
Mobil Riko yang membawa Hans kini telah sampai di halaman depan mansion Hans, seperti biasa Riko membantu Hans turun dari mobil.
"Riko, terimakasih atas bantuan kamu maaf sudah merepotkan kamu."
"tak apa tuan Hans, saya senang karena bisa membantu tuan Hans."
"oh ya kita langsung ke ruang kerja, saya akan berikan berkasnya kepada kamu."
"baik tuan."
Riko mendorong kursi roda Hans menuju ruang kerja, setelah menerima berkasnya Riko lalu pergi meninggalkan mansion.
Hans lalu membuka kamarnya, terlihat Diandra yang masih tertidur di kasur.
Hans mendekati Diandra sambil mengusap pelan rambut Diandra, tetapi Hans sangat terkejut saat merasakan dahi Diandra yang terasa sangat panas.
"kenapa badan kamu panas semua, apa kamu sakit?, Diandra kamu sakit?"
Tanya Hans dengan khawatir.
Diandra yang tersadar lalu mengerjapkan matanya dan mulai membuka mata.
"mas Hans, udah pulang? kok ga bilang sih udah sarapan belum mas? aku bikinin sebentar yah"
Ucap Diandra sambil bangun, tetapi saat akan berdiri diandra dicegah oleh Hans.
"sudah kamu tidur saja, badan kamu panas gini tiduran aja, aku panggil mbok Jum untuk buat kompres."
Hans menggerakkan kursi rodanya menuju dapur dan memanggil mbok Jum.
"mbok, mbok Jum....mbok sini mbok"
"iya tuan, ada apa?"
mbok Jum berlari menghampiri Hans.
"mbok gimana sih kenapa Diandra bisa sampe sakit kaya gitu, badannya panas kenapa ngga ada yang nelfon saya sih!"
Tegas Hans kepada mbok Jum.
"maaf tuan, tadi malam saya juga sudah menawarkan nona Diandra untuk periksa tetapi nona tidak mau, trus saya juga mau menghubungi tuan, tapi non Diandra bilang jangan, ga usah nanti ganggu kerjanya tuan katanya, non Diandra mau nunggu tuan saja. Tapi tuan tidak pulang semalam."
"Yasudah kalau begitu mbok buatkan bubur dan sup serta siapkan alat kompres."
"B baik tuan"
Hans lalu pergi ke kamar Diandra dan dilihatnya lagi Diandra yang masih terbaring lemah dikasur.
Sambil mendekat, Hans mengusap pelan rambut Diandra dan lalu dicium keningnya.
"Diandra, maafkan aku...."
Ucap Hans lirih.
Tak butuh waktu lama, mbok Jum datang dengan membawa kompres an.
"tuan ini kompresnya, bubur dan sup nya sebentar lagi matang dan akan segera saya antarkan."
Ucap mbok Jum sambil meletakkan kompresan di nakas.
"terimakasih mbok, maaf tadi saya bentak mbok Jum."
"iya tuan, saya paham kok kenapa tuan melakukan itu, permisi tuan saya lanjut memasak dulu."
__ADS_1
Ucap mbok Jum sambil berjalan meninggalkan Diandra dan Hans.
dengan telaten dan hati-hati, Hans mengompres kening Diandra.
Setelah beberapa menit mbok Jum datang membawa bubur dan sup.
"ini tuan sup dan buburnya."
"taruh disitu ya mbok"
"oh ya tuan ini obat penurun panasnya."
Ucap mbok Jum sambil memberikan obat penurun panas kepada Hans.
"tidak bi, ini bukan untuk Diandra, saya sudah menelfon dokter untuk Diandra, dia tidak bisa meminum obat sembarangan."
"oh begitu ya tuan yasudah saya bantu untuk membangunkan nona Diandra supaya bisa makan tuan."
Mbok Jum lalu membantu memindahkan posisi Diandra yang semula tertidur menjadi posisi duduk bersandar.
"sudah bi, terimakasih, nanti kalau dokternya sudah datang, langsung suruh kesini saja."
"baik tuan"
Hans mulai mengaduk bubur dan meniupkan bubur tersebut.
"ini ,aaaaa buka mulutnya dan makan dengan patuh."
"mas tapi aku ga selera makan."
Ucap Diandra lemas.
"kalo ga makan nanti ga sembuh, ayo ini sedikit-sedikit ya supaya perut nya keisi"
Dengan terpaksa Diandra memakan bubur dan sup yang disiapkan oleh Hans.
"iya, ini minum dulu"
Beberapa saat kemudian dokter pun datang.
"Selamat siang tuan Hans, nona diandra"
Sapa dokter sari kepada Diandra dan Hans.
"siang dok, istri saya demam dok semalam."
"baik, tuan Hans tidak memberikan obat penurun panas kepada nona Diandra kan?"
"tidak dok, saya belum memberikannya karena takutnya nanti malah menggangu kesehatan jantungnya."
"bagus kalau begitu, saya periksa sebentar."
Dokter Sari mulai memeriksa Diandra.
"tidak apa-apa nona Diandra hanya butuh istirahat saja, apakah tenggorokan Anda sakit?"
Tanya dokter Sari kepada Diandra.
"tidak dok"
"Bagus kalau begitu, oh ya tadi baru dikompres ya, tuan Hans kalau bisa airnya jangan air dingin, tapi air hangat ya, dan ini resep obatnya bisa ditebus."
Ucap dokter Sari sambil memberi resep obat kepada Hans.
__ADS_1
"terimakasih dokter"
"baik saya sudah cukup, nona Diandra hanya perlu istirahat dan ingat tuan jangan memberikan sembarang obat ya, dan juga kompres dengan air hangat, saya permisi dulu, mari nona Diandra, tuan Hans."
Setelah dokter Sari pergi kemudian Hans memanggil mbok Jum, untuk menyuruh Pak Tardi, tukang bersih-bersih di mansion Hans agar membeli obat sesuai resep di apotik.
"mbook Jum tolong suruh pak Tardi untuk membeli obat, ini resep dan uangnya mbok"
"baik tuan, mari saya permisi dulu."
Sementara itu Diandra yang masih berbaring lemah hanya bisa tidur karena kondisi tubuhnya yang lemah saat ini.
Hans mendekati Diandra dan mulai berpindah ke kasur untuk memeluk Diandra.
Hati Hans merasa sakit saat melihat Diandra sakit, rasanya ia tidak bisa melihat Diandra dengan kondisi seperti ini.
Malam hari, Diandra yang sudah mulai mendingan Karena meminum obat dan Hans yang selalu mengompresnya serta memeluknya sepanjang hari.
"Maas kamu dari tadi disini, ngga kerja, trus terapinya gimana."
Tanya Diandra yang baru bangun dari tidurnya.
"kamu udah bangun, gimana udah enakan belum?"
"udah aku udah mendingan kok."
Diandra yang mulai menyadari perubahan Hans perlahan mulai menjauh dari Hans.
"kamu kenapa kok malah jauh-jauhan sih"
tanya Hans dengan heran.
"gapapa, aku takut kamu berubah lagi nanti mas."
Hans hanya tersenyum sambil menarik Diandra ke pelukannya.
"maafin aku ya sayang, selama lima hari ini aku selalu cuekin kamu, bentak kamu, dingin, dan ga peduli sama kamu, aku minta maaf sayang"
Ucap Hans sambil memeluk dan mencium kening Diandra.
"Maas, aku ada salah ya sama kamu, atau ada hal yang buat kamu ngga suka? kenapa kamu dingin sama aku?"
"maaf, sebenarnya aku...."
Hans lalu menceritakan penyebab dirinya bersikap dingin kepada Diandra.
"Maas, kalaupun aku terpaksa tapi aku udah janji sama diri aku, jika aku menikah nanti aku akan menikah sekali seumur hidup mas, apapun alasanya, apapun yang terjadi aku akan tetap mempertahankan pernikahanku.
Mas ngga usah mikir aneh-aneh ya mas, aku ga akan pernah mengkhianati kamu."
"iya, aku percaya sama kamu, tapi...jika suatu saat aku gabisa sembuh dan cacat seumur hidup, apa kamu akan tetap menerima aku?"
"Maas apapun kondisi kamu, aku akan tetap bersama dengan kamu, justru aku yang merasa khawatir, apakah kamu akan menerima aku dengan kondisi aku yang seperti ini?"
Hans melepaskan pelukannya kemudian mengusap pelan rambut Diandra, dan mulai mengecup bibir cantik milik Diandra.
"Aku bersyukur punya kamu, aku bersyukur bersama kamu, dan aku bersyukur kamu kembali"
"maksudnya aku kembali gimana?"
"haha nanti kamu juga akan tau, tapi jangan kaget ya"
"iiihh mas Hans"
__ADS_1
Diandra dan Hans lalu saling berpelukan dan melupakan masalah mereka.
...πππππππππππ...