Kau Khianati Aku, Ku Nikahi Kakakmu

Kau Khianati Aku, Ku Nikahi Kakakmu
Season 2 | Dilarikan Ke Rumah Sakit


__ADS_3

"Dadd, are you oke?" tanya Kenza untuk kesekian kalinya.


Meskipun bocah itu tidak tahu apa yang telah terjadi kepada Alan, tetapi ia yakin jika saat ini Alan sedang menghadapi sebuah masalah. Terlihat dari wajah Alan tanpa ekspresi dan sejak tadi hanya terdiam tanpa ingin bercanda dengannya seperti biasanya.


Tanpa ingin menjawab pertanyaan Kenza, Alan memilih untuk menarik selimut tebalnya. Hatinya saat ini benar-benar sangat kacau.


"Daddy! Aku sedang berbicara kepadamu. Baiklah biar aku tebak masalahmu." Kenza terdiam sambil memutar bola matanya.


Sejenak ia berpikir untuk menebak masalah apa yang sedang dihadapi oleh Daddy yang satu ini.


"Aku tahu pasti Daddy sedang patah hati karena cinta Daddy ditolak, kan?" tebak Kenza seraya tertawa, seakan menertawakan kesedihan Alan.


"Tau apa kamu tentang cinta! Kamu masih kecil. Mandi aja masih dimandikan!" cibir Alan kesal.


"Cinta itu dua orang yang saling menyayangi seperti Daddy Ken dan Mommy. Mereka berdua akan tidur bersama, mandi bersama, makan bersama, pergi bersama dan—" Kenza tak melanjutkan ucapannya.


"Dan apa?" tanya Alan penasaran.


"Dan … buat anak bersama," ujar Kenza dengan polos.


Alan yang sebenarnya malas untuk menanggapi celotehan Kenza tiba-tiba langsung menyibakkan selimutnya.


"Apa kamu bilang? Kamu tahu dari mana kata itu? Kamu itu masih kecil! Pikiran jangan messum kayak bapakmu!" sentak Alan.


"Daddy kok ngegas, sih? Emang ada yang salah dengan ucapanku? Aku hanya mendengarkan saat Daddy Ken mengajak Mommy untuk membuat anak. Apakah ada yang salah? Memangnya cara membuat anak itu seperti apa Dadd? Mengapa Daddy Ken sering kali mengajak Mommy untuk membuat anak." Kenza berceloteh dengan kepolosannya.

__ADS_1


"Kamu tahu dari mana kalau Daddy-mu sering mengajak Mommy-mu untuk membuat anak. Kan kamu tinggal disini?" tanya Alan heran.


"Daddy belum tua tapi udah pikun. Pantas saja tidak ada wanita yang mau mendekatimu! Bukankah setiap weekend aku menginap disana?" ujar Kenza untuk mengingatkan Alan.


Alan kembali mende.sah dengan kasar. Bisa-bisanya dua manusia lucnut itu mencemari pikiran anaknya yang masih bersih tanpa noda.


"Terserah kamu saja. Sepertinya mulai sekarang aku tidak akan mengizinkanmu untuk pulang ke rumah Daddy-mu agar pikiranmu tidak tercemari dengan pikiran Daddy-mu yang super mesuum! Sudahlah jangan ganggu aku. Aku sedang tidak mood!" ujar Alan yang kembali menutup tubuhnya dengan selimut.


"Tapi benarkan kalau Daddy sedang patah hati? Daddy kira aku tidak melihat saat Daddy memeluk Mommy-nya Elenna tadi. Mommy-nya Elenna cantik kan? Tapi sayangnya dia tidak tertarik dengan Daddy. Kasihan sekali Daddy-ku yang paling tampan ditolak oleh wanita cantik. Mungkin sudah nasib Daddy untuk menjadi jomblo abadi." Lagi-lagi Kenza menertawakan nasib Alan yang menyedihkan.


Mendengar celotehan Kenza, Alan kembali membuka selimut yang menutupi tubuhnya. Namun saat melihat samping monster kecil itu sudah tidak ada di sampingnya. Sejak Alan terdiam. Pikirannya langsung tertuju pada Azra.


"Jadi Azra adalah Mommy-nya Elenna? Berarti saat ini Azra benar-benar sudah memiliki kehidupan baru. Kalau dia sudah menikah di mana suaminya? Bukankah Elenna tadi mengatakan jika dia tidak memiliki ayah. Lalu siapa ayahnya Elenna? Apakah itu adalah anakku? Mana mungkin hanya satu kali disemai akan langsung membuahkan hasil. Jika Elenna benar adalah anakku, maka tidak ada alasan lagi Azra meninggalkan. Aku akan cari tahu siapa ayah Elenna."


Tanpa rasa ragu, Alan langsung menelepon seseorang untuk menyelidiki siapa ayah Elenna. Kali ini Alan tidak akan melepaskan Azra dengan mudah.


"Sus, ada apa?" tanya Alan pada seorang suster yang sedang berlari dari kamar kakek Wijaya.


"Tuan Wijaya kejang-kejang," ujar suster yang hendak memanggil sopir. Karena saat ini Kakek Wijaya harus segera dibawa ke rumah sakit.


"Apa?" Alan yang terkejut langsung berlari ke kamar kakeknya. Disana ia melihat Kenza dalam pelukan mbak Lily. Keduanya hanya bisa mengisi pria tua yang terbaring di atas tempat tidurnya.


"Apakah kakek sudah meninggal?" tanya Alan pelan.


Mendengar pertanyaan Alan, Kenza langsung mendongak dan memberikan tatapan tajam ke arah Alan. Sambil mengusap air mata yang membasahi pipinya, Kenza berkata, "Apakah Daddy sedang mendoakan kakek uyut meninggal? Dasar cucu durhaka!"

__ADS_1


"Mas Alan, Kakek sempat mengalami kejang-kejang dan sekarang beliau pingsan. Cepat bawa ke rumah sakit. Jangan sampai sesuatu yang buruk terjadi, Mas," ucap mbak Lily yang juga ikut mengusap jejak air matanya.


Akhirnya Alan bernafas lega karena sang kakek belum meninggal. Dengan cepat ia mengangkat tubuh sang kakek keluar. Baru sajak sampai di depan pintu suster yang merawat kakek Wijaya memberitahu jika mobil telah disiapkan oleh Pak Jupri. Tak ingin membuang waktu lagi Alan segera membawa tubuh kakeknya keluar.


"Kek, bertahanlah! Ingat janji kakek yang tak akan meninggalkan Alan sebelum kakek mengandung cicit dari Alan. Jangan coba-coba kakek untuk membohongi Alan! jika sampai itu terjadi Alan tidak akan pernah memaafkan kakek." ucap Alan dengan berlinang air mata.


Alan tidak tahu apa yang akan terjadi nanti jika malaikat Izrail benar-benar akan menyapa kakeknya, sementara sang kakek belum menggendong anaknya.


"Mbak Lily, kasih tahu Bang Ke jika Kakek masuk rumah sakit!" ucapnya pada Mbak Mbak Lily.


"Baik, Mas."


"Eza, kamu jangan nangis! Telingaku panas mendengar tangisanmu!" ujar Alan pada Kenza yang terus aja menangis.


"Kenapa tidak boleh? Bukankah Daddy juga menangis?" jawab Kenza apa adanya.


"Iya. Tapi tida bersuara! Jika kamu ingin menangis Jangan keluarkan suaramu!"


Mobil yang dikendarai oleh pak Jupri pun melaju dengan cepat berharap bisa segera sampai di rumah sakit. Ia tidak ingin terjadi sesuatu kepada Majikannya yang telah memperkerjakannya dirinya selama bertahun-tahun.


Di seberang sana, Keanu memijat kepalanya karena ia tak bisa memenangkan tander. Baru saja menyandarkan tubuhnya di kursi kebesaran miliknya, ponselnya berbunyi. Ia mengernyit saat nama mbak Lily. Dengan cepat Keanu langsung mengangkat panggilan tersebut.


"Halo, Mbak!" kata Keanu dengan malas. Namun, detik kemudian matanya terbelalak dan langsung menutupnya. Jantungnya berdebar tak karuan saat mendengar jika sang kakek sedang dilarikan ke rumah sakit. Ini adalah kesekian kalinya ia mendapat kabar jika kakaknya harus dilarikan kembali ke rumah sakit. Penyakit tua yang tidak akan bisa disembuhkan lagi. Hanya tinggal menunggu waktu kapan sang kakek akan kembali sang Pencipta-Nya.


"Semoga saja ini belum waktunya. Sungguh aku tidak rela jika kakek akan pergi meninggalkan kami," kata Keanu yang sudah mengemudikan mobilnya.

__ADS_1


...🥕🥕🥕...


...BERSAMBUNG...


__ADS_2