
"Oh ya mama kamu tidak kesini?" Tanya Bu Rosa
"Engga ma, tapi tadi sudah video call kok" Ucap Diandra lesu.
"Sayang...udah ya jangan dipikirkan, sekarang kamu sudah punya keluarga baru yang sayang dengan kamu. Kamu jangan sedih ya" Ucap Bu Rosa.
"Ma, Diandra pengen banget segera bertemu dedek bayi. Mah, janji ya sama Diandra, jika terjadi sesuatu dengan Diandra tolong yakinkan mas Hans kalau Diandra akan tetap mempertahankan anak ini bagaimanapun caranya ma, Bahkan jika itu harus nyawa yang menjadi taruhan" Ucap Diandra sambil tersenyum
"Suutt udah jangan ngomong sembarangan, Kamu duduk disini ya, mama ambilkan air, kamu pasti haus kan"
Tak lama Hans pun menghampiri Diandra.
"Sayang kamu disini, aku cariin juga" Ucap Hans yang langsung memeluk sang istri
"Kenapa? kamu butuh sesuatu?" Tanya Diandra
"heem aku butuh kamu...peluk" Ucap Hans manja
"Kamu manja banget sih dasar....Kamu temuin temen-temen kamu sana, masa malah disini sih" Ucap Diandra
Bu Rosa yang datang dengan membawa air lalu menjewer Hans.
"Kamu ini ya, jangan peluk istri kamu terus nanti dia engap. Sana kamu ajak ngobrol temen kamu, biar Diandra sama mama"
"Mama kenapa sih...aku tuh lagi pengen Sam istri aku juga" Hans semakin mempererat pelukannya
"Kamu masih aja bandel ya..awas nih awas" Bu Rosa sambil mencubit perut Hans
"iya mah, ampun yaudah Hans pergi dulu"
"Mah, gimana nih. Mas Hans dan mas Arya belum baikan"
"iya mama juga bingung, yaudah kita biarkan saja mereka. Mama yakin kok mereka bisa mengatasi ini" Ucap Bu Rosa.
-
__ADS_1
Tak terasa sudah dua bulan Diandra mengandung. Kini perutnya sudah mulai membuncit.
Banyak hal yang sudah terjadi selama dua tahun. Mulai dari Bryan yang sudah bisa merelakan Vika, Erland yang mulai terlihat menyukai Danira, toko Diandra yang selalu ramai, hingga adik Jihan yang kini bersekolah di luar negri dengan beasiswa dari Hans. Namun Arya dan Hans belum juga baikan.
-
Pada saat Hans meeting, tiba-tiba terdapat pesan masuk dari ponselnya yang berisi, 'rasanya sangat seru jika dia bisa kumiliki' terdapat juga foto Diandra.
Hans sangat geram dan tangannya mulai mengepal, Tetapi dia harus menahan. Arya yang melihat Hans langsung bisa mengerti, pasti ada yang tidak beres.
Setelah meeting selesai, akhirnya Hans bisa lega dan segera pulang kerumah. Dan saat Hans sampai dirumah Hans terkejut yang mengetahui jika sang istri tidak ada dirumah.
"Kalian ini kenapa tidak becus ha! Kalian aku tugaskan untuk mengawasi istriku kenapa tidak tau dimana dia!" Bentak Hans kepada pengawalnya
"Maaf tuan, kami sudah mengikuti diam-diam, tetapi nona Diandra mengatakan jika dia tau kalau kami diam-diam, itu sebabnya dia meminta agar kami tidak mengikutinya, dan Bu Diandra mengancam jika tetap mengikutinya secara diam-diam maka Bu Diandra tidak akan pulang kerumah"
"Lalu kalian menyerah? Apa kalian sebodoh itu ha!" Ketika Hans marah, tiba-tiba ponselnya berdering.
"Halo, apa saya segera kesana!" Ucap Hans
"Awas kalian jika terjadi sesuatu dengan istri saya!" Hans mengancam mereka
-
"dokter apa yang terjadi dok dengan istri saya?" Hans khawatir
"Maaf pak, saya juga tidak tau, coba anda tanyakan kepada orang itu" Dokter menunjuk seseorang yang tak lain adalah Edward
"Edward? Apa yang terjadi, bagaimana bisa kamu dan Diandra?" Hans sudah tidak bisa berpikir tenang
"Tenang, aku bisa menjelaskan, Dengar aku bertemu Diandra di jalan, Dia baru turun dari taksi, lalu aku mengikutinya Dia masuk ke dalam sebuah gudang, dan aku tidak tau saat aku mencoba masuk, Diandra sudah pingsan, dan dia memegang ini" Edward memberikan sebuah baju yang mirip dengan miliknya namun bersimbah darah
"Kurang ajar! mereka ternyata sudah mulai berani! Aku tidak akan membiarkan siapapun yang berani menyentuh dan membuat istriku seperti ini! Aku akan balas kalian!" Ucap Hans dengan kesal lalu mengambil ponsel dan mengirimkan pesan
"Apa rencana anda selanjutnya?" Tanya Edward
__ADS_1
"Edward, sepertinya misi kali ini saya butuh bantuan kamu" Ucap Hans
"Tentu saya dengan senang hati akan membantumu" Ucap Edward sambil tersenyum.
Hans menitipkan Diandra kepada ayah dan ibunya agar dijaga oleh mereka, sedangkan Hans bersama dengan Edward mulai merencanakan strategi, tak lupa Bryan dan Erland juga ikut.
"aku rasa sudah cukup semua ini! Mereka sudah memakan banyak korban terutama orang-orang terdekat kita, setelah ini....mungkin aku tidak akan meneruskan semua ini" Ucap Hans
"kenapa Hans? bukankah kamu yang sangat ingin terjun di dunia mafia, bukankah kamu sangat terobsesi dengan semua ini" ucap Bryan
"kamu benar, tapi sekarang aku sadar. Aku sebentar lagi akan menjadi seorang ayah, aku tidak mau jika suatu saat nanti anakku tau siapa aku sebenarnya. Aku tidak ingin anakku menjadi seperti aku. Apalagi Diandra, jika dia tau aku adalah seorang mafia, dia pasti sangat membenciku"
"Kamu benar Hans, aku rasa ini sudah cukup, aku ingin hidup bebas juga" Ucap Erland
"Tapi, mereka itu pasti akan berulah lagi, dan bagaimana dengan apa yang mereka perbuat dulu, apa kalian lupa?" Ucap Bryan
"Bryan, kamu sudah saatnya menikah dan memiliki pasangan, apa kamu mau jika wanita yang kamu cintai dalam bahaya? Bukankah kamu pernah bilang jika dulu Vika hampir celaka? Apa sekarang kamu ingin mengulanginya lagi?" Tegas Hans
"Aku mengerti. Hah....mulai sekarang aku harus bisa melupakan semuanya" Ucap Bryan
"Tentu saja kamu harus, dan kamu Edward, kamu masih muda, masa depan kamu masih sangat panjang. Keluarlah dari dunia gelap ini dan mulailah hidup baru, kamu adalah orang yang cerdas aku yakin kamu bisa menjadi orang yang lebih baik lagi, kita lupakan semua dendam ini. Kalian memang saat belum bisa mengerti, tapi suatu saat kalian akan mengerti jika sudah memiliki pasangan." Ucap Hans
"Hans, mereka sudah mulai masuk jebakan" Tiba tiba Erland memberitahu Hans jika musuh sudah masuk jebakan.
"Bagus, kita tunggu saja, apakah mereka bisa lolos atau tidak" Ucap Hans
"Hans, tapi saya rasa ini juga jebakan untuk kita, Aku merasa jika itu bukan dia, aku sudah lama bergabung bersama mereka. Aku sangat hafal bagaimana mereka. Dan aku rasa itu bukan dia" Ucap Edward yang tiba tiba membuat mereka gundah.
"sial! Mereka tau dimana kita! Cepat kita lakukan rencana selanjutnya!" Hans mulai menyuruh para anak buahnya untuk bersiap.
Sedangkan Erland akan memancing musuh agar bisa memperpanjang waktu Hans untuk mempersiapkan semuanya.
"Cih dimana bos kalian! Apa hanya ini kemampuan kalian ha!" Erland mulai melawan satu persatu para anak buah Robert. Tak lama datanglah anak buah Erland untuk membantu.
Erland melihat Robert mulai masuk kedalam markas.
__ADS_1
"Sial, dia lolos. Akhh mereka tidak terlalu banyak tapi mereka cukup kuat. Sialan" Erland berkata dalam hati sambil melumpuhkan lawan
...πππππππππ...