Jantung Hatiku

Jantung Hatiku
Moment yang tidak akan pernah Hans lupakan


__ADS_3

"Edward kamu beritahu Hans apa yang perlu dia kerjakan, nenek mau memeriksa ketersediaan pupuk dulu"


"baik nek, mari ikut aku" Ucap Edward


"hah, ini jika bukan karena istriku aku tidak akan mau seperti ini, lihatlah pakaianku, akhh" Kesal Hans


"bwahaahaha. Maaf tapi saya benar benar kagum dengan anda, saya tau anda itu merupakan" (Edward melihat sekeliling lalu berbisik pada Hans) "mafia terkejar dan orang yang disegani, tapi anda rela seperti ini demi istri anda, saya sangat kagum" Ucap Edward


"hah, suatu saat kamu akan mengerti, cepatlah cari pasangan" Ucap Hans


"hei, cepat bekerja!" Teriak nenek Mustika dari jauh


"sekarang Gendong ini, dan petiklah jagung nya" Ucap Edward sambil memberikan tas untuk membawa hasil panen.


"seperti ini, kenapa ini sulit sekali..." Hans melepaskan jagung dengan sekuat tenaga, karena tidak bisa akhirnya Hans terjatuh dan membuat seluruh tubuhnya kotor.


"anda tidak apa apa?" Tanya Edward


"bantu aku berdiri"


"ya seperti ini lah kehidupan disini, sangat berbeda dengan di ibu kota kan, disana pola hidup sangat konsumtif, tapi disini mereka harus bekerja keras untuk bisa makan, tetapi jujur saya suka disini, karena suasana nya yang tenang" Ucap Edward


"ya ya kamu sering kemari" Sambung Hans


Hans dan Edward sedang memetik sayuran yang berada di kebun tersebut. Tak lama kini sinar matahari mulai menyinari.


-


"Hans, Edward cepat kemari, istirahat Dulu" Teriak nenek Mustika


Hans dan Edward lalu menghampiri nenek mustika


"Ini minumlah" Nenek mustika memberikan botol minuman yang cukup besar


"kenapa hanya satu nek, lalu dimana gelasnya?" Tanya Hans


"kamu ini, minumnya tidak pakai gelas, cepat kamu minum lalu sambung ke mereka" Ucap Nenek Mustika


Hans lalu meminum dengan mulut terbuka, lalu memberikan kepada Edward dan disalurkan kepada yang lain.


"Ini, makanlah, namanya ubi goreng enak ini" Nenek Mustika memberikan ubi goreng kepada Hans


Hans lalu memakan ubi goreng tersebut, saat melihat para pekerja yang juga makan secara bersama sama, Hans menjadi sangat terharu, karena ini adalah pertama kalinya Hans merasakan kekeluargaan yang begitu sederhana, mereka begitu bahagia walau hanya memakan ubi goreng.


Hans membayangkan bagaimana kehidupannya selama ini, ternyata masih banyak diluar sana yang masih membutuhkan.


"Kenapa?" tanya Edward


"tidak apa apa"


"kamu pasti merasa sangat berbeda kan, ketika disini dan di rumah. Disini hanya makan seperti ini saja tapi lihatlah mereka tidak mengeluh, mereka tetap tertawa dan saling bercanda"


"kamu benar, hah saya beruntung memiliki Diandra." Ucap Hans

__ADS_1


Setelah menikmati ubi goreng, mereka kembali untuk bekerja, Tanpa terasa semakin terik matahari menandakan siang hari.


Hans membantu mengangkat sayuran tersebut, ke dalam truk. Memang tidak diragukan, kekuatan Hans memang sangat kuat.


"ayo kita pulang, Diandra pasti sudah menunggu" Ucap Nenek Mustika


Hans, Edward dan nenek Mustika lalu pulang kerumah karena panas yang sudah sangat terik.


Setelah sampai di depan rumah, Hans langsung menuju kran air yang berada diluar dan mengguyur tubuhnya dengan air mengalir.


"akhh segar sekali" Ucap Hans


Melihat tingkah Hans membuat nenek Mustika geleng geleng.


"Mas ini minum dulu"


"makasih ya sayang" Hans langsung meminum dengan sangat lahap hingga hampir habis air satu botol besar.


"pelan pelan minumnya" Ucap Diandra


"haus banget sayang"


"yasudah kalau begitu Edward mandi dulu ya nek"


"iya silahkan, terimakasih ya sudah membatu Nenek"


"siap nek, mari" Edward pamit untuk mandi.


"Sayang aku juga mau mandi, gatel banget mana gerah lagi" Ucap Hans


"sudah tidak apa apa, dia pria kuat ternyata, seperti mendiang kakek kamu muda dulu" Ucap nenek Mustika


Hans sudah selesai mandi dan menghampiri Diandra dan nenek yang sedang merapikan sayuran.


"udah selesai mandinya? laper lagi nggak? aku udah masak kamu makan dulu sana" Ucap Diandra


"enggak kok, Emm nek, makasih ya"


"untuk?"


"ya karena nenek sudah menerima Hans, Hans sangat bahagia, ini adalah momen yang tidak akan pernah Hans lupakan" Ucap Hans sambil memegang tangan nenek Mustika


"iya, kamu anak baik. Tolong jaga cucu nenek dengan baik ya"


"pasti nek"


"oh ya nek kayanya Danira sebulan yang lalu keisni ya?" Tanya Diandra


"iya, katanya dia dihukum sama papa kamu, Jadi Nenek ajarkan saja dia mengenai kehidupan" Ucap nenek Mustika


"wah, pasti dia selalu merengek disini" Ucap Hans


"yah, awalnya memang dia ingin pulang, tetapi nenek yakin kalau Diandra sekarang sudah berubah, benar kan. Bagaimana kabarnya sekarang?" Tanya nenek Mustika

__ADS_1


"ehmm Danira.....baik kok nek" Jawab Diandra bingung karena dirinya tidak mau membuat nenek nya sedih karena jika neneknya tau kalau Danira itu kabur dari rumah pasti nenek akan sedih apalagi jika nenek tau bagaimana perlakukan ayah mereka selama ini


"Apa kalian sudah berkemas?" Tanya nenek Mustika


"udah kok nek, tadi saat kalian di perkebunan"


"oh yasudah, Kenapa kamu Hans?"


"engga kok nek hanya sedikit goresan" Ucap Hans sambil memegang tangannya yang terluka cukup parah


"astaga luka nya parah sini biar nenek obati, kamu ini sembarangan sekali, luka seperti ini masih biasa saja!" nenek Mustika lalu mengambil obat tradisional


"Mas tangan kamu kenapa? pasti sakit, kenapa ngga bilang sih kamu bikin aku kahwatir deh" Diandra panik


"sayang tenang ini bukan apa apa, aku bahkan sering terkena..." Hans tidak melanjutkan perkataannya


"terkena apa?"


"enggak, udah ini ga apaa apa kok tenang ya"


"Sini biar nenek obati"


Hans memang sudah terbiasa dengan luka seperti ini, luka nya bahkan lebih parah.


"terimaksih nek" Ucap Hans


"iya, lain kali jangan diam saja!"


"baik nek"


Hans yang melihat Diandra khawatir lalu memeluk Diandra dan menenangkannya. Nenek Mustika yang melihat nya pun sangat senang, akhirnya Diandra menemukan pria yang menerima dirinya apa adanya


-


Tak terasa sudah pukul 2 siang waktu setempat, Hans dan Diandra kini sudah bersiap untuk pulang menuju bandara


"Nek, kami pamit pulang ya, sekali lagi terimakasih ya nek, atas pengamalannya. Hans sangat senang, Hans janji, jika ada waktu Hans dan Diandra akan berkunjung lagi" Ucap Hans


"iya, kalian hati hati ya pulangnya, ingat kalian itu sudah suami istri, jika ada masalah harus tetap dihadapi bersama" Ucap nenek Mustika


"pasti nek, Diandra pamit dulu ya" Ucap Diandra sambil memeluk nenek Mustika


"Hans, ini kuncinya, dan mobilnya sudah siap" Ucap Edward


"terimaksih ya, saya tunggu kamu" Ucap Hans


"pasti" jawab Edward


"oh ya nek, Hans mau menitipkan sesuatu, mungkin ini bisa membantu mereka, tolong berikan ini kepada pekerja nenek ya" Ucap Hans sambil memberikan seamplop uang yang berisi cukup banyak


"pasti, kamu jaga diri baik baik dan jaga istri kamu ya"


Hans dan Diandra selesai berpamitan dan kini mulai melanjutkan perjalanannya kembali untuk pulang menuju bandara terlebih dahulu.

__ADS_1


...πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•...


__ADS_2