
Meskipun uang yang diberikan Keanu cukup banyak, tetapi Mouza tak lantas menghamburkan begitu saja. Dia hanya berbelanja sesuai kebutuhan yang diperlukannya. Padahal sebelum berangkat ke Mall dia sudah mengkhayal ingin beli ini dan itu. Namun, nyatanya setelah sampai di pusat pembelanjaan, Mouza malah bingung ingin beli apa.
Saat dia berjalan untuk melihat-lihat toko yang ada, matanya tak sengaja menangkap Alan sedang berada di sebuah toko baju. Saat diperhatikan lebih jelas, ternyata ada Mili, mantan calon istri Keanu.
"Ternyata kayak gini kelakuannya di belakang gue. Dasar pria baji.ngan!" umpat Mouza dengan rasa kesal.
Jika saja siang itu dia tak memergoki Alan sedang bercumbu dengan Mili, mungkin sampai saat ini Mouza masih menganggap jika Alan adalah pria yang sangat baik. Namun, nyatanya kebusukan itu tak bertahan lama.
"Baru saja tadi ngepost happy anniversary 8 month, sekarang dah jalan sama nenek lampir itu! Bener-bener Alan sialan!" gerutu Mouza yang memilih berlalu begitu saja.
Niat dalam hati ingin menyegarkan pikiran, tetapi malah gelap setelah melihat mantan kekasihnya sedang jalan bersama dengan wanita lain.
"Ngapain malah mikirin mereka, sih?" gerutu Mouza saat mengingat Allan sialan itu. "Ingat, bentar lagi gue akan nikah sama Bang Ke. Gak ada untungnya mikirin sampah seperti mereka."
Untuk membuang rasa kesalnya, Mouza memutuskan untuk masuk ke sebuah gerai yang menempelkan tulisan diskon. Mata Mouza tak bisa terkendali saat ia membaca kata diskon.
Mungkin karena hampir di penghujung tahun, beberapa toko mengadakan sale besar-besaran. Sesampainya di dalam, Mouza mencoba untuk memilih baju dengan lebel diskon. Namun, saat tangannya hendak mengambil sebuah baju, tiba-tiba ada sebuah tangan juga yang hendak mengambil baju tersebut. Mata Mouza segera mengedar kearah seseorang yang ada disampingnya.
"Lo!" gumam Mouza.
Wanita yang ada disamping Mouza juga terbelalak lebar saat melihat siapa yang sudah menegang lebih dahulu baju itu.
"Ngapain lo disini?" sentak Mouza pada Mili. Ya wanita yang ada disampingnya adalah Mili, mantan calon istri Keanu.
"Gue mau belanjalah," ketusnya dengan dingin.
"Jangan bilang lo sengaja ngintilin gue. Iya 'kan?" tuduh mili dengan sinis.
"Na-jis ngintilin lo! Emang lo siapa? Hanya seorang *** - *** murahan," cibir Mouza.
__ADS_1
Mili sangat tidak terima saat dikatakan *** *** oleh Mouza. Tangannya geram hendak menarik rambut Mouza. "Kurang aja, lo!" Namun, Mili mengurungkan niatnya saat melihat Alan datang.
"Mouza," gumamnya pelan. "Lo ngapain disini, Za?" tanya Alan dengan rasa gugup.
"Lo pikir kalau gue disini ngapain? Gak mungkin juga gue ngerumpi sama *** *** sialan ini?" Tunjuk Mouza pada Mili yang ada didepannya.
"Oza!" sentak Alan yang merasa tidak terima karena Mouza mengatakan Mili ja.lang.
"Kenapa? Gak terima kalau gue katain selingkuh lo itu *** ***? Dah ah, eneg gue liat muka kalian berdua. Bye ...!" Akhirnya Mouza memilih meninggalkan kedua orang yang hanya terdiam tanpa kata.
Setelah kepergian Mouza, Alan segera menghibur Mili. "Udah, gak usah didengerin ucapan Oza! Lanjutin aja belanjanya, aku ke toilet dulu."
Mili hanya mengangguk pelan. Dia pun akhirnya mengambil baju yang sempat dia rebutan dengan Mouza. Namun, karena wanita itu memilih pergi, akhirnya dialah yang akan memiliki baju itu.
Alan berusaha untuk mengejar Mouza yang berlalu dengan cepat. Namun, sepertinya Allan kehilangan jejaknya. Hari ini seharusnya Allan merayakan hari jadinya yang ke 8.
Tadi pagi, saat Alan baru saja terbangun, tiba-tiba Mili sudah menunggunya di ruang tamu. Wanita itu meminta Alan untuk menemani belanja karena Keanu tak peduli lagi dengannya. Ingin menolak, tetapi Alan tak bisa mengelak saat Mili memberikan rayuan mautnya.
Alan tetap berusaha untuk mencari keberadaan Mouza. Dia harus menjelaskan apa yang terjadi padanya.
"Mouza!" teriak Alan saat melihat Mouza menuruni eskalator. Dengan cepat Alan mengejarnya.
"Oza, kita bicara sebentar!" Tangan Alan sudah berhasil memegang tangan Mouza.
"Lepaskan tangan lo yang kotor ini, Lan!" sentak Mouza.
Alan segera melepaskan cekalan tangannya. Meskipun Mouza hanya mendiamkan dirinya, tetapi Alan berusaha untuk mengikuti langkah Mouza sampai keluar dari mall.
"Za, kita harus bicara. Apakah lo gak ingat hari ini hari apa? Hari ini tepat 8 bulan kira bersama, Za. Gue mau hubungan kita tetap berjalan. Gue gak mau putus dengan lo, Za!" Alan masih bersikukuh tak ingin putus dengan Mouza.
__ADS_1
Alan sudah jatuh cinta dengan wanita sederhana itu, tapi sayangnya dia tak bisa mengendalikan hawa nafsunya sendiri. Terlebih sebagai seorang pria normal, Alan sangat tergoda saat ada ikan asin yang menyerahkan diri untuk dimangsa.
"Lo itu budeg atau gimana sih, Lan! Hubungan kita itu udah berakhir! Dan sebentar lagi gue mau nikah sama bang Ke. Jadi lo gak usah gangguin gue lagi! Ngerti, lo?!" sentak Mouza dengan geram.
Alan terdiam untuk beberapa saat ketika dia mendengar jika Mouza akan menikah dengan kakaknya, sementara sang kakak hendak menikah bulan depan bersama dengan Mili.
"Kamu jangan bercanda, Za! Bang Ke gak bakalan nikah sama Lo, karena dia udah punya tunangan dan akan nikah bulan depan! Lo pikir dengan Lo memberikan alasan konyol seperti ini gue bakalan percaya? Gak, Za!"
Mouza mendengus kasar saat Alan tak mempercayai ucapannya. Namun, begitulah kenyataan yang sebenarnya.
"Gue gak bercanda, Lan! Gue serius!" tegas Mouza.
Alan malah menertawakan Mouza yang dianggap hanya ingin mengancamnya saja. "Oke, gue gak akan gangguin Lo asal lo buktikan kalau bang Ke mau nikahi lo! Tapi kalau lo bohong, gue tetap mau ganggu lo, sampai lo narik semua kata-kata putus itu!"
"Oke! Siapa takut! Tunggu aja undangan dari gue! Awas aja kalau lo sampai mengingkari ucapanmu sendiri!" ancam Mouza kemudian berlalu. Dia tidak ingin berurusan dengan mantan sialan yang gak punya pendirian. Katanya sayang, katanya cinta, eh malah boboknya sama wanita lain.
"Gara-gara Alan gue gak jadi shoping 'kan?" gerutu Mouza pada dirinya sendiri. Mouza mendengus kesal dan langsung menyetop taksi. "Mending gue ngademin otak gue di salon ajalah. Kayaknya jari para wanita jadi-jadian lebih enak daripada jari wanita beneran," kekeh Mouza yang sudah masuk kedalam taksi.
Sementara itu Alan masih terdiam meskipun Mouza sudah berlalu. Jika apa yang dikatakan oleh Mouza adalah benar, maka tak akan ada kesempatan Alan untuk bisa mendapatkan Mouza lagi.
"Sial! Semua ini gara-gara Mili!" umpat Alan kasar. Namun, meskipun Alan kesal dengan wanita itu, dia tidak bisa melepaskan Mili begitu saja. Alan butuh sentuhan dan yang bisa memuaskan dirinya hanya Mili.
.
.
.
...BERSAMBUNG...
__ADS_1