Jantung Hatiku

Jantung Hatiku
Mengungkapkan Perasaan


__ADS_3

Sore pun telah tiba, Hans yang sudah selesai dengan terapi dan urusan dikantornya pun segera pulang, Diandra yang sudah menunggu Hans dirumah pun merasa senang karena telah kembali bersama dengan sahabat-sahabatnya.


Suara mobil Hans sudah berada di halaman mansion, Hans masuk lalu disambut manis oleh istrinya.


"selamat datang, gimana mas Hans terapinya trus gimana urusan pekerjaannya udah selesai? mau istirahat dulu atau langsung mandi biar aku siapin"


Diandra sambil terus tersenyum kepada Hans.


"kamu ngga lagi kebentur sesuatu kan, atau kenapa gitu?"


"maksudnya gimana, aku ga kenapa-napa kok"


"oh aku langsung mandi aja"


"okedeh aku siapin dulu yah mas Hans tunggu sebentar ya"


Diandra berjalan sambil terus tersenyum membuat Hans merasa heran, dirinya merasa aneh karena Diandra bersikap sangat manis dan tidak seperti biasanya.


"maaasss udah siap yuk aku mandiin"


Hans yang lagi-lagi melihat keanehan Diandra sontak terkejut karena biasanya Diandra akan malu jika akan melakukan hal ini.


saat berada di kamar mandi dan memandikan Hans pun Diandra terus tersenyum. Hans yang mulai penasaran lalu bertanya.


"kamu jangan senyum kek gitu dong ngeri tau senyum terus dari tadi ada apa?"


"itu, tadi Jihan sama Vika, sahabat aku yang dulu pernah aku ceritain itu Lo mas, mereka Dateng kesini, Trus kita masak bareng, ngobrol dan cerita banyak deh pokoknya, dan sekarang aku udah punya kontak mereka"


"jadi itu yang bikin kamu seneng dari tadi, aku pikir kenapa"


"emangnya kenapa sih mas"


"yah engga, aku pikir karena sekarang udah punya handphone trus kamu Deket sama cowok lain"


Kesal Hans.


"ya ngga mungkin lah mas, aku itu kan istri kamu dan cuma kamu suami aku"


Hans yang mendengar penuturan dari istrinya pun merasa sangat bahagia, karena dirinya merasa bahwa mungkin sudah saatnya dirinya mengungkapkan perasaannya.


Setelah selesai dengan memandikan Hans dan mengganti pakaiannya, Diandra lalu mengajak Hans untuk makan malam.

__ADS_1


"nah mas, ini masakan aku kamu cobain deh ini ada telur balado, ayam kremes sama sayur asem, mas mau yang mana biar aku ambilin"


"serius kamu yang masak semua, mbok Jum kemana kenapa kamu yang masak sih nanti kalo kecapean gimana."


Protes Hans kepada Diandra.


"iiisshh mas apaan sih, mbok Jum tadi bantuin juga kok, ayo ih mas mau yang mana aku udah laper ni."


Hans hanya menghela napas karena sifat istrinya yang sangat keras kepala itu.


"aku mau semuanya, ambilkan untukku"


Diandra mengambilkan satu persatu lauk yang sudah ia siapkan dan mereka memulai makan malam mereka.


"gimana mas, enak nggak masakan aku?"


Tanya Diandra kepada Hans.


"hmmm enak, kamu pinter masak juga ya. Sering masak dirumah?"


"iya, aku sering banget bantuin mama masak buat keluarga."


Tanya Hans dengan kesal.


"oh Danira, dia mana mau mas ngelakuin hal seperti itu, kalaupun Danira ngelakuin hal seperti itu pasti juga ngga dibolehin papa"


Ucap Diandra dengan sendu.


Hans yang mengerti dengan penuturan sang istri mencoba mengalihkan pembicaraan karena tau sang istri mulai bersedih.


"oh ya lusa mama ulang tahun, rencananya mau ngadain acara keluarga kecil-kecil an gitu, kita kesana yah"


"oh ya, mama ultah mas, waah kalo gitu aku mau kasih sesuatu buat mama deh yang special, mas besok boleh nggak aku pergi sama Vika dan Jihan, mau beli kado buat mama."


Ijin Diandra kepada sang suami.


"jam berapa, jangan lama-lama, apa perlu aku bawain pengawal, atau pelayan pribadi buat kamu."


Ucap Hans dengan protektif.


"Maas apaan sih, kan ada Jihan sama Vika ngga usah lah bawa kek gituan, lagian nih ya aku udah biasa kok jalan-jalan kek gitu mas tenang aja yah"

__ADS_1


"oke"


Ucap Hans sambil kembali menikmati makanannya.


Keduanya telah selesai makan malam dan kembali ke kamar mereka.


"Mas minum obatnya yah trus tidur, biar besok vit lagi"


Ucap Diandra sambil menyiapkan obat sang suami.


Hans dengan menurutnya lalu meminum obat kemudian menuju ke kasur.


"Diandra, sini aku mau ngomong sesuatu sama kamu"


Diandra kemudian berjalan menuju kasur dan duduk tepat disebelah suaminya.


"ada mas?"


tanya Diandra dengan penasaran.


"di, jujur saat pertama kali aku mau dijodohin sama papa, aku ngga setuju karena aku masih sulit untuk membuka hati aku untuk wanita lain, dan maaf mengenai sikap aku yang dulu ketus sama kamu, aku pikir kamu itu sama saja dengan wanita lain yang hanya mengincar hartaku, dan setelah kamu mendapatkan yang kamu mau, kamu akan pergi juga seperti yang lain. Tapi semakin aku mengenal kamu, sikap kamu, perilaku kamu, aku jadi yakin kalo kamu itu bukan seperti wanita diluar sana di, haahh Diandra, aku mulai menyukai kamu, aku selalu memikirkan kamu, khawatirkan kamu. Aku tau aku bukan pria sempurna, tapi aku janji aku akan berjuang untuk segera sembuh dan aku akan menunggu sampai kamu siap menerima aku hingga kita bisa memiliki seorang penerus keluarga kita."


Diandra yang berkaca-kaca pun hanya bisa terharu mendengar ungkapan dari sang suami, jujur saja saat pertama Diandra bertemu dengan Hans, Diandra mulai menyukainya meski di awal pertemuan Hans sangat ketus padanya, namun Diandra tidak pernah berfikir akan meninggalkan Hans.


Dengan memegang tangan Hans Diandra berkata,


"maaas, terimakasih karena kamu sudah mengutarakan isi hati kamu, terimakasih juga karena kamu sudah mencintai aku, Maas bahkan saat aku tau kita dijodohkan pun, aku sudah berjanji dengan diri aku kalau aku tidak akan pernah meninggalkan suami ku kelak, kecuali suami aku sendiri yang meminta aku pergi dan ajal...."


"ssssuuuuutttt, cukup enggak Di, selama ada aku, selama kamu bersama aku, selama aku masih hidup, kamu akan terus bersama aku dan tidak akan kemana-mana, aku ngga akan pernah ngebiarin kamu pergi walau hanya satu langkah pun dari hidup aku. Kamu adalah alasan aku untuk bangkit, kamu alasan aku kembali percaya cinta, kamu alasan aku untuk berubah menjadi lebih baik di"


Sela Hans sambil mencoba menghentikan perkataa Diandra dengan telunjuknya. Lalu memeluk dan mencium pucuk rambut Diandra.


"Oh ya sayang, maaf ya sampai saat ini aku masih belum bisa menjalankan kewajibanku sebagai suami karena kondisi aku ini"


Ucap Hans dengan menyesal.


"Maas kan aku udah pernah bilang, kita bisa coba lain kali, yang penting mas Hans sembuh ya"


Keduanya pun saling menyalurkan perasaan masing-masing, rasa haru dan bahagia yang mereka rasakan di malam itu semakin lama membawa mereka ke alam mimpi mereka.


...πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•...

__ADS_1


__ADS_2