
Jika rencana pertama gagal, lanjut ke rencana selanjutnya. Keanu tidak ingin menyerah sebelum mendapatkan izin untuk pindah. Satu-satunya cara adalah membujuk Mouza untuk merayu kakeknya. Ia yakin jika Mouza yang meminta izin sang kakek pasti akan memberikannya, karena Mouza adalah cucu gold yang istimewa.
Baru sejak keluar dari kamar sang kakek, matanya menangkap pengantin baru yang memasang wajah serius hendak masuk kedalam kamar. Keduanya sama-sama terlihat sangat dingin. Entah apa yang telah terjadi kepada mereka, padahal beberapa hari belakangan ini hubungan mereka baik-baik saja tidak ada masalah.
"Apakah di luar sedang hujan salju, sehingga mereka kedinginan," kata Keanu yang merasa penasaran ada apa dengan pasangan pengantin baru itu.
Keanu hanya mengendikan bahunya karena tak ingin mengurusi rumah tangga Alan. Namun, saat melewati pintu kamar Alan, samar-samar Keanu mendengar keributan dari dalam. Hanya suara Azra yang didengarnya. Mungkinkah saat tadi Alan ketangkap basah lagi? pikir Keanu.
Karena tak ingin memperdulikan rumah tangga Alan dan Azra, akhirnya Keanu memilih untuk tak memperdulikannya.
πΈπΈπΈ
"Puas kamu, Lan!" bentak Azra untuk kesekian kalinya lagi.
"Gara-gara ulahmu yang berlebihan, Bang Delon harus menginap lagi di rumah sakit. Kamu itu hanya orang asing dalam hidupku yang tak tahu apa-apa tentangku. Seharusnya ini tidak terjadi, jika kamu mendengarkan penjelasanku terlebih dahulu!"
Alan hanya menunduk tak berdaya. Ia merasa menyesal telah membabi buta tanpa ingin mendengarkan penjelasan Azra terlebih dahulu.
"Sekali lagi aku minta maaf, Zra. Aku benar-benar tidak tahu juga itu adalah abangmu. Sungguh aku menyesal," ujar Alan dengan rasa sesalnya.
"Terlambat! Permintaan maafmu tak penting Lan, karena saat ini yang paling penting adalah nyawa Bang Delon. Jika bukan karena Bang Delon, aku tidak akan sudi menikah denganmu!"
Alan tidak tahu jika perbuatannya akan berakhir serumit ini. Semua karena ia tak bisa mengendalikan emosinya. Jika saja Alan mendengar penjelasan Azra, tak mungkin akan berakhir serumit ini.
Untuk saat ini Alan membiarkan Azra meluapkan kekecewaannya, agar hatinya merasa lebih tenang. Karena tak ingin mengganggu Azra, Alan memutuskan untuk tidur di sofa.
__ADS_1
Mata Azra hanya melirik pergerakan Alan yang sedang mengambil bantal dan selimut. Tanpa ingin mencegah, Azra membiarkan saja jika Alan ingin tidur di sofa.
Perasaan dia gak tidur. Tapi kenapa gak ngelarang gue sih! batin Alan sambil melirik ke arah Azra.
Syukur deh, bisa tau diri. Kamu pikir aku akan menahan? Tidur aja dimana kamu mau. Batin Azra.
Dalam kesunyian malam hanya suara detak jarum jam yang berdecak memecahkan keheningannya. Dua insan larut dalam pemikirannya masing-masing.
Alan masih tak menyangka jika Azra akan sangat marah dan sulit untuk memberinya maaf, meskipun kata maaf itu telah Alan ucapkan berkali-kali. Sebegitu pentingkah sosok Delon untuk Azra?
Gue gak yakin, masa hanya karena lebam-lebam seperti itu, Azra marah selama tujuh hari tujuh malam. Luar biasa, awas aja kalau sembuh nanti, gue akan kasih pelajaran tambahan kepada Delon. Seharusnya suami itu nomer satu, tapi mengapa ini malah nomer belakang. gerutu Alan dalam hati.
Meskipun sulit untuk memejamkan mata, akhirnya Alan pun terlelap juga. Berbeda dengan Azra yang masih gelisah, belum bisa memejamkan matanya. Ia menghela nafas panjangnya karena masih teringat pada Delon, yang masih dirawat di rumah sakit.
Sebenarnya Azra mempunyai kuat mengapa ia sangat marah kepada Alan, meskipun pria itu sudah meminta maaf berkurang kali. Untuk apa kata maaf jika tidak bisa mengembalikan kondisi Delon seperti semula. Akibat penganiayaan yang dilakukan oleh Alan, kondisi kesehatan Delon menurun dan belum bisa melakukan
Meskipun hanya seorang Abang angkat, tetapi Azra rela menaruhkan nyawanya untuk Delon agar tetap bisa bertahan. Bahkan tanpa pikir panjang Azra rela menukar harga dirinya untuk bisa mendapatkan biaya pengobatan Delon yang tidaklah mudah. Mungkin bertemu dengan kakek Wijaya sudah menjadi surat dan takdirnya. Namun, siapa yang menyangka jika cucunya mampu menghancurkan segalanya. Saat ini Delon sedang kritis dan tak tahu apakah besok ia bisa bangun lagi atau tidak.
πΈπΈπΈ
Seperti biasa, pagi ini kakek Wijaya telah menunggu para anggota rumah untuk melakukan sarapan bersama. Namun kali ini ia merasa ada yang aneh karena tak melihat Keanu dan juga Azra di meja mereka.
"Di mana pasangan kalian?" tanya kakak kepada Alan dan juga Mouza.
"Bang Ke sudah berangkat ke kantor, Kek. Dia bilang pagi ini akan ada rapat penting," jelas Mouza.
__ADS_1
"Azra sudah pergi ke rumah sakit, Kek. Kakaknya sedang kritis," jelas Alan.
Sang kakek melihat Alan dan Mouza secara bergantian. "Apakah telah terjadi sesuatu tadi malam?" tanya kakek mengintimidasi.
Kedua orang yang berada di hadapan kakek Wijaya langsung menggelengkan kepala dan berkata Tidak dengan serentak. Tentu saja sang kakek merasa terkejut.
"Aku tidak yakin! Tapi semoga saja pikiranku tidak benar. Kalian sedang tidak menyembunyikan udang kan?"
Mata Alan dan juga Mouza langsung menatap kepada sang Kakek. Bahkan keduanya tidak mengerti dengan maksud ucapan kakeknya.
"Apakah aku terlihat seperti seorang penjual udang goreng?" tanya Alan dengan sinis.
Sang kakek langsung menertawakan pertanyaan Alan. "Tidak! Bahkan kamu tidak pantas! Masa iya, seorang pewaris keluarga Wijaya berjualan udang goreng? Tapi bisa juga sih, kalau kamu telah ditendang dari susunan kartu keluarga. Kamu mau mencobanya?"
Mata Alan hanya melirik sambil mendengus kasar. Bukan kakeknya jika tidak membuat dirinya merasa kesal. Tanpa kata, Alan memilih diam untuk menyiapkan sarapannya dan segera berangkat ke kampus. Semakin lama memandang sang kakek hanya akan membuat matanya sakit.
"Eh, Lan. Lo bilang apa tadi? Azra ke rumah sakit karena Abangnya sedang kritis? Kenapa nggak mau anterin tadi? Lo gimana sih, jadi suami gak peka banget!" Mouza memprotes Alan.
"Ya mau gimana lagi, dia gak mau gue antar."
"Lo itu bener-bener payah! Untung gue gak berjodoh sama lo dan langsung dinikahin sama Bang Ke, meskipun kayak kulkas tapi pengertian. Seharusnya lo itu peka! Meskipun dia gak mau dianterin, ya antar aja. Bisa jadi dia itu hanya gak mau merepotkan lo! Bukan malah lo biarkan aja! Gimana sih!" Protes Mouza lagi.
"Nah, tuh dengerin apa kata kakak iparmu! Beruntung sekali kamu Za, gak berjodoh dengan bocah sialan ini. Kalau takdir menyatukan kalian, jangan harap bisa makan burger tengah malam," timpal Kakeknya.
Mouza menelan kasar salivanya. Entah mengapa mata dan telinga sang kakek begitu tajam. Mungkinkah sang kakek termasuk pria tua yang sangat kepo dengan kegiatan yang dilakukan oleh cucunya, hingga hal kecil pun mampu terdeteksi olehnya.
__ADS_1
...π₯π₯π₯...
...BERSAMBUNG...