
"Za." Sebuah tangan menyentuh bahu Mouza. Saat itu juga Mouza tersentak.
"Bang Ke ngagetin deh!" gerutunya dengan wajah yang kesalnya. Bagaimana tidak, saat pikiran masih berkelana tiba-tiba Keanu datang untuk mengagetinya.
"Siapa juga yang ngagetin kamu. Lagian dipanggil dari tadi nggak nyaut. Lagi ngelamunin apa sih?" tanya Keanu heran.
Mouza membuang kasar nafas beratnya. Wajahnya sedikit ditekuk saat melihat Keanu yang telah duduk di sampingnya. Kali ini perasaannya benar-benar tidak nyaman dengan berita yang baru saja ia lihat.
"Madam Re bebas, Bang," ujar Mouza dengan lesu. "Dia bilang kalau muci.kari yang sebenarnya adalah seorang pria berinisial KW, itu kan nama Bang ke, Keanu Wijaya."
Keanu tak memperlihatkan wajah keterkejutannya, karena pria itu sudah bisa menduga jika Madam Re pasti akan lolos karena ia bukan orang sembarangan.
"Jadi kamu menghawatirkan suami kamu? Meskipun Madam Re terbebas dan sedang mengincar suamimu, percayalah, suamimu bisa menyelesaikan masalah yang sudah pernah ia buat," kata Keanu dengan helaan napas panjang.
"Jadi Bang Ke mau menyerahkan diri kepada polisi dan mau mengakui jika Bang Ke itu adalah pria yang berinisial KW?"
"Astaga Oza ... kapan kepintaran kamu akan berubah, sih? Meskipun telah menikah dengan orang pintar, tetapi tak membuat kepintaranmu bertambah dan malah kian menyusut. Padahal aku sudah memberikan makanan yang bergizi setiap harinya." Lagi-lagi Keanu membuang napas kasarnya. Ia tak tahu mengapa Mouza tak bisa berpikir dengan pintar.
"Terus apa, dong?" tanya Mouza yang sudah mengerucutkan bibirnya.
"Kamu gak usah pikiran masalah itu, karena aku bisa mengatasinya sendiri. Kamu fokus aja dengan kuliah dan kehamilan kamu. Jangan sampai masalah ini membuatmu stress dan akhirnya mempengaruhi tumbuh kembang anakku yang sedang berkembang di perutmu," ujar Keanu yang merasa gemas pada Mouza.
"Kok anak Bang Ke, sih? Kan ada di perut aku? Anak aku dong!" protes Mouza.
"Tapi kan aku yang nanam, Za. Kalau Alan yang nanam berarti anak Alan dong, bukan anak aku," kekeh Keanu yang membuat wajah Mouza mengkerut. "Oke bukan anak aku, tapi anak kita."
π₯π₯
Setelah hampir tiga jam Mouza menemani Keanu bekerja kini akhirnya ia bisa bernapas lega ketika Keanu mengajaknya untuk pulang. Sebenarnya sangat lelah jika setelah pulang kuliah ia harus menemani Keanu di kantor, tetapi ia juga sadar di rumah pun tak ada temannya. Apalagi jika ia berada satu atap dengan Alan yang kadang membuat moodnya buruk.
"Bang aku rasa ada yang aneh dengan kita?" celoteh Mouza tiba-tiba.
Keanu yang sedang berjalan menghentikan langkahnya sejenak untuk memperhatikan Mouza, karena tertarik akan pertanyaannya.
"Maksud kamu aneh gimana, Za?" tanya Keanu heran.
"Ya aneh aja, Bang. Coba Abang perhatikan! Aku yang hamil, tapi perut Abang yang buncit!" kata Mouza dengan mata yang telah menatap perut Keanu. Begitu juga dengan Keanu yang memperhatikan perutnya sendiri. Selama ini ia tidak peduli dengan bagaimana bentuk perutnya.
"Iya juga ya. Apa jangan-jangan bayi itu juga ada dalam perutku?" Keanu mencoba untuk memegang perutnya.
"Ih, Bang Ke ngomong apaan sih? Nggak gitu juga kali Bang, konsepnya. Bang Ke tahu kenapa perut Bang Ke terlihat buncit? Itu karena Bang Ke rakus! Semua jenis makanan diembat tanpa tersisa!"
"Eh, tapi yang minta anak kamu, Za!"
__ADS_1
Mouza melotot kearah Keanu saat mendengar kata anak kamu. Detik kemudian Keanu meralat ucapannya.
"Maaf. Maksud aku anak kita."
Langkah Mouza yang bergelayutan manja menjadi perhatian seorang wanita yang bernama Rosalinda. Ia masih berperang dalam pemikirannya, untuk menebak siapa Mouza sebenarnya. Terlebih kedekatan Mouza dengan Keanu terlihat sangat intim. Begitu juga dengan Keanu yang memperlakukan Mouza dengan manis.
"Apa jangan-jangan Mouza adalah simpanan Tuan Ke? Oh, astaga .... " Rosalinda menangkup bibir dengan kedua tangannya.
"Masih muda cantik tapi jadi simpenan om-om. Anak zaman sekarang mana peduli dengan siapa jalan, yang penting keluar uang. Astaghfirullahaladzim." Rosalinda hanya menggelengkan kepalanya saat menebak jika Mouza adalah simpanan Keanu.
Setelah keluar dari dalam gedung, Keanu menyuruh Moza untuk menunggunya sebentar karena ia akan mengambil mobil. Mouza menganguk pelan. Namun, saat ia menikmati udara segar yang baru saja ia hirup tiba-tiba ada suara yang mengagetkannya.
"Kamu Mouza kan? Ngomong-ngomong suami kamu kerja di bagian apa sih? Kok aku gak tahu kalau ada karyawan yang sering disamperin oleh istrinya tapi pas keluar malah menggandeng bosnya? Apakah kamu hanya berpura-pura jika suami kamu bekerja di sini agar bisa bebas keluar masuk di kantor ini? Ckckck, kamu ini masih muda, cantik lagi. Mbok gak usah menjadi orang ketiga dalam rumah tangga orang lain. Kamu gak tahu apa kalau Tuan Keanu itu sudah menikah. Bahkan katanya istrinya sangat cantik. Ya Meskipun aku sendiri belum tahu bagaimana wajahnya."
Rosalinda mengoceh panjang lebar tanpa ia menyadari dengan siapa ia berbicara, karena memang Rosalinda adalah karyawan yang baru beberapa hari bekerja di perusahaan. Dan saat pengenalan Keanu dirinya tidak menghadirinya, sehingga ia tidak tahu jika wanita yang ada di depannya itu adalah istri dari Keanu.
Mouza hanya menyunginkan senyum dibibirnyanya. Ia terharu saat ada yang mengatakan dia cantik. Padahal menurut dirinya dia tidaklah cantik.
"Dikasih tahu malah senyum-senyum aja!" gerutu Rosalinda.
"Karena aku adalahβ"
Belum juga Mouza memberitahu siapa dirinya kepada Rosalinda, sebuah klakson mengagetkan dirinya.
"Perempuan zaman sekarang kalau dikasih tahu malah nyepelekin." gerutu Rosalinda.
Mobil Keanu kemudian melesat meninggalkan perusahaan. Seperti biasa sebelum pulang ke rumah Keanu pasti akan singgah di lapak parah pedagang kaki lima yang menjajakan makanannya. Untuk kali ini dan seterusnya Mouza tidak akan heran ataupun memprotes Keanu yang semakin rakus. Mungkin itu semua adalah bagian dari nyidam yang seharusnya ia rasakan. Ia tahu jika calon anaknya sangat menyayanginya sehingga ia memilih untuk menyiksa bapaknya daripada dirinya. Sungguh anak yang pengertian.
"Bang, Abang gak takut perutnya besar melar? Kalau dah melar gak keliatan macho lagi, lho!"
"Gak papa gak kelihatan macho yang penting bisa muasin kamu dan bisa buat kamu mede.sah berkali-kali," ujar Keanu dengan santai.
"Mulai deh penyakitnya!" gerutu Mouza.
Tanpa mereka sadari saat ini mobil Keanu telah memasuki gerbang rumahnya. Terlihat seorang pria tua duduk di teras rumah. Siapa lagi juga bukan kakek Wijaya.
Keanu merasa heran saat pria tua itu berdiri tegap untuk menyambutnya.
Kok kayak horor ya, batin Mouza yang melihat tatapan Kakek Wijaya pada suaminya, seperti sedang ada masalah yang serius.
"Za, kamu masuk duluan ya. Aku ada perlu dengan kakek!" perintah Keanu.
Dengan patuh, Mouza pun masuk kedalam rumah dengan perasaan gelisah. Ia tidak tahu apa yang ingin dibicarakan oleh kakek Wijaya pada suaminya.
__ADS_1
"Ah, biarlah! Itu kan urusan Bang Ke, bukan urusanku." Mouza mencoba untuk menepis perasaannya. Namun, tetap tidak bisa, karena naluri sebagai seorang istri pasti akan selalu mengkhawatirkan suaminya.
Saat hendak naik keatas, tak sengaja ia berpapasan lagi dengan Alan yang sudah rapi dengan pakaian casualnya. Mata Mouza tak lepas dari tatapannya kearah Alan, begitu juga dengan Alan yang tak berkedip saat melihat wajah Mouza.
Duh, mata. Jangan liatin dia napa! Ingat Bang Ke jauh lebih tampan dari pada Alan.
Karena tak memperhatikan jalan akhirnya kaki Mouza tersandung anak tangga dan hampir terjatuh Beruntung saja dengan sigap Alan segera menangkap tubuh Mouza agar tak terjatuh. Kedua mata itu masih saling menatap meskipun tanpa kata. Sebuah getaran yang telah hilang, kini mulai terasa lagi.
"Hmmm .... "
Sebuah dalaman langsung membuat Mouza menarik tubuhnya yang sempat ditahan oleh Alan dan mencoba untuk menetralkan detak jantungnya. Tanpa sepatah kata Alan memilih berlalu untuk meninggalkan Mouza, saat itu juga langkah Keanu menghampirinya.
"Kamu gak papa?" tanya Keanu.
Mouza hanya menggelengkan kepalanya pelan. Ia takut jika Keanu akan meledak untuk meluapkan rasa cemburunya. Namun, nyatanya pria itu malah membantu Mouza untuk naik keatas.
"Makanya kalau jalan itu pakai mata! Saat ini ada nyawa yang sedang hidup di perutmu," kata Keanu dengan datar.
Mouza tak bisa menyimpulkan apakah saat ini suaminya sedang marah atau tidak. Bahkan wajahnya saja tetap sama tak menunjukkan reaksi apa-apa.
"Bang Ke marah?" tanya Mouza dengan gugup.
"Marah? Untuk apa aku marah?"
Mouza terdiam untuk beberapa saat karena masih memikirkan apakah Keanu sedang marah kepada dirinya atau tidak.
"Gak usah berpikir macam-macam! Aku nggak marah karena kalau kamu nggak ditangkap oleh Alan, apa yang terjadi kepadamu? Meskipun aku tidak menyukai bocah itu, tetapi setidaknya bocah itu telah menyelamatkanmu dari sesuatu yang tidak diinginkan. Lain kali perhatikan jalanmu!"
Mouza hanya mengangguk pelan dan meminta maaf atas kecerobohannya. Seharusnya ia lebih berhati-hati saat berjalan terlebih berhati-hati untuk menjaga matanya.
.
.
...π₯π₯π₯...
...BERSAMBUNG...
Halo-halo selamat hari senin, selamat beraktifitas seperti semula. Maaf agak lambat upnya. Bagi yang berkenan boleh dong berikan vote untuk novel ini π
Selagi menunggu novel ini update kembali mampir dulu yuk ke novel teman aku yang berjudul KUKIRA KAU CINTA mampir ya.
__ADS_1