
Setelah Cia kembali dari toilet ia mengernyit saat melihat keberadaan Mouza yang telah duduk disamping Keanu.
"Siapa bocil ini, Ke?" tanya Cia dengan menunjuk kearah Mouza.
'Sembarang, gue dikatain bocil. Awas aja kalau sampai berani main hati sama Bang Ke, gue jadiin tape lo!' Wajah Mouza menekuk dengan tatapan tajamnya.
"Dia istriku," ujar Keanu.
Mendengar kata istri, mata Cia membulat dengan lebarb kearah Mouza. Kini dua orang wanita itu saling bersitatap.
"Biasa aja kali liatnya!" kata Mouza saat bola mata Cia seperti hendak keluar.
Cia segera mende.sah pelan. Ia tak percaya jika Keanu menikahi bocil yang jauh dari seleranya.
"Kamu jangan bercanda, Ke! Sejak kapan selera kamu turun? Bukannya saat itu kamu mau nikah sama Mili?" tanya Cia masih tak percaya.
"Aku tidak bercanda. Tolong kita kembali ke topik utama, karena aku masih memiliki pekerjaan lainnya," kata Keanu untuk mencari kata aman.
Cia tak habis pikir dengan Keanu yang mendadak menjadi kaku, padahal tadi masih sempat terlihat hangat. Apakah semua itu karena kehadiran istrinya? Cia melirik kearah Mouza. Tiba-tiba saja hati Cia terasa kesal saat melihat wajah Mouza yang tak sebanding dengan dirinya. Entah dari segi apa Keanu melihat bocil seperti Mouza. Mungkinkah Keanu mines saat melihat Mouza.
"Jujur aku tak nyaman dengan hadirnya orang ketiga diantara kita. Lebih baik kita tunda dulu rapat kita. Aku permisi." Seketika Cia pergi meninggalkan Keanu dan juga Mouza.
Hening untuk beberapa saat karena Mouza sengaja membisu. Dia tak kalah kesal saat dikatakan orang ketiga dalam hubungan mereka. Apakah tak terbalik? Seharusnya Mouza yang mengucapkan kata itu pada Cia.
'Heran gue sama velakor model sekarang, sok-sokan jadi yang tersakiti padahal dah jelas istri sah yang akan tersakiti.' batin Mouza sambil melirik kearah Keanu.
"Berani bermain api, siap-siap aku sunat sampai kandas!" ancam Mouza yang kemudian memilih untuk meninggalkan Keanu.
"Za, jangan salah pengertian! Aku gak bakalan main api, suer!"
Mouza tak peduli dengan ucapan Keanu. Saat ini moodnya sudah hancur berantakan. Entah darimana ia akan mengembalikan moodnya agar lebih cerah lagi. Saat ini semua terasa gelap.
"Kayaknya bakal jadi perang dunia kelima, huh." Keanu membuang napas kasarnya.
.
.
__ADS_1
Sudah bisa dipastikan salah paham itu akan berlanjut lama. Hingga malam pun Mouza masih mendiamkan Keanu meskipun pria itu telah mencoba berbagai cara untuk meminta maaf atas kejadian siang tadi.
"Za, udah dong ngambeknya," bujuk Keanu dengan wajah mengiba.
Mouza acuh, ia memilih berlalu keluar kamar. Baru saja ingin menginjakkan kakinya di tangga ternyata Alan juga ingin turun juga.
"Lo ngapain ngikutin gue!" sentak Mouza dengan wajah kesal.
Alan mengernyit heran. "Lo lagi kesambet setan apa, Za?"
"Tau ah! Minggir! Lliat wajah lo bikin perut gue neg!"
Alan hanya menyendikkan bahunya sambil melihat Mouza yang menuruni anak tangga dengan suara yang nyaring. Tak lama pun Keanu muncul.
"Ngapain lo berdiri disini? Minggir!" Kali ini giliran Keanu yang menyentak dirinya.
"Dasar pasangan aneh!" gerutu Alan.
Sesampainya di meja makan, suasana semakin canggung saat tak ada sepatah kata yang keluar dari bibir ketiga anak manusia yang sedang menyantap makan malam.
Sepanjang acara makan hanya suara piring dan sendok yang beradu nyaring, membuat Alan merasa jika ia telah melewatkan sesuatu. Sesekali matanya melirik kearah Mouza dan juga Keanu. Terlihat dengan jelas jika saat ini Mouza sedang acuh pada kakaknya.
"Kayaknya ada perang ketujuh, nih?" sindir Alan dengan santai.
"Diem lo! Dasar tukang kibul!" sentak Mouza dengan sorot mata tajamnya kearah Alan.
Alan mengernyit heran saat dikatakan tukang kibul oleh Mouza.
"Untung aja hubungan kita langsung berakhir sehingga gue gak akan merasa sakit hati yang terlalu dalam. Lo diam-diam masih berhubungan sama sarden Mili itu kan?"
Sontak Alan hanya bisa menelan kasar salivanya. Bahkan kini ia terlihat sangat gugup dan tak bisa berkata apa-apa lagi.
"Gue emang wanita bodoh, saking bodohnya gue bisa sangat mempercayai para pria munafik seperti kalian!" ketus Mouza yang kemudian meninggalkan meja makan.
Keanu terkejut akan pengakuan Mouza yang mengatakan jika Alan masih berhubungan dengan Mili. Apa itu artinya Mili telah bebas dari rumah tahanan?
Mata Keanu menatap tajam kearah Alan. "Apa benar yang diucapkan oleh Mouza?"
__ADS_1
"Lo gak usah kaget seperti itu. Bukankah lo udah gak peduli lagi sama dia? Terserah gue dong kalau gue punya hubungan sama Mili. Atau jangan-jangan lo masih cinta sama dia?"
Tanpa kata, Keanu langsung menggebrak meja makan.
BRAKK
"Jaga mulut lo! Gue udah gak peduli Lo mau punya hubungan apa sama wanita itu, tapi lo harus ingat jika wanita itu sampai mencelakai Mouza lagi, siap-siap lo juga akan nanggung akibatnya. Gue gak peduli sekalipun lo adalah adik gue, karena saat ini Mouza adalah prioritas utama buat gue!"
Puas dengan ucapannya Keanu pun langsung berlalu untuk meninggalkan Alan yang masih terdiam.
"Jangan salahkan gue jika gue akan mengikuti jejak lo, Bang! Gue seperti ini juga karena Lo!"
Keanu yang masih bisa mendengar ucapan Alan segera membalikkan badan dan menatap adiknya dengan tajam.
"Lo pikir gue akan peduli? Gue sama sekali gak peduli lo mau jual tubuh lo dengan siapa saja, karena yang akan menyesal adalah diri lo sendiri, bukan gue! Ikuti saja jejak gue biar ada penerusnya!" ucap Keanu dengan sinis.
Alan hanya mengepalkan tangannya. Semua ini terjadi karena Alan merasa tak tahan dengan hubungan Mouza dan Keanu yang semakin lengket bak perangko. Ia benar-benar putus asa dan mencari kesenangan diluar bersama dengan para wanita adalah penghibur laranya, tetapi tidak dengan Mili.
Jika pun siang tadi Mouza melihatnya sedang jalan bersama dengan wanita ulat itu, tetapi ia sudah tidak naffsu lagi untuk menyentuhnya. Alan hanya sedang meminta bantuan Mili untuk mencarikan target selanjutnya.
Sudah satu bulan terakhir setelah Mouza dinyatakan hamil, Alan merasa sangat frustasi. Sudah tak ada harapan untuk bisa memiliki Mouza lagi. Satu-satunya cara untuk menghibur laranya adalah bermain bersama dengan para wanita malam. Awalnya Alan merasa ragu untuk terjun pada dunia malam, tetapi lama-lama ia menjadi terbiasa dan semakin menikmati perannya sehingga perlahan ia bisa melupakan Mouza.
Siapa yang menyangka jika Mouza belum benar-benar pergi masih bisa mendengar dengan jelas pengakuan Alan. Ia menggeleng tak percaya dengan setiap kata yang terucap dari bibir Alan. Kini ia memberikan diri untuk melangkah mendekati Alan.
"Lan, katakan jika semua yang lo ucapan itu gak bener. Lo gak mungkin ngerusak diri lo, kan Lan?" Suara Mouza terdengar sedikit bergemetar.
Alan terkejut dan langsung menoleh kearah Mouza. Kedua mata mereka saling bertemu. Alan hanya tersenyum sinis kearah Mouza.
"Lo gak usah sok peduli dengan hidup gue, Za! Hidup gue udah hancur karena kebodohan gue!" sinis Alan.
"Tapi bukan dengan cara seperti ini, Lan! Lo masih bisa bahagia tanpa mengambil jalan sesat ini! Lan, lo gak boleh ngerusak diri lo dengan cara seperti ini! Gue bakalan jadi orang pertama yang akan menentang keputusan lo masuk dunia sesat!"
Lagi-lagi Alan hanya tersenyum sinis kearah Mouza. "Lo gak ada hak buat ngatur hidup gue, karena lo bukan siapa-siapa! Jadi gak usah mengkhawatirkan hidup gue! Fokus aja sama kehamilan lo dan berdoa agar anak yang ada didalam perut lo pas keluar gak mirip gue, karena itu akan menjadi bencana buat lo dan akan menjadi berkah buat gue. Gue yakin Keanu akan marah saat melihat anaknya mirip gue, dia pikir gue juga ikut nyetak!" kekeh Alan yang kemudian berlalu meninggalkan Mouza.
Saat ini Mouza tak bisa berkata apa-apa dengan kegilaan Alan yang rela merusak dirinya sendiri.
'Gak, gue gak bakalan biarin Alan mengikuti jejak Bang Ke. Gue harus cari cara biar Alan tak berbuai dalam lautan kesesatan. Sebelum Alan jatuh terlalu dalam gue harus menghentikan kegilaannya dan satu-satunya cara adalah meminta bantuan kakek superhero.' batin Mouza yang kini hanya bisa menatap punggung Alan yang sedang menaiki anak tangga.
__ADS_1