Kau Khianati Aku, Ku Nikahi Kakakmu

Kau Khianati Aku, Ku Nikahi Kakakmu
Bab 61 | Pembinor


__ADS_3

"Lo ngapain nempelin gue kayak gini sih, Za?! Bang Ke liat gue bisa kena cincang!" protes Alan yang sejak tadi dikintilin Mouza. Bahkan Mouza juga merengek untuk berangkat bersama Alan.


"Gue juga gak tahu kenapa gue pengen ngintilin lo. Gak tahu kenapa hari ini, gue tuh pengen liatin wajah lo, yang sebenarnya bikin gue enek!"


Alan terpaksa menghentikan langkahnya dan menetap Mouza. Ia mendengus pelan. "Disaat gue udah move on dari lo, jangan pancing gue buat berharap lagi, jika lo gak mau gue jadi pembinor dalam rumah tangga kalian!"


"Coba aja biar kena cincang sama Bang Ke," ujar Mouza seolah tanpa rasa bersalah.


Alan hanya bisa mengacak kasar rambutnya yang telah ia sisir tapi karena geram dengan sikap Mouza.


'Sabar Alan, kata kakek lo harus sabar saat menghadapi bumil yang labil. Anggap aja ini ujian.' Alan mengelus pelan dadanya.


"Ya udah, sekarang lo masuk kelas sana! Gue mau ketemu sama temen gue!"


Mouza kembali mengerucutkan bibirnya dan menggeleng pelan. "Gak mau! Gue mau ikut lo aja!"


"Astaga, Oza! Bisa gak sih gak buat gue pagi-pagi naik tensi. Coba aja lo manja pas kita masih pacaran, langsung gue cium lo. Sayangnya pas pacaran lo gak mau gue cium! Sekarang mau cium tapi dah bekas Bang Ke."


"Dari pada lo bekas sarden Mili yang kayak ondel-ondel. Asal lo tahu aja goyangan gue gak kalah hebat dari sardar Mili itu, tanya aja sama Bang Ke."


Kali ini rasanya Alan ingin tenggelam daripada harus menanggapi celotehan Mouza yang semakin tidak jelas. Sebenarnya tidak heran jika pikiran Mouza sudah lebih satu ons, itu karena telah terkontaminasi oleh virus mecumnya Keanu.


"Dah ah, pusing gue punya ipar lo!" Akhirnya Alan memilih untuk menuju kelas, meskipun sebenarnya ia ingin menemui temannya di kantin.


Sepeninggal Alan, Mouza merasa bingung sendiri dengan keinginan hatinya yang tiba-tiba saja ingin berada di dekat Alan. Padahal sudah jelas jika ia tidak masih memendam rasa kesal pada mantan kekasihnya itu.


"Duh, ngapain juga sih gue ngintilin bocah sialan itu? Ingat Mouza, dia itu masa lalu sekaligus ipar. Jangan ngadi-ngadi deh!" gerutu Mouza dalam hati.

__ADS_1


.


.


Hampir setengah hari berkutat dalam materi yang diberikan para dosen, akhirnya Mouza bisa bernapas lega saat kelasnya telah usai. Saat ini matanya berkeliaran untuk mencari keberadaan Alan yang tak terlihat oleh matanya. Katakan saja saat ini dia terlalu lebay dengan hatinya yang ingin melihat wajah mantan kekasihnya itu.


Baru saja hendak keluar kelas, tiga wanita telah menghadang langkahnya. Siapa lagi jika buka Iren dan teman-temanya.


"Ngapain lo disini, minggir!" ketus Mouza.


Iren acuh. Ia malah tertawa sinis saat melihat Mouza emosi padanya.


"Gue baru tahu kalau lo itu hanya wanita murahan. Udah dapatin kakaknya tapi masih juga lo embat adiknya. Dasar wanita murahan!" cibir Iren dengan sinis.


"Ternyata bedak Lo tebel juga ya, masih kuat nongol dihadapan gue? Ini nih bibit wanita murahan tapi ngatain orang murahan. Kalau lo dicuekin sama Alan berarti lo gak menarik. Sadar sedikit dong, wajah pas-pasan ngebet pengen dapatin hati Alan. Gue kasih tahu ya, selera Alan itu tinggi, contohnya kayak gue. Meskipun hubungan kita udah berakhir, tetapi Alan belum bisa move on sama gue, karena dia tahu mana bibit berkualitas tinggi dan mana bibit yang berkualitas rendahan, sampai sini lo paham? Bibir gue dah kering nih!" ujar Mouza panjang lebar.


"Lo—" Tangan Iren sudah mengudara hendak menampar pipi Mouza. Namun, matanya terbelalak ketika ada tangan yang menahan tangannya.


"Alan," ucapnya dengan terkejut. Ia tak menyangka jika Alan akan datang tepat waktu untuk menghentikannya.


"Lo tahu siapa yang mau lon tampar? Dia adalah cucu menantu kesayangan pemilik kampus. Jika kalian tak ingin dikeluarkan dari kampus mending jaga sikap kalian!" ancam Alan.


Saat itu juga Iren menunduk dengan rasa takut Apa jadinya jika ia dikeluarkan dari kampus, pasti hanya akan membuat aib untuk keluarganya dan akan membuat orang murka.


"Lepasin tangan gue!"


"Gue akan lepasin kalau lo minta maaf dulu sama Mouza!"

__ADS_1


Iren mendengus dengan kesal. Tidak mungkin seorang Iren akan meminta maaf kepada Mouza dari kalangan rakyat biasa sedangkan dirinya dari kalangan berada. Jika itu terjadi maka hancurlah reputasi yang ia miliki.


"Gak! Gue gak sudi minta maaf sama wanita murahan ini!" tolak Iren dengan tatapan sinis kearah Mouza.


"Aduh, sakit Lan!" Iren meringis kesakitan ketika Alan mencengkeram tangannya dengan kuat.


"Iya, iya. Gue minta maaf, tapi lepasin tangan gue! Sakit tahu!"


"Lo minta maaf dulu baru gue lepasin!"


Dengan perasaan yang sangat berat akhirnya Irene mengucapkan kata maaf kepada Mouza. Bahkan tanpa disadari oleh Iren, beberapa mahasiswa lainnya telah mengepung dan menyaksikan permintaan maaf Iren pada Mouza. Tentu saja hal itu sangat menghebohkan warga kampus. Selama ini mereka mengenal Iren adalah sosok yang angkuh karena latar belakang keluarganya. Namun, siapa yang menyangka jika hari ini ia akan mengucapkan kata maaf kepada Mouza.


"Sekarang udah puas kan? Cepat lepasin tangan gue!"


Seketika Alan melepaskan cengkraman tangannya yang meninggalkan bekas merah di pergelangan tangan Iren.


"Awas aja, gue bakalan balas apa yang udah lo lakuin ke gue, Lan!" ancam Iren pada Alan. "Minggir kalian semua!" bentak Iren pada kerumunan yang ada.


Setelah kepergian Iren, Mouza langsung mengejar Alan yang juga meninggalkan dirinya, karena ia ingin berterima kasih.


"Lan, tungguin!" kata Mouza dibelakang langkah Alan.


"Gue mau nongkrong sama temen-temen gue, jadi gak bisa nganter lo pulang! Lo pikir gue sopir ojol yang bisa antar jemput lo!"


Mouza mengernyit. Siapa juga yang ingin diantar pulang? Dia hanya ingin berteri makasih saja.


"Kepedean lo, Lan! Siapa juga yang mau minta dianterin pulang sama Lo! Gue cuma mau bilang makasih!" ucap Mouza dengan kesal.

__ADS_1


"Dah, jangan ganggu gue lagi dan jangan paksa gue untuk jadi pembinor!"


__ADS_2