
Alan hanya bisa mengikuti mobil yang dikendarai oleh Angga dari belakang. Meskipun kepalanya terasa mendidih. Jika bisa ia akan segera mengompresnya dengan batu es agar terasa lebih dingin.
"Jangan sampai Bang Angga punya niatan untuk memiliki Azra. Sebelum itu terjadi aku harus mencegahnya."
Mata Alan masih fokus pada mobil didepannya yang terus melaju menuju ke sekolahan. Sudah pasti jika saat ini Angga mengantarkan Elenna ke sekolah. Seketika pikirannya terbayang pada Kenza yang sedang membuat ulah di rumah orang tuanya. Sudah dipastikan Mouza dan Keanu tidak akan bisa menanganinya, karena sejak bayi hanya Alan-lah pawangnya Kenza.
"Kasihan juga tuh bocah." Alan melirik kursi yang saat ini sedang kosong. Padahal disitulah setiap pagi Kenza berceloteh.
Terlihat dengan jelas mobil yang ada didepannya saat ini telah berhenti di dapan gerbang sekolah. Sosok Azra langsung turun dari mobil bersama dengan Elenna. Lagi-lagi Alan hanya bisa membuang nafas kasarnya saat sosok Angga juga ikut turun untuk mengantarkan Elenna kedalam.
Suara ponselnya lagi-lagi memutuskan lamunannya. Ia pun segera mengangkat ketika melihat nama yang mengambang di layar ponselnya.
"Ada apa lagi?" tanya Alan setelah mengangkat panggilan teleponnya.
"Daddy where are you? Please pick me up I don't want to be here!" Suara Kenza terdengar begitu melengking ditelinga Alan. Dengan cepat Alan menjauhkan ponsel dari telinganya saat suara Kenza meneriakinya lagi dengan menangis.
"Astaga, monster ini!" gerutu Alan sambil mende.sah dengan kasar.
"Daddy dengar gak sih? Kalau Daddy gak jemput aku sekarang, aku mau pulang sendiri!"
"Kamu mau pulang ke mana? Disitulah rumahmu! Sorry Za, kali ini aku tidak bisa menjemputmu. Aku sedang berjuang untuk masa depanku!" balas Alan.
"Daddy jahat!" teriak Kenza dari balik telepon sebelum panggilan terputus.
Alan hanya bisa mende.sah dengan kasar. Meskipun terasa sangat berat, Alan tetap harus mengutamakan untuk bertemu dengan Azra. Masalah Kenza bisa ia atasi setelah dirinya menyelesaikan masalahnya dengan Azra.
"Eza, sekali lagi aku minta maaf."
🌸🌸🌸
Alan masih terus mengikuti mobil Angga berjalan, hingga mobil itu masuk ke sebuah cafe milik Angga. Cukup lama Alan berada di dalam mobilnya tanpa ingin turun. Sebenarnya Alan merasa penasaran mengapa Angga mengajak Azra ke cafenya. namun lama kelamaan pertanyaan di dalam hatinya terjawab saat melihat Azra telah mengenakan seragam pelayan. Itu artinya saat ini Azra sedang bekerja di cafe milik Angga.
"Sabar Alan," ucapnya yang memberanikan diri untuk turun dari mobilnya.
Karena suasana masih pagi, belum ada satupun pelanggan yang datang karena cafe juga baru dibuka. Saat kaki Alan telah masuk kedalam, dadanya terus bergerumuh saat melihat Azra membersihkan meja pengunjung.
__ADS_1
"Alan," sapa Angga yang sangat terkejut saat melihat Alan tiba-tiba nongol di cafenya.
"Bang Angga," balas Alan.
"Tumben pagi-pagi kesini? Ada apa?" tanya Angga yang merasa sangat penasaran dan mengajak Alan untuk ke ruangannya, tetapi Alan langsung menolaknya dan memilih untuk duduk diluar.
"Bang Angga sejak kapan punya karyawan cantik seperti dia?" tanya Alan dengan mata yang terus menatap ke arah Azra.
Angga mengikuti ekor mata Alan. Ia tersenyum tipis. "Baru juga dua hari. Dia memang cantik. Sayangnya ada orang yang tak bisa melihatnya cantik dan malah menyia-nyiakan. Kasihan sekali masih muda sudah menjadi janda," ujar Angga.
"Kasihan sekali. Memangnya suaminya kemana, Bang?"
"Katanya sih mati ketabrak kereta api saat dia sedang hamil. Kasihan sekali anaknya masih kecil sudah menjadi anak yatim. Menurutmu gimana cocok nggak dia menjadi kakak iparmu?"
Mata Alan langsung terbelalak saat mendengar pernyataan Angga yang ternyata berencana untuk memiliki Azra.
Kalau boleh jujur Bang Angga gak cocok, Bang Angga terlalu tua untuknya. Tapi kalau untukku, baru cocok," celetuk Alan.
"Mana bisa seperti itu, Lan. Kan aku duluan yang dapat. Bukanya masih mengharapkan istrimu kembali? Jangan serakah, Lan!"
"Gak bisa seperti itu dong, Lan! Kan aku duluan yang menemukan!" Angga masih mempertahankan keinginannya.
"Meskipun bang Angga yang pertama kali menemukannya tetapi aku yang pertama kali membuka segel keperawanannya, Bang!"
Mata Angga menatap tajam ke arah Alan yang terlihat sangat santai. "Maksud kamu? Dia manta ulat bulu?"
"Sembarang! Jaga mulut Bang Angga! Dia wanita baik-baik."
"Lalu kenapa kamu bisa membuka keperawanannya?" tanya Angga yang masih bingung.
"Ya, karena dia istriku yang kabur, Bang!"
"Apa!" pekik Angga dengan terkejut.
Tubuh Angga terasa lemas tak berdaya saat mendengar pengakuan Alan jika Azra adalah istri Alan yang sedang kabur. Jika seperti itu kenyataan, tak ada celah sedikitpun untuk memiliki Azra.
__ADS_1
"Jadi apakah Bang Angga masih ingin mencoba untuk memiliki istri orang lain?" tanya Alan dengan alis yang mana.
Angga pun segera menggelengkan kepalanya. "Tidak. Jika aku tahu dia adalah istrimu yang, aku tidak akan pernah berani untuk tertarik padanya. Sorry, aku benar-benar tidak tahu jika dia adalah istrimu yang sedang kabur."
"Ya, memang harus seperti itu Bang. Kalau Bang Angga masih nikah juga untuk memiliki Azra, berarti Bang Angga sudah siap untuk berhadapan dengan Bang Ke."
Berulang kali Angga mengatakan tidak kepada Alan, berharap sarapan ini bisa segera diluruskan. Jika tidak, Tamatlah jika harus berhubungan dengan Keanu, Bosnya sendiri.
"Saat ini penyakit Kakek sedang kambuh, bisakah aku yang minta tolong kepada Bang Angga?"
"Apapun yang kamu butuhkan, aku pasti akan menolongmu, Lan. Katakan apa yang bisa aku lakukan?"
🌸🌸🌸
Didalam sebuah ruangan yang sunyi hanya ada dua insan yang masih saling membisu. Keduanya masih enggan untuk menyapa. Padahal sebelumnya nyali Alan sangat besar. Namun, saat telah berharap dengan Azra semuanya hilang begitu saja. Hanya detak jantung yang terus berdebar.
"Sebenarnya apa yang ingin kamu bicarakan, Lan? Saat ini kita sudah tidak memiliki hubungan apa-apa, karena kita telah bercerai," ucap Azra yang sudah lelah dengan suasana sunyi itu.
"Sebenarnya banyak yang ingin aku bicarakan tetapi aku tidak aku hanya ingin mengambil intinya saja. Aku hanya ingin mengatakan jika saat ini Kakek sedang kritis di rumah sakit. Dia terus menyebut namamu. Aku tidak tahu kapan malaikat itu akan menjemput kakek. Jika kamu berkenan tolong jenguk dia meskipun hanya sebentar. Kakek benar-benar sangat merindukanmu, Zra. Selama kamu pergi Kakek sangat kehilangan, terlebih saat tidak bisa melacak gimana keberadaanmu berada. Namun, jika kamu tidak mau, tidak apa-apa. Aku tidak akan memaksamu," ucap Alan panjang lebar.
Azra sangat terkejut saat mendengar jika kakek Wijaya sedang kritis di rumah sakit. Menyadari kesalahan yang telah ia lakukan, tanpa menolak Azra tersedia untuk menjenguk kakek di rumah sakit.
Akhirnya umpan sudah masuk ke perangkap juga. Tunggu selangkah lagi masuk kandang. batin Alan dengan senyum tipis yang mengembang di bibirnya saat melihat wajah Azra sangat khawatir.
Sebenarnya ingin sekali Alan menodong Azra dengan berbagai pertanyaan, kemana selama ini dirinya pergi dan mengapa menyembunyikan kehamilan darinya. Namun, untuk saat ini Alan memilih untuk kura-kura dalam perahu. Karena Alan tahu jika dirinya memaksakan keinginan saat ini hanya akan membuat Azra menjauh. Alan yakin cepat atau lambat ia bisa menggenggam Azra kembali dengan catatan sabar!
"Lan, maaf aku tak pernah memberikan kabar kepada kalian, terlebih memberikan kabar kepada kakek. Aku tahu pasti kakek sangat kecewa denganku," ucap Azra yang saat ini mengikuti langkah Alan untuk ke rumah sakit.
"Tanpa meminta maaf pun, semua orang sudah memaafkan karena kamu tidak bersalah. Harusnya aku yang meminta maaf padamu karena aku tidak bisa mengakui perasaanku seperti itu. Andaikan saja saat itu aku mau berterus terang jika aku mencintaimu, mungkin kamu tidak akan menggugatku dan pergi menghilang. Semua ini salahku, Zra. Tapi semua sudah terlambat. Saat ini kamu sudah memiliki kehidupan baru, sementara aku masih larut dalam perasaanku. Tapi, setidaknya aku merasa bersyukur karena kamu mau menjenguk kakek," ucap Alan dengan sedikit drama.
"Bukankah kamu juga sudah memiliki kehidupan baru?" tanya Azra dengan menahan rasa sesak tidak adanya.
"Kehidupan baru dari mana jika orang yang ingin hidup denganku pergi menghilang tanpa kabar?"
"Kamu jangan bohong! Aku tahu kamu sudah memiliki anak kan?"
__ADS_1
Seketika Alan menatap kearah Azra dengan alis yang menaut. "Memiliki anak? Dengan siapa aku membuatnya? Kamu pikir kecoak di kamar mandi bisa mengandung anakku?"