
Mouza hanya bisa menahan tawanya saat melihat Alan terkena tabokan dari sang kakek. Entah apa alasannya pria tua itu menabok Alan, padahal sudah jelas jika dirinya yang melempar sendal hingga mengenai wajahnya.
"Agar kamu diam," ujar kakeknya.
"Aku jadi heran. Sebenarnya cucu Kakek itu Alan atau Mouza, sih? Kenapa Kakek selalu belain Mouza. Udah jelas-jelas dia salah!" gerutu Alan semakin kesal.
"Karena kamu yang salah! Kakek tahu kamu pasti sedang godain Mouza 'kan, sehingga dia mau nglempar kamu pakai sandalnya, ya meskipun Kakek yang kena."
"Kakek gak adil!" Alan menghentakkan kakinya dengan kasar kemudian menetap kearah Mouza. "Gue sumpahin anak mirip lo sama gue, Za. Biar kapok bapaknya gak dapat bagiannya!"
Tangan Mouza sudah mengepal ingin manambah tinjuan di bibir Alan agar mantan kekasihnya itu tak bisa berbicara lagi. Namun, semua itu ia simpan karena ada kakek Wijaya di hadapannya.
"Sudahlah jangan kamu dengarkan dia! Dia memang seperti itu. Ngomong-ngomong kamu ngapain disini? Keanu belum pulang?"
Mouza menggeleng pelan. "Bang Ke belum pulang, Kek. Oza lapar tapi tak ada makan yang tersisa," adu Mouza pada kakek mertuanya.
"Ya sudah ayo ikut Kakek. Akan Kakek buatkan pengganjal perutmu yang lapar!"
Karena Mouza merasa penasaran dengan apa yang akan dibuat oleh kakek Wijaya akhirnya ia mengikuti kakak itu ke dapur. Di sana dengan lincah Kakek tua itu segera membuka kulkas dan mengeluarkan dua butir telur. Tanpa banyak protes, Mouza mengamati gerakan lincah sang Kakek untuk membuat maha karya di dapur.
Setelah telur itu digoreng sang kakek langsung mengeluarkan beberapa lembar roti tawar dan juga daun salad dari kulkas.
Tak berapa lama Kakak Wijaya menghidupkan kompor untuk memanggang rotinya. Entah makanan apa yang sedang dibuat oleh kakek Wijaya, tetapi aromanya membuat perut Mouza berdiskoan ingin segera mencicipi mahakarya yang telah diciptakan oleh Kakak Wijaya.
"Nah, sekarang sudah siap makanlah!" ujar kakek Wijaya yang telah menyadarkan roti panggang kearah Mouza.
Ludah Mouza sudah naik turun, tak sabar untuk segera mencicipinya. Dengan ragu ia mengambil secuil untuk merasakan bagaimana rasanya.
Ini roti panggang isi telur dadar kali, ya. Kok aneh sih. Seharusnya roti yang pakai adalah roti burger bukan roti tawar. Biar kayak burger isi telur. Bukan roti tawar isi telur. rutuk Mouza dalam hati.
Mouza terdiam untuk sesaat ia meresapi makanan yang sedang berada di dalam mulutnya. Meskipun tak tahu apa namanya tetapi rasanya tak kalah jauh dari roti bakar yang dijual di pasaran. Hanya saja isinya yang unik.
"Gimana rasanya, Za?" tanya Kakek penasaran karena pria itu sudah lama tak pernah menciptakan mahakarya di dapur.
"Enak Kek. Enak banget malah. Ya, meskipun rada aneh, sih?"
__ADS_1
Tak lupa sang Kakek juga menyiapkan segelas air putih untuk Mouza.
"Makan pelan-pelan, Kakek gak doyan. Entah bagaimana rasanya, soalnya Kakek hanya asal buat."
Mouza mendelik sambil menelan kasar roti yang sudah masuk ke dalam mulutnya. Ia tidak menyangka jika sang kakek hanya membuat mahakarya secara asal. Tetapi Meskipun begitu rasanya tak bisa dilakukan karena memang benar-benar sangat enak.
Ah, bodo amat yang penting perut gue terasa kenyang. Toh rasanya juga enak. lain kali gue mau minta dibikinin lagi ah. Tapi gue harus cari alasan yang tepat. batin Mouza yang menahan agar bibirnya tidak tersenyum. Namun, dalam hati ia tertawa lebar.
Setelah dua roti disikat habis oleh Mouza, ia langsung bersendawa. Mouza tidak peduli meskipun saat ini ia berada di hadapan kakek mertuanya.
"Oh iya, Kakek mau ngapain ke sini malam-malam?" tanya Mouza yang baru menyadari mengapa kakek Wijaya malam-malam turun ke lantai bawah.
"Kakek cuma mau ngambil air minum, aja karena air minum di kamar kakek habis."
"Oh. Tapi ngomong-ngomong makasih ya, Kek. Roti panggangnya enak Oza suka," ujar Mouza.
"Padahal Kakek cuma asal-asalan aja. jadi bagaimana apakah perutmu sudah terganjal atau belum? Kalau belum biar Kakek buatkan lagi."
"Gak udah, Kek. Tadi Oza juga udah pesan makanan sama Bang Ke. Sayang nanti kalau udah dibeliin nggak kemakan."
"Ya sudah, Kakek kembali ke kamar ya. Kamu tidur aja nggak usah tungguin Keanu. Ingat kesehatanmu lebih penting, karena saat ini kamu sedang mengandung. Jangan sampai karena kurang tidur kamu jadi sakit!" pesan kakek sebelum meninggalkan Mouza.
Cukup lama Mouza menunggu Keanu pulang. Namun, nyatanya hingga pukul tiga dini hari suaminya tak kunjung datang. Rasa khawatir pun terselip di dada Mouza, terlebih saat pesan dan panggilannya tak mendapatkan jawaban.
"Apakah Bang Ke pergi di club ya?" Pikiran Mouza kian tak tenang. Ia pun tetap bersabar untuk menunggu Keanu pulang meskipun detak jarum jam terus berputar.
..
Tepat pukul empat dini hari, Keanu membuka pintu. Ia terkejut saat melihat Mouza tertidur di sebuah sofa. Itu artinya Mouza telah menunggu dirinya. Namun, karena Keanu masih menjalankan misinya, ia sampai melupakan jika Mouza sempat memesan makanan padanya.
"Astaga Oza .... " Keanu segera menghampiri sofa dimana Moza tidur.
Saat ingin membangunkan, Keanu merasa tak tega, hingga akhirnya ia memilih untuk mengangkat tubuh Mouza untuk ke kamar. Namun, saat baru saja Keanu hendak mengangkat tubuh kecil itu, Mouza langsung membuka matanya dan mendapati hendak mengangkat tubuhnya.
"Bang Ke," kata Mouza yang langsung membuka lebar matanya.
__ADS_1
Keanu akhirnya tak jadi untuk mengangkat tubuh Mouza dan ia pun malah menjatuhkan diri di dekat Mouza dengan kasar.
Saat Mouza ingin bertanya di mana pesanannya, ia malah menautkan kedua alisnya saat mencium aroma alkohol dari tubuh Keanu. Untuk memastikan lebih jelas Mouza langsung mengendus tubuh Keanu.
"Bang Ke abis minum?"
Keanu mengangguk pelan. "Cuma dikit kok."
Dada Mouza kian bergerumuh. Apakah baru saja bersenang-senang dengan wanita lain? Pikiran Mouza mendadak penuh dengan bayangan Keanu yang mencumbui para wanita malam. Terlebih jika saat ini suaminya telah tak berdaya.
"Za, kita ke kamar yuk! Aku capek banget," ujar Keanu sambil memijit pelipisnya.
"Bang Ke abis ngapain, sih kok capek?"
"Abis nangkap tikus."
Mouza hanya mengerucutkan bibirnya saat Keanu malah bercanda padahal ia sudah sangat penasaran dengan apa yang dilakukan oleh Keanu.
"Bang Ke gak abis nanam ubi sembarangan kan?" tuduh Mouza dengan cepat.
Keanu yang hendak membuka pintu kamar langsung menautkan kedua alisnya. "Nanam ubi sama siapa, Za? Kamu jangan mikir macam-macam deh!"
"Gimana aku nggak berpikir macam-macam kalau Abang pulang pagi seperti ini dengan aroma alkohol di tubuh Abang? Apakah aku nggak boleh curiga dengan apa yang dilakukan suami aku di luar sana hingga ia hampir lupa pulang?"
"Kamu ngomong apa, sih? Nggak usah mancing masalah! Aku beneran capek aku mau istirahat. Terserah kamu mau menilai aku bagaimana, yang penting aku tidak melakukan apa yang kamu tuduhkan." Saat itu juga Keanu langsung masuk ke dalam kamar dan mencari tempat tidurnya, karena saat ini ia benar-benar sangat lelah.
"Bang Ke kenapa, sih?" batin Mouza dengan heran. Ia pun juga melihat Keanu sudah tumbang di atas tempat tidur. Dada Mouza berdenyut ngilu saat Keanu sedikit berubah padanya. Bahkan ini adalah kali pertama dirinya dibentak oleh Keanu.
.
.
...π₯π₯π₯...
...BERSAMBUNG...
__ADS_1
Halo-halo selagi menunggu novel ini update kembali mampir dulu yuk ke novel teman author yang berjudul HASRAT TUAN KESEPIAN mampir ya