
Akhirnya Alan bernafas lega ketika acara telah usai. Ia mendengus kasar saat menuju kamar yang telah disediakan oleh kakeknya. Rasanya ingin tenggelam dalam dasar laut, tetapi ia belum siap karena tak bisa membuat Azra menderita.
"Gak usah bermimpi bisa tidur satu ranjang denganku!" ketus Alan ketika memasuki sebuah kamar.
"Mana bisa seperti itu! Mungkin kamu bisa menindas seribu wanita, tetapi kamu tidak akan bisa menindasku. Coba saja kalau berani!" tantang Azra.
Karena Alan tak ingin kalah, ia pun langsung menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang hotel yang telah disiapkan untuk mereka berdua.
"Coba saja kalau berani!" Kini tubuh Alan sudah memenuhi ranjang.
Azra hanya mendengus pelan. Ia mengabaikan Alan yang kekanak-kanakan. "Kamu menantangku? Baiklah akan aku melayanimu, tapi aku akan mandi dulu, abis itu kita bermain diatas tempat tidur," kekeh Azra.
Alan hanya mengernyit saat Azra tak gentar untuk terus melawannya. Saat menoleh, matanya dibuat terbelalak akan pemandangan di belakangnya.
"Dasar cewek murahan!" cibir Alan.
"Jangan asal berbicara karena selama ini belum ada yang membeli tubuhku. Tetapi berhubung kamu adalah suamiku, maka dengan suka rela aku akan memberikan tubuhku untukmu, meskipun kamu sudah bekas dari banyaknya wanita malam. Tunggu aku selesai mandi, setelah itu aku akan memuaskanmu," ujar Azra yang sudah melepaskan gaun pengantinnya begitu saja.
Ia harus membuang rasa malunya untuk menangkap Alan. Sekalipun ia telanjang tanpa busana, itu tak ada yang salah karena saat ini keduanya sudah sah menjadi pasangan suami-istri. Bukankah suami istri itu saling melengkapi? Jika sang suami terasa dingin maka sang istri harus bisa menghangatkannya, begitu juga sebaliknya. Karena saat ini Alan bersikap sangat dingin maka tugas Azra adalah menghangatkannya.
"Cih, dia pikir siapa sok-sokan mau mancing gue dengan gaya model seperti itu. Gue gak bakalan terpancing, emangnya gue ikan apaan dikasih umpan begituan langsung tertangkap. Salah sasaran tuh cewek!" gerutu Alan yang melemparkan jas ke sembarang arah.
Cukup lama Alan menunggu Azra keluar dari kamar mandi. Perasaannya semakin gelisah saat wanita itu tak kunjung keluar. Alan takut jika Azra mendadak meninggoy di dalam kamar mandi sebelum meluncurkan misinya.
Gak lucu kan kalau besok muncul berita pengantin perempuan meninggoy? batin Alan.
Alan pun segera terus menggedor pintu kamar mandi untuk memastikan jika Azra masih hidup.
"Woii … lo masih bernafas gak sih di dalam?" teriak Alan.
Tak ada sahutan, tetapi pintu segera dibuka dan menampilkan sosok Azra yang hanya menggunakan kimono.
"Kenapa, udah gak sabar pengen disentuh? Sorry tadi perut aku sakit banget, tapi sekarang udah enakan, kok. Ayo, kita main sekarang," ujar Azra dengan kerlingan matanya ke arah Alan, membuat Alan langsung bergidik.
__ADS_1
"Dih, amit-amit."
"Udah nggak usah malu-malu, ayo honey!"
Katakan saja saat ini Azra layaknya seorang wanita malam yang sedang melayani pelanggannya. Sebenarnya ia hanya ingin menakut-nakuti Alan saja. Jika ditanya apakah dirinya sudah siap maka jawabannya tentu saja belum.
"Lo nggak usah macam-macam ya!" ancam Alan.
"Aku gak macam-macam kok. Tapi kayaknya aku belum pernah dengar kasus laki-laki diperkaos perempuan di malam pertama. Kayaknya seru tuh, seorang Azra mampu memperkaos seorang Casanova," kekeh Azra.
Sepertinya ini adalah malam kelam yang harus dilalui oleh Alan. Ternyata Azra lebih agresif daripada Mili. Dan yang lebih parah lagi adalah Azra benar-benar ingin memperkaos dirinya.
"Jangan bermimpi untuk bisa menyentuhku, karena gue tak akan tertarik dengan tubuh murahan lo. Mending lo tidur dan persiapkan diri bersiap untuk menghadapi kenyataan yang hanya akan menguras air matamu," ujar Alan dengan sombong.
"Udah ah, kebanyakan cerita." Azra segera menarik tangan Alan agar jatuh ke tempat tidur. Benar saja saat ini tubuh Alan telah menimpa tubuhnya. Kedua pasang mata itu saling menatap. Cukup lama hingga akhirnya Alan menyadari posisinya. Namun, saat ingin bangkit tangan Azra menarik kerah baju Alan.
"Kamu yang akan melakukan, atau aku yang harus melakukannya?" lirih Azra dengan senyum liciknya.
"Tapi aku menginginkan." Tangan Azra semakin menarik kerah baju Alan sehingga posisi keduanya semakin lebih dekat. Bahkan keduanya juga bisa merasakan hembusan nafas masing-masing.
"Sekali lagi aku bertanya padamu, siapa yang akan memimpinnya? Aku atau kamu? Jika kamu menginginkan aku untuk memimpin, bersiaplah!" Azra segera menarik tubuh Alan lebih kencang agar bisa terjatuh dikesampingkannya. Disaat itu juga Azra mencoba untuk menyentuh tubuh Alan.
"Lo jangan macam-macam! Gue akan teriak kalau Lo sampai menyentuh gue!" ancam Alan.
Bukannya takut, Azra mencoba menindih tubuh Alan untuk mencium Alan. Namun, saat bibir mereka hampir bersentuhan, tiba-tiba Arza tertawa dan segera bangkit untuk duduk.
"Lucu banget sih tuh muka!" ledek Azra yang tak bisa menahan tawanya.
Alan yang tak terima atas perlakuan Azra segera menarik tangan wanita itu.
"Oh jadi lo mau mau mainan sama gue? Ayo gue ladenin!" Kini tangan Alan bergantian menarik tangan Azra hingga terjatuh di sampingnya. Saat itu juga langsung menindih Azra.
Mampus, jangan sampai Alan benar-benar mengambil keperawananku malam ini. Please, kakek bantu aku. Muncullah saat ini karena semua ini adalah rencanamu. Aku belum rela menyerahkan diri pada pria arogan ini. batin Azra.
__ADS_1
Alan tersenyum smirk saat melihat wajah Azra yang telah pucat dan tak sebanding dengan tadi saat wanita itu menggodanya.
"Kenapa pucat? Bukannya lo yang minta?" Kini Alan sudah melepaskan kemejanya.
Azra hanya menelan kasar salivanya. Berharap Alan tak serius dengan ucapan.
"Kebetulan juga udah satu Minggu gue gak menjelajah. Pas banget malam ini ada lo yang bakalan muasin gue." Kini tangan Alan juga sudah hendak membuka celananya. Namun, tiba-tiba saja terdengar suara ketukan pintu membuat Alan mendengus kasar.
"Ganggu aja, siapa sih?" gerutunya.
Saat Alan sudah bangkit, Azra segera mengambil pasokan udara. "Alhamdulillah, aman! Ya Allah, bantuan-Mu tepat pada waktunya," ucap Azra yang segera membenarkan posisi tidurnya dan menutup tubuhnya dengan selimut.
"Maaf Tuan Muda, ini pakaian ganti Anda dan Nona muda. Maafkan saya telah mengganggu waktu Anda, silahkan Anda langsung," ujar Reno yang telah menyerahkan sebuah paper bag kepada Alan.
"Kamu memang sangat mengganggu! Pergi sana!" usir Alan dengan kesal.
Setelah menutup pintu, bibir Alan tersenyum smirk saat melihat Azra yang telah menutup tubuhnya dengan selimut.
"Cih, gayanya sok-sokan mau memperkaos gue, baru gue gituin aja udah ketakutan!" cibir Alan.
.
.
...BERSAMBUNG...
Selagi menunggu novel ini update kembali mampir dulu ke novel Author pemes satu ini ya
Judul Novel : MY LOVE FROM THE BLUE SEA
Author : KISSS
__ADS_1