Jantung Hatiku

Jantung Hatiku
Ujian Cinta dimulai


__ADS_3

"Mas Bryan rumahnya yang mana?" Tanya Tasya


"apa?" Bryan yang tidak mendengar karena suara angin dan kendaraan yang kencang sehingga membuat Danira harus mengulangi pertanyaannya


"Oh, belok kanan terus ada perempatan belok kiri" Teriak Bryan


Kini Tasya sudah sampai dirumah Bryan, lagi lagi Tasya dibuat kagum dengan rumah Bryan yang begitu besar.


"Tasya, terimaksih ya kamu sering membantu saya"


"iya mas Bryan santai aja lagi, yaudah kalau begitu saya permisi dulu ya."


"Tasya tunggu!"


"iya ada apa? apa ada yang ketinggalan?"


"tidak hanya saja....hah...Sudah lupakan, Kamu hati hati di jalan yah"


"siap mas...Mari.." Tasya melajukan motornya meninggalkan Bryan


Bryan merasa aneh, saat didekat tasya entah kenapa jantungnya tidak normal, tapi setelah tidak ada Tasya jantungnya kembali normal.


"hah ..apa aku harus periksa ke dokter yah....hah sudahlah sebaiknya aku siap siap berangkat" Bryan lalu masuk kedalam rumahnya


-


Kini Riko dan Jihan sudah tinggal se apartemen


"Riko, kita besok kerumah papa mama kamu yuk, aku mau bawakan mereka makanan supaya mereka bisa tau masakan aku"


"terserah kamu saja, tapi tidak usah menginap"


"loh kok ngga nginep sih kan rumahnya jauh masa mau pulang malem, ngga mau ah, pokoknya kita nginep ya dirumah kamu, ya sekalian aja supaya papa mama kamu itu bisa Deket sama aku"


"Iyadeh terserah, aku mau mandi"


"oke aku siapin dulu ya" Jihan langsung bangkit dari duduknya.


-


Erland dan Danira telah tiba di apartemen.


"Mas Erland, Aku aku minta maaf soal tadi, tapi aku mohon tolong tetap rahasiakan ini ya aku ngga mau papa sampai tau keberadaan aku, nanti papa malah jodohin aku lagi"

__ADS_1


"Kamu tenang aja ya, pokoknya sekarang ga usah mikirin apapun kita fokus aja ke.....ah rahasia pokoknya kamu tenang aja yah, oke Kalo gitu aku pulang dulu. Kamu baik baik ya, love you" Erland memeluk Danira


"hati hati ya pulangnya bye love you too" Danira dan Erland saling berpisah dengan mesra


-


Sedangkan Arya dia hanya bisa mengantarkan Vika dari depan rumah


"Maaf ya aku ga bisa ajak kamu masuk, kamu tau sendiri kan gimana papah" Ucap Vika


"iya aku ngerti kok, yaudah kamu masuk" Erland


"iih kamu duluan yang masuk mobil" Ucap Vika


"Kamu dulu aku lihatin" Balas Erland


"ngga mau aku mau lihat kamu" Ucap Vika kembali


Vika dan Arya saling berebut.


"oke, aku akan duluan. Dah sayang" Ucap Arya yang membuat Vika membeku ditempat, karena saat Arya mengatakan hal itu bagi Vika itu terasa sangat istimewa.


"Aduuh kenapa Mas Arya bilang kek gitu sih, malu banget" Ucap Vika sambil tersenyum lalu masuk ke dalam rumahnya


-


Semua berubah hanya dalam hitungan bulan. Mulai dari Tasya dan Bryan yang semakin dekat sejak mereka bertemu, namun Bryan belum juga menjadikan Tasya sebagai kekasihnya.


Jihan dan Riko yang semakin mesra, Arya dan Vika yang mulai romantis, Jangan ditanya lagi, Hans semakin hari semakin bucin dengan istrinya.


Meskipun Diandra sedang hamil, tetapi tubuh Diandra masih tetap tidak berubah, hal ini dikarenakan penyakit yang dia derita, bahkan semakin hari, Diandra terlihat semakin pucat.


Hans yang melihat sang istri begitu semangat menanti kelahiran sang buat hati menjadi terharu sekaligus sedih, Dia tau bagaimana resiko kehamilan istrinya namun Diandra tetap ingin mempertahankan anaknya apapun yang terjadi.


Sore hari di taman rumah Hans, Diandra duduk santai sambil mengelus perutnya yang semakin lama semakin membesar. Hans yang baru saja berolahraga langsung duduk disamping Diandra sambil memeluk dan menciumi perut Diandra


"Anak papa sehat kan nak, Kamu baik baik di dalam ya, jangan buat mama kesakitan. Jangan nyusahin mama ya nak" Hans menciumi perut Diandra


"Mas dia nendang"


"iya....sayang sepertinya dia suka jika aku ajak ngobrol" Ucap Hans


"Mas, dia pasti didalam perut sangat gelap, Aku udah ngga sabar menyaksikan dia bisa melihat indahnya dunia, pasti dia sangat senang" Ucap Diandra yang membuat Hans semakin terharu.

__ADS_1


Dipeluk erat Diandra dan diciumi bertubi tubi.


Di sebuah cafe, Vika dan Arya sedang berkencan.


"Mas Arya kamu serius ngga sih sama aku?"


"apa sih ya serius lah"


"kalau kamu serius kenapa kamu ngga segera nikahin aku, minimal lamar aku lah" Ucap Vika.


"Sayang....menikah itu bukan perkara mudah, butuh waktu untuk mempersiapkan semuanya, terutama kesiapan mental" Ucap Arya


"Oo jadi selama ini kamu belum siap ngejalanin hubungan sama aku? Jangan jangan emang bener, kamu itu cuma pacaran sama aku hanya untuk pelampiasan"


"Vika cukup! udah berapa kali sih kita bahas ini, aku udah capek kamu terus terusan kaya gini" Ucap Arya


"capek? lebih capek siapa sih...Kamu yang belum siap mental atau aku yang setiap hari menjalin hubungan dengan kamu yang hanya sibuk dengan kerjaan kamu, aku yang selalu memaklumi kamu"


"Vika, Aku juga ingin menikah dengan kamu, tapi aku mohon kasih aku waktu, lagipula kita juga harus ngeyakinin papa kamu juga kan" Ucap Arya


"Berarti kamu ngga ada niat untuk menikahi aku, kalau kamu niat, ya kamu berjuanglah gimana caranya supaya ngeyakinin papa aku. Masa aku terus yang ngeyakinin papa aku, sedangkan kamu? kamu sibuk dengan urusan kamu. Aku kecewa sama kamu!" Vika pergi begitu saja meninggalkan Arya


"Vika tunggu!, haish akkkhh" Arya berteriak kesal


Vika sambil menangis lalu menghentikan taksi dan mengarahkan taksi menuju rumahnya.


Sementara Hans tengah melihat Arya yang sedang frustasi.


"Arya, ngapain disini, kenapa sih? ada masalah?" Tanya Hans


"Hans....hah....aku benar benar tidak tau Hans, aku....aku bingung." Arya menejelaskan kejadian barusan


"oooh pantas saja dia marah, yang namanya wanita itu butuh kepastian. Banyak kok diluar sana orang pacaran lebih dari dua tahun tapi akhirnya nikahnya dengan orang yang berbeda, Ya karena wanita itu butuh kepastian dan keseriusan, sesayang apapun kita sama seseorang, itu akan kalah dengan orang yang serius dan langsung mengajak menikah" Ucap Hans


"yah aku mengerti, tapi Hans, aku juga butuh waktu, aku....Jujur Hans aku belum siap untuk menikah. Tapi aku juga belum siap kehilangan Vika"


"Hah....sabar...mungkin ini adalah ujian cinta yang harus kamu hadapi, Saranku lebih baik kamu jangan ikuti egomu, tapi ikutilah kata hatimu. Lagipula menikah tidak seburuk itu." Hans meyakinkan


"ya kamu yang lebih paham, aku tau Ucap Arya


"Yaudah ayo pulang dan kerjakan tugas kantor, kamu malah pacaran bukannya bekerja" Ucap Hans mencoba menghibur Arya


...πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•...

__ADS_1


__ADS_2