Kau Khianati Aku, Ku Nikahi Kakakmu

Kau Khianati Aku, Ku Nikahi Kakakmu
Bab 60 | Ingin Melihat Wajah Alan


__ADS_3

Setelah pertemuannya dengan Hana tadi membuat pikiran Mouza tidak tenang. Terlebih saat ia baru saja menelepon kakaknya yang saat ini masih berada di luar kota. Itu artinya kakaknya tidak mengetahui kebusukan apa yang telah dilakukan oleh istrinya. Mouza ragu saat ingin mengatakan kebusukan kakak iparnya, tetapi karena Mouza tak mempunyai bukti yang kuat dan kakaknya masih berada di luar kota, membuat Mouza mengurungkan niatnya. Ia ingin memberitahu kakaknya ketika telah kembali.


"Udah, gak usah dipikirin nanti kamu malah jatuh sakit gara-gara mikirin perselingkuhan kakak iparmu. Cepat atau lambat mereka pasti akan terkena batunya," ucap Keanu saat melihat Mouza yang terlihat murung.


"Bang Ke tuh nggak pernah ngerasain bagaimana sakitnya dikhianati!" ketus Mouza.


Saat itu juga Keanu langsung mengernyit. Siapa bilang ia tidak pernah di khianati. Bukankah siang itu keduanya menjadi saksi akan perselingkuhan yang dilakukan oleh pasangan mereka.


"Kali aja kamu lupa biar aku ingatkan kembali. Bukankah kamu yang mengajak nikah karena pasangan kita main udah kuda-kudaan disiang hari dan kita melihatnya dengan jelas? Apakah itu bukan sebuah pengkhianatan?"


Mouza hanya mengerucutkan bibirnya. Dia memang hampir melupakan siapa wanita yang telah bermain kuda-kudaan bersama dengan Alan. Dia adalah Mili, calon istri dari suaminya saat itu. Tapi beruntung saja kebusukan mereka langsung terbuka, jika tidak mungkin saat ini Keanu sudah menikah dengan Mili dan hanya akan memelihara benalu di rumahnya.


**


Pagi ini rasanya ada yang berbeda dari Mouza yang ingin sekali melihat wajah Alan. Padahal selama ini ia sangat tidak menyukai adik iparnya itu. Bahkan ia juga sudah menyiapkan sarapan khusus untuk Alan.


Seperti biasa Alan akan lebih awal untuk duduk di meja makan. Kali ini kedua alisnya menaut ketika melihat makanan kesukaannya telah berada di depan matanya. Saat itu juga Mouza datang dari arah dapur sambil menenteng dua kotak bekal.


"Pagi Alan sialan," sapa Mouza dengan wajah yang berbinar. "Nih, gue siapin bekal."


Alan mengernyit saat Mouza langsung mengambil tempat duduk tepat di depannya. Bahkan tak hentinya Mouza menatap Alan dengan senyum yang mengembang dibibir.


"Kenapa Lo? Kesambet?" kata Alan heran.


"Sembarang!" ketus Mouza.


"Terus ngapain lo siapin bekal buat gue? Kayak anak TK aja! Terus mata lo ngapain dari tadi ngeliatin gue kayak gitu? Kangen?"

__ADS_1


"Emang nggak boleh berbuat baik sama adik ipar? Terus gak kalau gue liatin lo? Kayak artis papan dunia aja! Lagian siapa juga yang liatin lo? Gue cuma mau mastiin aja kalau wajah lo gak berubah!" Tiba-tiba mood Mouza hilang bak ditelan bumi.


"Gue tarik lagi bekal buat lo! Dasar Alan sialan!" Mouza segera mengambil bekal yang sudah ia siapkan untuk Alan untuk dibawa ke dapur lagi. Namun, saat tangan Mouza mengambil bekal, tangan Alan mencegahnya.


"Mana bisa seperti itu? Ini kan udah lo kasih untuk gue, mana bisa lo ambil kembali!" protes Alan.


"Suka-suka gue, dong! Kan gue yang buat!"


"Gak bisa! Kalau lo ambil, bisa-bisa mata lo bintitan!" ujar Alan.


Perdebatan kecil itu harus langsung terhenti ketika suara demen menggema di telinga mereka.


"Apa-apaan ini?" tanya Keanu dengan melotot saat melihat tangan Alan bersentuhan dengan tangan Mouza. Menyadari akan hal itu, Alan segera menarik tangannya.


"Nggak usah pikir macam-macam! Gue gak ngapa-ngapain!" ketusnya.


"Bang, kita gak ngapa-ngapain kok! Aku cuma mau ngambil bekal ini karena gak jadi aku kasihkan ke Alan!" jelas Mouza.


Sadar akan suasana yang semakin canggung, Alan memutuskan untuk meninggalkan meja makan.


"Sebelum lo sentuh, Oza udah gue sentuh duluan."


Tangan Keanu telah mengepal kuat dengan gigi yang menggeretak.


"Za, kamu apa-apaan sih pakai acara menyiapkan bekal untuk bocah sialan itu?" tanya Keanu yang menahan rasa kesalnya pada Mouza.


"Gak tahu, Bang. Rasanya pengen aja. Gak tahu kenapa tiba-tiba aku tuh pengen ngeliatin wajah Alan yang mendadak menjadi manis," ujar Mouza apa adanya.

__ADS_1


Saat itu juga Keanu mede.sah kasar. "Maksud kamu apa, Za? Jangan-jangan kamu masih cinta sama bocah sialan itu ya!" tuduh Keanu dengan nada tinggi.


Mouza terkejut akan suara Keanu yang mendadak tinggi. Bahkan tangan dan kakinya ikut bergemetar.


"Abang kok ngomongnya gitu sih? Aku gak ada niatan apa-apa sama Alan, Bang. Dan nggak tahu kenapa aku tuh pengen banget lihat wajah Alan."


"Alasan!"


"Astaga, Bang! Aku serius gak bohong!"


Disaat keduanya beradu mulut datanglah superhero untuk menyelamatkan peradaban. Siapa lagi jika bukan kakek Wijaya. Pria tua itu berdeham sambil menarik kursi. "Ada apa?" tanyanya.


Tak ada kata yang keluar dari bibir pasangan suami-istri itu. Keduanya sama-sama membisu enggan sang Kakek.


"Mouza, ada apa? Apakah bocah bajii.nngan ini telah membuatku lagi?" tanya kakek Wijaya pada Mouza.


Mouza hanya menggeleng pelan. "Gak, Kek."


"Lalu ada apa, memang pria bajiii.nnngan ini sempat meninggikan suaranya?"


Kean melirik kearah Mouza. Meskipun mulutnya tak bersuara tetapi hatinya mengatakan untuk mengabaikan saja celotehan kakek tua yang selalu ingin tahu urusannya.


"Kita gak ada apa-apa kok, Kek. Kita tadi lagi bercanda kan, iya kan Bang?" Mouza membalas tatapan mata Keanu.


"Iya, Kek. Kakek itu udah tua, gak usah kepo dengan urusan kami. Yang penting cicit yang Kakek minta udah Ke buatkan. Meskipun belum tahu cewek atau cowok. Kalau Ke maunya cowok, biar bisa dia gantiin peran Daddy-nya kelak," ujar Keanu.


"Berarti kamu harus baut dua cicit biar kita sama-sama puas, bagaimana?" tawar Kakek Wijaya.

__ADS_1


"Kalau bisa, Ke maunya cicit Kakek langsung sebelas biar kita bisa buat timnas sendiri," ujar Keanu sambil melirik kearah Mouza.


"Bang Ke pikir aku kucing yang bisa beranak banyak?" protes Mouza.


__ADS_2