
Terpaksa Keanu harus menghentikan rapat yang baru saja dimulai karena mendapat kabar jika sang istri sudah akan melahirkan. Ia tak ingin membuang banyak waktunya agar bisa segera sampai di rumah sakit. Tidak Lucu jika sang istri melahirkan ditemani oleh mantan pacarnya yang tak lain adalah adiknya sendiri.
Dengan kecepatan tinggi, Keanu terus melajukan mobilnya tanpa sedikitpun rasa takut. Ia hanya berharap jika bisa melihat baby-nya dengan selamat.
"Za, tunggu aku. Sebentar lagi aku sampai di rumah sakit. Jangan sampai kamu melahirkan ditemani oleh bocah sialan itu. Aku suamimu, dan aku yang harus melihat anak kita keluar, Za!"
Sebisa mungkin Keanu terus melaju agar bisa segera sampai di rumah sakit. Sungguh ia merasa tidak ikhlas jika Alan menemani istrinya mengeluarkan buah cinta yang ia semai dengan keringat bercampur kenikmatan.
Disisi lain Mouza yang sudah dinyatakan hampir langkah pembukaannya, terus mendesak Alan agar suaminya segera sampai untuk menemaninya saat mengeluarkan buah cinta mereka.
"Lan, mana Bang Ke? Gue udah mau mengeluarkan anaknya!" tanya Mouza untuk kesekian kalinya.
Alan hanya bisa mende.sah kasar. Katakanlah saja jika hari ini adalah hari tersial baginya karena harus menjaga mantan pacarnya untuk melahirkan.
"Bang Ke masih dijalan. Bentar lagi juga sampai," kata Alan.
"Dari tadi lo bilang udah dijalan, tapi kenapa nggak sampai-sampai?" protes Mouza.
"Ya, karena baru gue kasih tahu, Za!"
Mendengar jawaban Alan, membuat mata Mouza mendelik dengan lebar. "Apa lo bilang, Lan? Baru lo kasih tahu? Jadi dari tadi lo ngapain aja, Lan? Padahal sejak dari rumah gue udah kasih tahu lo buat ngabarin suami gue! Dasar lo emang sialan!" geram Mouza pada Alan.
Meskipun sedang merasakan kontraksi, Mouza masih menyempatkan diri untuk mengeluarkan amarahnya pada Alan yang bertindak sesuka hatinya. Disaat seperti ini ia masih sempat menunda untuk memberi kabar kepada Keanu jika dirinya hendak melahirkan.
Sang dokter yang sedang menemani Mouza mencoba mengingatkan agar Mouza bisa mengontrol semua emosinya, karena itu bisa mempengaruhi proses persalinannya nanti.
"Dok, apakah masih lama bayinya keluar? Aku udah gak tahan lagi, Dok! Sakit banget rasanya!" keluh Mouza sambil meringis karena rasa kontraksi yang datang.
"Mudah-mudahan tidak lama lagi ya, Bu. Hanya tinggal satu bukaan lagi," ucap sang dokter.
"Tapi sakit banget, Dok!"
"Kalau masih kuat, boleh dibawa jalan-jalan dulu agar biar cepat terbuka lagi," saran dokter.
__ADS_1
Masih dengan menahan rasa sakit, Mouza mendelik ke arah dokternya. "Ya benar aja, Dok. Nanti kalau buat jalan-jalan terus tiba-tiba anaknya brojol, gimana?"
Dokter tersenyum pada Mouza. "Tidak akan, Bu. Saya akan memantau Anda."
"Lo pikir mau ngelahirin anak kucing, yang tiba-tiba langsung bisa brojol? Pintar dikit napa, Za!" protes Alan yang sudah duduk di sebuah sofa lagi.
"Ya kali aja kan, Lan! Gue kan belum pernah melahirkan!"
Tak peduli bagaimana dengan rasa kontraksi yang datang, tetapi saat berdebat dengan Alan rasa sakitnya hampir tak terasa.
Mouza menuruti ucapan Dokter untuk jalan-jalan, tetapi hanya diizinkan di dalam ruangan saja.
"Lan, tolongin gue napa?" rengek Mouza yang hendak turun dari ranjang pasien.
Alan mengernyit. "Gue lagi, gue lagi. Kan ada Dokter disamping lo, Za!"
"Tapi gue gak mau! Gue maunya sama lo!"
"Dari mulai ngidam sampai mau lahiran, kenapa lo selalu nyusahin gue sih, Za! Bilang aja lo mau ngerjain gue, iya kan?" tuduh Alan kesal.
"Dok, bisa bantu aku?" Mouza pun akhirnya meminta bantuan pada dokter yang berada di sampingnya, tetapi mata Mouza terus menatap kearah Alan yang juga sedang mengamatinya.
Saat ini rasa yang pernah ada untuk Mouza benar-benar telah mati. Mungkin karena tempat itu sudah ditempati oleh Azra, sehingga tak ada tempat lain lagi untuk Mouza. Bahkan beberapa minggu terakhir ini Alan merasa tidak suka dengan Mouza. Kadang melihatnya saja sudah merasa mual. Apakah itu juga tanda-tanda jika anak Mouza sedang tidak menyukainya?
Alan memilih acuh pada Mouza yang mondar-mandir berjalan di depannya. Karena malas untuk melihat wajah Mouza, Alan pun memilih untuk tiduran di sofa, tanpa peduli sedang berada dimana dirinya.
Tak berapa lama terdengar suara pintu ruangan dibuka oleh seseorang. Sosok yang sudah ditunggu akhirnya datang juga. Dengan senyum yang merekah, Mouza berusaha berjalan untuk mendekat ke arah Keanu. Namun, dengan cepat Keanu memberi syarat agar Mouza diam ditempat.
"Sayang, kamu ngapain malah jalan-jalan? Nanti kalau anak kita mendadak keluar bagaimana?" panik Keanu.
Mendengar suara lebay dari kakaknya, Alan hanya bisa men.desah kasar. "Dasar suami-istri satu paket! Sama-sama bodoh berlebihan! Percuma sekolah bertahun-tahun kalau masalah kayak gitu aja nggak tahu!" cibir Alan dengan mata yang masih terpejam.
Mata Keanu langsung mengarah ke sebuah sofa, dimana sosok Alan berada.
__ADS_1
"Bocah itu masih disini?" tanya Keanu.
"Kan tadi Abang sendiri yang bilang kalau Alan harus nungguin aku sampai Abang datang, gimana sih?"
Keanu yang lupa hanya tertawa dan langsung menyuruh Mouza untuk berbaring lagi ke atas ranjan rumah sakit.
Mungkin para kecebong yang telah menjelma menjadi sosok anak yang sudah sempurna itu mendengar doa Daddy-nya, sehingga mereka akan keluar jika Daddy-nya telah sampai. Benar saja tidak sampai tiga menit Keanu mendampingi Mouza, pembukaan sudah sempurna.
"Tarik nafas β¦ buang pelan-pelan," saran dokter saat kontraksi datang.
Dengan patuh Mouza mengikuti saran dari dokternya. "Bang, kapan anak kita keluar? Sakit banget! Aku gak kaut lagi, Bang." Mouza sudah hampir menyerah ketika belum bisa mengeluarkan bayinya.
"Sabar, Sayang. Kamu pasti bisa. Kata dokter dikit lagi."
Ini adalah kali pertama Keanu melihat secara langsung bagaimana proses melahirkan. Ternyata tak seperti yang ia bayangkan, sekali tarik nafas langsung keluar.
"Ayo Bu, sudah mulai terlihat kepalanya," ucap sang dokter untuk menyemangati Mouza yang hampir menyerah.
Mouza terus mengikuti apa yang disarankan oleh dokter. Dimana saat dirinya disuruh untuk mengejan. Sebenarnya, Keanu sudah menyarankan kepada Mouza untuk melahirkan secara sesar, tetapi Mouza menolak dan menginginkan untuk melahirkan secara normal, meskipun sangat besar resikonya, terlebih ini adalah anak pertamanya.
Alan dan kakek yang menunggu di luar ruangan merasa sangat gelisah, ketika telinga mereka belum mendengar suara tangisan bayi dari dalam. Itu artinya Mouza belum mengeluarkan pewaris keluarganya.
"Mengapa lama sekali, sih? Aku sudah tidak sabar untuk menggendong cicit. Selain itu aku juga tidak sabar untuk membuat syukuran atas kelahirannya. Aku tidak menyangka di usiaku yang hampir disapa oleh malaikat Izrail ini masih diberi kesempatan untuk menggendong cicit," ujar sang kakek dengan rasa tidak sabar.
"Kakek mau membuat syukuran untuk anak Bang Ke, atau untuk Kakek sendiri? Bilang aja kalau mau menunjukkan kepada dunia jika Kakek masih berumur panjang," timpal Alan yang berdiri di samping Kakeknya.
"Kamu memang cerdas! Beruntung saja aku tak memasukkanmu ke rumah sakit jiwa saat itu, karena aku yakin kamu belum parah," ujar Kakeknya lagi.
Mata Alan membulat. "Jadi Kakek menganggapku gila?" tanyanya dengan mengernyit.
"Sedikit."
...π₯π₯π₯...
__ADS_1
...BERSAMBUNG...
Othor ucapin makasih atas saran nama untuk anak Bang Ke, ya π₯°