
Azra tersenyum puas ketika perutnya telah berhasil diganjal dengan makan. Ternyata sangat mudah untuk mengancam Alan, meskipun dirinya terlihat seperti seorang wanita murahan. Namun itu tidak masalah karena saat ini status mereka sudah sah sebagai pasangan suami istri. Tugas Azra selanjutnya adalah membuat Alan menjadi tergila-gila padanya. Meskipun rasanya terlalu sulit, tetapi Azra yakin jika dirinya bisa menjalankan misi yang diberikan oleh kakek Wijaya.
"Lan, sampai kapan kita akan di sini. Aku sudah bosan dan gak sabar pengen buat perhitungan sama Mouza," keluh Azra yang mulai tidak nyaman dengan kimono yang ia kenakan.
Alan hanya mende.sah kasar. Bukan hanya Azra saja yang sudah merasa bosan, dirinya jauh lebih bosan. Terlebih sejak tadi ia harus menahan diri untuk tidak melirik Azra. Sebagai pria normal yang berada di dalam satu kamar dengan seorang wanita, tentu saja akan ada yang terbangun. Terlebih saat ini Azra hanya mengenakan handuk kimono. Di mana jenjang kakinya terlihat sangat mulus.
Dih sial! Kenapa juga Reno gak datang-datang? Apakah dia memang sengaja mengulur waktu agar terjadi lagi pertarungan sepak bola? Cih, mimpi! batin Alan.
"Lan, aku sedang bertanya padamu. Kamu dengar gak, sih?" tanya Azra kesal karena merasa diabaikan oleh Alan.
"Emangnya lo mau kita pulang dengan pakaian kayak gini? Lo nggak malu kalau banyak mata yang akan terkesima dengan pakaian kita?"
Seketika Azra menyadari jika mereka berdua masih mengenakan handuk kimono yang disediakan oleh pihak hotel.
Bukan tidak mau memakai pakaian yang mereka kenakan tadi malam, karena saat ini pakaian mereka sudah. Terlebih kemeja Alan yang banyak bekas bibir yang menempel di bajunya.
"Coba aja kamu gak mau paksa buka bajuku, kan gak sobek kayak gini, Lan!" protes Azra yang kembali memungut pakaiannya.
"Kenapa lo malah nyalahin gue, kan lo sendiri yang buka. Harusnya gue yang marah, noh liat baju gue kena bekas bibir lo!" balas Alan yang juga merasa kesal.
"Aku yang buka, tapi kamu yang narik! Sama aja dong kamu yang ngerusakin!"
"Ya habisnya udah gak tahan." Ucapan Alan melemah karena menyadari kecerobohannya.
Azra hanya menahan senyum. Sebenarnya Alan tak seburuk yang ia pikirkan. Meskipun terlihat judes, tetapi dia memiliki sifat hangat dan lembut. Buktinya saja meskipun dalam keadaan kesal, Alan masih membelikan sarapan untuknya. Dan pria itu tak meninggalkan dirinya begitu saja. Jika mau, Alan bisa keluar dengan mudah karena hanya noda di kemejanya bisa ditutup dengan jas. Namun, pria itu masih tetap bertahan untuk menunggu Reno.
"Ya meskipun gak tahan, jangan disobek, dong!"
Alan hanya mede.sah kasar. Jika mengingat kejadian malam tadi hanya akan membuatnya kehilangan wibawanya. "Udah gak usah dibahas lagi!"
Azra pun memilih diam sambil merebahkan tubuhnya diatas tempat tidur. Alan yang duduk di sofa hanya bisa menelan kasar khalifahnya. Bagaimanapun dia adalah pria normal.
"Sial! Tuh cewek bar-bar emang sengaja mau buat gue terpancing lagi. Gak, gue gak boleh terpancing!" Alan membuang kasar nafasnya.
Akhirnya setelah menunggu dua jam, Reno pun datang dengan membawa pakaian ganti untuk Alan dan juga Azra.
"Kamu sengaja kan mengulur waktu?" tuduh Alan saat Reno telah menyerahkan pakaian gantinya.
__ADS_1
"Maafkan saya Tuan muda, hari ini saya mengambil alih pekerjaan kantor karena Tuan Ke sedang liburan," jelas Reno.
"Apa? Liburan?" Alan merasa sangat terkejut.
"Benar. Karena setelah menikah Tuan Ke belum membawa Nona Oza bulan madu. Dan hari ini beliau membawa Nona Oza terbang ke Swiss."
"Udah bunting gitu sok-sokan dibawa bulan madu. Bilang aja iri denganku. Ya sudah sana, tunggu apalagi? Tunggu diusir?"
Reno pun langsung undur diri. Tangan kanan sang kakek itu tersenyum tipis kepada Alan. Ia membatin jika rencana Tuannya berjalan dengan lancar. Buktinya saja dirinya tidak diizinkan masuk ke dalam. Tentu saja Alan tidak mengizinkan dirinya untuk melihat Azra saat ini.
"Kalau bukan tangan pria tua itu udah gue maki abis-abisan!" gerutu Alan.
.
.
Sesampainya di rumah Azra merasa heran mengapa suasana rumah terasa sangat sepi layaknya kuburan. Tak ada satu orang pun yang menampakkan diri, termasuk juga mbak Lily, asisten rumah tangga keluarga Alan. Bahkan sang kakek pun juga tak terlihat duduk di ruang tengah.
"Nih orang pada kemana sih? Rumah segede ini kok sepi amat?" gerutu Azra.
"Lan, kamu mau kemana? Kita kan baru pulang, tapi kenapa mau pergi lagi?" tanya Azra yang merasa heran saat Alan sudah bersiap-siap untuk pergi lagi.
"Gue mau ke mana aja terserah gue! Jangan karena kita udah nikah dan udah melewatkan malam pertama, lo bisa ngelarang gue untuk pergi!" ketus Alan.
Entah mengapa tiba-tiba dada Azra terasa sesak dengan ucapan Alan. Mungkinkah ia sangat berharap jika Alan akan menganggapnya layaknya seorang istri?
"Oke, pergilah. Aku gak akan melarangmu," ujar Azra yang kemudian meninggalkan Alan untuk ke kamar.
Alan masih melihat punggung Azra yang menaiki anak tangga. Melihat Azra yang tak memprotesnya membuat Alan mede.sah kasar.
"Kok aneh ya gak ada perlawanan. Apakah dia udah menyerah? Gak seru kalau gak ada perlawanan. Harusnya dia ngelawan!" Mendadak Alan merasa kesal sendiri dan menjatuhkan tubuhnya diatas sofa.
Mood untuk kumpul bersama dengan teman-temanya akhirnya pupus sudah, terlebih saat mengetahui jika mbak Lily diajak kakeknya ke luar kota dan kakaknya yang membawa Mouza ke luar negeri. Semua terjadi seperti sebuah kesengajaan untuk memberikan waktu luang untuk dirinya dengan Azra.
"Nih orang niat banget sih." Alan melemparkan ponselnya setelah membaca pesan dari sang kakek.
Hampir satu hari Alan menghabiskan waktunya untuk bermain PS di ruang tengah dan Azra yang tak keluar dari kamarnya. Lama-lama Alan merasa bosan dan memilih untuk melihat Azra yang mengurung diri didalam kamar.
__ADS_1
"Kira-kira tuh cewek ngapain ya? Gak mungkin juga tidur satu harian?" batin Alan saat hendak membuka pintu kamar.
Alan mende.sah kasar saat melihat Azra yang menutupi tubuhnya dengan selimut. Ternyata tebakannya tidak salah, jika Azra tidur.
"Zra, lo gak mati kan? Ini udah sore, bangun!" kata Alan disamping Azra. Namun, tak ada respon dari Azra meskipun ia menatap Alan.
"Lo gak lagi kesambet kan?" tanya Alan lagi.
Alan merasa heran karena Azra tak ingin melawan dirinya. "Lo kenapa? Tumben anteng? Lo sakit?" Tangan Alan langsung menempel ke dahi Azra.
"Normal. Lo kenapa, sih? Jangan buat orang khawatir napa?"
Azra mende.sah kasar. "Makasih udah mengkhawatirkan aku. Aku memang nggak papa tapi … itu sakit banget dan perih, Lan."
Alan mengernyitkan dahinya. Susah payah ia meneguk ludahnya. "Maksud lo?"
"Kayaknya kamu mainnya terlalu bersemangat, deh. Punyaku kan baru pertama kali dipakai, kayaknya lecet. Soalnya kalau buat buang air kecil terasa perih. Gimana dong, Lan? Aku gak bisa jalan," ucap Azra dengan wajah polosnya.
Tubuh Alan membeku dengan pengakuan Azra. Meskipun ia pernah bermain dengan beberapa wanita, tetapi ia tak pernah menemukan wanita seperti Azra yang mengeluh sakit karena lecet.
"Jadi gue harus gimana, Zra? Lagian kenapa jalannya sempit? Kan aku jadi—" Alan tak meneruskan ucapannya. Tidak mungkin ia mengatakan jika ia menikmati jalannya, meskipun terasa sempit.
"Gimana gak sempit, baru pertama kali dipakai, terus kamu mainnya kayak kuda liar. Gimana kalau sampai besok gak sembuh? Gak bisa kamu pakai lagi, dong?" Mata Azra menatap Alan yang masih membeku di sampingnya.
"Cih, kepedean! Siapa juga mau pakai lagi?" Sanggah Alan dengan gugup.
"Yakin? Coba bandingkan dulu enak mana, punyaku atau punya wanita yang pernah kamu cicipi?"
.
.
...🥕🥕🥕...
...BERSAMBUNG...
Jangan tanya Bang Ke sama Oza dulu ya, karena saat ini mereka lagi honeymoon hihihi
__ADS_1