Kau Khianati Aku, Ku Nikahi Kakakmu

Kau Khianati Aku, Ku Nikahi Kakakmu
Bab 74 | Ide Selanjutnya


__ADS_3

Tak ada yang spesial seperti malam pengantin lainnya yang langsung akan mencetak gol berkali-kali. Malam pertama Alan dan Azra berlalu begitu saja tanpa adanya pencetakan gol karena mereka memang tidak bermain bola malam tadi.


Azra merasakan ada sesuatu yang menetes di wajahnya. Dengan pelan ia pun mengerjap untuk membuka matanya. Saat matanya telah dibuka, ia langsung terbelalak melihat wajah Alan yang sudah sangat dekat dengan wajahnya.


"Mau apa kamu?" Azra segera mendorong tubuh Alan yang ternyata hanya mengenakan handuk sebatas pinggangnya.


"Gue cuma mau mastiin, lo masih hidup apa udah almarhum, karena dari tadi ponsel lo bunyi sampai pekak telinga gue, tapi lo gak bangun," ujar Alan yang menggosok rambut  dengan sebuah handuk kecil.


"Alesan! Bilang aja kamu mau nyium aku, iya kan!" 


"Dih, kepedean. Na.jis nyium lo. Daripada nyium lo, mending gue nyium pantat sapi."


Karena sedang ingin berdebat dengan Alan, Azra memutuskan untuk segera bangkit karena ia teringat pesan sang kakek tadi malam jika pagi ini mereka akan sarapan bersama. Saat melihat ponselnya, Azra mendengus pelan karena sebuah panggilan dari seseorang yang sudah mengecewakan dirinya.


"Kenapa nggak lo telepon balik?" tanya Alan yang melihat Azra meletakkan kembali ponselnya di atas meja.


"Bukan urusanmu," ketus Azra.


Satu jam kemudian ....


Ternyata kedatangan Alan dan Azra sudah ditunggu oleh keluarga Alan, yang terdiri dari sang kakek, Keanu, dan juga Mouza. Entah sudah berapa lama mereka menunggu sepasang pengantin baru untuk turun. Sebagai pengantin lama, ketiganya paham mengapa yang ditunggu terlambat.


"Maaf semua harus menunggu kami," ujar Azra.


"Tak usah mau minta maaf, kami sudah memakluminya," balas kakek Wijaya.


"Kalian semua nggak usah berpikir macam-macam aku dan cewek bar-bar ini gak ngapa-ngapain!" terang Alan.


"Mau ngapa-ngapain juga terserah lo. Lagian dah halal, ngapain malu," timpal Keanu.


Azra merasa tak enak dengan anggota keluarga yang telah menunggunya. Mereka berpikir jika tadi malam telah terjadi pertandingan sepak bola, padahal kenyataannya dia harus membentengi dirinya agar Alan benar-benar tak menyentuh dirinya.


"Sudahlah, gak usah dibahas! Mending kita sarapan terus langsung pulang. Terlalu lama di hotel hanya akan membuatku masuk angin," ujar Mouza.

__ADS_1


"Kan udah aku bilang pakai baju, kamunya aja yang gak mau. Jangan ikut-ikutan aku, karena aku udah kebal," timpal Keanu.


Sang Kakek hanya bisa membuang nafas kasarnya. Mungkin saat ini dirinya harus sering-sering liburan agar tak merasa iri dengan kedua cucunya yang sudah menikah.


"Sudahlah kalian tidak usah membahas masalah seperti itu di depan jomblo. Kalian harus jaga jiwa jomblo Kakek agar tidak meronta-ronta!" kata Kakek Wijaya yang kepalanya sudah migrain.


.


.


Azra merasa sangat bahagia karena saat ini ia benar-benar menjadi seorang Nyonya di rumah Alan. Semua keperluannya telah disiapkan oleh asisten rumah tangga. Bahkan kebutuhannya juga sudah dilengkapi, tidak sampai di situ ia pun juga mendapatkan sebuah kartu ATM dari ke Wijaya. Meskipun bukan Alan yang memberikannya tetapi, itu lebih dari segalanya. Tidak sia-sia dirinya menerima tawaran Kakek Wijaya untuk menikahi cucunya. Tidak masalah bagaimana perjuangannya untuk membuat Alan tunduk kepada dirinya nanti.


Coba aja aku ketemu sama kakek Wijaya sejak dulu kala, mungkin aku tak akan menjadi kuli bangunan. Mulai saat ini tanganku tidak akan kasar lagi, karena mulai sekarang aku akan menghaluskannya di salon. Toh uang yang diberikan pakai Wijaya lebih dari cukup untuk menghidupi kehidupanku selama satu tahun. Benar-benar kakek super royal. Batin Azra sesampainya di kamar Alan.


Tak lama Azra jika ada seseorang yang masuk. Saat dilihat ternyata itu adalah Mouza.


"Bagaimana hari pertamamu menjadi istri Alan?" tanya Mouza yang telah berjalan mendekat  ke arah Azra.


Azra tersenyum tipis ke arah kakak iparnya. "Ya, seperti yang kamu lihat. I'm fine," ujarnya.


"Tentu boleh."


Mouza langsung membawa Azra ke teras belakang, karena di tempat itu tak akan ada yang mendengarkan pembicaraan mereka.


"Karena usia kita tidak beda jauh, kamu tidak usah memanggilku dengan sebutan kakak. Panggil saja Mouza," kata Mouza setelah sampai di teras belakang.


Azra hanya mengangguk pelan tanda paham.


"Sebagai istri Alan, kamu harus banyak menyetok sabar untuk menghadapinya, karena saat ini bocah itu sedang tersesat. Perlu kamu ketahui juga jika aku dan Alan dahulu pernah mempunyai hubungan. Jadi sewaktu-waktu kalian mempunyai masalah, jangan membawaku dalam masalah itu, karena hubungan kami sudah tidak berarti, kamu mengerti dengan maksudku kan?"


Lagi-lagi Azra mengangguk pelan. "Iya, aku tahu," ucapannya.


"Bagus. Aku rasa kakek tidak salah memilihmu untuk membimbing Alan. Aku harap kamu tidak mengecewakan, ya."

__ADS_1


"Kalian tenang saja, aku pasti bisa meluruskan jalan Alan yang bengkok, tetapi tidak instan. Aku pastikan dalam waktu 6 bulan Alan akan  menyerah."


Sebagai seorang istri tugas Mouza dan juga Azra adalah membuat suami mereka kelojotan, hingga tak ingin berpaling kepada wanita lain. Terbukti, saat ini Mouza sudah berhasil membuat Keanu tak bisa berpaling darinya dan candu akan dirinya.


"Pria itu hanya perlu sentuhan. Jika kamu bisa memberikan sentuhan yang mampu membuatnya kelojotan, percayalah jika dia tidak akan pernah lagi terpancing oleh kupu-kupu yang berterbangan di luar sana. Menjadi seorang jall.ang  untuk suami sendiri itu tidak apa-apa," jelas Mouza yang merasa seperti seorang senior yang sedang memberi penjelasan kepada juniornya.


"Tanpa kamu beritahu, aku sudah tahu," balas Azra.


"Bagus dong. Berarti kamu lebih berpengalaman," celetuk Mouza.


"Bukan berpengalaman, tapi hanya berpikir secara logika saja. Terlebih dari awal kalian sudah mengatakan jika aku harus bisa untuk meluluhkan Alan. Satu-satunya cara ya menjadi jal..lang untuknya," ujar Azra.


Seketika Mouza terdiam. Awalnya ia menganggap jika Azra adalah gadis polos yang perlu diberi arahan untuk bisa memulai tugasnya. Namun, diam-diam ternyata dia suhu. Apakah memang kebodohan Mouza yang belum berkurang, atau memang Azra yang terlalu pintar.


Sial. Gue pikir dia polos yang harus dijabarin dulu tugas dan kewajibannya. Eh, tahu-tahu dia suhu. Malu gue dibuatnya. Masa gue kalah mikir dari Azra? batin Mouza.


Mouza pikir karena penampilanku apa adanya, terus dia mengira kalau aku ini cewek bodoh yang gak bisa berpikir secara logika. batin Azra.


"Baiklah karena kamu sudah mengerti dan tidak perlu aku jabarkan lagi tugas dan kewajibanmu, aku mau beristirahat dulu. Sedari tadi yang perutku terasa mual," ucap Mouza.


"Silakan. Aku juga mau ke kamar untuk beres-beres."


Akhirnya kedua cucu menantu kakek Wijaya itu pun berpisah untuk menuju kamar mereka masing-masing. Sepertinya rencana Mouza tidak berhenti sampai disini. Ia pun segera menemui sang kakek untuk membicarakan rencana selanjutnya, yang dijamin sang kakek akan setuju seribu persen dengan ide yang ia keluarkan.


"Sungguh ide yang berlian. Sungguh Kakek suka dengan cara berpikirmu, Za," ucap sang Kakek yang setuju dengan ide Mouza.


.


.


...🥕🥕...


...BERSAMBUNG...

__ADS_1


Nyampe 1000 komentar aku kasih 💋


__ADS_2