Jantung Hatiku

Jantung Hatiku
Rencana Jihan pindah


__ADS_3

Sedangkan Vika berjalan sambil ngos ngosan. Arya yang tidak tega lalu memberinya minum.


"minumlah" Ucap Arya


"hah terimaksih" Vika langsung meminum dengan sangat lahap.


"wah itu tukang ciloknya, vika kamu hebat banget bisa dapet tukang cilok, terimaksih ya" Ucap Diandra


"Iya sama-sama" Vika yang masih terlihat kelelahan"


...<\=\=\= Episode Sebelumnya \=\=\=>...


"pak saya mau ciloknya dong saus nya kacang ya" Diandra mulai memesan


"ini neng ciloknya, wah ternyata ini neng yang lagi ngidam, cepet sembuh ya neng, beruntung banget si Eneng punya temen yang sayang neng, sampe dibelain lari dari ujung jalan sono mana gerobak saya neng itu yang dorong, soalnya kalo jualan disini kurang lagu"


"kamu dorong dari ujung jalan itu kesini?" Tanya Arya yang dibalas anggukan oleh Vika.


"emm pak terimakasih ya sudah mau membantu saya, istri saya sedang ngidam pak, kalau begitu sebagai gantinya saya akan membeli semua cilok bapak, jadi bapak bagikan saja ciloknya ke semua orang terserah bapak" Ucap Hans


"waahh beneran mas, saya nggak mimpi kan?"


"benar pak, berapa semuanya"


"alhamdulilah rejeki...." Hans lalu membayar semua cilok tersebut. Dan mengajak Diandra kembali ke kamar karena masih khawatir dengan kondisi Diandra


"Vika tunggu, bisa kita bicara?" Tanya Arya


"baiklah"


Vika dan Arya lalu pergi ke kantin


"sini tangan kamu" Ucap Arya


"buat apa?" tanya Vika


Tanpa berkata apa -apa Arya lalu menarik tangan Vika dan memberikan plaster dan ditempelkan ke tangan Vika yang terluka, setelah itu Arya juga membuka sepatu Vika dan menempelkan plaster luka.


"Terimakasih " Ucap Vika


"sama-sama....kamu sudah bekerja keras hari ini, kamu hebat. Persahabatan kalian luar biasa" Ucap Arya


"yah aku lakukan ini karena aku menyayangi Diandra" Ucap Vika


"ya aku tau, ternyata kamu adalah tipe orang yang rela melakukan apapun demi orang tersayang ya"


"ya begitulah, oh ya terimakasih ya sudah mengobati luka ku. Aku permisi dulu mau pamit ke Diandra untuk pulang"


"mau aku antar pulang?"


"tidak perlu aku sudah bawa mobil" Ucap Vika lalu pergi begitu saja.


"ada apa denganku kenapa aku merasa sangat aneh saat Vika mulai bersikap seperti ini. Bukankah seharusnya memang seperti ini" Batin Arya

__ADS_1


-


Di apartemen Riko, Jihan sedang membahas mengenai kepindahan nya dengan ibunya dari apartemen Riko.


"Buk, kita harus segera pindah dari sini, masa kita mau terus-terus an tinggal disini." Ucap Jihan kepada ibunya


"iya, ibu sih terserah kamu. Tapi bukankah kalian juga akan tinggal bersama?"


"maksud Ibu?"


"bukankah kalian nantinya akan menikah?, seharusnya kalian tinggal bersama kan" Ucap ibu Jihan


"ibu....kan Jihan belum sukses masa mau nikah aja, lagian sampe sekarang aku juga belum tuh dikenalin sama orang tuanya Riko, alasannya orang tuanya di luar kota tinggalnya jauh" Kesal Jihan


"yaudah nih makan malam udah jadi, kamu panggil Riko sana buat makan malam sambil membahas masalah ini"


"iya" Jihan lalu memanggil Riko di kamarnya


tok..tok ..tok


"ayo kita makan malam, ibu udah nyiapin....Riko....Riko...kemana sih...Riko..."


"iya sabar, aku baru saja mandi" Riko keluar sambil membilas rambutnya dengan handuk membuat Jihan terpesona dengan Riko.


"ahh....itu makan malam nya udah siap Ayuk kita makan malam"


"iya tunggu aku ya"


"ada apa?" tanya Riko.


"emm begini nak Riko, kita kan sudah satu bulan lebih tinggal disini dan Dirga juga sudah berangkat sekolah di luar negri, Jihan juga sekarang sudah mengelola toko, jadi kita berniat untuk pindah" Ucap ibu Jihan yang membuat Riko menjatuhkan sendoknya.


"tapi kenapa?apa ibu tidak betah tinggal disini?"


"bukan begitu nak Riko, hanya saja kita ini tidak seharusnya tinggal bersama, kalian kan juga belum muhrim nanti ibu takut jadi bahan omongan orang"


"Saya mengerti Bu, tetapi apakah ibu yakin untuk pindah? lalu apa kalian sudah punya tempat tinggal? Kalau kalian merasa tidak nyaman tidak masalah, saya bisa tinggal di apartemen milik perusahaan itu malah lebih dekat dengan tempat kerja, dan kebanyakan memang yang tinggal disana para karyawan"


"tidak perlu, lagipula ini apartemen kamu, jadi kamu ngga perlu repot-repot untuk pindah biar kamu saja yang pindah" Sambung Jihan


"tidak bisa begitu, kalian ini juga menjadi tanggung jawabku" ucap Riko


"tanggung jawab? cih, tanggungjawab apa? Kita ini bukan suami istri, orang tua kamu saja tidak tau kalau kamu itu sudah punya kekasih atau belum" Ucap Jihan


"Jihan" Ibu Jihan mencoba melerai


Mereka pun melanjutkan makan malam mereka. Setelah selesai Jihan dan ibunya membereskan piring dan mencucinya. Kini Jihan dan ibunya sedang berada di kamar, Jihan membuka ponselnya dan terdapat pesan dari Riko yang bertuliskan 'Aku tunggu kamu di luar, kita perlu bicara'


”hah apanya yang perlu dibicarakan"


-


Dirumah sakit. Diandra sedang bermanja dengan Hans, entah kenapa kehamilan Diandra yang sudah memasuki bulan pertama, Diandra sangat ingin dekat dengan suaminya.

__ADS_1


"mas, aku pengen pulang" Diandra yang tidak bisa lepas dari pelukan Hans


"iya sayang, makanya kamu harus segera sembuh, supaya kamu bisa cepet pulang" Hans mengelus rambut Diandra


"mas, kasihan ya si utun...pasti didalam perut sangat gelap"


"utun? siapa utun?" Hans bingung


"ihh, ini...si utun" Diandra menunjuk perutnya


"oh, aku kira siapa....yah namanya juga bayi, memang asalnya dari dalam perut kan"


"iya, makanya aku pengen dia segera tumbuh dan dia bisa melihat terangnya dunia, Kamu janji kan kalau kamu akan membatu utun untuk melihat terangnya dunia?" Tanya Diandra


"yah, tentu saja dan kamu juga akan membantuku untuk merawat anak kita kan?"


Diandra tidak menjawab pertanyaan Hans dan hanya memeluk erat Hans.


"mas, aku adalah wanita yang paling bahagia....aku punya suami yang tampan, baik, penyayang dan memiliki mertua yang sayang sama aku, serta teman teman yang juga sayang aku...Aku bahagia" Ucap Diandra


"kalau kamu bahagia, kamu juga harus membuat kami bahagia juga." Ucap Hans


"hmm maksudnya?"


"Kamu harus tetap berada di sisi kami, karena kebahagiaan kami adalah jika kamu terus bersama kami" Ucap Hans yang hanya dibalas senyuman oleh Diandra.


Tak lama kemudian Diandra mulai mengentuk dan tertidur.


"Ya Allah, hamba mohon, berikan istri hamba kesembuhan, hamba tidak sanggup jika tanpa istri hamba" Hans berdoa dalam hati sambil menangis mencium Diandra.


-


Sedangkan Jihan dan Riko kini sedang berada di taman samping apartemen yang ditempati Riko.


"Jihan...kamu kenapa?" Tanya Riko


"ngga apa-apa kok"


"Kamu masih marah mengenai kemaren, atau kamu masih cemburu?" Tanya Riko


"Aku heran ya sama kamu, kok bisa sih kamu selalu bilang aku harus yakin sama kamu, aku harus percaya sama kamu, sedangkan kamu sendiri ngga pernah nunjukin ke aku bagaimana kamu membuktikan semuanya. Aku bahkan tidak sanggup mengatakan jika aku adalah kekasih kamu, sedangkan aku sendiri belum pernah bertemu keluarga kamu!"


"Jihan, aku tau....tapi aku mohon beri aku waktu"


"cukup, kalo kamu malu ngenalin aku ke orang tua kamu, yaudah kita akhiri saja semua ini, kamu cari wanita yang selevel dengan kamu"


"Kamu yakin?" Tanya Riko


"ya...kalau memang kita tidak berjodoh ya mau apa lagi?" Jihan sambil menangis


"maaf" Ucap Riko.


...πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•...

__ADS_1


__ADS_2