Kau Khianati Aku, Ku Nikahi Kakakmu

Kau Khianati Aku, Ku Nikahi Kakakmu
Bab 95 | Menyusul Azra


__ADS_3

Mouza tak menyangka jika keinginannya untuk makan mie rebus buatan Alan bisa terpenuhi. Semua itu berkat bantuan dari kakek superheronya. Bukan karena sebuah kebetulan mengapa sang kakek bisa mengetahui keinginan Mouza, tetapi Mouza sengaja memberitahu kepada kakeknya jika Alan tak mau membuatkan Mie rebus untuknya.


Setelah perutnya terasa kenyang, Mouza ingin melanjutkan lagi tidurnya, karena hari masih menunjukkan pukul satu dini hari. Namun, sebelum ia masuk kedalam kamarnya, ia teringat pada Azra yang sendirian di rumah sakit. Seharusnya sebagai seorang suami, Alan menemani Asra saat ini.


"Sekarang udah kenyang kan? Kita tidur lagi ya. Kan besok harus kuliah," ujar Keanu dengan lembut.


"Iya Bang. Tapi aku ada perlu sama Alan bentar," ucap Mouza.


Keanu langsung mengernyit. "Jangan bilang malam ini kamu juga ingin tidur dengannya!" tebak Keanu yang sudah memasang wajah ketusnya.


"Tenang aja, aku gak bakalan minta tidur sama Alan, Bang. Meskipun kecebong Bang Ke yang minta. Aku cuma mau tanya, kenapa dia gak nyusul Azra ke rumah sakit. Kan kasihan Azra sendirian gak ada temennya. Harusnya sebagai suami, Alan tuh berada di samping Azra, apalagi Bang Delon seperti itu juga karena Alan," jelas Mouza.


Keanu tak merasa keberatan dengan pemikiran Mouza. Memang seharusnya Alan mendampingi Azra di rumah sakit, bukan malah tidur nyenyak di dalam kamarnya.


Lama Alan membuka pintu karena ia mengira jika Mouza menginginkan sesuatu lagi darinya. Namun, semakin lama dibiarkan telinga Alan tak sanggup untuk mendengarkan ketukan pintu yang terus menerus diketuk oleh Mouza. Akhirnya dengan kesal Alan membuka pintu.


"Oza … lo itu maunya apa sih?" tanya Alan dengan malas saat membuka pintunya. Namun, Alan harus terbelalak ketika melihat sosok pria tua yang berada dihadapannya. "Kakek!"


"Tau gak ini jam berapa? Masih jam 2 pagi, dan rumah ini udah ribut kayak pasar. Ada apa lagi. Oza, katakan kamu mau apa sama bocah sialan ini?" Sang Kakek telah melipat kedua tangannya di depan dada.


Sebenarnya Mouza merasa tak enak hati telah membangunkan kakeknya untuk kedua kalinya. Namun, untuk kali ini kakek Wijaya keluar tanpa ia panggil.


"Maaf Kek, udah buat kekacauan malam ini. Tapi Oza cuma mau bilang sama Alan untuk nyusul Azra ke rumah sakit, kasihan Azra sendirian gak ada temennya disana. Toh Azra disana juga karena Alan yang menghajar Bang Delon. Seharusnya Alan yang menunggu disana sebagai bentuk tanggung jawabnya," jelas Mouza sambil menunduk.


Kakek Wijaya langsung menghela nafas beratnya. "Kamu dengar kakak iparmu berbicara?"


Alan men.desah kasar. "Iya denger, Kek."

__ADS_1


"Jadi apa keputusanmu sekarang?" tanya sang Kakek lagi.


Dengan raut wajah kesal Alan langsung menyambar sebuah jaket yang menggantung di balik pintunya. "Aku susul dia. Puas!" Alan pun berlalu meninggalkan kerumunan yang berada di depan pintu kamarnya.


Karena Alan sudah pergi, sang Kakek pun juga ikut berlalu ke kamarnya untuk melanjutkan istirahat. Kepala terasa pusing karena ulah para cucu yang tak kunjung berubah, meskipun sudah tumbuh dewasa. Ribut dan ribut setiap hari.


"Sudah puas?" tanya Keanu pada Mouza. Dengan angukan kepala Mouza menganguk pelan sambil mengembangkan senyum dibibirnya.


"Bagus, sekarang sudah bisa tidur kan?"


πŸ₯•πŸ₯•πŸ₯•


Sepanjang perjalanan menuju ke rumah sakit Alan terus mengumpat karena selalu tertindas oleh Mouza. Entah bagaimana caranya Mouza bisa mengambil hati Kakeknya dan menjadikan Mouza bagaikan ratu di dalam rumahnya. Jika kemarin Alan masih mengisahkan sedikit hati untuk Mouza, namun kini telah lenyap dalam sekejap mata.


"Kenapa juga Bang Ke harus nikah sama Oza sih? Kalau gue yang nikah, gak mungkin gue bakalan tertindas seperti ini!" gurutu Alan.


Karena jalanan yang lapang tak banyak kendaraan yang lewat, Alan menlajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Sudah lama ia tak bermain di jalanan, terlebih jalan yang sunyi seperti malam ini.


Tak terasa ini mobil yang dikendarai oleh Alan telah sampai di depan rumah sakit. Dengan langkah gontai, Alan masuk kedalam yang suasana terasa, karena sebagian orang memilih untuk beristirahat. Namun, tidak dengan dirinya yang harus ngelayap untuk melihat keadaan Azra.


Sesampainya di ruang rawat Delon, mata Alan langsung setiap sudut ruangan tersebut untuk mencari sosok Azra. Pandangannya terputus saat ke sebuah sofa, di mana Azra beristirahat. Dengan langkah pelan, Alan berjalan ke arah wanita yang berstatus sebagai istrinya. Ingin membangunkan, tetapi ia tak tega saat melihat wajah Azra yang terlelap dengan damai.


"Sial! Kenapa juga kalau lihat wajahnya jantung gue gak bisa diam sih?" Alan pun menjatuhkan tubuhnya di samping Azar. Mata Alan masih menyapu ruangan untuk menemukan cara agar dirinya bisa tidur dengan nyenyak.


"Sepertinya gue harus cari sesuatu untuk bisa tidur dengan nayam," ujar Alan yang kemudian meninggalkan kamar tersebut.


🌸🌸🌸

__ADS_1


Azra merasa tidurnya terasa nyaman dari sebelumnya. Bahkan ia merasa bisa memeluk guling. Padahal sedang berada disebuah sofa yang sempit. Bahkan Azra semakin mengeratkan pelukannya.


Sejak kapan ada guling disini ya. Mana gilingnya bau aroma Alan lagi. Apakah karena aku terlalu memikirkan bocah sehingga guling pun aku mengeluarkan aromanya. Ngarep sekali sih disusul bocah egois itu. Azra hanya membatin dalam hatinya saja.


Meskipun sudah bangun tetapi rasanya masih enggan untuk membuka mata, karena guling yang ia peluk terasa sangat hangat.


Samar-samar, telinganya mendengar suara seseorang sedang berbicara, tetapi karena rasa kantuk ia masih tak peduli. Namun kemudian ia menyadari jika saat ini dirinya sedang menunggu Delon di rumah sakit. Mungkinkah itu suara perawat untuk mengecek kondisi Delon?


Karena tak ingin melewatkan perkembangan Delon, Azra pun langsung membuka matanya. Namun, Azra merasa ada sesuatu yang berbeda yang ia rasakan, dimana tempatnya saat ini terasa nyaman dan tidak sempat. Terlebih juga ada sebuah tangan yang menimpa tubuhnya. Dengan jantung yang berdegup dengan kencang, Azra berusaha menoleh kesamping untuk memastikan tangan siapa yang berada diatas perutnya.


Azra menangkup mulutnya tak percaya saat melihat Alan terbaring di sampingnya. Dan lebih mewujudkan lagi saat ini dia tidak berada di atas sofa melainkan di atas ranjang pasien. Bahkan tangannya pun masih melingkar di pinggang Alan.


Astaga … apakah ini mimpi atau bukan? Mengapa bisa aku dan Alan tidur diatas ranjang pasien? Apa yang telah terlewatkan, batin Azra dengan heran.


Saat tangan Azra ingin diangkat, tanpa terduga ditahan oleh Alan. "Mau kemana?"


Azra pun langsung terbelalak lebar menyadari jika semua itu bukanlah mimpi. Dadanya berdegup dengan kencang.


"Diam atau mereka akan membuka tirainya!" kata Alan dengan mata yang masih memejam.


"Alan, aku butuh penjelasan mengapa kita bisa tidur disini?" lirih Azra dengan pelan.


"Nanti aku jelaskan! Aku masih ngantuk. Tetaplah disini selama kakakmu masih diperiksa. Tetapi jika kamu tidak malu, buka saja tirainya!"


Azra pun memilih untuk menuruti ucapan Alan karena ia tak ingin menunjukkan dirinya sedang tidur bersama dengan Alan.


Stop Azra! Bukankah saat ini aku sedang marah kepada Alan? Mengapa aku malah merasa sangat senang saat berada dalam dekapan Alan? Azra, sadar! Bang Delon jatuh koma lagi karena Alan! Jangan kamu lemah karena seorang pria!

__ADS_1


...πŸ₯•πŸ₯•πŸ₯•...


...BERSAMBUNG...


__ADS_2