
Bagi Kenza ucapan yang nylekit sudah biasa ia dengarkan dari bibir pedas Daddy si Alan-nya. Namun, setelah Kenza mengetahui Daddy si Alan-nya telah memiliki anak dan istri, seakan ucapan itu menusuk dadanya. Tanpa ingin menatap Alan, Kenza melewati begitu saja saat hendak melihat bagaimana keadaan kakek uyutnya.
Rasanya begitu canggung saat harus berhadapan dengan Ellena dan jugu Mommy-nya.
"Kakek Uyut udah sembuh?" tanya Kenza.
Bibir kakek Wijaya terangkat tipis sambil mengelus rambut Kenza. "Uyut udah sembuh. Oh iya, Uyut ada kabar baik. Istri dan anak Daddy si Alan sudah kembali pulang. Uyut yakin kamu sudah mengenalnya bukan? Ellen, kemarilah!" tangan Kakek Wijaya melambai pada Ellena yang berada samping Azra.
Azra pun memberikan isyarat kepada anaknya agar mendekat kepada kakek Uyutnya.
Senyum sang kakek melebar saat dua orang cicit berdiri berdampingan. Memiliki tinggi yang sama dan sama-sama cantik. Bahkan jika saat berdampingan, sekilas wajah mereka hampir mirip.
Tangan kakek Wijaya langsung menyatukan tangan Kenza dan juga Ellena. "Uyut berharap kelak kalian hidup rukun. Ellen, dia adalah Kenza, yang sudah berjasa dalam hidupnya Daddy-mu. Kelak jika Daddy-mu mencurahkan kasih sayangnya kepada Kenza, kamu jangan merasa iri dan tersaingi. Begitu juga kamu Eza. Ellena adalah anak kandung dari Daddy si Alan. Jikapun dia mencurahkan kasih dan sayangnya, kamu jangan merasa iri. Meskipun saat ini Daddy si Alan sudah menemukan keluarganya, Uyut berharap kamu tidak menjauh. Tetaplah seperti biasanya. Anggap Ellena adalah saudaramu. Begitu juga kamu Ellen, anggaplah Eza saudaramu," pesan kakek Wijaya kepada dua cicitnya.
"Uyut tenang saja, Eza tidak akan merasa iri dengan Ellen dan cinta Eza pada Daddy Alan tidak akan berubah. Tapi untuk saat ini Eza ingin pulang ke rumah Daddy dan Mommy. Eza ingin menjaga Mommy, Uyut. Terlebih saat ini Mommy sedang mengandung adiknya Eza. Eza ingin menemani Mommy," ucap Kenza dengan mantap.
"Uyut tidak bisa melarangmu, karena bagaimanapun kamu juga masih memiliki Daddy dan Mommy. Apapun keputusan yang kamu ambil, Uyut akan menghargainya," balas kakek Wijaya.
"Terima kasih Uyut. Kalau begitu, Eza akan beresin kamar Eza dulu." Kenza pun terlalu dari kamar kakek Uyutnya tanpa ingin menatap ke arah Alan.
Sepeninggal Kenza, Keanu pun mendekat. Sebagai seorang ayah, Keanu sangat peka akan perasaan Kenza yang sedang kecewa.
"Kakek, saat ini Azra sudah pulang bersama dengan Ellena. Rumah ini tidak akan sepi meskipun tidak ada Eza. Kakek jangan berpikir macam-macam karena saat ini Eza belum bisa berpikir dewasa dan masih terbawa suasana perasaannya. Tapi setidaknya Ke merasa bahagia karena Eza mau kembali kepada kami," ucap Keanu pada Kakeknya.
Detik kemudian Keanu menatap kearah Azra yang berada di seberangnya. "Azra, terima kasih karena kamu telah kembali pulang. Berkat kamu, aku bisa diakui ayah oleh anakku. Mengapa kamu tak pulang sedari dulu? Asal kamu tahu, hampir 7 tahun aku tak diakui oleh Kenza. Tapi syukurlah, saat ini anak itu mau mengakuiku."
__ADS_1
Azra yang ditatap Keanu merasa sangat bersalah. Antara bahagia dan juga bersedih. Azra bahagia karena Kenza akan pulang ke rumah orang tuanya, tetapi dia bersedih dengan kehadirannya yang secara tiba-tiba membuat Kenza terpaksa meninggalkan tempat yang selama ini menjadi tempat tinggalnya.
"Kamu tidak usah merasa bersalah ataupun bersedih karena aku benar-benar merasa sangat bahagia saat anakku mau pulang ke rumahnya," lanjut Keanu lagi.
"Tapi Bang ... tetap saja aku merasa tidak enak bekerja Eza. Aku tahu saat ini hatinya sangat terluka. Tapi aku berjanji, jikapun Eza tinggal disini, aku akan merawat dan mencintai layaknya anakku sendiri."
"Sudahlah, intinya kamu jangan merasa bersalah karena keputusan Eza. Ya sudah, aku akan melihat anak itu dulu ya."
Sepeninggal Keanu, tubuh Alan masih membeku. Bahkan dadanya terasa berdenyut manakah monster kecilnya memutuskan untuk pulang ke rumah orang tuanya. Seharusnya Alan merasa sangat bersyukur karena keinginannya selama ini terkabulkan. Ia tak perlu susah payah lagi membujuk Eza untuk pulang. Namun, nyatanya hati Alan seperti tersayat dengan keputusan yang diambil oleh Kenza. Terlebih saat Kenza sama sekali tidak menatapnya.
"Lan!" panggil kakak Wijaya. "Keinginanmu sudah terwujud. Ternyata monster kecil itu menyerah dengan sendirinya. Selamat kamu telah menang."
Seketika dunia Alan seakan runtuh kembali, meskipun istri yang dinantikan telah pulang. Tiba-tiba Alan merasa tidak rela jika Kenza pulang ke rumah Keanu.
Kepala Azra mengangguk pelan begitu juga dengan Ellena.
"Oke Dadd."
Dengan setengah berlari Alan langsung menuju ke kamar Kenza. Ternyata saat dia ndak masuk, Kenza telah siap untuk meninggalkan kamarnya.
"Za, kamu serius mau ninggalin rumah ini?" tanya Alan yang ingin memastikan lebih jelas lagi, meskipun sudah sangat jelas jika Kenza memang ingin pulang ke rumah orang tuanya.
"Ya, aku serius."
"Za, kamu marah?"
__ADS_1
Kenza terpaksa menyunginkan senyum di bibirnya. "Aku tidak marah. Aku hanya merasa kasihan dengan Mommy yang setiap hari merindukanku. Aku harap Daddy tidak mengulangi kepada Daddy yang menyia-nyiakan Aunty Azra. Kesempatan itu tidak akan pernah datang dua kali. Jadi gunakan kesempatan ini sampai kemungkinan." Kenza memberikan pesan kepada Alan.
"Kamu pasti bohong ! Aku tahu kamu marah. Za, please jangan pulang. Tetaplah disini!"
"Eza harus pulang Dadd. Anggap saja tugas Eza telah usai. Daddy sudah menemukan keluarga Daddy. Dan Eza juga harus kembali kepada keluarga Eza. Sampai kapanpun Daddy Alan akan tetap menjadi Daddy Eza. Maafkan jika selama ini tingkah Eza selalu membuat Daddy selalu marah."
Kali ini dengan sejuta rasa sesal, Alan berjongkok untuk menyamakan tingginya dengan Eza. "Za, maafkan setiap kata yang terucap dari bibir ini. Bukan tidak sayang, tapi begitulah caraku menyayangimu. Za please jangan pergi."
"Tidak Dadd. Eza harus pulang. Daddy jaga kesehatan, jangan sering-sering begadang. Sekarang ada Ellena yang akan mengisi hari-hari Daddy."
Tangan Kenza mendorong tubuh Alan yang masih memeluk. "Maaf Dadd, Eza harus pulang."
Alan hanya membeku saat tangan kecil itu kini menggandeng tangan Keanu. Padahal biasanya dia-lah yang akan digandeng oleh Eza kemanapun ia pergi.
"Eza ... "
.
.
...TAMAT...
Halo-halo ... teh ijo ingin mengucapkan banyak terima kasih atas dukungan yang telah kalian berikan untuk novel ini. Dengan berat hati teh ijo memutuskan mengakhiri cerita ini sampai di sini. Rasanya berat, tapi mau bagaimana lagi hampir 3 bulan tidak ada perkembangan untuk novel ini. Sudahlah, mungkin belum hoki.
Pokoknya teh ijo ucapkan terima kasih kepada pembaca setia novel ini. Cium Jauh untuk kalian semua π
__ADS_1