
Keanu masih tak percaya mengapa saat ini ia menjadi pria yang tunduk pada seorang wanita. Bahkan ia rela melakukan apa saja demi membuat wanita itu bahagia. Jika dilihat dari kamus masa lalu, sikap Keanu saat ini tak terdaftar di dalam kamusnya. Bagaimana seorang Keanu yang biasanya menaklukkan para wanita, kini tiba-tiba tunduk pada seorang wanita yang sedang mengandung benihnya. Tentu saja perubahan Keanu sangat disayangkan oleh teman-temannya. Terlebih setelah Keanu menikah ia tak pernah lagi berkumpul bersama untuk menghabiskan malam panjangnya. Jangankan untuk bertemu, singgah sebentar ke basecamp saja Keanu sudah tidak pernah lagi.
Entah mengapa tiba-tiba Keanu sangat kepikiran dengan teman-teman sekaligus anak buahnya. Bahkan ia juga belum sempat mendengar kabar selanjutnya tentang Madam Re. Apakah wanita itu masih hidup atau sudah mati.
"Sepertinya aku harus menghubungi Angga." Keanu segera mengeluarkan ponselnya.
Tak butuh waktu lama sambungan panggilan itu diangkat oleh Angga. Sebuah kebetulan untuk Angga yang memang ingin menghubungi Keanu.
Karena tak memungkinkan untuk berbicara melalui sambungan telepon, Angga meminta sedikit waktu Keanu untuk bertemu. Karena saat ini Keanu sedang sibuk dengan segudang pekerjaan yang sudah berada di depan mata, ia pun memutuskan akan menemui Angga setelah pulang kerja. Berbagai pertanyaan muncul di pikiran Keanu. Mungkinkah saat ini ada sebuah masalah sehingga Angga ingin bertemu dengannya?
Setelah selesai menelpon Angga, Keanu pun segera menelpon Mouza dan mengatakan jika malam ini ia akan pulang malam, karena ada pekerjaan yang harus ia selesaikan.
"Semoga saja Mouza tidak berpikir macam-macam. Tuh anak kadang pikiran terlalu jauh. Bawaan curiga mulu," kata Keanu dengan helaan nafas panjang.
.
.
Saat ini Mouza dan juga kakek Wijaya sudah membuat janji dengan salah seorang wanita yang dianggap sudah lulus dalam seleksi pemilihan calon istri untuk Alan. Kini keduanya sedang menuju ke sebuah cafe yang telah ditentukan. Mouza berharap jika wanita itu sesuai dengan kriterianya.
Tepat di salah satu meja, mata Mouza menangkap wajah yang sudah ia kenali sebelumnya. Ternyata wajah aslinya tak kalah cantik dari foto yang ia lihat.
"Sepertinya itu dia, Kek," kata Mouza dengan tangan menunjuk ke salah satu meja.
Sang Kakek mempertajamkan lebih penglihatannya dan mengangguk pelan.
"Kamu benar, itu orangnya."
Tak ingin membuang waktu, akhirnya keduanya pun langsung menghampiri wanita yang telah menunggunya mereka.
"Selamat siang," sapa pakai Wijaya.
"Siang juga." Wanita itu pun langsung menyalami kakek Wijaya dan juga Mouza.
"Jadi bagaimana, apakah kamu benar-benar bersedia untuk menikah dengan cucuku?" tanya kakek Wijaya tanpa basa-basi.
Wanita cantik yang mempunyai senyum manis itu tersenyum lebar kepada kakak Wijaya dan juga Mouza.
"Tentu saja bersedia. Rezeki tak boleh ditolak, bukan begitu?"
__ADS_1
"Bagus. Aku suka dengan pemikiranmu. Satu lagi, jika kamu berhasil membuat bocah sialan jatuh cinta padamu, aku akan memberikan bonus lagi dengan catatan tidak ada kata perpisahan atau perselingkuhan selama kamu hidup dengan cucuku, bagaimana?"
"Dengan senang hati aku akan membuat cucu kakek tergila-gila denganku. Aku pastikan dalam waktu 6 bulan aku bisa menaklukkan cintanya."
Wanita yang penuh energi dan percaya diri. Mungkin nasibnya tidak jauh beda dengan Mouza, yang membedakan hanyalah wanita itu telah hidup sebatang kara tak memiliki siapa-siapa.
Dengan senang hati, wanita yang bernama Azra itu langsung menandatangani sebuah perjanjian yang pasti akan sangat menguntungkan dirinya. Bagaimana tidak dengan menikahi Alan, nasibnya akan berubah dan ia tak perlu lagi meme.ras keringatnya hanya untuk mengisi perutnya, karena setelah menikah nanti kehidupannya akan ditanggung oleh keluarga Alan.
"Oh iya, perkenalkan juga ini adalah cucu menantuku. Dia adalah istri dari kakaknya Alan. Mungkin mulai kalian bisa bekerja sama," ujar kakek Wijaya.
"Bekerja sama untuk apa, Kek?" tanya Mouza heran.
"Ya untuk menaklukkan pasangan kalianlah. Tidak mungkin juga kalian akan menaklukan hati Kakek. Kakek udah tua, meskipun masih kuat dan bertenaga tetapi hati Kakek hanya untuk mendiang istri kakek yang tiada duanya."
Seketika Mouza mende.sah kasar. Sama saja pikiran sang Kakek yang tidak beda jauh dengan Keanu.
.
.
Setelah pertemuannya dengan Azra siang tadi, Mouza semakin yakin jika Azra mampu menarik Alan yang hampir jatuh kelubang kesesatan. Wanita itu mempunyai semangat yang tinggi sebelum berperang. Semoga saja ia bisa melumpuhkan Alan secepatnya.
"Lo ngadu apa sama kakek?" tanyanya langsung.
"Lo ngomong apaan sih, Lan? Gue gak ngadu apa-apa sama kakek. Lepasin tangan gue!" sentak Mouza.
"Bohong, lo! Lo pasti dalang dibalik perintah kakek. Hayo ngaku!" bentak Alan.
Mouza menelan kasar salivanya. Ia yakin jika sang kakek telah memberitahu Alan tentang pernikahannya dengan Azra yang tidak meminta persetujuan dahulu kepada Alan. Dan yang lebih parah lagi sang kakek menginginkan pernikahan itu dilaksanakan secepatnya.
"Gue nggak ngomong apa-apa sama kakek. Emang lo disuruh ngapain sama kakek?" tanya Mouza yang pura-pura tidak mengetahui inti permasalahannya.
Seketika tangan Alan melepaskan cengkramannya. Tanpa sepatah kata ia berlalu meninggalkan Mouza begitu saja.
"Dih, dasar Alan sialan! Sakit tahu!" gerutu Mouza dengan kesal.
Rasanya makan tanpa hadirnya sang suami membuat Mouza kehilangan selera makannya. Karena tak bersemangat, siapa memutuskan untuk meninggalkan meja makan meskipun belum menyentuh makanannya. Tentu saja sang kakek merasa heran dan langsung menanyakan ada apa dengan Mouza.
"Jangan bilang kamu telah melakukan sesuatu kepada Mouza, sehingga dia tidak ingin melihatmu," tuduh sang kakek kepada Alan.
__ADS_1
Alan yang sedang mengunyah langsung menelan kasar makanannya. "Iya, salahkan terus saja aku, Kek. Anggap saja aku pembuat masalah," ujar Alan kesal.
"Jadi kakek mau menyerahkan siapa? Tidak mungkin kakek menyalahkan Keanu yang tidak ada di rumah. Jujur kamu apakan dia!" desak Kakeknya.
Alan membuang kasar nafas beratnya. Ia tidak mengerti mengapa sang kakek lebih menyayangi Mouza ketimbang dirinya yang jelas-jelas adalah cucu kandungnya sendiri.
"Kek, sebenarnya cucu kakek itu aku atau Mouza? Mengapa kakek lebih peduli kepada wanita itu daripada peduli kepadaku. Apa salahku sehingga kakek tidak percaya padaku bahwa aku tidak berbuat apa-apa kepada Mouza. Mungkin saja saat ini suasana hatinya sedang tidak baik karena suaminya belum pulang," ucap Alan dengan rasa kesal.
Kakek Wijaya hanya terdiam dan memilih untuk melanjutkan mengunyah kembali. Seharusnya ia tidak langsung menuduh Alan karena bisa jadi saat ini Mouza sedang kesal karena suaminya yang tak kunjung pulang. Namun, sebagai penguasa di rumah, maka ia tak peduli dengan kesalahannya yang langsung menuduh Alan begitu saja.
Untung saja dia kakek gue, kalau sempat kakek orang udah gue giling. Dasar pria tua yang mau memang sedikit, rutuk Alan dalam hati.
Hampir 3 jam Mouza menunggu Keanu yang tak kunjung pulang. Meskipun sang suami telah mengirimkan pesan, tetapi hati Mouza tetap merasa khawatir. Bukan khawatir tentang menanam ubi bersama dengan wanita lain, tetapi ia khawatir jika terjadi sesuatu hal buruk kepada suaminya. Terlebih Mouza sempat mendengar berita Madam Re yang sudah bebas. Sudah dipastikan jika wanita itu akan mengincar suaminya.
Baru saja ingin menarik selimutnya, telinga Mouza mendengar suara mobil memasuki halaman rumah. Ia yakin jika itu adalah Keanu. Dengan cepat Mouza langsung keluar kamar untuk menyambut yang suami.
Saat pintu dibuka oleh Mouza, terlihat wajah Keanu yang sudah berantakan dengan wajah yang sedikit lebam.
"Abang kenapa?" tanya Mouza panik.
Namun, saat hendak menyentuh wajah Keanu, hidung Mouza kembali mencium aroma yang menyengat. Kali ini bukan aroma bunga raflesia, tetapi aroma minuman beralkohol.
"Abang minum lagi?"
.
.
...π₯π₯π₯...
...BERSAMBUNG...
sambil menunggu novel ini update kembali mampir dulu yuk ke novel temen aku π
Judul novel : FIONA
author : Lili Anti
__ADS_1