Kau Khianati Aku, Ku Nikahi Kakakmu

Kau Khianati Aku, Ku Nikahi Kakakmu
Bab 83 | Bukan Alan Alan


__ADS_3

Siang ini sepulang kuliah Mouza sengaja mengajak Azra untuk jalan-jalan, karena Mouza tahu jika saat ini suasana hati Azra kurang bagus. Mouza juga tahu jika Mili sempat datang untuk membuat masalah baru. Berkat Mouza, kini Azra tak memikirkan apa yang sempat ia dengar dan lihat tadi pagi. Meskipun saat ini dirinya masih merasa marah kepada Alan dan sempat berpikir jika Mili sedang hamil anak Alan.


"Sebenarnya Alan itu baik dan penyayang, tapi dia masih labil dan mudah terbujuk dengan sebuah iming-iming, meskipun terlihat judes, sih. Jika kamu bisa memberikan service terbaik, aku yakin Alan tidak akan berpaling darimu. Selama 8 bulan aku bersama dengannya, dia adalah pria hangat. Namun, entah rayuan apa yang membuat Alan tergoda dengan Mili sehingga dia melakukan hubungan terlarang itu," jelas Mouza sambil berjalan.


Azra mengangguk pelan. "Aku tahu, jadi Mili adalah ulat bulu yang sudah menghancurkan hubunganmu dengan Alan? Tapi kenapa dia bisa bertunangan dengan Bang Keanu? Sebenarnya dia sedang mengincar Alan atau Bang Keanu? Aku yakin pasti ada udang dibalik tepung."


"Bisa jadi. Aku juga tidak tahu dari segi apa Bang Ke saat itu melihat Mili. Dadanya aja gak berbentuk apalagi wajahnya yang gak ada apa-apa. Terlebih sia adalah wanita penghibur. Heran, deh!" Kenang Mouza dengan kesal.


Karena hari ini niatnya untuk menghibur diri, Mouza dan Azra memilih untuk menghabiskan waktunya di zona permainan di sebuah Mall. Saat ini keduanya sangat bahagia seakan lupa jika status mereka adalah seorang istri. Bahkan Mouza mengabaikan beberapa panggilan dari Keanu.


Dua orang yang hampir memiliki satu kesamaan, yaitu sama-sama terlahir dari keluarga biasa saja dan tiba-tiba menikah dengan pria kaya yang memiliki masa lalu buruk. Bahkan tugas mereka adalah untuk meneruskan jalan pria yang dinikahinya. Keduanya pun sama anak yatim piatu sejak kecil.


Setelah puas bermain, Mouza dan Azra mencari tempat untuk mengambil perut mereka. Dan siapa yang menyangka jika keduanya memiliki satu selera yang sama.


"Kalau jalan berdua kayak gini kayak kakak adik, ya," celoteh Mouza.


"Iya. Mungkin karena kita seumur. Bedanya kamu lebih beruntung bisa kuliah dan punya keluarga, meskipun hanya seorang kakak. Daripada aku. Aku dari kecil sudah hidup sebatang kara, tak punya siapa-siapa," ujar Azra.


Seketika Mouza terdiam, karena mengingat mas Arif yang tak pernah berkomunikasi lagi dengannya. Padahal saat itu Mouza tempat perjanjian akan bertemu setelah kakaknya pulang dari luar kota. Namun, ia lupa dan sampai sekarang belum menghubungi kakaknya lagi.


"Kamu kenapa, Za," tanya Azra yang merasa heran saat Mouza ketika terdiam.


Mouza langsung menatap Azra. " Aku lagi teringat sama kakakku yang sudah lama tak berkomunikasi. Terlebih saat saat itu aku belum memberi tahu jika istrinya selingkuh. Aku coba telepon mas Arif dulu ya," ucap Mouza.


"Mas Arif?" cicit Azra.


Mendengar kata Arif, Azra segera menepis pikiran. Di dunia ini banyak nama yang sama. Tidak mungkin nama yang disebutkan oleh Mouza itu adalah orang yang ia pikirkan.


"Kok gak aktif, ya." gerutu Mouza.


"Ada apa?" tanya Azra.


"Nomer mas Arif gak aktif. Jangan-jangan sudah terjadi sesuatu kepadanya. Atau mbak Hana udah mengusir mas Arif, ya?" tebak Mouza yang semakin penasaran.

__ADS_1


Hampir saja Mouza melupakan tentang perselingkuhan kakak iparnya. Beruntung saja tanpa tersengaja Azra mengingatkan Mouza tentang kakaknya. Kali ini Mouza tak ingin tinggal diam. Dirinya harus memberitahu kakaknya jika istrinya telah mengkhianati dirinya.


Bersama dengan Azra, kini Mouza mendatangi rumah kakak iparnya. Rumah tempatnya bernaung selama ini. Namun, karena satu kesalahan membuat Mouza diusir oleh kakak iparnya. Jika mengingat hari itu Mouza benar-benar sangat hancur. Karena selain di usia dari rumah, Mouza juga mempergoki Alan sedan main kuda-kudaan bersama dengan Mili. Beruntung saja saat itu ada Keanu yang menghibur dirinya dan memberikan tempat tinggal. Jika tidak mungkin saat ini Mouza telah menjadi seorang gelandangan.


Berkali-kali Mouza mengetuk rumah sang kakak. Namun, tak ada satupun panggilan disahuti. Bahkan pintuny pun juga terkunci.


"Kamu yakin jika kakak kamu tinggal disini, Za? Lihatlah, halamannya saja kotor seperti tak pernah bersihkan seperti ini, celoteh Azra saat matanya menyapu ke sekeliling halaman rumah.


Mata Mouza pun langsung melihat halaman yang dulu sangat rapi dan terawat kini berubah mengerikan dengan tumbuhan liar yang tumbuh dimana-mana.


"Apakah mbak Hana berubah menjadi orang pemalas? Bahkan bunga kesayangannya juga dibiarkan mati kering. Apakah mbak Hana telah pindah?" Mouza bertanya pada dirinya sendiri.


Karena Azra tidak tahu, ia hanya mengedikkan bahunya saja, berharap tidak terjadi sesuatu kepada kakaknya Mouza.


"Mungkin saja mereka sudah pindah, Za," kata Azra yang membenarkan ucapan Mouza.


Kini dua orang itu pun memilih untuk duduk sejenak di teras rumah yang sudah tak terawat lagi. Keduanya sama-sama merenung untuk memikirkan ke kemana sebenarnya mbak Hana dan mas Arif berada.


"Mereka pindah kemana ya? Mengapa mereka pindah gak kasih kabar," gumam Mouza.


"Kamu Mouza, adiknya mas Arif kan?"


Mouza mengangguk. "Iya."


"Kamu ngapain kesini? Apakah Mas Arif tidak memberitahu kamu jika sekarang rumah ini sudah dijual?" tanya wanita paruh baya itu.


Alis Moua menaut. "Dijual?"


"Jadi kamu tidak tahu apa-apa tentang kejadian satu bulan yang lalu?"


Lagi-lagi Mouza menggeleng dengan pelan. Sungguh dirinya tak tahu apa-apa tentang kejadian yang menimpa kakaknya. Akhirnya dari mulai tetangga, Mouza tahu jika satu kakak iparnya terlilit hutang dan tidak bisa membayar. Hampir setiap hari rentenir mendatangi rumahnya. Karena tidak sanggup untuk menghadapi para rentenir yang tak bosan datang, akhirnya Hana memilih menjual rumah itu dan pindah entah kemana. Saat itu juga Arif juga mencium bangkai yang disembunyikan oleh istrinya dan melepaskan Hana dengan menggugat cerai Hana. Setelah itu tak ada lagi kabar tentang Arif maupun Hana lagi.


Mendengar penjelasan itu, Mouza merasa sangat shock. Mengapa dalam keadaan seperti ini kakaknya sama sekali tidak memberitahu dirinya. Lalu Mouza akan mencari kakaknya kemana? Hanya dia satu-satunya keluarga yang tersisa.

__ADS_1


Melihat wajah Mouza yang sudah bercucuran keringat, Azra pun berpamitan pada wanita paruh baya itu untuk pulang.


"Za, kamu gak papa kan? Apakah kita singgah ke Rumah sakit terlebih dahulu?" tanya Azra yang mengkhawatirkan keadaan Mouza.


Dengan pelan Mouza menggeleng. "Gak usah, Zra. Kita pulang aja," ucapanya dengan datar.


Sesampainya di rumah kedatangan Azra dan juga Mouza sudah ditunggu oleh Keanu. Pasalnya Keanu merasa sangat khawatir ketika tak satupun panggilannya dijawab oleh Mouza. Tentu saja hal itu membuatnya terus kepikiran dan memutuskan untuk pulang ke rumah untuk memastikan keadaan sang istri. Sesampainya di rumah Keanu tak kalah panik ketika tak menemukan Mouza di rumah.


"Akhirnya kalian pulang juga. Dari mana aja?" tanya Keanu saat kedua wanita itu hendak masuk ke dalam rumah.


"Kami dari rumah mas Afif, Bang," jawab Azra.


Melihat ada perubahan dari Mouza, Keanu mengernyit. "Apa yang sudah terjadi? Mengapa wajah Oza pucat? Apakah ada seseorang yang ingin menyerang kalian?"


"Tidak, Bang. Abang bawa aja Mouza ke kamar. Dia shock karena mas Arif pindah tanpa memberitahu Mouza," jelas Azra.


Keanu pun langsung membawa Mouza ke kamarnya. Begitu juga dengan Azra yang langsung menuju ke kamarnya. Baru saja membuka pintu, mata Azra membulat saat melihat Alan sudah duduk di sebuah sofa.


"Darimana?" tanyanya dengan ketus.


"Dari luar." Azra pun membalasnya dengan status.


"Apakah kamu masih marah denganku?" tanya Alan lagi.


"Tidak. Untuk apa aku marah denganmu." Azra acuh dan berlalu ke kamar mandi. Namun, dengan cepat tangan Alan ikut masuk kedalam membuat Azra merasa sangat terkejut.


"Kamu mau ngapain, Lan?" tanya Azra sedikit panik.


"Aku tahu saat ini kamu masih marah denganku. Harus berapa kali aku katakan jika anak yang dikandung oleh Mili bukanlah anakku, Zra. Bahkan setelah dia masuk ke dalam rumah tahanan, aku sudah tidak pernah berhubungan dengannya lagi. asal kamu tahu juga aku hanya menyentuh milih satu kali dan itupun tak sampai keluar karena kedatangan Oza dan juga Bang Ke,dan kejadian itu sudah berlangsung sejak lima bulan yang lalu. Jika pun saat ini dia hamil, seharusnya usia kandungannya sudah 4 bulan. Kamu jangan bodoh dong, Zra! Mili hanya sedang ingin menghancurkan pernikahan kita," jelas Alan dengan kesungguhan.


Sebenarnya tanpa alat jelaskan oleh Alan, Azra sudah tahu jikapun Mili hamil, itu bukan anak Alan karena Mouza sudah menceritakan semua tentang masa lalu Alan.


Azra tersenyum lebar kearah Alan. "Sepertinya sudah mulai ada hati yang sangat mengkhawatirkan diriku, sampai-sampai rela memberikan sebuah penjelasan tanpa aku minta. Apakah kamu sudah mulai jatuh cinta padaku, Lan?"

__ADS_1


Seketika tubuh Alan membeku dengan pertanyaan Azra. Entah bagaimana bisa Alan begitu ceroboh dengan mengkhawatirkan perasaan Azra berlebihan.


__ADS_2