Kau Khianati Aku, Ku Nikahi Kakakmu

Kau Khianati Aku, Ku Nikahi Kakakmu
Bab 102 | Telepon Dari Azra


__ADS_3

Satu hari dirawat di rumah sakit membuat Mouza merasa sangat bosan. Terlebih ia dibatasi dalam bergerak. Padahal kondisinya sudah membaik.


Pagi ini setelah Keanu berangkat ke kantor, Kakek Wijaya datang untuk melihat keadaan Mouza dengan kursi rodanya. Saat menunjukkan diri, Mouza merasa terkejut dengan kondisi sang kakek yang terduduk di kursi roda dan didorong oleh seorang suster.


"Kakek! Kakek kenapa? Sakit?" tanya Mouza sedikit panik.


"Kakak tidak apa-apa! Bagaimana dengan kondisimu. Dia tidak apa-apa 'kan?" tanya kakek Wijaya yang sangat mengkhawatirkan cicit penerusnya.


Sambil memegangi perutnya, Mouza menggeleng dengan pelan. "Dia gak papa Kek! Dia kuat! Kek, bisakah kita berbicara sebentar?" tanya Mouza dengan ragu.


Mata Kakek Wijaya langsung menatap kearah suster yang berada di belakangnya. Peka akan isyarat yang diberikan oleh pasien, sang suster pun mengangguk dan meninggalkan kakek Wijaya untuk berbicara dengan Mouza.


Setelah kepergian sang suster, tinggallah hanya mereka berdua. Kali ini Mouza memberanikan diri untuk memberitahu jenis kelamin calon anaknya, yang seringkali ditanyakan oleh sang Kakek. Karena Mouza sudah mengetahui jenis kelaminnya, ia pun berencana untuk memberitahukan pada sang Kakek.


"Ada apa? Sepertinya sangat penting?" tanya Kakek Wijaya penasaran.


Mouza mengambil nafas dalam. Meskipun berita yang akan disampaikan pada sang kakek membuatnya kecewa, tetapi ia harus segera memberitahu sebelum pria tua itu mengetahuinya sendiri.


"Sebenarnya ada yang ingin Oza katakan kepada Kakek. Sebelumnya Oza minta maaf jika Kakek kecewa dengan hasilnya," ujar Mouza yang masih ragu untuk memberitahu hasil USG-nya.


Garis bibir Kakek Wijaya terangkat. Ia malah mengembangkan senyum dibibir ketika melihat wajah Mouza yang terlihat kaku.


"Sudahlah! Kakek sudah tahu apa yang ingin kamu katakan. Kamu tidak usah merasa bersalah dengan hasilnya, karena semua itu adalah kuasa Tuhan. Meskipun Kakek sangat menginginkan memang menginginkan seorang cicit perempuan, bukan berarti Kakek merasa kecewa dengan hasilnya. Kamu tidak nggak usah berpikir macam-macam. Apapun jenis kelamin kecebong Keanu, Kakek akan menerimanya, karena dia tetap pewaris keluarga Wijaya," jelas Kakek Wijaya.


Mouza hanya bisa terbelalak ketika sang Kakek sudah tahu apa yang akan ia katakan. Bahkan mampu menjawab apa yang ia sampaikan. Sungguh Kakek luar biasa.


"Kenapa Kakek bisa tahu apa yang ingin aku katakan kepada Kakek?"


Sang Kakek malah menertawakan pertanyaan Mouza. "Sudah pernah Kakek katakan, meskipun Kakek hanya berdiam diri di rumah, tetapi tangan dan kaki yang Kakek miliki sangat banyak. Sekecil apapun yang terjadi kepada kalian, Kakek pasti akan tahu, meskipun kalian sembunyikan!"


Mouza mengangguk mengangguk pelan. Ia lupa jika mata dan kaki Kakeknya sangat banyak. Namun, detik berikutnya ia terdiam. Jika tangan dan kaki yang dimiliki oleh Kakeknya banyak, lalu mengapa ia tak bisa menemukan keberadaan kakaknya? Apakah sang Kakek sedang membohonginya?


"Kek, ada yang ingin aku tanyakan kepada Kakek, tapi Kakek harus menjawab dengan jujur. Bagaimana?" tanya Mouza.

__ADS_1


"Apakah selama ini Kakek terlihat seperti seorang pendusta?"


"Bukan seperti itu, Kek! Hanya saja Oza meragukan kejujuran Kakek! Sekarang jawab, sebenarnya Kakek bener-bener membantu Oza untuk menemukan Mas Arif atau tidak? Mengapa sampai saat ini tak ada kabar dari Kakek?"


Mata Kakek Wijaya membulat. Bukan ia tak mau membantu untuk menemukan keberadaan kakaknya Mouza. Hanya saja sang Kakek sudah terlanjur membuat janji kepada Arif yang saat itu baru saja ditemukan. Arif belum siap untuk menemui Mouza karena telah gagal menjadi sosok kakak untuknya. Ia yang dibutakan oleh cinta tak bisa berbuat apa-apa ketika Mouza ditindas oleh mantan istrinya. Oleh sebab itu Arif memilih untuk tak menunjukkan wajahnya hadapan Mouza untuk waktu yang tak bisa ia tentukan.


"Kakek! Kenapa Kakek diam saja! Ayo jawab!" tekan Mouza.


Kakek Wijaya tak bisa harus mengatakan apa pada Mouza. Sebenarnya ia ingin mengatakan jika Arif telah berhasil ditemukan dan saat ini sedang berada di luar kota untuk mengurus salah satu bisnis miliknya.


"Kakek minta maaf, Za. Untuk masalah itu Kakek belum bisa menemukan keberadaan kakak kamu. Tapi percayalah kakek dan tangan kaki yang Kakek miliki akan segera menemukan keberadaan kakak kamu. Jangan bebani pikiranmu dengan masalah Arif. Kakek yakin jika Arif baik-baik saja."


Meskipun merasa kecewa karena sang Kakek belum bisa menemukan kakaknya, Mouza mencoba untuk lapang. Tak hentinya ia berdoa agar sang Kakak cepat ditemukan dalam keadaan baik-baik saja.


Za, maafkan Kakek yang harus membohongimu. Sebenarnya Kakek sudah menemukan Arif, tetapi pria itu kecewa dengan dirinya sendiri karena tak bisa melindungimu saat ditindas oleh Hana. Tapi kamu tenang saja, saat ini Arif dalam keadaan baik-baik saja. Dia sedang Kakek tugaskan untuk mengurus bisnis Kakek yang ada di luar kota. Batin Kakek Wijaya


Karena tak ada topik pembicaraan lagi, akhirnya Kakek Wijaya memutuskan untuk keluar untuk membiarkan Mouza beristirahat. Namun, Mouza menahannya.


"Oza masih punya satu pembicara lagi, Kek!" kata Mouza saat sang Kakak ingin meninggalkannya.


"Kek, bisakah Oza dan Bang Ke pindah ke rumah baru?" tanya Mouza dengan penuh keraguan.


Saat itu juga Mouza bisa melihat bagaimana ekspresi wajah sang Kakek yang telah berubah kaku.


"Jika tidak boleh tidak apa-apa, Kek," lanjut Mouza lagi.


Kakek Wijaya mende.sah dengan kasar. "Aku tahu curut kurang ajar itu yang telah membujukmu untuk meminta izin kan? Maaf Za, untuk kali ini Kakek tidak bisa mengabulkan permintaanmu. Semua harus dipertimbangkan dengan matang untuk keselamatan kalian juga. Kakek senang jika kalian berpikir untuk mandiri, tetapi untuk saat ini kakek tidak akan mengizinkan. Kakek hanya akan mengizinkan kalian pindah ketika anak kalian sudah berusia 5 tahun. Selama itu juga kalian harus tetap tinggal di rumah utama," ujar kakek Wijaya yang kemudian berlalu meninggalkan Mouza.


Meskipun ada rasa kecewa, tetapi Mouza tidak menyalah keputusan kakeknya. Terlebih saat ini usia kakek yang sudah tidak muda lagi. Pasti dia lebih ingin menghabiskan sisa waktu yang dimilikinya untuk berkumpul dengan keluarga.


🌸🌸


Hidup seperti tanpa arah dan tujuan. Selain hobi bolos kuliah, Alan lebih suka menghabiskan waktunya di basecamp milik kakaknya. Disana dia bisa menenangkan diri dengan minum bersama dengan teman-teman kakaknya.

__ADS_1


Jawabannya berapa bulan yang lalu membuat ia terus menyesal. Bagaimana tidak, saat ditanya apakah dirinya mencintaimu Azra, Alan malah mengatakan tidak. Tentu saja tak ada alasan Azra untuk tetap bertahan. Wanita itu langsung meninggalkan rumahnya. Sejak saat itu Alan hancur. Kehancuran kali ini lebih parah karena Azra selalu menghantuinya. Bahkan bayangan Azra selalu muncul ketika Alan sedang mabuk. Itulah sebabnya ia memilih basecamp milik kakaknya daripada sebuah klub untuk menenangkan pikirannya. Bisa-bisa semua wanita yang ada di dalam klub ia anggap Azra.


"Lan, HP lu bunyi terus!" kata Angga saat membangunkan awan yang masih tidur.


"Angka aja, Bang! Bilang gue lagi kuliah dan HP gue ketinggalan!"


Angga pun mengikuti saran Alan untuk mengangkat panggilan telepon yang sejak tadi berbunyi.


"Halo, maaf HP Alan tertinggal dan dia sedang kuliah. Ada pesan?" tanya Angga.


"Tolong sampaikan pada Alan jika sudah pulang nanti, jika aku ingin bertemu dengannya besok siang. Jika bersedia, tolong beritahu untuk memberikan kabar. Jika Alan tidak mau tidak apa-apa."


"Baiklah nanti aku sampaikan. Maaf ini dari siapa?"


"Azra."


Panggilan pun tertutup. Sebenarnya Alan merasa penasaran siapa yang sudah menghubungi dirinya, karena ia menganggap jika yang menelepon adalah Keanu atau Kakeknya.


"Telepon dari siapa, Bang?" tanya Alan dengan malas.


"Telepon dari Azra, dia ngajak ketemuan. Kalau lo mau, lo suruh menghubunginya. Itu aja sih," jelas Angga.


Mendengar nama Azra, Alan langsung bangkit dari tempat tidurnya. "Kenapa lo nggak bilang kalau itu telepon dari Azra, Bang!"


"Mana gue tahu. Lagian lo kasih nama cewek bar-bar. Gu pikir itu salah satu pasien lo!"


"Sembarang! Itu bini gue!" Alan terlihat frustasi sambil melihat layar ponselnya. Sudah tiga bulan lamanya nomer itu selalu dihubungi oleh Alan, tetapi tidak aktif. Dan saat nomer itu menghubungi dirinya, Alan malah mengabaikannya.


"Azra, akhirnya lo kembali!"


...πŸ₯•πŸ₯•πŸ₯•...


...BERSAMBUNG...

__ADS_1


Pesan Author : Tolong jika tidak ingin membaca novel ini, please jangan kalian Boom like dan kasih rate rendah ya, cukup skip dan gak usah baca πŸ™


__ADS_2