menyemangati dirinya.


-


Ditempat lain, Jihan sedang bekerja di cafe.


"Jihan, nanti sore kamu antarkan pesanan ke apartemen pak Riko."


Ucap bos Jihan.


"baik bos"


Ucap Jihan lirih.


-


Sedangkan di tempat lain, terlihat Danira yang sedang berlari terburu-buru untuk ke bandara.


"aduuuh semoga aku ga ketinggalan pesawat"


Ucap Danira sambil terburu-buru berlari.


Setelah berlari cukup jauh, akhirnya Danira berhasil masuk kedalam pesawat tanpa terlambat. Dan duduk dengan sembarang.


Hingga salah seorang pramugari menghampirinya.


"nona, maaf nona dari kelas bisnis atau ekonomi ya?"


Tanya seorang pramugari.


"aduuh mbak saya terburu-buru tadi, lagian nanti turunnya juga sama kan saya capek banget abis lari tadi."


"maaf nona, ini kelas bisnis, silahkan anda pindah ke kelas ekonomi."


"aduuh ribet banget siih."


Karena merasa terganngu, Erland yang sedang istirahat lalu terbangun.


"ada apa ini?"


kesal Erland.


"maaf tuan, nona ini tidak mau berpindah tempat"

__ADS_1


Ucap pramugari kepada Erland.


"yasudah biarkan saja, kamu bisa pergi"


"baik tuan"


ucap pramugari lalu pergi meninggalkan Danira dan Erland.


Danira sedang mencari barang nya diobrak abrik tas nya, karena merasa berisik Erland mulai menegur Danira.


"kamu bisa diem ga sih! dari tadi bikin masalah aja"


Bentak Erland kepada Danira.


"aduuh iya-iya maaf soalnya aku lagi cari barang aku."


Ucap Danira.


"dengar ya kalau kamu tidak bisa diam dan bikin masalah, kamu pergi dari sini!"


Danira lalu menangis tersedu karena barang yang ia cari tidak ada.


Karena mendengar isak tangis Danira, Erland kemudian mencoba mengecek Danira, benar saja Danira sedang menangis tersedu.


"kamu menangis? ada apa, kenapa kamu menangis, kalau kamu menangis nanti orang mengira aku ngapa-apain kamu lagi."


Ucap Erland.


"huwaaa, barangku."


"haduuuhh barang apaaan sih, penting banget?"


"iya itu barang yang udah aku simpen sejak kecil, aku gabisa tidur kalo ga ada itu."


"itu, boneka rajut yang dibuat oleh kakak aku, hadiah ulang tahun aku."


"hah astaga, ada apa ini kenapa hari ini aku begitu sial, hah yasudah sini aku bantu Carikan."


Erland dan Danira mencari dengan seksama boneka rajut tersebut.


"ini, apa ini kenapa ada boneka santet disini, ini menjijikan sekali."


Ucap Erland sambil memegang jijik sebuah boneka yang terlihat usang dan lusuh.


"Toby, akhirnya ketemu."


Danira mengambil dan memeluk boneka tersebut.


"yatuhan barang menakutkan seperti itu yang kamu cari, benar-benar merusak hari ku"


kesal Erland kepada Danira.


"ini berharga asal kamu tau, ini buatan kakakku"


"ck, harusnya itu dibuang dan dibakar."


"kamu ngga akan pernah tau bagaimana seseorang memberikan barang dengan tulus hanya untuk kamu, ini bukan tentang harga ataupun bentuknya tapi bagaimana seseorang itu berusaha untuk memberikan yang terbaik untuk kamu."


Tegas Danira kepada Erland.


Erland hanya bisa diam dan terdiam sesaat. Lalu kembali kedalam lamunannya.

__ADS_1


Danira memang gadis manja, sombong dan angkuh, namun dibalik sikapnya yang seperti itu, dirinya adalah seorang gadis yang selalu menghargai dan sebenarnya Danira itu sangat menyayangi kakaknya tapi karena sang ayah, dirinya mau tidak mau harus terlihat membenci kakaknya, walau terkadang Danira memang iri karena kakaknya yang selalu menjadi pusat perhatian.


"haduuh, selama sebulan aku tinggal dirumah nenek, akhirnya aku bisa pulang, huft ternyata hidup memang sesulit itu ya, aku pikir karena papa punya semuanya, akan terasa mudah."


Batin Danira.


Yah, setelah kejadian di hari ulang tahun Bu Rosa sebulan yang lalu, Danira terpaksa mendapat hukuman karena telah meninggalkan pesta dan malah pulang dengan keadaan mabuk.


Dengan terpaksa pak Jeremy menuruti perintah Bu Ratna dengan menyuruh Danira untuk tinggal di luar pulau bersama dengan kakek dan neneknya.


akhirnya selama satu bulan, Danira tinggal bersama dengan kakek dan neneknya. Selama tinggal disana Danira jarang bermain ponsel, Danira hanya melakukan kegiatan membantu sang nenek dan kakeknya, karena rumah kakek dan neneknya berada di desa terplosok Danira menyatu dengan alam.


Dan semenjak tinggal disana, perlahan danira mulai berubah.


Dirinya menjadi lebih bisa menghargai, lebih menyayangi, dan tentu saja sifat buruknya yang dulu perlahan mulai hilang.


Danira merasa sangat nyaman dengan seperti ini, tidak ada tekanan dari ayahnya membuatnya sangat senang.


Tak terasa sudah dua jam mereka berada di dalam pesawat hingga akhirnya mereka telah sampai di bandara.


Danira terlihat keluar sebelum Erland bangun.


Dengan terburu-buru Danira keluar dari dalam pesawat.


Erland yang masih tertidur kemudian di bangunkan oleh sang pramugari.


"tuan, kita sudah sampai silahkan bangun tuan"


Ucap pramugari sambil menepuk bahu Erland, hingga Erland terbangun.


"hah loh mbak, dimana wanita disamping saya tadi?"


"oh saya tidak tau, mungkin sudah keluar."


"baik kalau begitu terimakasih"


Erland keluar sambil membawa kopernya terlihat dirinya sedang kebingungan, bukan bingung mencari siapa penjemputnya namun malah bingung mencari keberadaan Danira.


Hingga tanpa tersadar Bryan yang sudah menunggunya dari tadi menepuk bahunya.


"woii, kenapa sih dipanggil juga malah lurus aja"


Kesal Bryan.


"ah iya lu lama banget sih"


"gila lu ya, gua dari tadi udah disini, lu aja yang ga sadar, cari siapa sih celingak celinguk dari tadi."


"bukan apa-apa nih bawain barang gua."


Ucap Erland sambil mendorong troli koper ke arah Bryan.


"Lo pikir gua porter apa, untung lu temen gua."


Kesal Bryan.


Erland sudah sampai di bandara dan dijemput oleh Bryan, mereka kemudian pergi menuju ke rumah Erland.


Diperjalanan, mereka berdua hanya terdiam tanpa mengatakan sepatah kata. Tidak biasanya mereka seperti ini, biasanya mereka kalau bertemu pasti akan seperti pasar malam Karena saking hebohnya.


Bryan yang masih termenung meratapi hubungannya dengan Vika, dan Erland yang masih memikirkan Danira.

__ADS_1


...πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•...


__ADS_2